Investasi Asing Menambah Tenaga Kerja Hanya di Sumatra

A A

Ilustrasi pekerja berhelm memandu alat berat di lokasi proyek. [Foto: Pexels]

  • Satu tahun tambahan lama sekolah sejalan dengan naiknya pekerja di Sumatra dan turunnya pekerja di Indonesia Timur.
  • Investasi asing hanya nyata menambah pekerja di Sumatra, tidak di tiga gugus wilayah lainnya.
  • Pertumbuhan ekonomi nyata di Jawa-Bali dan Kalimantan-Sulawesi, tetapi bertanda negatif pada model nasional.
  • Angka partisipasi sekolah tidak nyata di satu pun model, nasional maupun gugus wilayah.
Daftar Isi
  1. Satu Panel 33 Provinsi, Empat Gugus yang Tak Sepakat
  2. Investasi Asing Hanya Nyata di Sumatra
  3. Pertumbuhan Ekonomi Positif di Dua Gugus, Negatif Secara Nasional
  4. Lama Sekolah Menambah Pekerja, Kecuali di Indonesia Timur
  5. Angka Harapan Hidup Sejalan, Sebarannya Tidak Merata
  6. Yang Belum Dijawab Model Ini

Satu tahun tambahan rata-rata lama sekolah sejalan dengan naiknya penyerapan tenaga kerja di Sumatra, dan dengan turunnya penyerapan di Indonesia Timur. Dua angka itu keluar dari kumpulan data yang sama, diolah dengan kerangka yang sama, dan hanya dipisahkan menurut gugus wilayah. Pada model nasional, hubungan itu tidak terbaca sama sekali. Investasi asing menempuh pola yang sebanding: nyata di satu gugus, diam di tiga gugus lainnya.

Hasil itu ditulis Franse Franse dan Maichal Maichal, keduanya dari STIE Ciputra Makassar, dalam artikel Regional Heterogeneity in Employment Determinants: Evidence from Indonesia di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, Volume 15 Nomor 1 tahun 2026, halaman 139–156. Naskahnya diterima 15 Desember 2025, direvisi 5 Februari 2026, dan disetujui 10 Februari 2026.

Satu Panel 33 Provinsi, Empat Gugus yang Tak Sepakat

Datanya panel tahunan 33 provinsi sepanjang 2011 sampai 2024. Jumlah provinsi itu dipilih penulisnya karena datanya lengkap di seluruh periode, dan rentang tahunnya dipilih dengan alasan yang sama. Provinsi lalu dibagi menjadi empat gugus: Sumatra, Jawa-Bali, Kalimantan-Sulawesi, dan Indonesia Timur. Kalimantan dan Sulawesi digabung karena jumlah provinsinya sedikit dan struktur ekonominya sama-sama bertumpu pada komoditas.

Variabel terikatnya jumlah penduduk bekerja dalam logaritma natural. Penjelasnya lima: rasio realisasi investasi asing terhadap produk domestik regional bruto, laju pertumbuhan PDRB riil, rata-rata lama sekolah penduduk 15 tahun ke atas, angka partisipasi kasar jenjang dasar dan menengah, serta angka harapan hidup saat lahir. Rasio dipakai untuk investasi asing supaya provinsi berukuran ekonomi berbeda dapat dibandingkan.

Model untuk tiap gugus tidak ditetapkan di muka, melainkan dipilih lewat uji. Uji Chow menghasilkan peluang 0,00 pada seluruh model, sehingga estimasi panel memang diperlukan. Uji Hausman kemudian memilih model efek acak untuk nasional, Sumatra, dan Kalimantan-Sulawesi, serta model efek tetap untuk Jawa-Bali dan Indonesia Timur. Galat standarnya dikelompokkan pada tingkat provinsi.

Alasan pemisahan itu dinyatakan di bagian pendahuluan. Sebagian besar kajian sebelumnya memakai data tingkat nasional, dan cara itu secara diam-diam menganggap pengaruh investasi asing, pertumbuhan, pendidikan, serta kesehatan terhadap penyerapan tenaga kerja sama di seluruh wilayah. Beberapa kajian sudah memakai data provinsi, tetapi tetap menaksir satu model nasional dan memperlakukan provinsi sebagai satu unit analisis yang seragam.

Baca juga Pendidikan Tinggi Menekan Pengangguran, Lebih Kuat Jangka Panjang

Nilai rata-rata tiap variabel memperlihatkan jarak antargugus sebelum satu koefisien pun dihitung. Jumlah pekerja rata-rata 10.461.393 orang di Jawa-Bali dan 1.367.557 orang di Indonesia Timur. Rasio investasi asing rata-rata 2,03 persen di Sumatra dan 10,63 persen di Indonesia Timur. Lama sekolah rata-rata 8,63 tahun di Jawa-Bali dan 7,73 tahun di Indonesia Timur.

Taraf nyata lima penentu: model nasional dan model gugusTaraf nyata lima penentu: model nasional dan model gugusTaraf nyata lima penentu: model nasional danmodel gugusPanel 33 provinsi, 2011–2024, uji satu arahModel nasionalEmpat gugus10%1% di Sumatrainvestasi asing10% negatif1% di 2 guguspertumbuhanekonomitak nyata1% di 3 guguslama sekolah5%2 gugusangka harapanhiduptak nyatatak nyatapartisipasi sekolah“Tak nyata” berarti hubungan tidak lolos taraf 10 persen. Gugus:Sumatra, Jawa-Bali, Kalimantan-Sulawesi, Indonesia Timur.
Sumber: Franse dan Maichal, Regional Heterogeneity in Employment Determinants: Evidence from Indonesia, Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 15(1), 2026, hlm. 139–156. Grafik: Cekricek.id

Investasi Asing Hanya Nyata di Sumatra

Pada model nasional, koefisien investasi asing 0,0196 dengan taraf nyata 10 persen, jadi hubungannya positif tetapi lemah. Pada gugus Sumatra, koefisiennya 0,0114 dan lolos taraf 1 persen. Di Jawa-Bali, Kalimantan-Sulawesi, dan Indonesia Timur, hubungan itu tidak nyata. Koefisien Jawa-Bali bahkan bertanda negatif, meski tidak lolos taraf mana pun.

Penulisnya menghubungkan hasil Sumatra dengan rasio investasi asingnya yang paling rendah di antara empat gugus. Dalam keadaan seperti itu, menurut naskah tersebut, modal yang masuk cenderung dipakai memperbesar produksi ketimbang memperbaiki efisiensi, sehingga jumlah pekerja ikut bertambah. Sumatra juga punya rata-rata lama sekolah dan partisipasi sekolah yang relatif tinggi.

Penulisnya menegaskan batas tafsirnya sendiri. Jalur tidak langsung seperti limpahan teknologi dan pengetahuan tidak diuji dalam artikel itu, sehingga hasilnya harus dibaca sebagai hubungan, bukan sebagai penularan sebab-akibat. Nilai R kuadrat model Sumatra hanya 0,0049, jauh di bawah Jawa-Bali yang 0,8203.

Pertumbuhan Ekonomi Positif di Dua Gugus, Negatif Secara Nasional

Arah koefisien pertumbuhan ekonomi berbalik ketika data dipisah. Model nasional mencatat −0,0043 pada taraf 10 persen, sementara Jawa-Bali mencatat 0,0034 dan Kalimantan-Sulawesi 0,0023, keduanya pada taraf 1 persen. Sumatra dan Indonesia Timur tidak nyata. Dua gugus dengan hasil nyata itu punya nilai t masing-masing 4,94 dan 3,39.

Nilai rata-rata pertumbuhan PDRB-nya sendiri berdekatan: 4,31 persen di Sumatra, 4,79 persen di Jawa-Bali, 5,74 persen di Kalimantan-Sulawesi, dan 5,28 persen di Indonesia Timur. Rata-rata nasionalnya 5,02 persen. Jadi perbedaan hasil estimasi tidak datang dari perbedaan laju pertumbuhan, melainkan dari cara pertumbuhan itu bertaut dengan jumlah pekerja.

Baca juga Efek Teknologi pada Penyerapan Tenaga Kerja Lewat Investasi

Lama Sekolah Menambah Pekerja, Kecuali di Indonesia Timur

Rata-rata lama sekolah memberi kontras paling tajam di seluruh artikel. Koefisiennya 0,2330 di Sumatra, 0,1186 di Jawa-Bali, dan 0,1821 di Kalimantan-Sulawesi, ketiganya pada taraf 1 persen. Di Indonesia Timur, koefisiennya −0,6507 pada taraf 10 persen. Pada model nasional, angkanya −0,0764 dan tidak nyata.

Koefisien lama sekolah terhadap jumlah pekerja, lima modelNasional: Koefisien RLS −0,0764; Sumatra: Koefisien RLS +0,2330; Jawa-Bali: Koefisien RLS +0,1186; Kalimantan-Sulawesi: Koefisien RLS +0,1821; Indonesia Timur: Koefisien RLS −0,6507.Koefisien lama sekolah terhadap jumlah pekerja,lima modelVariabel terikat: logaritma jumlah penduduk bekerja−0,8−0,6−0,4−0,20,20,40Nasional−0,0764Sumatra+0,2330Jawa-Bali+0,1186Kalimantan-Sulawesi+0,1821Indonesia Timur−0,6507Koefisien Sumatra, Jawa-Bali, dan Kalimantan-Sulawesi nyata padataraf 1 persen; Indonesia Timur pada taraf 10 persen; nasional tidaknyata.
Sumber: Franse dan Maichal, Regional Heterogeneity in Employment Determinants: Evidence from Indonesia, Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 15(1), 2026, hlm. 139–156. Grafik: Cekricek.id

Menurut penulisnya, hasil Indonesia Timur yang berlawanan arah itulah yang ikut membuat hubungan pendidikan dan penyerapan tenaga kerja lenyap pada tingkat nasional. Satu gugus dengan tanda negatif dan tiga gugus dengan tanda positif saling menghapus ketika 33 provinsi diperlakukan sebagai satu unit analisis. Variasi tanda dan taraf nyata itu disebut naskah tersebut sebagai bukti langsung keberagaman antarwilayah.

Angka partisipasi kasar bergerak ke arah yang berbeda lagi: tidak nyata di satu pun model. Koefisiennya positif di kelima model, dari 0,0005 di Jawa-Bali sampai 0,0097 di Indonesia Timur, tetapi tak satu pun melewati taraf 10 persen. Partisipasi sekolah menjadi satu-satunya variabel yang hasilnya seragam di artikel ini, dan keseragamannya berupa ketiadaan hubungan.

Rata-rata partisipasi kasarnya memang berdekatan antargugus: 0,942 di Sumatra, 0,926 di Jawa-Bali, 0,918 di Kalimantan-Sulawesi, dan 0,928 di Indonesia Timur, dengan rata-rata nasional 0,929. Koefisien variasinya juga paling kecil di antara enam variabel, 0,0528 secara nasional. Jarak antarwilayah, kata naskah tersebut, memang lebih tipis pada indikator modal manusia daripada pada indikator kependudukan dan ekonomi.

Angka Harapan Hidup Sejalan, Sebarannya Tidak Merata

Angka harapan hidup mencatat koefisien 0,1444 pada model nasional dengan taraf nyata 5 persen. Di Indonesia Timur koefisiennya 0,4535 pada taraf 5 persen, dan di Jawa-Bali 0,0222 pada taraf 10 persen. Sumatra dan Kalimantan-Sulawesi tidak nyata. Rata-rata angka harapan hidupnya 72,45 tahun di Jawa-Bali dan 66,24 tahun di Indonesia Timur.

Penulisnya menawarkan dua bacaan untuk dua gugus itu. Jawa-Bali punya angka harapan hidup tertinggi, dan pasar kerja di wilayah yang pembangunannya lebih maju dinilai lebih mampu menyerap perbaikan mutu tenaga kerja. Indonesia Timur punya angka terendah, sehingga perbaikan kesehatan di sana bergerak dari titik awal yang rendah dan lebih mudah terbaca dalam data.

Ragam nilai di dalam gugus juga tidak seragam. Koefisien variasi jumlah pekerja 1,4063 secara nasional, tetapi 0,5898 di Kalimantan-Sulawesi dan 0,7792 di Jawa-Bali. Untuk investasi asing, koefisien variasinya 2,0596 secara nasional, 0,8369 di Jawa-Bali, dan 1,8608 di Indonesia Timur. Keberagaman itu, kata naskah tersebut, ada di antara gugus maupun di dalamnya.

Baca juga Pekerja Migran Justru Sedikit dari Provinsi Paling Miskin

Yang Belum Dijawab Model Ini

Penulisnya menyebut sendiri batas artikelnya. Susunan sektor tiap wilayah, yang mereka duga menjelaskan mengapa daya serap tenaga kerja berbeda, tidak diuji secara empiris, sehingga dugaan itu tetap berada di tataran teori. Penelitian berikutnya disarankan memakai data sektoral agar faktor struktural di balik daya serap itu dapat dikenali.

Uji faktor inflasi ragam memperlihatkan tidak ada variabel yang nilainya melebihi 3, dengan rata-rata 1,34 pada model nasional sampai 2,02 pada Kalimantan-Sulawesi. Multikolinearitas karena itu dinyatakan bukan persoalan. Seluruh pengujian memakai uji satu arah, sehingga peluang dua arah dari perangkat lunak dibagi dua ketika tanda koefisiennya sesuai dugaan teori.

Untuk kesehatan, penulisnya menambahkan satu peringatan baca. Arah koefisiennya positif di hampir semua model, tetapi taraf nyatanya berbeda-beda, sehingga besar dan daya kerja perbaikan kesehatan terhadap penyerapan tenaga kerja tidak seragam antarwilayah. Hasil tingkat nasional karena itu diminta dibaca dengan hati-hati, karena bisa saja tidak mencerminkan cara penyerapan tenaga kerja menanggapi perbaikan kesehatan di tiap gugus.

Kesimpulan kebijakannya berdiri di atas satu kalimat: strategi ketenagakerjaan yang disusun hanya dari bukti tingkat nasional berisiko menghasilkan capaian yang tidak rata antarwilayah. Karena daya tanggap penyerapan tenaga kerja terhadap investasi, pertumbuhan, pendidikan, dan kesehatan berbeda tiap gugus, penulisnya menyarankan kebijakan yang dikalibrasi per wilayah, bukan satu resep untuk seluruh Indonesia.

Yang tersisa dari artikel ini adalah dua angka yang tidak bisa disatukan: 0,2330 di Sumatra dan −0,6507 di Indonesia Timur untuk variabel yang sama, pada periode yang sama. Model nasional menutup keduanya dengan satu angka tak nyata, −0,0764.

Bagikan

Baca Juga

Pariwisata Hijau Lumbung Mataraman Terganjal Prasarana dan SDM
Efisiensi Biaya Produksi Kedelai Lekat dengan Irigasi
Kredit Konsumsi NTT Jadi Penentu Terkuat PDRB Jangka Panjang
Perilaku Hemat Energi Lebih Mungkin di Desa daripada di Kota
Desentralisasi Fiskal NTB Menekan Kinerja Pembangunan Daerah
Kinerja Pertumbuhan Ekonomi Bali Berbalik Arah Usai Pandemi