- Permintaan batu bara dunia diperkirakan naik 1,2 persen menjadi 8,94 miliar ton pada 2026.
- Pemerintah Indonesia menurunkan target produksi batu bara menjadi 641 juta ton.
- Ekspor batu bara termal Indonesia diperkirakan turun menjadi sekitar 485 juta ton pada 2026.
- Harga batu bara Indonesia 4.200 kkal/kg FOB naik dari 45 dolar AS per ton menjadi 66 dolar AS per ton.
- Indonesia diperkirakan menyalip China sebagai eksportir kokas terbesar dunia.
Cekricek.id — Permintaan batu bara dunia diperkirakan naik 1,2 persen menjadi 8,94 miliar ton pada 2026, rekor baru yang dipicu krisis energi akibat konflik di Timur Tengah dan fenomena El Niño yang kuat.
Mengutip laporan Coal Mid-Year Update 2026 yang dirilis Badan Energi Internasional (IEA), Kamis (10/09/2026), prakiraan itu membalik proyeksi laporan pasar batu bara tahunan IEA pada Desember 2025 yang sempat memperkirakan permintaan global sedikit menurun tahun ini. Revisi ke atas terutama mencerminkan dampak konflik Timur Tengah dan faktor cuaca.
Pada 2025, permintaan batu bara global naik 0,3 persen menjadi 8,84 miliar ton, juga rekor. Untuk pertama kalinya dalam setengah abad, pembangkitan listrik tenaga batu bara turun sekaligus di China dan India. Penurunan itu diimbangi pertumbuhan di tempat lain, termasuk di Amerika Serikat serta industri padat batu bara seperti produksi nikel di Indonesia dan pengolahan batu bara menjadi bahan kimia di China.
Daftar Isi
Permintaan Batu Bara Naik karena Harga Gas dan El Niño
Menurut IEA, nyaris tidak ada kiriman batu bara yang melewati Selat Hormuz karena Timur Tengah bukan produsen maupun konsumen besar batu bara. Namun, anjloknya pengiriman gas alam cair (LNG) melalui selat itu mendorong harga gas naik. Kondisi tersebut membuat pembangkit listrik beralih dari gas ke batu bara di negara yang punya armada pembangkit gas dan kapasitas batu bara cadangan, antara lain China, Korea Selatan, Jepang, dan Eropa.
Permintaan batu bara China diperkirakan naik 1 persen menjadi 5 miliar ton pada 2026. China menyerap lebih dari 56 persen konsumsi batu bara dunia, dan sektor listriknya saja memakai sekitar sepertiga batu bara global. Permintaan India diperkirakan naik 4,2 persen menjadi 1.353 juta ton, setelah turun 1 persen menjadi 1.299 juta ton pada 2025.
Di Korea Selatan, permintaan batu bara diperkirakan naik 6 persen menjadi 119 juta ton karena ketersediaan nuklir yang rendah dan harga gas yang tinggi. Pembangkitan listrik tenaga batu bara di sana melonjak 30 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Sebaliknya, permintaan Jepang diperkirakan turun 1 persen menjadi 161 juta ton, sedangkan Uni Eropa diperkirakan menyerap 276 juta ton.
Di negara-negara ASEAN, permintaan batu bara diperkirakan terus tumbuh hingga sekitar 574 juta ton pada 2026, terutama didorong sektor listrik di Indonesia dan Vietnam. IEA menyebut Indonesia sebagai konsumen batu bara terbesar di kawasan. Batu bara tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Indonesia, terutama pembangkit captive yang melayani industri padat energi seperti nikel, semen, dan kian banyak aluminium.
Baca juga Ratusan kapal terjebak saat Selat Hormuz ditutup
El Niño yang sangat kuat pada 2026 juga diperkirakan menopang permintaan batu bara karena menaikkan kebutuhan pendinginan dan mengurangi pasokan listrik tenaga air di negara Asia seperti India dan Vietnam. Di Amerika Serikat, permintaan batu bara yang naik lebih dari 9,5 persen menjadi 410 juta ton pada 2025 diperkirakan turun 7 persen pada 2026.
Arah permintaan batu bara pada 2027 disebut sangat tidak pasti. Jika arus LNG melalui Selat Hormuz berangsur pulih dan harga gas turun di bawah tingkat 2026, permintaan global diperkirakan turun 0,4 persen menjadi 8,91 miliar ton. Namun, jika pengiriman LNG tetap terhambat, permintaan batu bara dunia bisa naik lebih jauh.
Produksi Batu Bara Indonesia Turun, Target Dipangkas ke 641 Juta Ton
Produksi batu bara global pada 2025 menyamai rekor tahun sebelumnya, yakni 9,1 miliar ton, dan diperkirakan tetap di atas 9 miliar ton pada 2026. China memproduksi 4,71 miliar ton pada 2025. Produksinya pada Juni dan Juli 2026 turun sekitar 10 persen secara tahunan, penurunan paling tajam sejak 2016, setelah inspeksi keselamatan menyusul ledakan tambang di Provinsi Shanxi pada Mei.
Lebih dari 100 tambang dengan kapasitas gabungan di atas 100 juta ton per tahun sempat ditutup sementara. IEA memperkirakan produksi China pulih hingga akhir tahun dan tetap di atas 4,62 miliar ton pada 2026. Produksi India diperkirakan mencetak rekor baru 1.095 juta ton, sedangkan produksi Amerika Serikat turun 3 persen dan Australia mencapai 452 juta ton.
Indonesia, produsen batu bara terbesar ketiga dunia sekaligus eksportir batu bara termal terbesar, mencatat produksi turun lebih dari 5,5 persen pada 2025 dari rekor 2024. Menurut IEA, harga internasional yang lebih rendah dan melemahnya permintaan mitra dagang utama di Asia mengurangi dorongan untuk memaksimalkan produksi.
Pada 2026, Indonesia diperkirakan melakukan penyesuaian pasokan terbesar di antara produsen utama dunia, dengan produksi turun lebih dari 12 juta ton atau 2,6 persen. Pemerintah menurunkan target produksi batu bara menjadi 641 juta ton, jauh di bawah tahun sebelumnya, sehingga menimbulkan ketidakpastian baru bagi produsen dan pembeli internasional.
Permintaan yang lebih lemah dari importir utama Asia dan kewajiban pasok dalam negeri yang lebih tinggi, yang mengharuskan lebih banyak batu bara dijual di dalam negeri dengan harga yang diatur, juga menekan dorongan produksi. Pembahasan kebijakan soal pajak ekspor, bagi hasil, izin tambang, dan kemungkinan pemusatan ekspor melalui entitas milik negara menambah ketidakpastian.
Meski begitu, permintaan yang naik akibat krisis Timur Tengah memperbaiki prospek ekspor, dan IEA sedikit menaikkan prakiraan produksi Indonesia dibanding laporan Desember. Sebagai pemasok batu bara termal paling fleksibel ke pasar Asia, setiap pengurangan produksi atau ketersediaan ekspor Indonesia disebut berdampak signifikan pada pasokan lewat laut. Pada 2027, produksi Indonesia diperkirakan turun lagi, tetapi tidak setajam 2026.
Ekspor Batu Bara Termal Indonesia Diprediksi Turun ke 485 Juta Ton
Perdagangan batu bara global turun sekitar 4 persen menjadi 1,48 miliar ton pada 2025 setelah mencetak rekor pada tahun sebelumnya. Penurunan terbesar datang dari China, yang impornya turun dari rekor 548 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 495 juta ton pada 2025. Indonesia mencatat penurunan ekspor batu bara termal terbesar, dari 557 juta ton pada 2024 menjadi 517 juta ton pada 2025.
Ekspor batu bara termal Indonesia diperkirakan turun tajam lagi menjadi sekitar 485 juta ton pada 2026 karena melemahnya permintaan di pasar utama. Arus ekspor itu juga dibayangi ketidakpastian target produksi, kebijakan ekspor, dan perubahan regulasi, termasuk rencana peralihan ke perusahaan milik negara baru, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), yang nantinya akan mengawasi seluruh ekspor batu bara.
Menurut IEA, sistem tersebut memasuki tahap uji coba pada Juni dan dijadwalkan beroperasi penuh pada September. Eksportir besar lain diperkirakan bernasib lebih baik. Ekspor batu bara termal Australia diperkirakan naik menjadi sekitar 216 juta ton dan Rusia sekitar 132 juta ton, sedangkan Afrika Selatan naik tipis menjadi sekitar 71 juta ton.
Baca juga Danantara konsolidasi empat manajer investasi BUMN
Di sisi lain, impor batu bara kokas Indonesia diperkirakan melonjak 38 persen seiring peningkatan ekspor kokas. Dengan begitu, Indonesia diperkirakan menyalip China sebagai eksportir kokas terbesar dunia. Asia Tenggara tetap menjadi satu-satunya sumber pertumbuhan impor yang berkelanjutan, dengan impor kawasan naik menjadi sekitar 164 juta ton dari 156 juta ton, dipimpin Vietnam yang impornya diperkirakan mencapai 62 juta ton dari 55 juta ton.
Pada 2027, volume perdagangan batu bara global diperkirakan kembali ke tingkat 2025 karena pengiriman batu bara termal terus menurun di sebagian besar Asia dan Eropa. Indonesia diperkirakan kembali menyumbang penurunan terbesar pengiriman batu bara termal, seiring melemahnya permintaan pembeli utama di Asia dan naiknya konsumsi dalam negeri. Ekspor batu bara termal global diperkirakan turun menjadi sekitar 1.087 juta ton.
Harga Batu Bara Indonesia Naik dari 45 Dolar ke 66 Dolar per Ton
Harga batu bara pulih pada paruh pertama 2026 dari tingkat akhir 2025 yang sudah mendekati biaya pasokan marginal, tetapi masih jauh di bawah puncak krisis energi 2022 yang melampaui 400 dolar AS per ton. Harga batu bara Indonesia berkalori 4.200 kkal/kg FOB naik dari 45 dolar AS per ton pada awal 2026 menjadi 66 dolar AS per ton pada akhir Agustus.
Harga batu bara termal Newcastle FOB mencapai 115 dolar AS per ton pada Februari 2026, 7 persen di atas Desember. Rata-ratanya naik menjadi 139 dolar AS per ton pada Juni 2026, sebelum turun tipis ke 131 dolar AS per ton pada Agustus. Indeks batu bara kokas keras FOB Australia mencapai 245 dolar AS per ton pada Juli, sekitar 30 persen di atas tingkat 2025.
IEA menyebut sejumlah faktor menopang pemulihan harga. Harga gas yang lebih tinggi membuat batu bara lebih kompetitif untuk pembangkit listrik. Ketidakpastian regulasi dan langkah terkait ekspor di Indonesia menambah tekanan kenaikan, terutama untuk batu bara berkalori rendah. Tambang Cerrejón di Kolombia menyatakan force majeure pada 1 Juni setelah blokade rel, sedangkan kecelakaan tambang di Shanxi menekan pasokan dalam negeri China.
Baca juga Harga Batubara Acuan awal Agustus 2026
Menurut IEA, reaksi harga batu bara termal internasional terhadap konflik Timur Tengah jauh lebih lunak dibanding saat perang Ukraina pecah pada 2022. Sejak itu, pemasok baru masuk ke pasar LNG global dan Eropa mendiversifikasi sumber impornya. Kurva harga berjangka juga menunjukkan pasar memandang kenaikan harga batu bara lebih terbatas dan singkat dibanding pergerakan harga minyak dan gas.















