- Papan tongkah berukuran 2-2,5 meter dipakai menangkap kerang darah di lumpur
- Ada 17 lokasi lumpur tempat menongkah di Indragiri Hilir
- Festival menongkah sejak 2008 pernah raih rekor MURI lebih dari 500 peserta
- Menongkah ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud RI pada 2018
Daftar Isi
Sebelum tahun 1722, Suku Duano masih leluasa mengarungi Selat Melaka. Mereka menjaga kedamaian perairan untuk Kerajaan Johor-Malaka, hidup berpindah di atas laut sebagai bagian dari peran itu, sebelum satu keputusan politik mengubah arah hidup mereka untuk waktu yang sangat lama.
Catatan ini ditulis Vitasari, Viktor Amrivo, Khodijah Ismail, dan T. Ersty Yulikasari dalam Perkembangan Livelihood Menongkah Suku Duano Menjadi Festival Budaya Masyarakat Indragiri Hilir, terbit di Jurnal Ekologi, Masyarakat dan Sains volume 4 nomor 1, tahun 2023. Keempatnya berasal dari Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Sebelum 1722, Laut yang Terbuka
Nama Duano berasal dari bahasa mereka sendiri, yang berarti laut. Suku ini juga disebut Suku Laut karena kehidupan sehari-harinya bergantung penuh pada hasil laut, bukan pada tanah atau ladang. Wilayah huniannya kini terpusat di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, dengan sebagian anggotanya menyebar sampai ke Provinsi Kepulauan Riau.
Pada masa itu, akses ke Selat Melaka masih terbuka lebar bagi mereka. Suku Duano berperan penting pada zaman Kerajaan Johor-Malaka, menjaga kedamaian perairan yang menjadi wilayah kekuasaan kerajaan tersebut. Mereka hidup di atas perahu, berpindah-pindah mengikuti kebutuhan menjaga laut, bukan menetap di satu daratan tertentu.
1722 sampai 1960, Berpindah dan Menetap
Tahun 1722 menjadi titik balik bagi Suku Duano. Mereka berpihak kepada Raja Kecil, yang kalah dalam perebutan Kerajaan Malaka pada masa itu. Karena keberpihakan tersebut, Suku Duano harus hidup berpindah-pindah demi lepas dari pengawasan kerajaan yang menang, bergerak ke perairan dangkal di antara pulau-pulau kecil yang terpencil.
Sejak tahun itu, Suku Duano berulang kali memasuki wilayah perairan yang dikuasai Kerajaan Siak, lalu berpindah lagi memasuki perairan yang dikuasai Kerajaan Indragiri. Perubahan berikutnya datang pada 1932, ketika Raja Kerajaan Indragiri mengangkat Ismail sebagai Panglima Raja untuk wilayah Concong Laut, sehingga Suku Duano mulai bermukim di kawasan itu.
Permukiman di Concong Laut itu belum menjadi tempat tinggal tetap. Ia baru berfungsi sebagai tempat tinggal alternatif, dipakai ketika kondisi laut tidak memungkinkan Suku Duano melaut seperti biasanya. Titik menetap yang lebih permanen baru muncul pada tahun 1960, ketika negara menata ulang sisi sosial, ekonomi, dan politik masyarakat ini.
Penataan tahun 1960 itu mengubah tempat hidup Suku Duano, dari yang semula bermukim di pesisir menjadi mendiami ekosistem muara pantai, menurut catatan Amrifo tahun 2014 yang dirujuk dalam tulisan ini. Perubahan tempat tinggal itu berbarengan dengan perubahan lingkungan bio-fisik yang membuat area tangkap ikan menjauh dari garis pantai ke arah laut lepas.
Baca juga Monumen Bundo Kanduang Sijunjung dan Empat Warnanya
Kualitas perairan menurun, hutan mangrove rusak, dan terjadi shoaling atau pendangkalan yang disertai aksresi dan abrasi di sepanjang pesisir Indragiri Hilir. Di tengah kemunduran itu, ada sumber daya lain yang justru melimpah, yaitu hamparan lumpur estuaria yang menjadi habitat subur bagi kerang darah, Anadara granosa, tersebar hampir di seluruh pesisir pulau-pulau terluar kabupaten.
Papan Tongkah, Alat Baru di Lumpur
Beralih dari menangkap ikan di laut lepas ke menangkap kerang di lumpur, Suku Duano memerlukan alat yang sama sekali baru. Perahu dan peralatan melaut mereka tidak lagi cocok dipakai di ekosistem muara yang berlumpur, sehingga muncul teknologi sederhana yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.
Alat yang lahir dari kebutuhan itu adalah papan tongkah, disebut tiangan dalam dialek Duano. Bentuknya menyerupai papan selancar, dibuat dari kayu jelutung, kayu pulai, atau jenis kayu lain, kadang dari satu belahan kayu utuh dan kadang dari beberapa bilah papan yang digabungkan menjadi satu.
Ukurannya cukup baku dari satu papan ke papan lain. Panjangnya berkisar 2 meter sampai 2,5 meter, lebarnya 50 sentimeter sampai 80 sentimeter, dan tebalnya 3 sentimeter sampai 5 sentimeter. Ujungnya sengaja dibuat melentik ke atas, sebab papan yang kurang melentik akan menghujam ke dalam lumpur saat dipakai bergerak.
Menongkah Sebelum Subuh
Teknik menongkah dilakukan dengan cara yang tampak sederhana. Satu kaki bertumpu di atas papan sebagai pijakan, sementara kaki yang lain berfungsi sebagai pengayuh agar papan bisa berpindah tempat di atas hamparan lumpur, membawa penongkah dan wadah tangkapannya sekaligus.
Keberadaan kerang darah dideteksi dari gelembung air yang muncul di permukaan lumpur. Kegiatan ini biasa berlangsung sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 pagi, tepat ketika air laut sedang surut, sebab menongkah hanya bisa dilakukan saat hamparan lumpur terbuka dari genangan air laut.
Dalam sebulan, menongkah bisa dilakukan sekitar 20 hari, mengikuti pergeseran pasang surut air laut yang berubah dari waktu ke waktu. Setahun sekali muncul masa yang disebut pasang tiga puluh, saat air pasang besar membuat waktu surut sulit ditentukan dan kerang menjadi lebih sulit ditangkap.
Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, ada 17 lokasi hamparan lumpur seluas ribuan hektar yang dipakai untuk menongkah. Lokasi itu tersebar di Sungai Gamak Besar, Sungai Gamak Kecil, Sungai Temiang Besar, Sungai Temiang Kecil, Desa Sungai Buluh, dan belasan titik lain di sepanjang wilayah Indragiri Hilir.
Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80
Kegiatan menangkap kerang bergizi ini pada awalnya banyak dilakukan oleh ibu-ibu Suku Duano untuk memberi makan keluarganya. Dari fakta itu, penulis menyebut kesetaraan pemberdayaan perempuan sesungguhnya sudah tertanam sejak dahulu kala dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Suku Duano.
2008, Menongkah Jadi Festival Tahunan
Kegiatan yang semula murni penyambung hidup ini kemudian bergeser fungsinya. Sejak tahun 2008, menongkah dijadikan festival tahunan dan masuk kalender wisata budaya Provinsi Riau, dengan dukungan penuh dari pemerintah setempat yang ingin melestarikan tradisi ini.
Festival ini sempat meraih rekor MURI untuk kategori peserta terbanyak, lebih dari 500 orang, dalam kegiatan menongkah sekaligus mandi lumpur di atas papan tongkah, menurut catatan Mediacenter Riau tahun 2017. Bupati Indragiri Hilir turut berkomitmen menjadikan menongkah sebagai destinasi wisata budaya andalan daerah.
Baca juga Kerah Kebaya Labuh Riau Naik ke Enam Busana Pastel
2018, Status Warisan dan Batas Ceritanya
Pengakuan resmi datang pada 2018, ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan menongkah sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Status itu menegaskan keunikan kegiatan yang berlangsung di pantai berlatar hamparan pasir di tengah laut, dengan tarian khas yang tengah diajukan pendaftaran Hak Atas Kekayaan Intelektualnya.
Masyarakat Suku Duano bahkan berencana mengajukan menongkah kepada komite warisan dunia yang dinaungi UNESCO. “Menongkah telah menjadi livelihood utama masyarakat Suku Duano sejak dahulu kala dimulai oleh ibu-ibu Suku Duano yang mencari sumber makanan dari menongkah untuk diberikan kepada keluarganya,” tulis Vitasari, Viktor Amrivo, Khodijah Ismail, dan T. Ersty Yulikasari dalam naskahnya.
Tulisan ini disusun lewat metode tinjauan literatur, merangkum temuan dari beberapa artikel daring yang sudah terbit sebelumnya, bukan dari pengamatan atau wawancara lapangan langsung oleh penulis sendiri. Ukuran papan tongkah dan jumlah lokasi menongkah, misalnya, bersumber dari rujukan sekunder seperti Pratiwi dan Arman, bukan dari pengukuran penulis di lapangan.
Ada satu kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca dari naskah ini. Pada bagian cara mengutip yang tercantum di kaki setiap halaman, penulis pertama selalu ditulis sebagai satu kesatuan dengan tiga nama lain, seolah keempatnya penulis dengan bobot penulisan yang setara dan lengkap.
Namun pada halaman judul, penulis pertama hanya dicantumkan dengan nama tunggal Vitasari, tanpa nama depan yang jelas, berbeda dari tiga penulis lain yang namanya ditulis lengkap. Ejaan ini konsisten diulang di seluruh naskah, tetapi tidak pernah dijelaskan apakah itu nama lengkap atau nama panggilan dari penulis utamanya.
Perjalanan Suku Duano merekam bagaimana satu kelompok masyarakat menyesuaikan cara hidupnya berkali-kali, dari mengarungi laut lepas, berpindah mengikuti kekuasaan kerajaan, hingga akhirnya menetap dengan bertumpu pada sebilah papan kayu di atas lumpur. Kelangsungan kerang darah di Indragiri Hilir kini menjadi penentu apakah rangkaian sejarah panjang ini akan terus berlanjut sebagai livelihood sekaligus warisan budaya, atau justru berhenti bila lumpur tempat kerang itu hidup ikut terdegradasi.














