Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular

A A

Ilustrasi lansia yang aktif bergerak, salah satu faktor yang berkaitan dengan kesehatan otot, sendi, dan jantung. [Foto: Tom Thai/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Nyeri otot dan sendi berkaitan dengan risiko kardiovaskular pertama 37 persen lebih tinggi
  • Pada peserta yang pernah sakit, risiko kambuh 54 persen lebih tinggi
  • Makin banyak titik nyeri, makin tinggi risikonya
  • Nyeri yang menetap mencatat rasio hazard kekambuhan 3,23
Daftar Isi
  1. Angka Utama
  2. Siapa Pesertanya
  3. Risiko Kambuh
  4. Jumlah Titik Nyeri
  5. Nyeri yang Menetap
  6. Uji Ketahanan
  7. Batas Studi
  8. Catatan Naskah

Nyeri otot dan sendi berjalan seiring penyakit kardiovaskular. Kaitan itu muncul pada kejadian pertama maupun kekambuhan. Pada peserta yang pernah sakit, risiko kambuhnya 54 persen lebih tinggi bila mereka mengeluhkan nyeri otot dan sendi.

Temuan ini ditulis Yu Chen, Shiyue Sun, Haiqiang Guo, Le Yan, Chuanquan Peng, Yan Deng, Yuanyi Cai, dan Min Zhu dalam artikel Association of Musculoskeletal Pain with Incidence and Recurrence of Cardiovascular Disease: A Longitudinal Cohort in China. Artikel itu dimuat BMC Public Health tahun 2026. Para penulis berasal dari China Medical University dan Army Medical University.

Angka Utama

Peserta dengan nyeri otot dan sendi mencatat 3,45 kejadian kardiovaskular per 100 orang-tahun. Peserta tanpa nyeri mencatat 2,43 per 100 orang-tahun. Pemantauan kelompok ini berjalan dengan median sembilan tahun, total 72.043,58 orang-tahun, dan lamanya setara pada kedua kelompok.

Setelah penyesuaian penuh, risiko kejadian pertama 37 persen lebih tinggi pada peserta bernyeri. Rasio hazardnya 1,37, dengan rentang kepercayaan 1,24 sampai 1,52. Kaitan ini konsisten di tulang belakang, tungkai atas, dan tungkai bawah.

Penyakit kardiovaskular di sini mencakup serangan jantung, penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke yang didiagnosis dokter. Datanya dilaporkan peserta dalam wawancara tiap gelombang survei. Kematian karena penyakit kardiovaskular ikut dihitung sebagai kejadian.

Nyeri tulang belakang meliputi leher, punggung, dan pinggang. Nyeri tungkai bawah meliputi kaki dan lutut, sedangkan nyeri tungkai atas meliputi bahu, lengan, dan pergelangan tangan. Peserta cukup menyebut bagian tubuh yang sedang terasa nyeri.

Siapa Pesertanya

Data berasal dari China Health and Retirement Longitudinal Study, survei warga China berusia 45 tahun ke atas pada 2011 sampai 2020. Sebanyak 8.716 peserta dianalisis untuk kejadian pertama. Sebanyak 1.151 peserta yang sudah pernah sakit dianalisis untuk kekambuhan.

Rata-rata usia kelompok kejadian pertama 57,76 tahun, sedangkan kelompok kekambuhan lebih tua, 60,33 tahun. Dari kelompok kekambuhan, 521 orang bernyeri dan 630 tidak. Dari kelompok kejadian pertama, 2.452 orang bernyeri dan 6.264 orang tidak.

Peserta bernyeri lebih banyak perempuan, 62,5 persen dibanding 48,1 persen. Mereka lebih banyak tinggal di desa dan berpendidikan lebih rendah. Hipertensi, diabetes, dan pemakaian bahan bakar padat juga lebih sering pada kelompok ini.

Selama pemantauan tercatat 1.954 kejadian pertama. Kelompok kekambuhan mencatat 542 kejadian dalam median 8,67 tahun. Naskah menyebut nyeri otot dan sendi dialami sekitar 30 persen populasi umum di dunia, sehingga kaitan kecil pun menyangkut banyak orang.

Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung

Risiko Kambuh

Pada peserta yang sudah pernah sakit, nyeri berkaitan dengan risiko kambuh 54 persen lebih tinggi. Rasio hazardnya 1,54, dengan rentang 1,28 sampai 1,85. Angka ini lebih besar daripada kejadian pertama.

Tanpa penyesuaian apa pun, rasio hazard kekambuhan 1,49. Setelah penyesuaian penuh untuk usia, jenis kelamin, gaya hidup, hipertensi, dan diabetes, angkanya justru naik menjadi 1,54. Pada kejadian pertama polanya sebaliknya, dari 1,45 turun ke 1,37.

Kekambuhan penting karena berkaitan dengan kematian. Naskah mengutip bahwa 20 sampai 30 persen pasien mengalami kejadian kedua dalam lima tahun. Tiap kekambuhan disebut menaikkan risiko kematian sekitar 66,6 persen, angka yang diambil dari studi lain yang dirujuk naskah.

Naskah juga menyebut lebih dari 75 persen beban penyakit kardiovaskular dunia berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Beban terberat ada di Asia Selatan dan Asia Timur. Kaitan nyeri dengan kekambuhan di kawasan seperti ini, menurut naskah, belum pernah dipetakan.

Jumlah Titik Nyeri

Risiko naik seiring jumlah titik nyeri di tubuh. Nilai P tren di bawah 0,001, baik untuk kejadian pertama maupun kekambuhan. Naskah menyebutnya hubungan paparan dan respons, makin berat bebannya, makin tinggi risikonya.

Untuk kejadian pertama, risiko tertinggi ada pada lima sampai enam titik, dengan rasio 1,55. Tujuh sampai delapan titik justru sedikit lebih rendah, 1,49. Satu sampai dua titik mencatat 1,25, dan tiga sampai empat titik 1,52.

Makin banyak titik nyeri, makin tinggi risiko1-2 titik 1,25 ke 1,31; 3-4 titik 1,52 ke 1,66; 5-6 titik 1,55 ke 1,66; 7-8 titik 1,49 ke 1,81.Makin banyak titik nyeri, makin tinggi risikoRasio hazard dibanding peserta tanpa nyeri, model penuhKejadian pertamaKekambuhan1,001,251,501,752,001-2 titik1,251,313-4 titik1,521,665-6 titik1,551,667-8 titik1,491,81Rasio hazard 1,00 berarti setara dengan peserta tanpa nyeri otot dansendi.
Sumber: Yu Chen, Shiyue Sun, Haiqiang Guo, Le Yan, Chuanquan Peng, Yan Deng, Yuanyi Cai, dan Min Zhu, Association of Musculoskeletal Pain with Incidence and Recurrence of Cardiovascular Disease: A Longitudinal Cohort in China, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Untuk kekambuhan, tangganya lebih rapi. Satu sampai dua titik mencatat 1,31, lalu 1,66, 1,66, dan 1,81 pada tujuh sampai delapan titik. Rentang angka terakhir itu 1,31 sampai 2,50, tertinggi di antara semua kelompok kekambuhan.

Temuan ini sejalan dengan studi terdahulu yang dirujuk naskah. Studi UK Biobank oleh Rönnegård dan rekan mencatat risiko kejadian kardiovaskular naik seiring makin luasnya sebaran nyeri kronis. Naskah ini memperluas pola itu ke kekambuhan.

Nyeri yang Menetap

Nyeri juga dibagi menurut perjalanannya selama pemantauan: baru muncul, hilang, hilang-timbul, dan menetap. Semua pola berkaitan dengan risiko lebih tinggi dibanding tanpa nyeri. Yang menetap mencatat kaitan paling kuat.

Nyeri menetap mencatat rasio 2,68 untuk kejadian pertama, dengan rentang 2,19 sampai 3,27. Untuk kekambuhan, angkanya 3,23, dengan rentang 2,19 sampai 4,77. Di antara titik tunggal, nyeri leher yang menetap mencatat rasio sangat tinggi.

Nyeri yang sudah hilang pun tidak kembali ke titik aman. Rasionya 1,42 untuk kejadian pertama dan 1,88 untuk kekambuhan. Nyeri yang baru muncul selama pemantauan mencatat 1,93 untuk kejadian pertama dan 1,46 untuk kekambuhan.

Lama nyeri juga dihitung. Untuk kejadian pertama, makin lama nyeri makin tinggi risikonya secara linear di sebagian besar titik, kecuali nyeri kaki dan punggung yang polanya tidak linear. Untuk kekambuhan, hubungan linear terlihat di semua titik nyeri.

Nyeri yang menetap paling beratNyeri baru muncul: Kejadian pertama +1,93, Kekambuhan +1,46; Nyeri hilang: Kejadian pertama +1,42, Kekambuhan +1,88; Nyeri menetap: Kejadian pertama +2,68, Kekambuhan +3,23.Nyeri yang menetap paling beratRasio hazard menurut perjalanan nyeri selama pemantauanKejadian pertamaKekambuhan1230Nyeri baru muncul1,931,46Nyeri hilang1,421,88Nyeri menetap2,683,23Pembanding: peserta yang tidak pernah melaporkan nyeri otot dansendi.
Sumber: Yu Chen, Shiyue Sun, Haiqiang Guo, Le Yan, Chuanquan Peng, Yan Deng, Yuanyi Cai, dan Min Zhu, Association of Musculoskeletal Pain with Incidence and Recurrence of Cardiovascular Disease: A Longitudinal Cohort in China, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

“Meski nyeri sudah hilang, orang yang pernah mengalaminya tetap berisiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular maupun kekambuhannya,” tulis Yu Chen dan Shiyue Sun dalam naskahnya. Kalimat aslinya berbahasa Inggris dan berlanjut dengan dugaan adanya perubahan kardiovaskular yang bertahan terlepas dari gejala saat ini.

Baca juga TCBI Kumulatif Tinggi Perbesar Risiko Penyakit Kardiovaskular

Uji Ketahanan

Hasil utama diuji ulang dengan beberapa cara. Setelah data yang hilang diisi lewat imputasi, rasionya 1,37 untuk kejadian pertama dan 1,48 untuk kekambuhan. Setelah kejadian dua tahun pertama dibuang, angkanya 1,35 dan 1,32.

Penyesuaian tambahan untuk aktivitas fisik, keterbatasan fungsi, gejala depresi, dan lama tidur menurunkan kedua angka menjadi 1,29. Kaitannya tetap bermakna secara statistik, baik untuk kejadian pertama maupun kekambuhan. Artinya, faktor-faktor itu tidak menghapus kaitan tersebut.

Peserta dengan skor kognitif di bawah 3 dari 21 poin juga dikeluarkan untuk mengurangi bias ingatan. Rasionya tetap 1,43 untuk kejadian pertama dan 1,55 untuk kekambuhan. Hasil ini sejalan dengan analisis utama.

Uji interaksi tidak menemukan perbedaan bermakna antarsubkelompok. Titik perkiraan memang lebih tinggi pada perempuan, peserta dengan indeks massa tubuh tinggi, dan warga kota. Naskah meminta perbedaan ini dibaca hati-hati karena uji interaksinya tidak bermakna.

Penyebab kaitan ini belum diketahui. Naskah menyebut dugaan peradangan, aktivitas saraf simpatis, berkurangnya gerak, distres psikologis, dan obat antiradang nonsteroid. Faktor-faktor itu tidak diukur langsung dalam studi ini, sehingga bisa jadi justru faktor pengganggu yang tak terukur.

Batas Studi

Nyeri dan riwayat penyakit kardiovaskular dilaporkan sendiri oleh peserta, sehingga ingatan bisa keliru. Hasilnya juga hanya berlaku untuk warga China berusia 45 tahun ke atas. Perbedaan awal antara kelompok bernyeri dan tidak juga besar.

Sebab terbalik tetap mungkin terjadi. Penyakit kardiovaskular yang belum terdiagnosis bisa lebih dulu memicu keluhan nyeri. Data jenis nyeri dan pemakaian obat pereda nyeri juga tidak tersedia, sehingga pengaruh obat belum bisa dipisahkan.

Daya pembeda modelnya sedang saja, belum tergolong tinggi. Indeks C model penuh 0,643 untuk kejadian pertama dan 0,606 untuk kekambuhan. Naskah menyebut angka itu sebagai daya pembeda yang dapat diterima.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Catatan Naskah

Kolom kekambuhan di Tabel 2 tampak bergeser. Jumlah kejadian per kelompok titik nyeri, ditambah 260 kejadian tanpa nyeri, mencapai 773. Angka itu melebihi total 542 kekambuhan yang dilaporkan naskah, dan satu entri 51 kejadian tidak punya baris.

Median pemantauan kekambuhan tercatat 6,92 tahun pada peserta bernyeri dan 8,92 tahun pada yang tidak. Naskah menyebut keduanya serupa, padahal selisihnya dua tahun. Baris nyeri hilang-timbul di Tabel 3 juga tidak terbaca utuh, sehingga angkanya tidak dikutip di sini.

Nyeri otot dan sendi tercatat berjalan seiring penyakit kardiovaskular pada warga China paruh baya dan lanjut usia. Apakah nyeri itu sebab, tanda, atau sekadar teman jalan penyakit, data sembilan tahun ini belum bisa menjawab.

Bagikan

Baca Juga

Pakar IPB: Makanan Sisa Aman 3-4 Hari di Suhu 4 Derajat
Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Guru Besar UNAIR: Anak Disleksia Bukan Anak yang Bodoh
Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
TCBI Kumulatif Tinggi Perbesar Risiko Penyakit Kardiovaskular
PM2.5 dan NO2 Naikkan Rawat Inap Neurologis di Harbin