- Sebanyak 151 petani padi Phanomphrai melaporkan keluhan otot dan tulang di sedikitnya satu bagian tubuh dalam tujuh hari terakhir.
- Secara keseluruhan, 65,6 persen petani berada di tingkat pengetahuan ergonomi tinggi.
- Punggung bawah menjadi bagian yang paling banyak dikeluhkan, 49,7 persen dalam tujuh hari dan 47,8 persen dalam setahun.
- Petani yang paham ergonomi mungkin mengubah cara kerja sehingga tungkai lebih terlindungi, tetapi tekanan fisiknya beralih ke bagian tubuh lain.
Daftar Isi
Petani padi di Phanomphrai tahu betul bahwa memutar badan, bertahan lama dalam satu posisi, dan mengangkat beban berat membuat otot pegal. Hampir semua dari mereka tetap mengeluhkan nyeri di sedikitnya satu bagian tubuh. Pengetahuan yang benar ternyata tidak dengan sendirinya menjadi tubuh yang terlindungi, dan di situlah letak soal yang coba diurai tiga peneliti dari Thailand dan Amerika Serikat.
Kejanggalan itu tergambar dalam Factors associated with musculoskeletal disorders among Thai rice farmers in Roi-Et karya Kamonlak Jaikla, Anupon Tadee, dan Theerayut Baubhom, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Jaikla dan Baubhom berasal dari Mahidol University kampus Nakhonsawan, sedangkan Tadee dari School of Public Health, University of Michigan. Mereka mengamati 157 petani padi di Subdistrik Phanomphrai, Provinsi Roi-Et, timur laut Thailand, pada paruh pertama 2024.
Pengetahuan yang Sudah di Kepala
Soal pemahaman, para petani itu tidak bisa disebut awam. Sebanyak 94,3 persen menjawab benar bahwa memutar badan menimbulkan pegal, 91,1 persen tahu bahwa bekerja dalam satu posisi terlalu lama berakibat serupa, dan 89,8 persen paham bahwa menyesuaikan postur bisa mengurangi pegal. Secara keseluruhan, 65,6 persen petani berada di tingkat pengetahuan ergonomi tinggi, 21 persen sedang, dan hanya 13,4 persen rendah.
Masih ada celah pemahaman. Sebanyak 80,9 persen petani keliru soal manfaat memperbaiki lingkungan kerja untuk mengurangi pegal, dan 72 persen keliru menjawab pernyataan bahwa tenaga berlebihan tidak menyebabkan pegal. Artinya, petani lebih mengenali posisi tubuh yang salah ketimbang kaitan antara beban tenaga, kondisi tempat kerja, dan rasa sakit yang muncul sesudahnya.
Persoalannya, tahu belum tentu bisa menghindar. Para penulis mencatat bahwa meski ada mesin tanam, drone penyemprot pestisida, dan mesin panen, petani padi masih mengerjakan banyak tugas dengan tangan. Pekerjaan manual itulah yang membawa mereka terus berhadapan dengan postur janggal, angkat beban berat, gerakan berulang, dan pengerahan tenaga yang panjang.
Beban yang Datang dari Cara Bekerja
Rutinitas harian para petani menunjukkan bagaimana beban itu menumpuk. Rata-rata mereka bekerja 6,13 jam sehari, dan 81,5 persen bekerja enam hari atau lebih dalam seminggu. Satu siklus tanam rata-rata berlangsung 106,24 hari, dan di Distrik Phanomphrai sebagian besar petani menanam padi lebih dari sekali setahun, sehingga masa kerjanya lebih panjang daripada petani yang menanam sekali.
Dari daftar perilaku kerja, tiga kebiasaan mendapat skor risiko tertinggi, yakni bekerja sedikitnya lima jam sehari, mengangkat benda lebih dari 10 kilogram, dan sering membungkuk ke depan. Lebih dari separuh petani, 52,2 persen, sering mengangkat benda berat, sedangkan 41,4 persen sering membungkuk untuk meraih dan memegang barang. Karena itu, 70,7 persen tergolong berperilaku kerja dengan dampak sedang dan 28,7 persen berdampak tinggi.
Siapa yang memikul beban itu juga penting. Mayoritas responden perempuan, 58,6 persen, dengan usia rata-rata 58,08 tahun, dan 83,4 persen berusia 50 tahun ke atas. Pengalaman bertani mereka rata-rata 32,15 tahun, sebagian besar hanya tamat sekolah dasar, dan 76,4 persen berpendapatan bertani kurang dari 5.000 baht per bulan.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Postur yang Terbaca dalam Skor
Postur kerja itu kemudian diberi nilai dengan Rapid Entire Body Assessment atau REBA, alat penilai risiko ergonomi berdasarkan sikap tubuh saat bekerja. Hasilnya, tidak seorang pun petani berada di tingkat risiko sangat rendah dan hanya tiga orang di tingkat rendah. Sebanyak 73 petani berisiko sedang, 64 berisiko tinggi, dan 17 berisiko sangat tinggi, tingkat yang menurut naskah menuntut intervensi segera.
Jika dijumlah, 87,3 persen petani berada pada risiko sedang hingga tinggi, dengan skor REBA rata-rata 7,3 dan median 8. Menurut para penulis, angka itu menunjukkan bahwa kegiatan bertani padi secara umum membawa risiko ergonomi yang cukup besar sehingga perlu pembenahan tempat kerja secara sistematis. Postur itulah jembatan antara cara bekerja dan rasa sakit.
Dari Postur ke Punggung Bawah
Rasa sakit itu nyaris merata. Sebanyak 151 petani atau 96,2 persen melaporkan keluhan otot dan tulang di sedikitnya satu bagian tubuh dalam tujuh hari terakhir, dan 142 petani atau 90,4 persen dalam 12 bulan terakhir. Keluhan ini, yang dalam naskah disebut musculoskeletal disorders atau MSD, mencakup gangguan pada otot, tulang, saraf, tendon, ligamen, sendi, dan cakram tulang belakang.
Punggung bawah menjadi bagian yang paling banyak dikeluhkan, 49,7 persen dalam tujuh hari dan 47,8 persen dalam setahun. Pinggul menyusul dengan 30,6 dan 31,8 persen, lalu paha dengan 27,4 dan 22,9 persen. Dilihat per wilayah tubuh, tungkai bawah paling terdampak dengan 64,3 persen dalam seminggu, disusul wilayah poros tubuh 61,8 persen, sementara lengan dan bahu 26,1 persen.
Naskah mencontohkan pekerjaan di balik skor perilaku tadi, yakni membungkuk saat menanam bibit, berdiri terus-menerus selama menanam, mengangkat karung pupuk atau karung beras, serta menekuk dan menegakkan leher berulang kali. Sebaliknya, keluhan di tangan dan pergelangan hanya dilaporkan 3,8 persen petani dalam seminggu, siku 1,3 persen, dan lengan bawah 1,9 persen. Beban terbesar jatuh di punggung, pinggul, dan tungkai.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Pengetahuan yang Memindahkan Beban
Analisis regresi memperlihatkan pola yang lebih rumit. Untuk keluhan secara keseluruhan, skor REBA sangat tinggi berkaitan kuat dengan skor keluhan yang lebih besar, dengan koefisien 6,009. Luas sawah justru berkaitan dengan keluhan yang sedikit lebih rendah, dengan koefisien minus 0,079, dan para penulis mengaitkannya dengan temuan lain bahwa petani kecil kerap menghadapi beban fisik lebih berat karena akses alat mekanis terbatas.
Yang membuatnya rumit adalah peran pengetahuan. Pada tungkai bawah, pengetahuan ergonomi tingkat sedang dan tinggi berkaitan dengan keluhan yang lebih rendah, masing-masing dengan koefisien minus 2,173 dan minus 1,893. Namun pada lengan dan bahu, arah hubungannya berbalik, sebab pengetahuan sedang dan tinggi justru berkaitan dengan keluhan yang lebih besar, dengan koefisien 2,762 dan 1,298.
Para penulis membaca pola itu sebagai perpindahan beban. Petani yang paham ergonomi mungkin mengubah cara kerja sehingga tungkai lebih terlindungi, tetapi tekanan fisiknya beralih ke bagian tubuh lain. “Hubungan antara pengetahuan ergonomi dan MSD menghadirkan paradoks yang menarik,” tulis Jaikla, Tadee, dan Baubhom dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mereka lalu merujuk Garg dan Kapellusch. “Pola ini sejalan dengan temuan Garg dan Kapellusch, yang melaporkan bahwa meningkatnya kesadaran ergonomi mendorong perubahan teknik kerja yang dapat memindahkan tekanan fisik di antara bagian-bagian tubuh,” tulis ketiganya. Dengan kata lain, dalam pembacaan para penulis, pengetahuan tidak menghapus beban kerja, melainkan menggeser ke bagian tubuh mana beban itu akhirnya jatuh.
Di lengan dan bahu, faktor kerja juga ikut bicara. Jam kerja harian yang lebih panjang berkaitan dengan keluhan lebih besar, dengan koefisien 0,562, sedangkan jumlah hari kerja per minggu yang lebih banyak justru berkaitan dengan keluhan lebih kecil, dengan koefisien minus 0,723. Pada tungkai bawah, perilaku kerja berisiko tinggi berkaitan dengan keluhan yang lebih besar.
Alat, Jeda, dan Pelindung Tubuh
Berdasarkan hierarki pengendalian bahaya, para penulis menyusun beberapa usulan. Tugas berisiko tinggi sebisa mungkin dirancang ulang atau diganti, sementara mesin penyiang, traktor tangan bermotor, dan alat tangan ergonomis didorong untuk mengurangi kerja berulang dan kerja yang menguras tenaga. Mereka juga menyarankan dukungan pemerintah untuk menyediakan peralatan pertanian yang sesuai.
Di tingkat pengaturan kerja, naskah mengusulkan jadwal istirahat rutin, rotasi pekerjaan, dan pelatihan ergonomi. Penyangga punggung, pelindung lutut, dan sarung tangan disarankan dipakai saat tugas berisiko tinggi. Menurut para penulis, langkah bertingkat itu perlu disesuaikan dengan kenyataan sosial ekonomi petani desa agar murah dan mudah dijalankan tanpa mengubah kerangka ekonomi yang sudah ada di komunitas petani desa.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Naikkan Risiko Jantung Berulang
Di Mana Penjelasan Berhenti
Temuan ini punya batas yang diakui penulisnya sendiri. Desain potong lintang membuat hubungan yang ditemukan tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat, data bersandar pada laporan diri dan wawancara tatap muka yang rawan bias ingatan, dan penelitian hanya dilakukan di satu provinsi. Penilaian REBA dan kuesioner keluhan juga bisa dipengaruhi persepsi individu dan penilaian pemeriksa, sementara jenis olahraga petani tidak dicatat.
Pembaca yang cermat juga bisa menemukan beberapa ketidakcocokan dalam naskah. Abstrak menyebut 96,2 persen sebagai prevalensi 12 bulan dan 90,4 persen sebagai gejala saat ini, padahal bagian hasil dan tabel mencatat 96,2 persen untuk tujuh hari terakhir dan 90,4 persen untuk 12 bulan. Abstrak juga menampilkan rasio odds gerakan berulang 1,90, postur janggal 1,95, dan tenaga berlebih 2,78 seolah temuan sendiri.
Padahal, di bagian pembahasan angka-angka rasio odds itu dikaitkan dengan studi Teerasak Phajan dan rujukan lain, sedangkan analisis yang diuraikan hanya regresi linear. Pembahasan juga menyebut pengetahuan sedang dan tinggi berasosiasi negatif dengan keluhan lengan dan bahu, padahal koefisiennya positif. Tabel REBA mencatat nol petani berisiko sangat rendah, tetapi skor minimumnya 1.
Ada pula selisih kecil lain. Teks menyebut 66,2 persen petani tanpa penyakit kronis, sedangkan tabel mencatat 105 orang atau 66,8 persen, dan jumlah yang punya serta tidak punya penyakit kronis menjadi 158 dari 157 responden. Nilai p luas sawah tertulis 0,031 di teks, tetapi 0,033 di tabel, dan kesimpulan menyebut usia, jenis kelamin, serta indeks massa tubuh berkaitan dengan keluhan meski ketiganya hanya menjadi variabel penyesuai.
Kejanggalan di pembuka tadi pada akhirnya punya jawaban dari naskah itu sendiri. Petani Phanomphrai tahu posisi mana yang menyakitkan, tetapi pekerjaan manual yang panjang, postur berisiko, dan beban berat tetap datang setiap musim tanam, sementara pengetahuan mereka tampaknya hanya memindahkan tekanan dari tungkai ke lengan dan bahu, bukan menghapusnya.















