Fungsi Intermediasi Bank KBMI 4 Turun 10,43 Persen saat Pandemi

A A

Gedung kantor Bank Central Asia empat lantai dengan pohon palem di halaman depan. [Foto: BxHxTxCx/Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)]

  • Sepanjang 2014 sampai 2023, LDR empat bank KBMI 4 rata-rata 83,39 persen dengan batas standar kesehatan 95 persen.
  • Masa pandemi dan masa pemulihan menurunkan fungsi intermediasi bank 10,43 persen dan 10,33 persen dibanding periode normal.
  • Kenaikan NPL 1 persen menurunkan LDR 6,448 persen, sedangkan ukuran bank tidak signifikan.
  • Nilai p dummy pandemi tertulis 0,076 di tabel, tetapi 0,000 di teks naskah.
Daftar Isi
  1. 2014 sampai 2019: Kredit Nasional Tumbuh Lebih Cepat daripada PDB
  2. 2020 sampai 2021: Pandemi Menurunkan Fungsi Intermediasi Bank 10,43 Persen
  3. 2022 sampai 2023: Masa Pemulihan Masih Tertinggal dari Masa Normal
  4. Sepanjang Sepuluh Tahun, Kenaikan Kredit Bermasalah Menurunkan LDR
  5. Pada Periode yang Sama, PDB dan BI Rate Berpengaruh Positif terhadap LDR
  6. Terbit Daring 21 Agustus 2026, Naskah Memuat Angka yang Tidak Cocok

Cekricek.id — Sepanjang 2014 sampai 2023, fungsi intermediasi bank KBMI 4 tercatat dengan Loan to Deposit Ratio rata-rata 83,39 persen. Rasio itu membandingkan total kredit yang diberikan bank dengan total dana yang diterimanya. Nilai terendahnya 76,35 persen. Nilai tertingginya di tabel 89,25 persen. Batas standar kesehatannya, menurut naskah, 95 persen.

Angka itu dihimpun Friestha Sari Putri dan Telisa Aulia Falianty dari Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Jakarta. Tulisan mereka berjudul Determinan Fungsi Intermediasi Bank KBMI 4 di Indonesia. Naskah itu terbit di Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Volume 26 Nomor 2, Juli 2026, halaman 143 sampai 158.

KBMI 4 adalah kelompok bank dengan modal inti lebih dari 70 triliun rupiah. Pengelompokan itu mengikuti POJK Nomor 12/POJK.03/2021 tentang Bank Umum. Naskah menyebut empat bank di dalamnya: Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Negara Indonesia. Keempatnya menguasai 56 persen aset industri perbankan nasional.

Datanya berasal dari Statistik Perbankan Indonesia di situs OJK dan laporan keuangan tahunan keempat bank. Periode pengamatannya sepuluh tahun. Pengolahannya memakai regresi data panel dengan Fixed Effect Model di perangkat lunak STATA. Uji Hausman memberi nilai chi-squared 45,94, sehingga model efek tetap dipilih ketimbang model efek acak.

Hasilnya diringkas di abstrak. Kredit bermasalah berpengaruh negatif. Biaya operasional, permodalan, profitabilitas, pertumbuhan PDB, dan BI Rate berpengaruh positif terhadap LDR. Ukuran bank tidak signifikan. Masa pandemi dan masa pemulihan sama-sama menurunkan fungsi intermediasi bank, masing-masing 10,43 persen dan 10,33 persen.

2014 sampai 2019: Kredit Nasional Tumbuh Lebih Cepat daripada PDB

Kronologi dalam naskah dimulai dari angka perbankan nasional. Pada 2014, total aset bank di Indonesia Rp5.410 triliun dan dana pihak ketiga Rp4.114 triliun. LDR tahun itu 89,4 persen. Setahun kemudian LDR naik menjadi 92,1 persen, lalu 90,7 persen pada 2016 dan 90,0 persen pada 2017.

Pada 2018, LDR perbankan nasional mencapai 94,0 persen, angka tertinggi di tabel itu. Pada 2019 angkanya 93,6 persen. Total aset tahun itu Rp8.563 triliun. Rasio kredit bermasalah bruto bergerak antara 2,2 dan 2,9 persen selama 2014 sampai 2019.

Gambar pertama naskah membandingkan pertumbuhan kredit dengan pertumbuhan PDB. Menurut penulis, pertumbuhan kredit bank umum nasional berada di kisaran 9 sampai 11 persen, sesuai prakiraan Bank Indonesia. Pertumbuhan PDB berada di kisaran 4 sampai 5 persen di luar masa krisis 2020. Kesimpulan mereka, kredit tumbuh lebih cepat daripada PDB dan bergerak selaras mengikutinya.

Baca juga Pembiayaan UMKM Rp1.948,72 Triliun per Juni 2026, Perbankan Kuasai 82,44 Persen

Pada periode yang sama, rasio kecukupan modal perbankan nasional naik dari 19,6 persen pada 2014 menjadi 23,3 persen pada 2019. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional berada di antara 76,3 dan 82,2 persen. Return on assets turun dari 2,8 persen pada 2014 menjadi 2,4 persen pada 2019.

2020 sampai 2021: Pandemi Menurunkan Fungsi Intermediasi Bank 10,43 Persen

Wabah COVID-19 mulai terjadi di awal 2020. Naskah mencatat perbankan Indonesia mengalami penurunan laba yang sangat signifikan dan tingginya kredit macet. Pertumbuhan ekonomi 2020 minus 2,07 persen, terendah dalam periode penelitian. BI rate turun ke 3,50 persen, tingkat terendahnya, sebagai bagian dari kebijakan moneter ekspansif untuk meredam dampak pandemi.

Tabel perbankan nasional merekam perubahannya. LDR turun dari 93,6 persen pada 2019 menjadi 82,2 persen pada 2020. Setahun kemudian angkanya 77,1 persen. Kredit bermasalah bruto naik ke 3,1 persen pada 2020 dan 3,0 persen pada 2021. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional menjadi 86,5 persen pada 2020.

LDR perbankan nasional turun ke 77,1 persen pada 20212014: 89,4; 2015: 92,1; 2016: 90,7; 2017: 90,0; 2018: 94,0; 2019: 93,6; 2020: 82,2; 2021: 77,1; 2022: 78,8; 2023: 83,3.LDR perbankan nasional turun ke 77,1persen pada 2021Loan to Deposit Ratio perbankan di Indonesia,2014–2023, persen0255075100201489,4201592,1201690,7201790,0201894,0201993,6202082,2202177,1202278,8202383,3Oranye: tahun pandemi 2020–2021. Angka seluruh perbankannasional, bukan hanya empat bank KBMI 4.
Sumber: Putri dan Falianty (2026), Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia 26(2): 145. Grafik: Cekricek.id

Untuk menangkap periode itu, kedua peneliti memasukkan variabel dummy COVID-19. Koefisien masa pandemi 2020 sampai 2021 tercatat minus 0,1042606 di tabel hasil regresi. Di bagian simpulan, angka itu dibaca sebagai penurunan fungsi intermediasi bank sebesar 10,43 persen dibanding periode normal.

“Hasil ini menunjukkan bahwa pandemi menurunkan kemampuan perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasinya,” tulis Putri dan Falianty di bagian hasil dan analisis, halaman 153. Di bagian yang sama, mereka menyebut pengaruh itu negatif dan sangat signifikan. Di pembahasan halaman 155 sampai 156, penurunannya ditulis 10,42 persen dengan nilai p 0,000.

2022 sampai 2023: Masa Pemulihan Masih Tertinggal dari Masa Normal

Pada 2022, menurut naskah, fase pemulihan pascapandemi menunjukkan peningkatan profit yang cukup signifikan. Pertumbuhan PDB tahun itu 5,31 persen, tertinggi dalam periode penelitian. Laba bersih keempat bank KBMI 4 per Juni 2022 mencapai Rp68,93 triliun. Per Juni 2023, laba bersih kelompok KBMI 4 tercatat Rp83,29 triliun.

Gedung Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia di Parepare, Sulawesi Selatan
Gedung Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia di Parepare, Sulawesi Selatan. [Foto: MesinKetik/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

LDR perbankan nasional naik pelan. Angkanya 78,8 persen pada 2022 dan 83,3 persen pada 2023. Total aset bank umum mencapai Rp11.766 triliun pada 2023. Rasio kecukupan modal tahun itu 27,65 persen, sedangkan kredit bermasalah bruto turun ke 2,19 persen.

Dummy masa pemulihan 2022 sampai 2023 berkoefisien minus 0,1033073. Penulis membacanya sebagai penurunan fungsi intermediasi bank 10,33 persen dibanding masa normal, sedikit membaik dari masa pandemi. Mereka mengaitkan perbaikan itu dengan berkembangnya layanan perbankan digital, restrukturisasi kredit dari OJK, dan kebijakan Bank Indonesia.

Masa pemulihan hanya membaik sedikit dari masa pandemiPandemi 2020–2021: −10,43; Pemulihan 2022–2023: −10,33.Masa pemulihan hanya membaik sedikitdari masa pandemiPenurunan fungsi intermediasi bank KBMI 4 dibandingperiode normal, persen−12−9−6−30Pandemi 2020–2021−10,43Pemulihan 2022–2023−10,33Angka dari bagian simpulan. Pembahasan menulis penurunan masapandemi 10,42 persen.
Sumber: Putri dan Falianty (2026), Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia 26(2): 155–156. Grafik: Cekricek.id

“Kondisi ini mengindikasikan bahwa proses pemulihan fungsi intermediasi perbankan telah berlangsung, tetapi belum sepenuhnya kembali ke tingkat sebelum pandemi,” tulis kedua peneliti di halaman 153. Mereka juga mencatat konflik Rusia–Ukraina yang pecah pada 2022. Konflik itu, menurut naskah, mendorong kenaikan harga energi dan inflasi, sehingga daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Baca juga Digitalisasi Perbankan di ASEAN: Antara Kekhawatiran Ekonomi dan Optimisme Era Baru

Bauran kebijakan selama pandemi dan pemulihan ikut dicatat. Bank Indonesia melonggarkan rasio Loan to Value untuk kredit properti dan kendaraan bermotor hingga paling tinggi 100 persen. Sejak 21 Desember 2023, Bank Indonesia memakai nama BI-Rate sebagai suku bunga kebijakan, menggantikan BI 7-day Reverse Repo Rate.

Sepanjang Sepuluh Tahun, Kenaikan Kredit Bermasalah Menurunkan LDR

Model yang sama menguji pengaruh rasio keuangan keempat bank terhadap fungsi intermediasi bank selama 2014 sampai 2023. Kredit bermasalah atau NPL rata-rata 2,20 persen, dengan nilai tertinggi 3,08 persen di tabel statistik deskriptif. Rasio biaya operasional rata-rata 66,49 persen. Rasio kecukupan modal rata-rata 20,95 persen, sedangkan return on assets rata-rata 3,06 persen.

NPL berkoefisien minus 6,448 dengan nilai p 0,049. Penulis membacanya begini: kenaikan NPL 1 persen menurunkan LDR 6,448 persen pada tingkat signifikansi 5 persen. Mereka mengaitkan pengaruh itu dengan aturan yang mewajibkan bank menjaga NPL bruto di bawah 5 persen dan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit.

Kredit bermasalah satu-satunya rasio bank yang menekan LDR secara signifikanNPL (kredit bermasalah): −6,448; ROA (profitabilitas): 3,499; CAR (permodalan): 2,142; Pertumbuhan PDB: 1,282; BI rate: 1,126; BOPO (biaya operasional): 1,005; Total aset: −0,025.Kredit bermasalah satu-satunya rasiobank yang menekan LDR secara signifikanKoefisien regresi data panel efek tetap terhadap LDRbank KBMI 4−8−404NPL (kredit bermasalah)−6,448ROA (profitabilitas)3,499CAR (permodalan)2,142Pertumbuhan PDB1,282BI rate1,126BOPO (biaya operasional)1,005Total aset−0,025Biru muda: nilai p di atas 0,2 (ROA 0,205; total aset 0,382).Teks naskah tetap menyebut ROA signifikan.
Sumber: Putri dan Falianty (2026), Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia 26(2): 154. Grafik: Cekricek.id

Biaya operasional bergerak searah dengan LDR. Koefisien BOPO 1,005, artinya kenaikan 1 poin persentase BOPO menaikkan LDR 1,005 poin persentase. Menurut penulis, persaingan membuat bank menambah biaya promosi, pemasaran, pengembangan jaringan layanan, dan penghimpunan dana pihak ketiga. Kegiatan itu dapat mendorong bertambahnya dana yang dihimpun dan kredit yang disalurkan.

Permodalan berkoefisien 2,142 dengan nilai p 0,025. Namun, rata-rata CAR 20,95 persen berada jauh di atas ketentuan minimum. “Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian modal bank berpotensi belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ekspansi penyaluran kredit sehingga fungsi intermediasi perbankan belum sepenuhnya dimaksimalkan,” tulis Putri dan Falianty di halaman 155.

Ukuran bank, yang diukur dari total aset, tidak signifikan. Koefisiennya minus 0,025 dengan nilai p 0,382. Rata-rata total aset keempat bank Rp1.120.717 miliar. Penjelasan penulis, bank KBMI 4 cenderung memakai dananya untuk kegiatan berbasis fee-based income yang berisiko kecil, seperti pembelian surat berharga dan Sertifikat Bank Indonesia.

Di bagian simpulan halaman 156, keduanya menulis, “Bank KBMI 4 yang memiliki total aset besar cenderung akan lebih berhati-hati (prudent) dalam penyaluran kredit secara masif.” Return on assets berkoefisien 3,499. Teks naskah menyebutnya berpengaruh signifikan positif terhadap fungsi intermediasi bank, tetapi nilai p di tabel regresi 0,205 dan tabel model pertama tidak memberinya tanda bintang.

Pada Periode yang Sama, PDB dan BI Rate Berpengaruh Positif terhadap LDR

Pertumbuhan PDB selama 2014 sampai 2023 rata-rata 4,22 persen. Koefisiennya 1,282 dengan nilai p 0,040. Menurut penulis, kenaikan PDB 1 persen menaikkan LDR 1,282 persen. Perekonomian yang lebih kuat dan iklim ekonomi yang kondusif, tulis mereka, mendorong bank lebih agresif dalam memberikan pinjaman sehingga dapat meningkatkan fungsi intermediasi bank.

BI rate rata-rata 5,40 persen, dengan nilai tertinggi 7,75 persen. Koefisiennya 1,126 dan signifikan pada tingkat 5 persen. Naskah menulis kenaikan BI rate 1 persen meningkatkan penyaluran kredit 1,126 persen. Penjelasan penulis, pada bank KBMI 4 kenaikan itu masih dapat ditoleransi dengan opportunity return yang didapat debitur.

Baca juga Kredit BPR Naikkan PDRB Pertanian, Belanja Daerah Justru Negatif

Dari temuan itu, penulis menyusun dua rekomendasi. Regulator diminta memperkuat pengawasan restrukturisasi kredit secara konsisten, terutama pada masa krisis seperti pandemi. Mereka juga mencatat Giro Wajib Minimum 8 persen dan CAR bank KBMI 4 yang rata-rata di atas 20 persen menimbulkan dana mengendap cukup besar, sehingga modal disarankan lebih banyak disalurkan sebagai kredit.

Terbit Daring 21 Agustus 2026, Naskah Memuat Angka yang Tidak Cocok

Penulis mencatat dua keterbatasan di bagian saran. “Pertama, objek penelitian hanya mencakup Bank KBMI 4 sehingga belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi industri perbankan di Indonesia,” tulis mereka di halaman 157. Keterbatasan kedua, digitalisasi sektor keuangan seperti layanan pinjaman online belum dimasukkan sebagai variabel yang memengaruhi fungsi intermediasi bank.

Beberapa angka dalam naskah tidak saling cocok. Tabel hasil regresi menempatkan dummy pandemi dan pemulihan hanya di model kedua. Di model itu, NPL minus 2,259, CAR 0,754, dan PDB minus 0,1259, ketiganya tanpa tanda bintang. Tabel efek tetap berikutnya memasangkan dummy itu dengan koefisien model pertama, dan konstantanya berubah dari minus 0,028 menjadi 0,280329.

Periode dummy juga berbeda. Tabel hasil regresi menulis masa pemulihan 2022, sedangkan tabel efek tetap dan pembahasan menulis 2022 sampai 2023. Nilai p dummy pandemi tertulis 0,076 di tabel, tetapi 0,000 di teks. Teks menyebut NPL tertinggi 4,3 persen dan LDR tertinggi 89,20 persen, sementara tabel statistik deskriptif mencatat 3,08 dan 89,25 persen.

Pertumbuhan laba 20,83 persen juga ditempatkan berbeda. Teks mengaitkannya dengan semester pertama 2022, sedangkan tabel laba bersih mencantumkannya sebagai pertumbuhan Juni 2023 terhadap Juni 2022. Naskah itu diterima 6 Juli 2024, disetujui 30 Juli 2025, dan terbit daring 21 Agustus 2026.

Data penelitian itu berhenti di 2023. Pada tahun terakhir tersebut, LDR perbankan nasional tercatat 83,3 persen.

Bagikan

Baca Juga

Kesejahteraan Nelayan Gerokgak Paling Dipengaruhi Modal Sosial
Industri dan Usaha Kecil Jadi Jalur Kesejahteraan di Gresik
Pendidikan Tinggi Menekan Pengangguran, Lebih Kuat Jangka Panjang
Utang Luar Negeri Indonesia Juli 2026 Tercatat 454,8 Miliar Dolar
Partisipasi Kerja Perempuan ASEAN Lemah Mendorong PDB
Indeks Kesehatan Bank Syariah Lebih Stabil daripada Konvensional