- Laporan BPS 2024 menyebut Sumatera Utara bisa menghasilkan 5.000 sampai 8.000 ton kemenyan, sebagian besar diekspor mentah.
- Minyak kemenyan hasil distilasi bernilai hingga 20 kali lipat dibanding getah mentah.
- Standar mutu yang belum menjadi acuan dagang dan regenerasi penyadap menjadi tantangan hilirisasi.
Cekricek.id — Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ganis Lukmandaru, S.Hut., M.Agr., mendorong hilirisasi kemenyan agar getah hutan rakyat itu tidak terus dijual sebagai bahan mentah.
Mengutip keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Senin (14/09/2026), laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menyebut Sumatera Utara bisa menghasilkan 5.000 sampai 8.000 ton kemenyan. Sebagian besar hasil itu diekspor untuk diolah di India, Singapura, atau Uni Eropa. Kemenyan sendiri tergolong hasil hutan bukan kayu.
Aroma Madu Kemenyan Indonesia
Ganis menjelaskan, kemenyan Indonesia berasal dari genus Styrax. Adapun kemenyan yang dikenal dari Turki dan Arab berasal dari genus Boswellia. Keunggulan kemenyan Indonesia ada pada aromanya yang cenderung menyerupai madu. Aroma itu berkaitan dengan asam sinamat, salah satu senyawa utamanya.
“Keunggulannya di Indonesia ini bau madunya. Baunya itu agak kayak permen gitu. Itu keunggulannya,” ujar Ganis.
Karakter itu membuat kemenyan Indonesia berpotensi dikembangkan untuk parfum. Salah satu bentuk pengolahannya adalah distilasi getah menjadi minyak kemenyan. Getah padat dipanaskan, lalu komponen yang menguap didinginkan hingga menjadi minyak.
Baca juga Riset UGM soal kenaikan suhu dan pendapatan UMKM
Hilirisasi Kemenyan Bertahap seperti Getah Pinus
Menurut Ganis, nilai minyak kemenyan bisa mencapai 20 kali lipat dibanding getah mentah. Nilainya masih dapat naik bila minyak diolah menjadi parfum. Nilai itu lebih tinggi lagi bila minyak dipisahkan hingga tingkat senyawa tunggal.
“Menjadi minyak ini sudah dipisah antara yang mudah menguap dan yang tidak. Menjadi parfum itu sudah produk lagi. Apalagi dipisah sampai level senyawa tunggal, itu lebih mahal lagi. Visinya ke sana,” tuturnya.
Ia mencontohkan getah pinus. Pengolahannya sudah berkembang dari gondorukem dan terpentin hingga beragam produk turunan. Pola hilirisasi kemenyan, kata Ganis, dapat ditempuh secara bertahap mulai dari getah, minyak, parfum, lalu senyawa tunggal.
Baca juga Temuan dosen IPB soal mikroba di tanah bekas tambang Poboya
Standar Mutu dan Regenerasi Penyadap
Hilirisasi kemenyan masih terganjal persoalan di hulu. Pemerintah sebenarnya sudah memiliki standar kualitas kemenyan. Jumlah kelasnya kini disederhanakan dari enam kelas pada era 1980-an menjadi tiga kelas. Namun, standar itu belum sepenuhnya menjadi acuan dalam perdagangan.
“Jadi, kalau ingin mendirikan pabrik, mereka butuh pasokan yang kontinu, dengan mutu yang standar. Itu bisa dipenuhi tidak oleh para penyadap kemenyan? Mungkin memenuhi kuantitas bisa, tapi memenuhi standar bisa tidak?” katanya.
Sebagian besar penyadap kemenyan kini berasal dari generasi yang lebih tua. Di sejumlah wilayah, warga juga mulai mempertimbangkan komoditas lain seperti kopi. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran alih fungsi lahan kemenyan.
Ganis menilai pengolahan sederhana di tingkat petani bisa menjadi salah satu jalan. Contohnya pengolahan minyak kayu putih dan minyak kenanga skala rumah tangga. Menurut dia, nilai tambah yang lebih tinggi dapat memberi pendapatan lebih besar tanpa harus menambah jumlah panen.
Baca juga Pandangan guru besar UGM soal ayam bebas sangkar
“Kalau sekadar mendistilasi, yang paling mudah. Dari getah menjadi minyak, dipanaskan, itu sudah mudah. Ini sudah banyak penyuluhan dari kolega-kolega dari BRIN. Mereka sudah training, memberi percontohan, dan sebagainya,” ujarnya.















