- Lima mahasiswa UGM mengembangkan Glucowrap, sandal pintar pendeteksi dini perubahan kondisi kaki penderita diabetes tipe 2.
- Sensor sandal memantau tekanan, suhu, dan kelembapan kaki, lalu hasilnya tampil di aplikasi ponsel.
- Glucowrap telah diuji kelayakan dan keamanannya pada pasien diabetes di Klinik Korpagama, Yogyakarta.
Cekricek.id — Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Glucowrap, sandal pintar untuk mendeteksi dini perubahan kondisi kaki pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan gangguan saraf.
Mengutip keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Selasa (15/09/2026), sandal pintar itu sudah melalui uji kelayakan dan keamanan pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Klinik Korpagama, Yogyakarta. Pengembangannya didanai Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) lewat skema PKM bidang Karsa Cipta.
Tim dipimpin Rina Putri Cahyati dari Ilmu Keperawatan. Anggotanya Hanif Abinawa, Mohammad Latif Ananda, Dhimas Early Oceandy, dan Ulfan Syarif dari berbagai program studi. Mereka didampingi Ir. Ma’un Budiyanto, S.T., M.T., IPU.
Sandal Pintar dengan Sensor Tekanan, Suhu, dan Kelembapan
Glucowrap berbentuk sandal terbuka dengan sejumlah sensor. Sensor itu memantau tekanan, suhu, dan kelembapan kaki. Datanya diolah dan dikelompokkan dalam tiga kategori, yakni normal, risiko ringan, dan risiko tinggi. Hasilnya bisa dilihat langsung lewat aplikasi di ponsel.
Menurut Rina, gagasan itu berangkat dari tingginya risiko luka kaki diabetik. Gangguan saraf atau neuropati perifer bisa membuat penderita tidak menyadari tekanan atau gesekan pada kakinya.
“Neuropati perifer dapat menurunkan sensitivitas pada kaki sehingga penderita terkadang tidak menyadari adanya tekanan, gesekan, atau perubahan pada kondisi kaki. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka yang lebih serius,” ungkap Rina.
Baca juga Riset UGM: prolotherapy dan olahraga redakan nyeri lutut
Serat Bambu dan Uji pada Pasien
Bagian sandal yang bersentuhan dengan kulit memakai biotekstil serat bambu yang diproses dengan kitosan. Lapisan ini dikembangkan sebagai antibakteri. Sandal juga dilengkapi stimulasi termal dan mikrovibrasi berintensitas rendah untuk kenyamanan.
“Kami ingin Glucowrap tidak berhenti sebagai alat pemantau saja, tetapi juga membantu pasien mengenali kondisi kakinya lebih dini sekaligus memberikan kenyamanan melalui fitur pendukung yang ada di dalamnya,” ujarnya.
Dalam pengujian, pasien lebih dulu diskrining dengan monofilamen Semmes-Weinstein 10 gram untuk melihat sensitivitas kaki. Pasien lalu memakai Glucowrap dan berjalan selama 15 menit agar sensor merekam data. Tim juga memeriksa kondisi kulit kaki dan meminta pasien mengisi kuesioner kenyamanan.
Protokol penelitiannya telah memperoleh kelaikan etik dari Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM.
Baca juga Mahasiswa UNS rancang tetikus pintar pemantau detak jantung
Neuropati perifer merupakan komplikasi diabetes yang merusak saraf tepi, terutama pada kaki dan tangan.
Baca juga UGM luncurkan Gerakan Kampus Hijau















