- Tali kuning (Arcangelisia flava) paling sering disebut 30 informan Suku Moi, RFC 0,96
- Sepuluh tumbuhan dipakai sebagai ramuan tunggal, delapan diminum dan dua dioles
- Daun jadi bagian tumbuhan paling banyak dipakai, 67 persen dari total penggunaan
- Uji lab: ekstrak tali kuning IC50 601 ppm, lebih aktif dari klorokuin sulfat 916,64 ppm
Daftar Isi
RFC, singkatan dari Relative Frequency of Citation, kedengarannya seperti istilah statistik yang rumit. Padahal maksudnya sederhana: seberapa sering satu tumbuhan disebut ketika 30 orang Suku Moi di Malaumkarta Raya, Sorong, ditanya satu per satu, apa obat malaria yang mereka pakai. Semacam pemungutan suara tanpa kertas suara, dan tali kuning menang telak.
Temuan itu berasal dari Anisa Tri Hutami, Wiwied Ekasari, dan Marcellino Rudyanto dalam Ethnomedicine study of medicinal plants as malaria treatments in Moi Tribe, Southwest Papua, Indonesia, dimuat jurnal Biodiversitas volume 26, nomor 3, tahun 2025. Ketiganya bernaung di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya.
Sebanyak 30 informan diwawancarai di Kampung Malaumkarta Raya, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong. Sebanyak 23 di antaranya perempuan, dan hampir separuhnya berusia di atas 60 tahun. Sebagian besar bekerja sebagai petani, dengan pendidikan terakhir sekolah dasar, dan hanya satu orang berstatus dukun adat yang menempuh pendidikan tradisional Kambik, sistem sosial khas Suku Moi yang mengatur mulai dari perkawinan sampai cara mengobati penyakit.
RFC, angka tanpa kotak suara
Maksudnya begini. Setiap kali seorang informan menyebut nama tumbuhan tertentu sebagai obat malaria, itu dihitung satu suara untuk tumbuhan itu. Jumlah suara lalu dibagi jumlah total informan, 30 orang, sehingga hasilnya berupa angka pecahan dari 0 sampai 1. Semakin dekat ke 1, semakin banyak orang yang menyebut tumbuhan itu tanpa diminta membandingkan satu sama lain.
Bedanya dengan survei kepuasan yang lazim kita kenal, RFC tidak bertanya tumbuhan mana yang paling ampuh. Ia hanya mencatat tumbuhan mana yang paling sering muncul begitu saja di ingatan orang, sebagai jawaban spontan atas pertanyaan sederhana. Dari sinilah tali kuning, nama lokal untuk Arcangelisia flava, keluar dengan RFC 0,96, disebut oleh hampir semua dari 30 informan.
Menurut catatan penelitian, gejala malaria yang paling sering disebutkan Suku Moi adalah demam, dikutip 96 persen informan, disusul rasa kedinginan atau menggigil 88 persen, dan nyeri badan atau tulang 51 persen. Sebagian dari mereka juga percaya malaria disebabkan cuaca dingin, kelelahan, dan lingkungan yang kotor, bukan semata gigitan nyamuk, sehingga cara mencegahnya pun mengikuti logika itu, seperti tidak keluar rumah saat cuaca dingin di malam hari.
Tali kuning, jawaban yang nyaris seragam
Batang tali kuning dimemarkan dua potong, direbus dengan dua gelas air sampai tersisa separuh, disaring, lalu diminum panas-panas. Racikan itu diminum satu gelas, dua kali sehari, dan biasanya membutuhkan waktu dua hari sampai demam mereda. Bila air rebusan masih berwarna kuning, batangnya boleh direbus ulang untuk dosis berikutnya.
Di bawah tali kuning, daun pepaya menempati posisi kedua dengan RFC 0,70, diikuti kumis kucing dengan RFC 0,26. Kesepuluh tumbuhan yang tercatat dalam penelitian ini semuanya dari famili tumbuhan yang berbeda-beda, dan semuanya dipakai sebagai ramuan tunggal, tidak dicampur satu sama lain.
Daun pepaya diracik lebih sederhana lagi, dua lembar daun segar direbus bersama satu gelas air, disaring, lalu diminum satu gelas dua kali sehari hingga membaik, biasanya juga dua hari. Kumis kucing dipakai dengan tujuh lembar daun segar direbus dalam satu gelas air, diminum satu gelas namun cukup sekali sehari, bukan dua kali seperti dua tumbuhan sebelumnya.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Pahit dianggap penyembuh, bukan yang dihindari
Di sinilah letak keyakinan yang perlu diluruskan bagi pembaca yang terbiasa menghindari rasa pahit. Bagi Suku Moi, rasa pahit pada rebusan tali kuning, daun pepaya, dan sambiloto justru dianggap tanda bahwa ramuan itu bekerja. Peneliti menulis, “All of the plants are used as single formulations because they believe that combining medicinal herbs can disrupt the desired effects,” dari naskah berbahasa Inggris karya Hutami, Ekasari, dan Rudyanto, yang bila diterjemahkan berbunyi: semua tumbuhan dipakai sebagai ramuan tunggal karena mereka percaya mencampur beberapa tumbuhan obat bisa mengganggu khasiat yang diinginkan.
Keyakinan itu menjelaskan mengapa dalam tabel penelitian tidak ada satu pun resep campuran. Setiap tumbuhan berdiri sendiri sebagai obat, lengkap dengan takaran dan cara rebus masing-masing, bukan diramu bersama seperti jamu godok yang mencampur banyak bahan sekaligus.
Dioles, bukan diminum, dua pengecualian
Dari sepuluh tumbuhan itu, delapan diminum sebagai air rebusan, sedangkan dua dipakai secara topikal, digosokkan langsung ke kulit. Daun gatal, nama lokal untuk Laportea decumana, digosokkan ke punggung atau perut untuk meredakan pegal dan nyeri badan, bukan untuk menyembuhkan malaria itu sendiri.
Peneliti menuliskan bahwa daun gatal adalah tumbuhan yang selalu dibawa Suku Moi ke ladang atau ke hutan. Dalam bahasa aslinya, “Itchy leaves are important plants for the Moi Tribe, they are inseparable ’provisions’ when working in the garden, or traveling to the forest,” tulis Hutami, Ekasari, dan Rudyanto, yang bermakna: daun gatal adalah tumbuhan penting bagi Suku Moi, ia menjadi bekal yang tak terpisahkan saat bekerja di kebun atau bepergian ke hutan.
Daun kigainas, dari tumbuhan Premna serratifolia, dipakai dengan cara serupa namun digosokkan ke dahi, khusus untuk meredakan sakit kepala yang menyertai demam malaria. Bagian tumbuhan yang paling sering dipakai secara keseluruhan adalah daun, mencapai 67 persen dari total penggunaan, jauh di atas kulit batang dan batang.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Uji laboratorium, mengejar apa yang sudah dipercaya
Sebagian tumbuhan ini sudah diuji di laboratorium, dan hasilnya menguatkan sebagian keyakinan turun-temurun itu. Ekstrak air batang tali kuning punya nilai IC50 601 ppm pada uji penghambatan parasit, dibandingkan klorokuin sulfat sebagai kontrol positif dengan IC50 916,64 ppm. Semakin kecil angka IC50, semakin sedikit konsentrasi yang dibutuhkan untuk menekan parasit, artinya tali kuning tampil lebih aktif dibanding obat pembanding pada uji ini.
Ekstrak daun pepaya diuji dengan IC50 3,43 mikrogram per mililiter pada satu galur parasit dan 1,52 mikrogram per mililiter pada galur lain. Sambiloto tercatat IC50 6,36 mikrogram per mililiter. Namun tidak semua tumbuhan seberuntung itu. Daun gatal, kigainas, dan jambu bol belum punya publikasi ilmiah yang menguji langsung aktivitas antimalarianya, meski kerabat dekatnya di genus yang sama sudah diuji dan menunjukkan hasil positif.
Kulit batang kayu susu, dari pohon Alstonia scholaris, sudah diuji langsung pada hewan model dan hasilnya bertingkat mengikuti dosis: penurunan parasitemia 59 persen pada dosis 200 miligram, naik ke 66 persen pada 400 miligram, dan mencapai 95 persen pada 600 miligram. Sebaliknya, alkaloid dari batang baulas, tumbuhan yang justru RFC-nya paling rendah dalam daftar, tercatat punya aktivitas antimalaria sangat kuat pada publikasi terpisah, dengan IC50 serendah 0,028 mikromolar, jauh di bawah tumbuhan lain yang justru lebih sering disebut warga.
Peneliti sendiri mengakui batasnya. Studi ini memakai sampel purposif dan snowball yang hanya menjaring 30 informan di satu kampung, sehingga temuan tidak serta-merta berlaku untuk seluruh Suku Moi atau seluruh Papua. Beberapa perbandingan angka IC50 pun diambil dari publikasi terpisah dengan metode dan galur parasit berbeda-beda, bukan diuji ulang langsung oleh tim yang sama.
Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Kejanggalan pada angka sepuluh dan dua belas
Ada selisih yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca yang teliti. Pada bagian Abstrak, penulis menulis bahwa 10 ramuan diminum sedangkan dua tumbuhan dipakai topikal, yang jika dijumlahkan berarti dua belas tumbuhan total. Namun badan naskah menyebutkan angka berbeda: delapan ramuan diminum dan dua dipakai topikal, dan Tabel 2 memang hanya memuat sepuluh tumbuhan, bukan dua belas.
Selisih ini kemungkinan besar salah ketik pada kalimat Abstrak, sebab tabel data sendiri konsisten dengan angka delapan ditambah dua sama dengan sepuluh. Namun ketaklengkapan semacam ini tetap layak dicatat, karena Abstrak biasanya jadi bagian pertama yang dibaca orang sebelum masuk ke tabel rincian.
Yang tersisa dari penelitian ini adalah gambaran bahwa satu angka statistik sederhana, RFC, bisa menerjemahkan kebiasaan lisan yang diwariskan turun-temurun menjadi sesuatu yang bisa dibandingkan dan diperiksa ulang. Tali kuning tetap jadi jawaban yang paling sering muncul dari mulut warga Malaumkarta Raya, jauh sebelum ada laboratorium yang mengonfirmasinya.













