- Sebanyak 77 siswi atau 90,6 persen menyantap gorengan tujuh kali atau lebih dalam seminggu.
- Sebanyak 80 siswi atau 94,1 persen mendapatkan 20 persen atau lebih kebutuhan energinya dari jajanan EDNP.
- Membeli di warung makan, toko, restoran, atau takeaway mencatat nilai korelasi 0,778 dengan total frekuensi jajan EDNP.
- Efek paparan media sosial, teman sebaya, alokasi uang saku, dan pengetahuan gizi tidak berhubungan bermakna dengan seringnya jajan.
Daftar Isi
- Visible Fat dan Sweeteners: Gorengan dan Minuman Manis
- Dessert dan Snack Asin: Martabak dan Keripik yang Lebih Jarang
- Densitas Energi: Kalori yang Rapat di Setiap Gram
- Akses Pangan: Dari Mana Jajanan Didapat
- Media Sosial dan Uang Saku: Dekat, tetapi Tak Berhubungan
- Berhubungan: Batas Kata yang Dipakai Peneliti
Gorengan, minuman manis kemasan, martabak, dan keripik termasuk makanan energy-dense nutrient-poor, disingkat EDNP. Di sebuah SMA swasta di Medan, menurut pengamatan para peneliti, kelompok makanan yang banyak dijual serta dikonsumsi di lingkungan sekitar sekolah adalah makanan kategori EDNP.
Para peneliti menyebut EDNP sebagai kelompok makanan tinggi karbohidrat sederhana, dengan tambahan garam, lemak jenuh, dan gula. Rasanya enak, harganya terjangkau, dan lebih disukai, tetapi makanan ini dikenal sebagai makanan tidak sehat.
Penjelasan itu datang dari Neysa Vania Camilla Purba dan rekan dari Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang. Laporan mereka berjudul Akses pangan sebagai determinan utama konsumsi makanan energy-dense nutrient-poor (EDNP) pada remaja putri dan terbit di Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 22 nomor 3 tahun 2026.
Mereka meneliti 85 siswi berusia 15 sampai 18 tahun di SMA Swasta Cahaya Medan pada November 2022. Para siswi dipilih lewat undian dari daftar siswi kelas X sampai XII, lalu ditanya tentang jajanan yang biasa mereka santap, media sosial, teman sebaya, uang saku, dan pengetahuan gizi.
Dari semua hal yang ditanyakan, satu yang paling menonjol adalah cara siswi mendapatkan jajanan itu. Makin sering mereka membeli di warung makan, toko, restoran, atau tempat makanan bawa pulang, makin sering pula mereka menyantap makanan EDNP. Efek paparan media sosial, pengaruh teman sebaya, alokasi uang saku untuk konsumsi, dan pengetahuan gizi tidak menunjukkan hubungan serupa.
Visible Fat dan Sweeteners: Gorengan dan Minuman Manis
Para peneliti membagi jajanan EDNP ke dalam empat kategori. Visible fat adalah kelompok makanan yang diolah dengan cara digoreng dan menyumbang minyak, misalnya bakwan, pisang goreng, dan risol. Sweeteners adalah kelompok minuman tinggi gula dan karbohidrat sederhana, seperti minuman manis kemasan, minuman kekinian, dan kopi kemasan.
Dua kategori itulah yang paling sering disantap. Sebanyak 77 siswi atau 90,6 persen menyantap gorengan tujuh kali atau lebih dalam seminggu, dengan median 15,25 kali per minggu. Untuk minuman manis, 61 siswi atau 71,8 persen masuk kelompok sering, dengan median 12 kali per minggu.
Isi piringnya akrab bagi pembaca di mana saja di Indonesia. Gorengan yang paling banyak dikonsumsi adalah tempe goreng tepung, sosis goreng, tempe goreng, batagor, pisang goreng, dan nugget. Dari kelompok minuman manis, yang terbanyak adalah permen, minuman manis kemasan, susu kemasan, minuman kekinian, dan cokelat.
Para peneliti mencatat gorengan disantap para siswi paling sedikit tiga kali seminggu. Menurut mereka, proses menggoreng membuat makanan lebih renyah dan lebih enak, sementara harganya murah dan mudah didapat. Minuman manis juga mudah dijangkau, sehingga siswi cukup menimbang rasa yang disukai dan uang yang dimiliki.
Baca juga Gizi Murid SD Musi Rawas Terkait Ragam Piring, Bukan Uang Jajan
Jika dijumlahkan, frekuensi seluruh jajanan EDNP para siswi berada pada median 33,5 kali per minggu. Angka terendahnya 7,75 kali dan tertingginya 86,75 kali per minggu. Sedikit lebih dari separuh siswi, 43 orang atau 50,6 persen, berada di kelompok 34 kali per minggu atau lebih.
Dessert dan Snack Asin: Martabak dan Keripik yang Lebih Jarang
Dua kategori lain lebih jarang muncul. Dessert adalah kelompok makanan tinggi karbohidrat yang mengandung lemak tersembunyi, seperti bolu, brownies, dan martabak. Snack asin adalah kelompok makanan dengan kandungan garam atau natrium tinggi, misalnya keripik kentang, keripik tempe, keripik singkong, dan kacang kulit.
Hanya 22 siswi atau 25,9 persen yang sering menyantap dessert, dengan median 4,25 kali per minggu. Snack asin lebih jarang lagi, karena hanya 2 siswi atau 2,4 persen yang masuk kelompok sering. Median konsumsinya hanya satu kali per minggu. Angka tertinggi konsumsi dessert tercatat 29,5 kali per minggu, sedangkan snack asin paling banyak 8 kali per minggu.
Bedanya begini. Dessert menurut para peneliti kemungkinan disantap pada keadaan tertentu, misalnya setelah menonton di bioskop, saat perayaan ulang tahun, atau ketika ditraktir teman. Dengan harga yang sama, jumlah dessert yang didapat juga lebih sedikit dibandingkan makanan lain.
Camilan asin jarang disantap karena soal ketersediaan. Dari wawancara, para siswi lebih banyak mendapatkan makanan dari lingkungan sekolah, sedangkan camilan asin lebih sedikit tersedia di sana. Dessert yang paling banyak dikonsumsi adalah donat, es krim, martabak manis, camilan manis kemasan, dan cake.
Densitas Energi: Kalori yang Rapat di Setiap Gram
Istilah densitas energi berarti jumlah kalori dalam setiap gram makanan. Para peneliti menghitungnya dari total energi jajanan EDNP dibagi total beratnya. Di atas 2 kilokalori per gram, densitasnya tergolong tinggi, dan 69 siswi atau 81,2 persen berada di golongan ini. Median densitas energinya 2,46 kilokalori per gram.
Ukuran kedua adalah porsi energi harian. Penelitian ini mengumpulkan jajanan EDNP sebagai makanan selingan. Menurut para peneliti, energi ideal dari makanan selingan adalah 20 persen kebutuhan sehari. Konsumsi yang melebihi 20 persen itu berarti lebih dari 410 kilokalori bagi siswi usia 15 tahun dan lebih dari 420 kilokalori bagi usia 16 sampai 18 tahun.
Hampir semua siswi melampauinya. Sebanyak 80 siswi atau 94,1 persen mendapatkan 20 persen atau lebih kebutuhan energinya dari jajanan EDNP. Median sumbangannya 46,63 persen kebutuhan energi harian, dengan median asupan 969,22 kilokalori per hari. “Konsumsi makanan dan minuman EDNP pada subjek penelitian ini tergolong tinggi,” tulis Purba dan rekan.
Lemak menjadi penyumbang yang menonjol. Lemak total dari jajanan EDNP memenuhi 24,01 persen kebutuhan energi harian, padahal belum menghitung makanan utama. Lemak jenuhnya tercatat 19,50 persen, dan menurut para peneliti melebihi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang membatasi lemak jenuh maksimal 10 persen.
Gorengan menyumbang energi dan lemak terbesar, dengan median 556,3 kilokalori dan 41,4 gram lemak per hari. Minuman manis menyumbang median karbohidrat 39,5 gram dan gula 21,8 gram per hari. Dari seluruh jajanan EDNP, serat hanya memenuhi 11 persen anjuran harian, sedangkan natrium memenuhi 42,41 persen kebutuhan harian.
Baca juga Makanan Bawa Pulang Terkait Tubuh yang Tiga Bulan Lebih Tua
Akses Pangan: Dari Mana Jajanan Didapat
Akses pangan dalam penelitian ini adalah cara siswi mendapatkan jajanan EDNP. Ada empat cara yang dicatat, yaitu tersedia langsung di rumah, mengolah atau memasak sendiri, membeli di warung makan, toko, restoran, atau takeaway, dan memesan lewat aplikasi pesan antar online. Datanya diambil dari kuesioner yang sama dengan pencatatan jajanan, dengan tambahan kolom akses pangan.
Membeli langsung jauh mengungguli cara lain. Sebanyak 84 siswi atau 98,8 persen termasuk sering membeli jajanan EDNP dengan cara ini, yakni enam kali atau lebih per minggu. Mediannya 17,75 kali per minggu, sedangkan tidak seorang pun masuk kelompok jarang. Hanya satu siswi, atau 1,2 persen, yang masuk kelompok kadang-kadang.
Cara lain jauh lebih sepi. Jajanan yang tersedia di rumah punya median tiga kali per minggu, dan yang dimasak sendiri dua kali per minggu. Aplikasi pesan antar paling jarang dipakai, dengan median 0,75 kali per minggu, dan 74 siswi atau 87,1 persen termasuk kelompok jarang.
Keempat cara akses itu berhubungan bermakna dengan total frekuensi jajan EDNP. Nilai korelasi untuk jajanan yang tersedia di rumah 0,271, memasak sendiri 0,254, dan aplikasi pesan antar 0,363. Membeli di warung makan, toko, restoran, atau takeaway mencatat nilai 0,778, yang oleh para peneliti digolongkan kuat.
Pembelian itu terjadi paling sedikit empat kali seminggu, dan paling sering lewat kantin sekolah serta pedagang jajanan di lingkungan sekolah. “Akses pangan EDNP dengan membeli langsung (paling banyak diperoleh dari kantin sekolah dan pedagang makanan jajanan di lingkungan sekolah) memiliki nilai korelasi yang paling kuat dengan total frekuensi konsumsi makanan EDNP,” tulis Purba dan rekan.
Media Sosial dan Uang Saku: Dekat, tetapi Tak Berhubungan
Para siswi akrab dengan konten makanan di media sosial. Instagram menjadi sumber konten makanan bagi 76 siswi atau 89,4 persen, disusul TikTok dan YouTube yang masing-masing dipakai 67 siswi atau 78,8 persen. Sebanyak 64,7 persen melihat konten makanan dan minuman dua kali atau lebih sehari.
Durasinya juga tidak singkat, karena 68,2 persen siswi menonton konten itu 30 menit atau lebih per hari. Efek paparan media sosial pada perilaku makan sebagian besar siswi, 67,1 persen, tergolong sedang. Meski begitu, efek paparan itu tidak berhubungan bermakna dengan total frekuensi jajan EDNP.
Teman sebaya juga demikian. Sebanyak 52,9 persen siswi tergolong terpengaruh teman sebaya, tetapi pengaruh itu tidak berhubungan bermakna dengan seringnya jajan. Mengutip penelitian lain, para peneliti menyebut orang tua memegang peran lebih besar dalam membentuk kebiasaan makan anak, tetapi peran orang tua tidak diteliti dalam penelitian ini.
Uang saku para siswi memiliki median Rp20.000 per hari, dengan alokasi untuk makan median Rp10.000. Alokasi itu pun tidak berhubungan bermakna dengan frekuensi jajan EDNP. Menurut para peneliti, kemungkinan uang tersebut dipakai tidak hanya untuk jajanan, tetapi juga untuk membeli makanan utama. Sebanyak 57 siswi atau 67,1 persen mengalokasikan Rp10.000 atau lebih per hari untuk konsumsi.
Pengetahuan gizi memperlihatkan pola serupa. Sebanyak 65 siswi atau 76,5 persen memiliki pengetahuan gizi yang kurang, dan dua materi dengan jawaban benar paling sedikit adalah penukar makanan, 33,3 persen, serta anjuran konsumsi gula dan garam dalam sehari, 52,2 persen. Namun, pengetahuan gizi juga tidak berhubungan bermakna dengan seringnya mereka menyantap jajanan EDNP.
Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Berhubungan: Batas Kata yang Dipakai Peneliti
Kata yang dipilih para peneliti adalah berhubungan. Temuan mereka menyatakan bahwa jajan EDNP dan cara mendapatkannya bergerak searah, yakni makin sering yang satu, makin sering pula yang lain. Dalam simpulannya, mereka memakai kata berhubungan untuk keempat cara akses pangan tersebut.
Ada pula yang belum diteliti. Selain peran orang tua, para peneliti menyebut preferensi rasa makanan tidak diteliti, padahal selera turut memengaruhi seseorang dalam memilih makanan. Data akses pangan sendiri dicatat sebagai frekuensi tiap cara dalam satu bulan terakhir, lalu diubah menjadi kali per minggu.
Dari temuan itu, saran mereka mengarah ke kantin. “Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar sekolah dan pihak terkait membatasi akses terhadap makanan EDNP, terutama yang dijual di kantin dan lingkungan sekitar sekolah,” tulis Purba dan rekan. Mereka juga meminta edukasi gizi bagi remaja dan pengawasan jenis makanan yang tersedia ditingkatkan.













