- Tim mahasiswa UGM mengembangkan NeumaScope, alat skrining pneumonia noninvasif berbasis kecerdasan buatan.
- Alat itu menggabungkan suara paru, laju napas, dan suhu tubuh menjadi satu skor risiko.
- Modelnya mencapai akurasi 97 persen, tetapi masih memerlukan validasi klinis sebelum dipakai luas.
Cekricek.id — Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan NeumaScope, alat skrining pneumonia yang menggabungkan suara paru, laju napas, suhu tubuh, dan kecerdasan buatan. Alat itu dirancang untuk fasilitas kesehatan primer.
Melansir keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Rabu (16/09/2026), NeumaScope dikembangkan lewat Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta (PKM-KC). Alatnya bersifat noninvasif dan portabel.
Pneumonia masih menjadi ancaman bagi anak. Data Global Burden of Disease 2023 yang dikutip tim mencatat gangguan pernapasan, termasuk pneumonia, menyebabkan 2,5 juta kematian di dunia pada tahun itu, dan 24,4 persen di antaranya balita. Di Indonesia tercatat 1,8 juta kasus pneumonia balita sepanjang 2019–2023, dengan 530.641 kasus baru pada 2024.
Tiga Sinyal Tubuh dalam Satu Skor Risiko
Ketua tim NeumaScope, M. Galih Lensrich, mengatakan alat itu dibuat agar skrining pneumonia tidak harus menunggu rumah sakit besar.
“Kami ingin menghadirkan alat skrining pneumonia yang praktis dan berbasis data, sehingga deteksi dini bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus bergantung pada fasilitas rumah sakit besar,” ujar Galih.
Suara paru direkam lewat mikrofon yang terpasang pada stetoskop. Laju napas dan suhu diukur dengan sensor. Data ketiganya diolah model machine learning berbasis algoritma Random Forest. Menurut hasil pengembangan tim, model itu mencapai akurasi hingga 97 persen.
“Setiap parameter punya karakteristik sinyal yang berbeda, jadi tantangan terbesar kami adalah menggabungkannya menjadi satu penilaian risiko yang konsisten dan akurat,” jelasnya.
Baca juga Glucowrap, sandal pintar mahasiswa UGM deteksi luka kaki diabetes
Perangkat itu tersambung ke aplikasi ponsel lewat Bluetooth Low Energy. Tenaga kesehatan dapat memasukkan data pasien, melihat riwayat skrining, dan mengekspor hasil pemeriksaan sebagai laporan PDF.
Belum Bisa Menggantikan Dokter
Galih menegaskan NeumaScope hanya alat bantu skrining awal. Hasilnya menandai kondisi yang perlu diperiksa lebih lanjut, bukan diagnosis.
“Hasil dari NeumaScope sifatnya membantu mengidentifikasi kondisi yang perlu pemeriksaan lebih lanjut, bukan untuk menggantikan peran tenaga medis,” katanya.
Prototipe itu masih diuji di Laboratorium Sensor dan Sistem Telekontrol. Hasil pengukurannya dibandingkan dengan instrumen medis standar, salah satunya Fluke Biomedical VT650 Gas Flow Analyzer.
“Tim masih memerlukan pengujian dan validasi klinis lebih lanjut untuk mengevaluasi akurasi, keamanan, dan keandalan perangkat sebelum dapat diterapkan secara lebih luas,” papar Galih.
Baca juga Ika Dewi Ana raih Penghargaan Achmad Bakrie bidang kesehatan
Tim beranggotakan lima mahasiswa lintas disiplin. Selain Galih dari Teknik Fisika, ada Chelsea A. Pakpahan dari Kedokteran, Launa Aqeela N. Anandafa dan Kayla Sofia Anandisha dari Teknik Fisika, serta M. Rezki Abdillah dari Elektronika dan Instrumentasi. Mereka dibimbing Dr. Ir. Nur Abdillah Siddiq, S.T., IPP.
Baca juga Monev RISPRO LPDP di Unismuh, riset VR anak tunarungu dievaluasi
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan kantong udara di paru-paru meradang dan dapat terisi cairan. Pada balita, gejalanya antara lain napas cepat, sesak, dan demam.















