Pekerja Informal Sumatera Utara Lebih Banyak Mengeluh Sakit Otot

A A

Ilustrasi pria menjunjung karung besar di atas kepala, tampak dari samping belakang [Foto: Pexels]

  • Sebanyak 344 dari 1.089 pekerja di Sumatera Utara, atau 31,6 persen, melaporkan keluhan otot rangka sedang sampai tinggi.
  • Keluhan sedang sampai tinggi dialami 40,4 persen pekerja informal, dibanding 23,3 persen pekerja formal.
  • Pekerja laki-laki lebih banyak berkeluhan, 40,7 persen, dibanding 14,9 persen pada pekerja perempuan.
  • Pekerja dengan masa kerja lebih dari lima tahun justru lebih jarang berkeluhan, 16,3 persen, dibanding 35,1 persen pada yang lebih baru.
Daftar Isi
  1. Dari Kantor sampai Ladang
  2. Sopir, Pedagang, dan Petani di Barisan Depan
  3. Laki-laki Lebih Banyak Mengeluh
  4. Yang Bertahan Lebih dari Lima Tahun
  5. Pelatihan Murah dan Pos Kesehatan Kerja
  6. Batas Peta Tubuh

Lebih dari seribu pekerja di Sumatera Utara mengisi sebuah peta tubuh untuk penelitian Herlina J. EL-Matury dan rekan. Di atasnya ada 28 bagian, dari leher, bahu, punggung atas dan bawah, sampai lengan, pergelangan, jari, paha, betis, lutut, dan pergelangan kaki. Tiap pekerja menandai seberapa tidak nyaman bagian itu, dari tanpa keluhan sampai keluhan berat yang membuatnya harus beristirahat atau membatasi pekerjaan.

Jawaban yang dikumpulkan Herlina bersama Nabila Syahlan berasal dari 1.089 orang, dari pegawai kantor dan tenaga kesehatan sampai sopir, pedagang, dan petani. Hasilnya, 344 orang atau 31,6 persen melaporkan keluhan otot rangka tingkat sedang sampai tinggi. Pada sopir, pedagang, dan petani, angka itu 40,4 persen, dibanding 23,3 persen pada pegawai kantor dan tenaga kesehatan.

Temuan itu ditulis Herlina J. EL-Matury dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua, Deli Serdang, Nabila Syahlan dari Program Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia serta Universitas Terbuka, dan Mohd Rafee B. Baharuddin dari Departemen Kesehatan Komunitas Universiti Putra Malaysia. Artikel mereka, Determinants of Musculoskeletal Disorder in Formal and Informal Workers in Indonesia, terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal) volume 21 nomor 2 tahun 2026.

Dari Kantor sampai Ladang

Herlina, Nabila, dan Mohd Rafee berangkat dari satu kekosongan yang mereka catat sendiri. Menurut ketiganya, bukti yang membandingkan risiko gangguan otot rangka pada pekerja formal dan informal masih terbatas, terutama di negara berkembang. Riset yang ada cenderung terpecah per jenis pekerjaan, sehingga sulit melihat bagaimana struktur ketenagakerjaan yang lebih luas ikut membentuk risiko.

Karena itu Herlina dan rekan menempatkan status kerja, formal atau informal, sebagai pokok analisis. “Risiko gangguan otot rangka tidak semata didorong oleh paparan ergonomi, tetapi tertanam secara struktural di dalam kondisi kerja dan lingkungan regulasinya,” tulis mereka dalam kalimat berbahasa Inggris yang diterjemahkan di sini. Premis itulah yang hendak diuji lewat data Sumatera Utara.

Pengumpulan datanya berlangsung dari Agustus 2024 sampai Desember 2025 di berbagai tempat kerja di provinsi itu. Herlina dan Nabila tercatat sebagai pengumpul dan pengelola data, sedangkan Mohd Rafee B. Baharuddin menjadi penyelia. Para pekerja mengisi kuesioner sendiri dengan pendampingan peneliti terlatih, agar jawaban seragam dan tidak salah tafsir.

Skor tiap bagian tubuh dijumlahkan, lalu Herlina dan rekan membaginya menjadi tiga tingkat: rendah untuk skor 0 sampai 10, sedang untuk 11 sampai 20, dan tinggi untuk skor di atas 20. Untuk analisis, tingkat sedang dan tinggi digabung menjadi satu kelompok, sedang sampai tinggi, lalu dibandingkan dengan kelompok berkeluhan rendah.

Hampir sepertiga pekerja berkeluhan otot sedang-tinggi344 dari 1.089 , atau 31,6%.Hampir sepertiga pekerja berkeluhan ototsedang-tinggiJumlah pekerja menurut tingkat keluhan otot rangka344 orang sedang-tinggi (31,6%)745 orang rendahTotal 1.089 Tabel 1. Nordic Body Map, Sumatera Utara 2024-2025
Sumber: Herlina J. EL-Matury, Nabila Syahlan, dan Mohd Rafee B. Baharuddin, Determinants of Musculoskeletal Disorder in Formal and Informal Workers in Indonesia, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Gambaran pesertanya, seperti dicatat Herlina J. EL-Matury, cenderung muda. Sebanyak 708 orang atau 65 persen berusia 30 tahun ke bawah, dan 886 orang atau 81,4 persen baru bekerja lima tahun atau kurang. Laki-laki berjumlah 706 orang, 64,8 persen, sedangkan perempuan 383 orang, 35,2 persen.

Komposisi dua sektor itu, menurut para penulis, relatif seimbang. Pekerja formal, yakni pegawai kantor dan tenaga kesehatan, berjumlah 559 orang atau 51,3 persen. Pekerja informal, yakni sopir, pedagang, dan petani, berjumlah 530 orang atau 48,7 persen. Sebanyak 745 orang, 68,4 persen, berada di tingkat keluhan rendah.

Sopir, Pedagang, dan Petani di Barisan Depan

Begitu dua sektor itu dipisahkan, perbedaannya terlihat. Dari 530 pekerja informal, 214 orang atau 40,4 persen berkeluhan sedang sampai tinggi. Dari 559 pekerja formal, jumlahnya 130 orang atau 23,3 persen. Perbandingan sederhana itu menghasilkan rasio odds 2,235 untuk pekerja informal terhadap pekerja formal.

Perbedaan itu tetap terlihat ketika Herlina dan rekan memasukkan usia, jenis kelamin, dan masa kerja sekaligus ke dalam model regresi logistik. Rasio odds pekerja informal menjadi 1,607 dibanding pekerja formal. Pada kolom risiko di tabel yang sama, para penulis menuliskannya sebagai risiko 60,7 persen lebih tinggi daripada pekerja formal.

Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia

Herlina J. EL-Matury dan rekan membaca angka itu sejalan dengan bukti global. Pekerja di sektor informal dan pekerjaan yang tidak menentu, tulis mereka, menghadapi paparan ergonomi lebih besar, perlindungan regulasi lebih lemah, dan akses terbatas ke layanan kesehatan kerja. Di Indonesia, pola serupa disebut pernah dilaporkan pada petani, sopir, dan buruh pasar.

“Temuan ini menegaskan bahwa informalitas kerja bekerja sebagai penentu struktural kesehatan kerja, bukan sekadar ciri latar,” tulis Herlina, Nabila, dan Mohd Rafee, juga dalam kalimat yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Dalam definisi mereka, pekerjaan informal ditandai kondisi kerja tidak teratur, perlindungan sosial terbatas, dan cakupan regulasi yang lebih rendah.

Laki-laki Lebih Banyak Mengeluh

Temuan kedua yang dicatat Nabila Syahlan dan rekan menyangkut jenis kelamin. Di antara 706 pekerja laki-laki, 287 orang atau 40,7 persen berkeluhan sedang sampai tinggi. Di antara 383 pekerja perempuan, jumlahnya 57 orang atau 14,9 persen. Pada perbandingan awal ini rasio odds laki-laki terhadap perempuan tercatat 2,731.

Dalam model regresi, Herlina dan rekan mendapati rasio odds perempuan 0,274 dibanding laki-laki. Kolom risiko di tabel itu menuliskannya sebagai risiko 72,6 persen lebih rendah daripada laki-laki. Para penulis mencatat hasil ini berlawanan dengan sejumlah studi yang menunjukkan kerentanan lebih tinggi pada perempuan.

Penjelasan yang diajukan Herlina J. EL-Matury dan rekan lebih condong ke pembagian kerja. Menurut mereka, perbedaan itu kemungkinan lebih dijelaskan oleh pembagian tugas berdasarkan gender daripada kerentanan biologis. Dalam konteks penelitian ini, pekerja laki-laki lebih sering mengerjakan pekerjaan yang menuntut fisik dengan beban biomekanik lebih tinggi, terutama di sektor informal.

Usia, sebaliknya, tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik pada uji pertama yang dijalankan Herlina dan rekan. Bagi para penulis, hal itu mengisyaratkan bahwa paparan ergonomi dan pengaturan kerja mungkin lebih berpengaruh daripada bertambahnya umur, terutama pada kelompok pekerja yang relatif muda dan aktif seperti peserta penelitian mereka.

Yang Bertahan Lebih dari Lima Tahun

Temuan ketiga, menurut Mohd Rafee B. Baharuddin dan dua rekannya, menyimpang dari pola yang lazim. Di antara 886 pekerja yang bekerja lima tahun atau kurang, 311 orang atau 35,1 persen berkeluhan sedang sampai tinggi. Di antara 203 pekerja yang sudah lebih dari lima tahun, jumlahnya 33 orang atau 16,3 persen.

Keluhan sedang-tinggi menurut kelompok pekerjaLaki-laki 40,7; Pekerja informal 40,4; Masa kerja 5 tahun ke bawah 35,1; Pekerja formal 23,3; Masa kerja lebih dari 5 tahun 16,3; Perempuan 14,9.Keluhan sedang-tinggi menurut kelompokpekerjaPersen keluhan sedang-tinggi di dalam tiap kategori01020304050Laki-laki40,7Pekerja informal40,4Masa kerja 5 tahun ke bawah35,1Pekerja formal23,3Masa kerja lebih dari 5 tahun16,3Perempuan14,9Tabel 2, kolom Mod-high
Sumber: Herlina J. EL-Matury, Nabila Syahlan, dan Mohd Rafee B. Baharuddin, Determinants of Musculoskeletal Disorder in Formal and Informal Workers in Indonesia, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Setelah faktor lain diperhitungkan, Herlina dan rekan mendapati rasio odds 0,464 bagi pekerja dengan masa kerja lebih dari lima tahun. Tabel mereka menuliskannya sebagai risiko 53,6 persen lebih rendah daripada pekerja dengan masa kerja lima tahun ke bawah. Padahal, tulis para penulis, paparan yang menumpuk sering dikaitkan dengan risiko yang makin tinggi.

Herlina J. EL-Matury dan rekan menawarkan dua kemungkinan. Pertama, apa yang mereka sebut efek pekerja sehat: orang yang bertahan di pekerjaan fisik berat adalah mereka yang sudah menyesuaikan diri atau memang kurang rentan terhadap tekanan pada otot rangka. Kedua, pekerja berpengalaman mungkin mengembangkan siasat kerja, mekanika tubuh yang lebih baik, dan kesadaran akan cara kerja yang aman.

Sebaliknya, menurut Nabila Syahlan dan rekan, pekerja yang baru sebentar bekerja mungkin lebih rentan karena belum akrab dengan prinsip ergonomi. Dari ketiga temuan itu, para penulis menyimpulkan bahwa paparan di tempat kerja yang bisa diubah dan struktur ketenagakerjaan lebih berpengaruh daripada ciri demografis.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Pelatihan Murah dan Pos Kesehatan Kerja

Dari sisi kebijakan, Herlina dan rekan menilai strategi keselamatan dan kesehatan kerja perlu diperluas melampaui sektor formal. Karena lingkungan kerja informal beragam dan minim pengawasan, mereka menyarankan pendekatan yang layak, murah, dan mudah diperluas, seperti pelatihan ergonomi, penataan ulang tugas, dan jadwal istirahat yang teratur.

Program berbasis komunitas dan penyatuan layanan kesehatan kerja ke dalam layanan kesehatan primer, menurut Mohd Rafee B. Baharuddin dan rekan, menjadi pintu masuk untuk menjangkau pekerja yang belum terlayani. Di Indonesia, mereka menyebut prakarsa seperti Pos Upaya Kesehatan Kerja sebagai contoh layanan dasar kesehatan kerja di tingkat komunitas.

“Pendekatan ini lebih realistis daripada model yang bertumpu pada penegakan aturan dan sejalan dengan rekomendasi global untuk memperbaiki kesetaraan kesehatan pekerja,” tulis Herlina J. EL-Matury dan rekan, dalam kalimat yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Simpulan mereka menyebut pengurangan beban kerja, perbaikan postur, dan akses kesehatan kerja bagi pekerja informal.

Baca juga Petani Padi Roi-Et Paham Ergonomi, Nyaris Semua Tetap Nyeri Otot

Batas Peta Tubuh

Herlina dan rekan juga mencatat sejumlah keterbatasan. Desain potong lintang membuat penelitian ini tidak bisa menarik hubungan sebab-akibat antara faktor risiko dan keluhan otot rangka. Cara memilih peserta berpotensi menimbulkan bias seleksi, terutama di sektor informal yang pekerjanya tidak selalu mudah dijangkau, sehingga keterwakilannya bisa terbatas.

Keluhan pun dilaporkan sendiri oleh pekerja, sehingga menurut Nabila Syahlan dan rekan ada kemungkinan bias ingatan. Pekerja informal mungkin melaporkan keluhan lebih sedikit atau memaknainya berbeda, karena literasi kesehatan yang beragam atau karena rasa tidak nyaman sudah dianggap biasa. Paparan ergonomi, beban fisik, dan faktor psikososial juga tidak dinilai secara rinci.

Dalam simpulannya, Herlina J. EL-Matury dan rekan menyatakan risiko gangguan otot rangka berkaitan erat dengan jenis pekerjaan, jenis kelamin, dan masa kerja, dengan pekerja informal dan laki-laki berpeluang lebih tinggi mengalami keluhan. Di lingkungan kerja informal yang beragam, menurut mereka, cara murah yang mudah disesuaikan, seperti edukasi ergonomi berbasis komunitas dan penyatuan layanan dasar kesehatan kerja, lebih mungkin dijalankan.

Bagikan

Baca Juga

Banyak Anak Ghana Jalan ke Sekolah, tapi Kurang Bergerak Seharian
Hampir Separuh Pasien Hepatitis B Jakarta Berbagi Barang Pribadi
Di Malaysia, Sebagian yang Paham pun Minum Antibiotik untuk Pilek
Pekerja Konstruksi Jepang Jarang Periksa Henti Napas saat Tidur
Pengapuran Lutut Diidap Lebih dari Separuh Lansia Thailand
Lebih dari Sepertiga Pekerja Pabrik Tepung Goma Kena Darah Tinggi