- Survei 120 rumah tangga di Surakarta dan Magelang menemukan empat faktor signifikan bagi perilaku hemat energi.
- Odds rumah tangga desa untuk sudah berhemat tercatat 3,0389 kali odds rumah tangga kota.
- Pendapatan, pendidikan, dan jumlah peralatan elektronik dinyatakan tidak signifikan secara statistik.
- Sebanyak 57 persen responden kota mengenal konsep energi terbarukan, di desa hanya 27 persen.
Daftar Isi
Cekricek.id — Rata-rata pendapatan rumah tangga kota di Surakarta tercatat Rp3.466.666, rumah tangga desa di Magelang Rp1.533.333, dan perilaku hemat energi justru lebih mungkin muncul di sisi yang kedua. Kedua angka itu datang dari survei yang sama terhadap 120 rumah tangga, dan di dalam survei itu pendapatan tidak tercatat sebagai penentu yang signifikan bagi kebiasaan berhemat.
Survei itu dikerjakan Nurul Istiqomah, Izza Mafruhah, Evi Gravitiani, dan Fauziyah Nisa Rahmawati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Hasilnya terbit dengan judul Urban-Rural Differences in Sustainable Energy Consumption Behavior: Evidence from Indonesia di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 1 tahun 2026, halaman 157 sampai 174. Penelitiannya dibiayai LPPM Universitas Sebelas Maret lewat program hibah penelitian.
Naskahnya dibuka dengan dua angka yang juga saling berhadapan. Di sisi negara, pemerintah pada 2025 masih menyediakan subsidi 19,41 juta kiloliter untuk bahan bakar, 8,2 juta metrik ton untuk LPG, dan Rp90,22 triliun untuk listrik, lebih tinggi daripada tingkat 2024. Di sisi pemakai, rumah tangga menyerap sekitar 42 persen konsumsi listrik nasional pada 2023, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dipakai naskah itu.
Dua wilayah dipilih karena wataknya berbeda. Kota Surakarta mewakili perkotaan, sedangkan Kabupaten Magelang mewakili wilayah pinggiran yang bergantung pada sumber daya. Rumah tangganya dipilih dengan pengambilan sampel proporsional dan jumlahnya ditetapkan dengan rumus Slovin. Data dikumpulkan lewat kuesioner terstruktur, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah, lalu dilengkapi data Badan Pusat Statistik, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta dokumen kebijakan energi.
Dua alat dipakai untuk dua pertanyaan. Perangkat lunak ATLAS.ti memetakan cara rumah tangga memakai dan memaknai energi dari hasil wawancara dan diskusi kelompok. Regresi logit biner menghitung peluang perilaku hemat energi, dengan jawaban 0 untuk rumah tangga yang belum berhemat dan 1 untuk yang sudah. Tujuh peubah diuji: pendapatan, pendidikan, jumlah anggota keluarga, luas rumah, daya listrik terpasang, jumlah peralatan elektronik, dan lokasi tempat tinggal.
Rumah Tangga Kota di Surakarta
Di Surakarta, tabel statistik deskriptif penelitian ini mencatat kelompok umur responden terbanyak 40 sampai 59 tahun. Rata-rata pendapatannya Rp3.466.666,167, rata-rata anggota keluarganya tujuh orang, dan luas rumahnya di rentang 30 sampai 79 meter persegi. Daya listrik terpasangnya 900 VA, tagihan listriknya Rp150.000 sampai Rp299.000, dan kendaraan yang dimiliki sepeda motor.
Rumah tangga kota, tulis para penulis, lebih sering menempati rumah yang lebih luas dengan daya terpasang yang lebih besar, sehingga kebutuhan listrik untuk penerangan dan pendingin ikut membesar. Menurut mereka, “rumah tangga perkotaan menunjukkan tingkat konsumsi yang lebih tinggi dan pemakaian peralatan yang lebih beragam, termasuk pendingin ruangan dan mesin cuci.” Untuk memasak, dapur kota terutama bergantung pada LPG.
Pada urusan bepergian, konsumsi energi kota juga lebih tinggi karena kepemilikan kendaraannya lebih beragam, dan kendaraan listrik mulai tampak di perkotaan. Pengetahuan tentang energi terbarukan pun lebih tinggi. Sebanyak 57 persen responden kota mengenal konsepnya, dan 59 persen rumah tangga kota bersedia mengadopsinya. Di kota pula, tulis para penulis, warga makin menyadari manfaat teknologi yang lebih hemat energi.
Baca juga Subsidi Pupuk Menaikkan Produksi Padi, Bukan Laba Petani
Rumah Tangga Desa di Magelang
Di Magelang, kelompok umur responden terbanyak 60 sampai 69 tahun. Rata-rata pendapatannya Rp1.533.333 dan rata-rata anggota keluarganya delapan orang. Luas rumahnya berada di rentang yang sama dengan kota, 30 sampai 79 meter persegi. Daya listrik terpasangnya 450 VA, tagihan listriknya Rp0 sampai Rp149.000 sebulan, dan kendaraan yang dimiliki juga sepeda motor, sama seperti di Surakarta.
Untuk memasak, rumah tangga desa masih memakai kayu bakar, entah sepenuhnya, entah digabung dengan LPG. Pemetaan ATLAS.ti mencatat tiga sumber energi utama rumah tangga: listrik PLN untuk peralatan elektronik, LPG untuk memasak, dan kayu bakar, terutama di desa, untuk keperluan besar atau sebagai pengganti. Selisih pemakaian LPG dan kayu bakar itu disebut para penulis sebagai jurang transisi energi yang jelas antara kota dan desa.
Pada pengetahuan energi terbarukan, posisinya berbalik dari perilaku hemat energi. Hanya 27 persen responden desa yang mengenal konsep energi terbarukan, 32 persen tidak menyadarinya, dan 17 persen belum pernah mendengarnya. Kesediaan mengadopsinya di desa 17 persen, berhadapan dengan 59 persen di kota. Para penulis membaca selisih itu sebagai cerminan kesenjangan akses informasi dan infrastruktur di antara kedua wilayah.
Ada pula yang sama di kedua wilayah. Responden kota dan desa sama-sama menunjukkan kesadaran yang relatif tinggi untuk menghemat listrik, terutama dengan mematikan peralatan yang tidak dipakai. Sepeda motor dan mobil sama-sama mendominasi perjalanan harian. Bedanya, keterbatasan angkutan umum disebut sebagai tantangan besar di desa, dan rendahnya pemakaian angkutan umum, tulis naskah itu, ikut menaikkan konsumsi bahan bakar.
Empat Faktor yang Signifikan bagi Perilaku Hemat Energi
Dari tujuh peubah yang diuji, empat ditandai signifikan: jumlah anggota keluarga, luas rumah, daya listrik terpasang, dan lokasi. Lokasi mencatat koefisien 1,1115 dengan peluang 0,0249 dan rasio odds 3,0389. Karena desa diberi kode 1, angka itu berarti odds rumah tangga desa untuk sudah berhemat tercatat 3,0389 kali odds rumah tangga kota, dengan peubah lain dalam model yang sama.
“Rumah tangga di wilayah pinggiran yang bergantung pada sumber daya secara signifikan lebih mungkin menjalankan konsumsi energi yang efisien dibandingkan rumah tangga di wilayah berkepadatan tinggi,” tulis Nurul Istiqomah dan rekan-rekannya. Pada bagian kesimpulan, lokasi tempat tinggal disebut bersama jumlah anggota keluarga, luas rumah, dan daya terpasang sebagai faktor yang secara signifikan memengaruhi peluang perilaku hemat energi.
Dua peubah lain bergerak ke arah sebaliknya. Jumlah anggota keluarga mencatat koefisien minus 0,3571 dengan rasio odds 0,6997, sedangkan luas rumah mencatat minus 0,0097 dengan rasio odds 0,9903. Makin banyak anggota keluarga dan makin luas rumah, makin kecil peluang perilaku hemat energi. Keluarga besar, tulis para penulis, menghadapi kegiatan harian yang lebih padat, sementara rumah besar menuntut energi lebih banyak untuk penerangan dan pendingin.
Daya listrik terpasang justru bergerak searah dengan berhemat, dengan koefisien 0,0012, peluang 0,026, dan rasio odds 1,0012 untuk tiap tambahan satu VA. Para penulis menafsirkannya sebagai transisi teknologi, karena rumah berdaya besar cenderung memakai peralatan yang lebih baru dan lebih efisien. Model secara keseluruhan mencatat McFadden R-squared 0,1254 dan statistik LR 20,0415 dengan peluang 0,0055.
Baca juga Dana Desa Menaikkan Harapan Hidup, Bukan Lama Sekolah
Tiga Faktor yang Tidak Signifikan
Di sisi lain tabel, pendapatan mencatat koefisien 0,8087 dan rasio odds 2,2450, tetapi peluangnya 0,3947. Pendidikan mencatat minus 0,0083 dengan peluang 0,9129, dan jumlah peralatan elektronik minus 0,1190 dengan peluang 0,423. Ketiganya dinyatakan tidak signifikan secara statistik. Rasio odds pendapatan yang kedua tertinggi setelah lokasi itu, dengan kata lain, tidak cukup kuat untuk dibaca sebagai penentu perilaku hemat energi.
“Kemampuan keuangan yang lebih tinggi tidak otomatis berubah menjadi komitmen yang lebih kuat pada praktik energi berkelanjutan,” tulis para penulis tentang pendapatan. Mereka menambahkan, rumah tangga berpendapatan tinggi dapat mengutamakan kenyamanan sehingga konsumsinya naik apa pun biayanya, sedangkan kelompok berpendapatan rendah bisa kekurangan akses pada informasi, teknologi, atau infrastruktur untuk mengadopsi praktik yang efisien.

Untuk pendidikan, para penulis menyebut kemungkinan efek pantul. Orang berpendidikan lebih tinggi kerap memiliki peralatan lebih banyak, yang dapat mengimbangi kesadaran lingkungannya. Kebiasaan rumah tangga dan lingkungan sosial disebut lebih menentukan daripada pendidikan formal dalam membentuk perilaku hemat energi, terutama bila diperkuat norma masyarakat dan motivasi bersama.
Untuk jumlah peralatan, pembacaannya serupa. Perilaku berhemat disebut lebih dipengaruhi pola pemakaian dan pengendalian diri daripada banyaknya barang. Rumah tangga yang memiliki banyak peralatan, tulis naskah itu, tetap dapat memakai energi secara efisien bila menjaga kendali perilaku, kesadaran, atau pembatasan pemakaian. Sikap, kendali perilaku yang dirasakan, dan kebiasaan rutin disebut lebih baik meramalkan pemakaian energi daripada kepemilikan barang semata.
Penjelasan Para Penulis untuk Kota dan Desa
Untuk kota, penjelasan utamanya adalah subsidi. Sistem subsidi energi yang luas, menurut para penulis, menekan biaya nyata listrik dan bahan bakar, sehingga dorongan keuangan untuk berhemat melemah, terutama bagi rumah tangga berpendapatan tinggi. Kesimpulannya ditulis lebih tegas: “kebijakan subsidi energi Indonesia yang berlangsung lama telah melemahkan sinyal harga, sehingga mengurangi peran motivasi ekonomi dalam mendorong penghematan.”
Untuk desa, penjelasannya berbeda. Efisiensi yang lebih tinggi di wilayah pinggiran, tulis mereka, sering kali merupakan akibat keterbatasan struktural dan lingkungan, seperti ketergantungan pada sumber energi tradisional serta akses yang lebih baik pada pendinginan dan pencahayaan alami. Di wilayah yang lebih maju, selisihnya dikaitkan dengan kepemilikan peralatan yang bertambah dan gaya hidup yang makin modern. Ringkasan naskahnya juga menyebut terbatasnya akses listrik sebagai alasan utama.
Antusiasme warga untuk berhemat disebut relatif tinggi. Hal itu tampak dari harapan agar pemerintah lebih terlibat lewat edukasi, pendampingan teknis, dan program dukungan teknologi hemat energi seperti lampu LED. Hambatan adopsi energi terbarukan yang dicatat ada tiga, yakni biaya teknologi yang tinggi, infrastruktur yang terbatas, dan dukungan kebijakan yang tidak merata, ditambah ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil.
Rekomendasinya pun berangkat dari dua sisi. Subsidi disarankan ditata ulang agar distorsi harga berkurang, termasuk subsidi bersyarat bagi rumah tangga yang berhemat. Program literasi energi, perubahan perilaku, dan kampanye kesadaran disarankan diperkuat terutama di kota yang konsumsinya tinggi. Insentif berupa bantuan keuangan, potongan pajak, atau pembiayaan mikro disarankan untuk peralatan hemat energi dan sistem energi terbarukan skala kecil.
Baca juga Pekerja Migran Justru Sedikit dari Provinsi Paling Miskin
Yang Belum Dijelaskan Naskahnya
Naskah ini tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Ia juga tidak melaporkan berapa dari 120 rumah tangga itu yang tinggal di Surakarta dan berapa di Magelang, padahal seluruh perbandingan kota dan desa bertumpu pada pembagian tersebut. Temuannya berasal dari satu kota dan satu kabupaten, sementara judulnya memakai frasa bukti dari Indonesia.
Beberapa angka juga tidak cocok dengan definisinya sendiri. Naskahnya menulis sebagian besar responden mengonsumsi listrik 100 sampai 300 VA per bulan, padahal tabel peubahnya mendefinisikan VA sebagai kapasitas listrik maksimum yang tersambung ke rumah. Kolom berjudul rata-rata di tabel statistik deskriptif berisi rentang umur, rentang luas rumah, rentang tagihan, dan kata sepeda motor. Jumlah anggota keluarga, salah satu peubah yang signifikan, tidak tercantum di tabel definisi peubah.
Arah daya terpasang pun belum didamaikan dengan profil kedua wilayah. Makin besar daya, makin besar peluang perilaku hemat energi, tetapi rumah tangga desa yang lebih mungkin berhemat justru tercatat berdaya 450 VA, separuh dari 900 VA di kota. Subsidi, penjelasan utama untuk pendapatan yang tidak signifikan, tidak masuk sebagai peubah di tabel regresi. Angka pengetahuan energi terbarukan di desa, 27, 32, dan 17 persen, berjumlah 76 persen tanpa keterangan sisanya.
Dua sisi itu akhirnya tidak terbaca sebagai kota yang kalah dan desa yang menang. Perilaku hemat energi lebih mungkin muncul di rumah tangga desa, tetapi para penulis sendiri mengaitkannya dengan keterbatasan akses dan ketergantungan pada kayu bakar. Rumah tangga kota lebih banyak memakai energi, tetapi di sana pula 57 persen responden mengenal energi terbarukan dan 59 persen bersedia memakainya. Survei 120 rumah tangga ini mencatat keduanya tanpa menyatakan mana yang lebih menentukan arah konsumsi energi rumah tangga Indonesia.















