Pakar IPB: Makanan Sisa Aman 3-4 Hari di Suhu 4 Derajat

A A

Ilustrasi makanan matang dalam wadah simpan; kulkas memperlambat pertumbuhan bakteri, bukan mensterilkan makanan. [Foto: Pexels]

  • Dosen Sekolah Vokasi IPB Rosyda Dianah menyebut bakteri tidak mati di kulkas, hanya melambat pertumbuhannya.
  • Makanan matang pada suhu 4 derajat Celsius atau kurang dianjurkan habis dalam tiga sampai empat hari.
  • Rentang 5 sampai 60 derajat Celsius adalah zona berbahaya tempat mikroorganisme berkembang cepat.
  • Prinsip 2-4-74: maksimal dua jam di suhu ruang, simpan 4 derajat, panaskan ulang hingga 74 derajat.

Cekricek.id — Makanan sisa matang yang disimpan pada suhu 4 derajat Celsius atau lebih rendah dianjurkan dikonsumsi dalam tiga sampai empat hari.

Menyimpan makanan sisa di kulkas tidak otomatis membuatnya aman, menurut keterangan tertulis IPB University, Jumat (25/09/2026). Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah SKM MKM, menyebut kebiasaan itu dapat menjadi sumber penyakit bawaan makanan bila dilakukan secara tidak tepat.

“Memasukkan makanan ke dalam kulkas bukan berarti proses kerusakan makanan berhenti sepenuhnya. Bakteri tidak mati di dalam kulkas. Kulkas pada suhu sekitar 1–4°C berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri, bukan mensterilkan makanan. Karena itu, makanan tetap memiliki masa simpan yang terbatas,” terangnya.

Berapa lama makanan sisa aman disimpan

Secara umum, makanan matang pada suhu 4 derajat Celsius atau kurang dianjurkan habis dalam tiga sampai empat hari. Nasi dan pasta matang perlu perhatian lebih karena berpotensi terkait dengan spora Bacillus cereus.

Rosyda menekankan pentingnya menghindari temperature danger zone, yakni rentang 5 sampai 60 derajat Celsius yang memungkinkan mikroorganisme berkembang lebih cepat. Keamanannya bergantung pada cara pendinginan, suhu penyimpanan, lama penyimpanan, hingga proses pemanasan kembali.

Dari sisi gizi, vitamin yang larut dalam air seperti vitamin C dan vitamin B kompleks relatif sensitif terhadap panas dan oksidasi. Lemak, khususnya asam lemak tak jenuh, dapat teroksidasi bila wadah tidak tertutup dengan baik.

Sebaliknya, karbohidrat seperti nasi, kentang, dan pasta mengalami perubahan pati ketika didinginkan. Sebagian pati menjadi lebih sulit dicerna, sehingga berpotensi membantu mengendalikan kenaikan gula darah, selama makanan tetap tersimpan baik dan tidak terkontaminasi mikroorganisme.

Prinsip 2-4-74 dan kesalahan yang sering terjadi

Kesalahan yang kerap dilakukan antara lain membiarkan makanan terlalu lama pada suhu ruang, memakai wadah besar dan terlalu dalam, tidak menutup wadah dengan baik, mengabaikan suhu kulkas, serta terlalu sering memanaskan ulang. Makanan sisa juga sebaiknya tidak diletakkan berdekatan dengan bahan pangan mentah untuk mencegah kontaminasi silang.

Untuk menekan risiko sekaligus mengurangi pemborosan pangan, Rosyda menyarankan prinsip sederhana 2–4–74: makanan mudah rusak tidak dibiarkan lebih dari dua jam pada suhu ruang, disimpan pada suhu sekitar 4 derajat Celsius atau lebih rendah, dan dipanaskan kembali hingga sekitar 74 derajat Celsius secara merata.

“Keamanan pangan tidak berarti semua makanan sisa harus langsung dibuang. Perencanaan penyimpanan yang baik justru dapat membantu mengurangi food waste,” pungkasnya.

Isu pangan lain yang menyentuh rumah tangga pernah dibahas lewat kelangkaan beras kemasan 5 kg dan seruan diversifikasi pangan menghadapi El Nino, sementara mutu tenaga kesehatan diatur lewat skema RPL Tipe A bagi mahasiswa nakes.

Bagikan

Baca Juga

Guru Besar IPB: Akses Data Konsumen Tak Boleh Otomatis
Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Banjir Rob Surabaya Diwaspadai Saat Pasang Lewati 2,4 Meter
Guru Besar UNAIR: Anak Disleksia Bukan Anak yang Bodoh
Guru Besar UGM Serukan Diversifikasi Pangan Hadapi El Nino
Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka