Mahasiswa UNAIR Rancang Pajak Otomatisasi Hadapi Jobless Growth

A A

Tiga mahasiswa UNAIR memegang papan juara Policy Case Competition pada The 23rd HIPOTEX-R di IPB University. [Foto: Dok. Narasumber/UNAIR]

  • Tiga mahasiswa UNAIR meraih Juara II Policy Case Competition pada The 23rd HIPOTEX-R di IPB University.
  • Gagasan INDONESIA DIGITAL RISE menautkan pajak otomatisasi dengan transisi ketenagakerjaan.
  • Pilar RISE Digital berfokus pada pelatihan ulang keterampilan dan pemerataan akses digital.
  • Pilar REGAL AI mengatur tata kelola pajak kecerdasan artifisial dan transisi tenaga kerja.

Cekricek.id — Tiga mahasiswa Universitas Airlangga meraih Juara II Policy Case Competition pada The 23rd HIPOTEX-R di IPB University, Bogor, Minggu (13/9), lewat gagasan pajak otomatisasi dan transisi ketenagakerjaan.

Gagasan bertajuk INDONESIA DIGITAL RISE itu disusun mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR, menurut keterangan tertulis Universitas Airlangga, Rabu (16/09/2026). Tim beranggotakan Mohammad Daksha Hisahito sebagai ketua, bersama Aliya Salsabila Bisri dan Salwa Dwi Putri Arditiya.

Tim berangkat dari persoalan pertumbuhan ekonomi digital dan otomatisasi yang tidak selalu diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. Mereka melihat dua persoalan yang saling berkaitan, yaitu meningkatnya otomatisasi dan ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja, lalu menghubungkannya dengan kebijakan fiskal.

Dua pilar kebijakan yang ditawarkan

“Kami tidak ingin menghambat perkembangan AI, tetapi memastikan pertumbuhan ekonomi digital tetap berjalan tanpa menciptakan jobless growth,” ujar Daksha.

Lewat INDONESIA DIGITAL RISE, tim menawarkan dua pilar kebijakan. Pilar RISE Digital berfokus pada EduAI, pelatihan ulang keterampilan, penyelarasan kompetensi dengan kebutuhan industri, serta pemerataan akses digital. Sementara pilar REGAL AI mengatur tata kelola pajak kecerdasan artifisial dan transisi tenaga kerja.

Gagasan itu menempatkan kebijakan fiskal dan ketenagakerjaan dalam satu kerangka. Pajak dari perusahaan yang memperoleh manfaat ekonomi melalui otomatisasi dapat diarahkan untuk mendukung pelatihan ulang dan perlindungan pekerja. Pertautan riset kampus dengan kebutuhan dunia usaha juga menjadi sorotan ketika Ketua Umum APINDO mendorong hilirisasi riset perguruan tinggi.

Problem Tree Analysis sebelum gagasan disusun

Kompetisi tersebut menjadi pengalaman pertama tim di bidang policy case. Daksha menjelaskan penyusunan karya dimulai dari identifikasi persoalan secara mendalam.

“Kami menggunakan Problem Tree Analysis dan 5 Whys untuk menelusuri akar persoalan, kemudian mengkaji Robot Tax Theory, perpajakan ekonomi digital, Person-Skill Fit, dan Person-Job Fit,” jelasnya.

Menurut dia, pendekatan tersebut membantu tim melihat persoalan otomatisasi dari sisi tenaga kerja sekaligus kebijakan fiskal. Dorongan agar hasil kerja akademik berlanjut menjadi kebijakan atau produk juga mengemuka pada Dies Natalis ke-70 UNAND.

Tim menyebut kemenangan itu sebagai pengalaman baru sekaligus tanggung jawab. Ke depan, mereka berharap gagasan tersebut berkembang menjadi kebijakan yang lebih komprehensif dan tepat sasaran bagi kesejahteraan tenaga kerja. Karya mahasiswa yang menyasar persoalan nyata juga muncul di kampus lain, seperti sandal pintar pendeteksi luka kaki diabetes buatan mahasiswa UGM.

Bagikan

Baca Juga

Robot Humanoid UGM Raih Tiga Penghargaan di Jepang
Shinta Kamdani: Riset Kampus Perlu Jawab Kebutuhan Industri
Raja Charles Ingatkan Bahaya Eksistensial Kecerdasan Buatan
Prediksi Harga Saham BRI Model ARIMA-LSTM Bergalat 0,0297 Persen
Ketimpangan Gender 38 Provinsi Dipetakan, SVM Paling Akurat
Dua Tim Drone Unsoed Lolos ke Final KRTI 2026 di IKN