Harga Brent Diproyeksi 90 Dolar hingga Akhir 2026, Menurut EIA

A A

Pompa angguk minyak beroperasi di Cekungan Permian dekat Monahans, Texas, Amerika Serikat. [Foto: Quintin Soloviev/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)]

  • Harga Brent diperkirakan rata-rata sekitar 90 dolar AS per barel pada paruh kedua 2026.
  • Persediaan minyak global diperkirakan sudah berkurang 400 juta barel sepanjang tahun ini.
  • Produksi OPEC diperkirakan turun dari 29,3 juta menjadi 23,6 juta barel per hari pada 2026.
  • Perkiraan harga eceran solar AS 2026 dinaikkan menjadi 5,07 dolar per galon dari 4,85 dolar.
  • Penjualan listrik AS diperkirakan mencapai rekor 4.135 miliar kilowatt-jam pada 2026.

Cekricek.id — Proyeksi harga minyak terbaru Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menempatkan harga Brent di sekitar 90 dolar AS per barel pada paruh kedua 2026, seiring ekspor minyak Timur Tengah yang masih terhambat.

Mengutip laporan Short-Term Energy Outlook (STEO) edisi September 2026 yang dirilis EIA, Rabu (09/09/2026), harga Brent diperkirakan turun bertahap menjadi rata-rata 74 dolar AS per barel pada 2027 seiring naiknya produksi dan terisinya kembali persediaan minyak. Masukan model prakiraan itu dikunci pada 3 September 2026, sehingga peristiwa pasar sesudah tanggal tersebut tidak diperhitungkan secara khusus.

Harga Brent di pasar spot naik menjadi rata-rata 91 dolar AS per barel pada Agustus, 7 dolar lebih tinggi dibanding Juli. Menurut EIA, harga tetap tinggi karena persediaan minyak global diperkirakan sudah berkurang 400 juta barel sepanjang tahun ini. Persediaan itu diperkirakan terus turun hingga akhir 2026, sehingga harga Brent bertahan di dekat rata-rata Agustus dalam beberapa bulan ke depan.

Daftar Isi
  1. Harga Brent Bergantung pada Arus dari Selat Hormuz
  2. Harga Solar AS Naik Saat Stok Distilat di Bawah Titik Terendah Lima Tahun
  3. Stok Gas Alam AS Menjelang Musim Dingin 5 Persen di Atas Rata-rata
  4. Konsumsi Listrik AS Pecahkan Rekor, Didorong Pusat Data

Harga Brent Bergantung pada Arus dari Selat Hormuz

Harga Brent dan harga minyak global naik pada Agustus karena total ekspor dari Timur Tengah tetap tertahan, sehingga makin banyak produksi minyak di kawasan itu yang dihentikan sementara. Menurut EIA, hal itu antara lain akibat diperbaruinya blokade Amerika Serikat atas ekspor minyak Iran setelah Iran menyerang kapal tanker di Selat Hormuz, serta sanksi baru Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS terhadap kepentingan ekonomi dan minyak Iran.

EIA memperkirakan kebijakan tersebut membatasi ekspor minyak Iran dan menurunkan produksinya. Selain itu, serangan terhadap ekspor minyak Arab Saudi yang melewati Selat Bab el-Mandeb mengurangi pengiriman dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah, jalur yang selama ini dipakai untuk menghindari Selat Hormuz. Pada Agustus, ekspor dari Yanbu turun sekitar separuh dibanding Juli, menurut estimasi Vortexa yang dikutip EIA.

Arab Saudi merespons dengan menambah pengiriman minyak melalui Terusan Suez di ujung utara Laut Merah, rute yang lebih panjang dan lebih mahal bagi pembeli di Asia. Negara itu juga dilaporkan mulai memakai pemindahan muatan antarkapal di luar Teluk Persia. Meski begitu, EIA memperkirakan jalur pelayaran Laut Merah yang terbatas akan menahan pasokan Arab Saudi dalam jangka pendek sampai arus pelayaran global menyesuaikan diri.

EIA menaksir produksi minyak mentah yang dihentikan sementara rata-rata mencapai 6,7 juta barel per hari pada Agustus, naik dari 5,0 juta barel per hari pada Juli. Dengan asumsi arus minyak dari Timur Tengah tetap tertahan sepanjang triwulan IV 2026, volume produksi yang terhenti diperkirakan rata-rata 5,7 juta barel per hari pada triwulan tersebut.

Arus keluar minyak diperkirakan meningkat bertahap karena pengirim terus mencari jalan keluar, mulai dari jalur pipa dan darat, pemindahan muatan antarkapal, hingga kapasitas pipa pintas baru di Uni Emirat Arab yang diperkirakan beroperasi pada pertengahan 2027. Jika asumsi itu terpenuhi, sebagian besar produksi dan arus perdagangan baru kembali ke rata-rata sebelum konflik pada triwulan II 2027. Sebagian produsen di sekitar Teluk Persia diperkirakan tidak dapat memulihkan produksinya selama periode prakiraan.

Persediaan minyak global diperkirakan berkurang rata-rata 3,9 juta barel per hari pada triwulan II 2026, lalu 3,0 juta barel per hari pada triwulan III dan 1,7 juta barel per hari pada triwulan IV. Karena itu, EIA memperkirakan harga Brent rata-rata sekitar 90 dolar AS per barel pada paruh kedua 2026, atau 8 dolar lebih tinggi dibanding perkiraan STEO bulan lalu.

Setelah ekspor dari Timur Tengah naik dan produksi yang terhenti kembali berjalan, harga Brent diperkirakan turun menjadi rata-rata 77 dolar AS per barel pada triwulan II 2027. Sebagian besar produksi yang terhenti diperkirakan pulih pada paruh kedua 2027, persediaan kembali bertambah, dan harga Brent turun ke rata-rata 67 dolar AS per barel. EIA mengingatkan arus melalui Selat Hormuz dan jalur alternatif kemungkinan tetap bergejolak, sehingga pergerakan harga jangka pendek bisa lebih liar daripada prakiraannya.

Brent melonjak pada 2026, diperkirakan turun pada 20272024: 81; 2025: 69; 2026 (prakiraan): 91; 2027 (prakiraan): 74.Brent melonjak pada 2026, diperkirakanturun pada 2027Harga spot minyak mentah Brent, rata-rata tahunan, dolarAS per barel0204060802024812025692026 (prakiraan)912027 (prakiraan)74EIA memperkirakan rata-rata sekitar 90 dolar pada paruh kedua2026 dan 67 dolar pada paruh kedua 2027.cekricek.id
Sumber: U.S. Energy Information Administration (EIA), Short-Term Energy Outlook, September 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Ratusan kapal terjebak saat Selat Hormuz ditutup

Tabel prakiraan EIA memperlihatkan besarnya guncangan pasokan di balik pergerakan harga Brent. Produksi bahan bakar cair global diperkirakan turun dari 106,2 juta barel per hari pada 2025 menjadi 100,6 juta barel per hari pada 2026, sebelum naik ke 109,9 juta barel per hari pada 2027. Produksi OPEC turun dari 29,3 juta barel per hari menjadi 23,6 juta barel per hari pada 2026, lalu kembali ke 29,4 juta barel per hari pada 2027.

Produksi di luar OPEC relatif stabil, dari 76,9 juta barel per hari pada 2025 menjadi 77,0 juta barel per hari pada 2026 dan 80,5 juta barel per hari pada 2027. Konsumsi bahan bakar cair global diperkirakan turun dari 104,3 juta barel per hari menjadi 102,6 juta barel per hari pada 2026, lalu naik ke 105,0 juta barel per hari pada 2027. Pertumbuhan PDB global dalam tabel yang sama tercatat 3,0 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027.

Produksi OPEC anjlok pada 2026, non-OPEC relatif stabilOPEC, 2025: 29,3; OPEC, 2026 (prakiraan): 23,6; OPEC, 2027 (prakiraan): 29,4; Non-OPEC, 2025: 76,9; Non-OPEC, 2026 (prakiraan): 77,0; Non-OPEC, 2027 (prakiraan): 80,5.Produksi OPEC anjlok pada 2026, non-OPECrelatif stabilProduksi bahan bakar cair, juta barel per hari020406080OPEC, 202529,3OPEC, 2026 (prakiraan)23,6OPEC, 2027 (prakiraan)29,4Non-OPEC, 202576,9Non-OPEC, 2026 (prakiraan)77,0Non-OPEC, 2027 (prakiraan)80,5Produksi global 106,2 juta barel per hari pada 2025, 100,6 pada2026, dan 109,9 pada 2027.cekricek.id
Sumber: U.S. Energy Information Administration (EIA), Short-Term Energy Outlook, September 2026. Grafik: Cekricek.id

Harga Solar AS Naik Saat Stok Distilat di Bawah Titik Terendah Lima Tahun

EIA memperkirakan persediaan bahan bakar distilat di Amerika Serikat, yang kerap dijual sebagai solar atau diesel, turun di bawah 100 juta barel pada September. Persediaan itu diperkirakan tetap berada di bawah titik terendah lima tahun, yakni periode 2021–2025, hingga akhir 2026 dan sebagian besar 2027.

Persediaan distilat sudah jatuh di bawah rentang lima tahun sejak April, bersamaan dengan tingginya ekspor bersih AS setelah hilangnya pasokan distilat dalam jumlah besar dari Timur Tengah, Rusia, dan China. Ekspor bersih distilat berada di atas atau mendekati titik tertinggi lima tahun pada setiap bulan sejak Februari 2026. Persediaan yang rendah ikut mendorong harga solar di dalam negeri.

Menurut EIA, dampaknya akan terasa lebih kuat karena produksi distilat biasanya turun saat musim perawatan kilang pada musim gugur, sementara permintaan untuk pertanian naik pada musim panen. Persediaan yang rendah juga dapat mendorong harga minyak pemanas rumah tangga di wilayah timur laut Amerika Serikat.

Selisih harga solar terhadap minyak mentah, atau crack spread, di AS diperkirakan melampaui 2 dolar per galon dari Agustus hingga November, lalu turun terus sampai pertengahan 2027. Penurunan itu mengasumsikan lalu lintas tanker di Selat Hormuz segera normal, sehingga kilang di Arab Saudi dan Kuwait dapat menambah ekspor distilat. Jika arus dari Timur Tengah tetap tertahan setelah akhir 2026, EIA memperkirakan selisih harga distilat global akan lebih tinggi dari prakiraannya.

Tekanan tambahan datang dari hilangnya aktivitas kilang di Rusia, yang diperkirakan masih memengaruhi pasar global sampai paruh pertama 2027. Dibanding prakiraan bulan lalu, EIA menaikkan perkiraan selisih harga distilat 2026 menjadi 1,57 dolar per galon dari 1,30 dolar, atau naik 20,8 persen. Perkiraan harga eceran solar 2026 dinaikkan menjadi 5,07 dolar per galon dari 4,85 dolar, sedangkan untuk 2027 menjadi 4,40 dolar dari 4,07 dolar.

Harga eceran bensin di AS diperkirakan rata-rata 3,84 dolar per galon pada 2026, naik dari 3,10 dolar pada 2025, lalu turun ke 3,35 dolar pada 2027. Harga minyak mentah WTI diperkirakan rata-rata 85 dolar AS per barel pada 2026 dan 70 dolar pada 2027. Produksi minyak mentah AS diperkirakan naik dari 13,7 juta barel per hari pada 2025 menjadi 13,8 juta barel per hari pada 2026 dan 14,3 juta barel per hari pada 2027.

Harga eceran solar AS naik lebih tajam daripada bensinBensin, 2025: 3,10; Bensin, 2026 (prakiraan): 3,84; Bensin, 2027 (prakiraan): 3,35; Solar, 2025: 3,66; Solar, 2026 (prakiraan): 5,07; Solar, 2027 (prakiraan): 4,40.Harga eceran solar AS naik lebih tajamdaripada bensinRata-rata harga eceran tahunan, dolar AS per galon012345Bensin, 20253,10Bensin, 2026 (prakiraan)3,84Bensin, 2027 (prakiraan)3,35Solar, 20253,66Solar, 2026 (prakiraan)5,07Solar, 2027 (prakiraan)4,40Perkiraan solar 2026 dinaikkan dari 4,85 dolar pada STEO Agustus2026.cekricek.id
Sumber: U.S. Energy Information Administration (EIA), Short-Term Energy Outlook, September 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Brent tembus 100 dolar dan bursa global melemah

Stok Gas Alam AS Menjelang Musim Dingin 5 Persen di Atas Rata-rata

Di tengah ketatnya pasar minyak, persediaan gas alam AS justru relatif tinggi menjelang musim pemanasan. EIA memperkirakan persediaan gas alam kerja mencapai 3.969 miliar kaki kubik pada 31 Oktober 2026, akhir musim injeksi, atau 5 persen di atas rata-rata lima tahun 2021–2025 dan 1 persen di atas Oktober 2025.

Posisinya berbeda antarwilayah. Persediaan di kawasan Mountain diperkirakan 21 persen di atas rata-rata lima tahun, disusul Pacific 10 persen, Midwest 6 persen, dan South Central 4 persen. Kawasan East diperkirakan masuk musim penarikan dengan persediaan setara rata-rata lima tahun, karena mengawali musim injeksi 11 persen di bawah rata-rata setelah penarikan besar akibat musim dingin yang lebih dingin dari biasanya.

Produksi gas alam yang dipasarkan di AS diperkirakan naik 4,5 miliar kaki kubik per hari pada 2026 dan 4,6 miliar kaki kubik per hari pada 2027. Wilayah Permian dan Haynesville menyumbang lebih dari 70 persen pertumbuhan itu. Produksi Permian naik 1,7 miliar kaki kubik per hari pada 2026 dan 2,2 miliar kaki kubik per hari pada 2027, sedangkan Haynesville naik 1,4 dan 1,3 miliar kaki kubik per hari.

Sebagian besar gas Permian merupakan gas ikutan produksi minyak mentah, dan produksinya tumbuh lebih cepat daripada minyak. Rasio gas terhadap minyak di Permian rata-rata hampir 4.200 kaki kubik per barel pada 2025, 15 persen lebih tinggi dibanding 2021. Pipa Hugh Brinson milik Energy Transfer yang berawal dari Permian mulai mengalirkan gas antarnegara bagian pada Juni, lebih cepat dari perkiraan EIA sebelumnya.

Harga gas alam di Henry Hub diperkirakan rata-rata 3,43 dolar per juta Btu pada 2026 dan 3,28 dolar pada 2027, turun dari 3,53 dolar pada 2025. Ekspor gas alam cair (LNG) AS diperkirakan naik dari 15,1 miliar kaki kubik per hari pada 2025 menjadi 17,4 miliar kaki kubik per hari pada 2026 dan 18,6 miliar kaki kubik per hari pada 2027.

Konsumsi Listrik AS Pecahkan Rekor, Didorong Pusat Data

Konsumsi listrik AS mencapai tingkat rekor dalam prakiraan EIA, didorong pembangunan pusat data dan meningkatnya aktivitas manufaktur. Penjualan listrik diperkirakan mencapai 4.135 miliar kilowatt-jam pada 2026, naik hampir 2 persen dari 2025, dan 4.211 miliar kilowatt-jam pada 2027. Penjualan sektor komersial naik 3,3 persen pada 2026 dan 2,7 persen pada 2027, menyumbang 63 persen dan 56 persen tambahan penjualan.

Texas menghentikan sementara penyambungan pusat data baru ke jaringan listrik untuk audit regulasi atas proyek-proyek yang diajukan. Meski demikian, kawasan West South Central tetap menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan penjualan listrik, hampir 20 persen pada 2026 dan hampir 40 persen pada 2027. Perkiraan penjualan listrik kawasan itu pada 2027 dipangkas menjadi 790 miliar kilowatt-jam dari 829 miliar kilowatt-jam pada prakiraan bulan lalu.

Pembangkitan listrik tenaga gas alam diperkirakan naik 2 persen pada 2026 dan 1 persen pada 2027, sedangkan pembangkitan batu bara turun 8 persen dan 6 persen. Pembangkitan tenaga surya tumbuh 21 persen pada 2026 dan 18 persen pada 2027, serta tenaga angin 7 persen dan 5 persen. Pada 2027, porsi gas alam dalam pembangkitan listrik AS diperkirakan 40 persen, nuklir 18 persen, batu bara 14 persen, angin 12 persen, dan surya 9 persen.

Produksi batu bara AS diperkirakan turun dari 528 juta short ton pada 2025 menjadi 516 juta short ton pada 2026 dan 497 juta short ton pada 2027. Harga listrik rumah tangga diperkirakan naik dari 17,3 sen per kilowatt-jam pada 2025 menjadi 18,2 sen pada 2026 dan 18,6 sen pada 2027.

Baca juga Brent sentuh level tertinggi dalam sebulan

Emisi karbon dioksida terkait energi di AS diperkirakan turun 1,7 persen pada 2026 dibanding 2025, terutama karena berkurangnya konsumsi batu bara dan, dalam porsi lebih kecil, konsumsi bensin serta bahan bakar distilat. Pada 2027, emisi hanya turun 0,1 persen karena penurunan dari batu bara dan minyak diimbangi naiknya emisi dari pembangkit listrik berbahan bakar gas. Produk domestik bruto AS diperkirakan tumbuh 2,1 persen pada 2026 dan 2,4 persen pada 2027.

EIA menjadwalkan rilis Short-Term Energy Outlook berikutnya pada 6 Oktober 2026.

Bagikan

Baca Juga

Reformasi Pajak 92 Yurisdiksi, OECD: Kenaikan Pajak Terbatas
Nepal Tuntut Kompensasi 20 Juta Dolar Setelah Banjir Gletser
China Bantah Tuduhan AS soal Pencurian Model Kecerdasan Buatan
PM Norwegia: Pesawat Zelenskyy Nyaris Dihantam Drone
Brent Tembus 100 Dolar, Bursa Global Melemah Serentak
AS Hantam Lima Tanker Iran, Teheran Serang Pangkalan Yordania