- Guru Besar Perilaku Konsumen IPB Megawati Simanjuntak menilai kelangkaan beras kemasan 5 kg memicu kekhawatiran konsumen.
- Kemasan 5 kg diminati karena praktis disimpan, terjangkau untuk sekali belanja, dan banyak pilihan mereknya.
- Konsumen dapat beralih ke kemasan 10 kg merek yang sama atau ke beras SPHP Bulog yang lebih murah.
- Megawati menyebut kelangkaan satu ukuran tidak berarti persediaan beras nasional habis.
Cekricek.id — Beras kemasan 5 kg yang mulai sulit ditemukan di sejumlah tempat berpotensi mendorong konsumen membeli berlebihan, menurut pakar perilaku konsumen IPB University.
Mengutip keterangan tertulis IPB University, Jumat (18/09/2026), Guru Besar Perilaku Konsumen kampus tersebut, Prof Megawati Simanjuntak, menyatakan kabar tentang barang yang mulai langka mengubah cara konsumen mengambil keputusan. Konsumen cenderung merasa perlu segera membeli sebelum barang benar-benar habis.
“Ketika kemasan 5 kg mulai langka, masyarakat pasti langsung merasa khawatir. Apalagi kalau masyarakat sudah mendengar barang mulai susah dicari, biasanya langsung terpikir untuk membeli atau menyetok lebih banyak,” ujar Megawati.
Mengapa beras kemasan 5 kg paling diburu
Menurut Megawati, ukuran itu sesuai dengan kebiasaan rumah tangga. Jumlahnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sementara harganya masih terjangkau untuk sekali berbelanja.
“Kemasan 5 kg lebih praktis disimpan dibandingkan kemasan yang lebih besar. Lalu biasanya ukuran 5 kg ini mereknya banyak dan konsumen punya preferensi sendiri untuk beras yang disukai, sehingga banyak konsumen lebih memilih kemasan 5 kg,” tambahnya.
Dua arah perpindahan konsumen
Ia menyebut ada dua kemungkinan ketika ukuran yang biasa dibeli tidak tersedia. Pertama, konsumen beralih ke ukuran lain dari merek yang sama, misalnya kemasan 10 kg, dengan konsekuensi pengeluaran sekali belanja menjadi lebih besar.
Kedua, konsumen beralih ke pilihan yang sebelumnya tidak dipertimbangkan, misalnya beras SPHP Bulog yang harganya lebih terjangkau. Kemungkinan kedua ini memperlihatkan kelangkaan satu ukuran tidak selalu direspons dengan kepanikan.
Kelangkaan satu ukuran bukan berarti stok nasional habis
Megawati mengingatkan kondisi tersebut tidak serta-merta berarti persediaan beras nasional habis. Persoalannya dapat berkaitan dengan biaya produksi maupun distribusi.
Namun kabar kelangkaan yang terus bermunculan dapat menggeser persepsi konsumen dan berpotensi memicu panic buying, yakni pembelian yang tidak lagi didasarkan pada kebutuhan melainkan kekhawatiran akan semakin sulitnya memperoleh produk.
“Masyarakat tidak perlu terlalu panik atau ikut-ikutan menimbun. Beli sesuai kebutuhan saja. Kalau merek yang biasa dibeli tidak tersedia, bisa mempertimbangkan alternatif yang kualitas dan harganya masih sesuai,” ujarnya.
Ia juga menilai pemerintah perlu menyampaikan informasi ketersediaan dan harga beras secara jelas agar konsumen tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan rumor. Suara pakar kampus atas isu yang sedang hangat juga muncul pada kasus lain, seperti ketika pakar UGM menyoroti kesejahteraan gajah Zidan yang dirantai tiga tahun.
Kajian kampus atas persoalan konsumsi dan ekonomi rumah tangga juga berjalan di tempat lain, antara lain lewat rancangan pajak otomatisasi mahasiswa UNAIR dan sistem pendataan UMKM lintas provinsi UNS Meter.














