Lima Buku Kajian Jawa, Tiga Penulis Indonesia

A A

Lembar lontar Pangulem Sang Hyang Atma dari Desa Tojan, Bali. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Daftar Isi
  1. 2014: Esai Ricklefs dan Dua Puluh Lima Nama
  2. 2018: Dua Buku, Nol Penulis Indonesia
  3. 2021 dan 2023: Wacana, lalu Storied Island
  4. 2023 dan 2024: Yogyakarta, Manila, dan 7,5 Persen

Cekricek.id — Pada September 2018 tujuh peneliti pindah ke Yerusalem. Mereka tinggal di sana sampai Juli 2019. Tempatnya Israel Institute for Advanced Studies milik Hebrew University. Pekerjaannya satu: membaca ulang sastra Jawa selama hampir sembilan bulan penuh.

Nama mereka tercatat lengkap. Ronit Ricci dari Yerusalem, Tony Day dari Graz, Nancy Florida dari Ann Arbor, Verena Meyer dari New York, serta Ben Arps, Els Bogaerts, dan Willem van der Molen dari Leiden. Mereka membaca, menerjemahkan, dan berdebat dalam seminar mingguan. Di tengah masa itu digelar konferensi tiga hari bertajuk Java in Jerusalem. Kelompoknya kemudian bertambah dua orang: Yumi Sugahara dari Osaka dan Edwin Wieringa dari Cologne.

Catatan atas hasil kerja itu ditulis Will Derks, peneliti independen yang bermukim di Belanda. Ulasannya berjudul Review Article Of ‘Storied Island’. Tulisan itu terbit di jurnal ARNAWA, Volume 3 Nomor 1, halaman 76–82, pada 2025. Derks menyebut buku yang diulasnya penting dan bermutu tinggi. Ia juga menghitung satu hal yang tidak dijelaskan para penyuntingnya. Hitungan itu ia taruh di bagian tengah tulisan, sesudah pujian, dan tidak ia cabut sampai kalimat terakhir.

2014: Esai Ricklefs dan Dua Puluh Lima Nama

Ilustrasi sejumlah peserta menyimak paparan seorang pembicara di sebuah ruang seminar.
Ilustrasi sejumlah peserta menyimak paparan seorang pembicara di sebuah ruang seminar. [Foto: Pexels]

Rantai peristiwanya bermula lebih awal. Pada 2014 M.C. Ricklefs menerbitkan esai berjudul Rediscovering Islam in Javanese History. Esai itu kemudian dicetak ulang sebagai bab pembuka buku yang diulas Derks. Di dalamnya Ricklefs menyebut paradigma lama para Javanolog sudah habis masa pakainya, bahkan ada yang ia nilai “demonstrably wrong”. Sasarannya terutama cara para Javanolog terdahulu membaca hubungan antara Jawa dan Islam, tema yang kemudian menjadi benang merah seluruh buku itu.

Bagian penutup esai itu yang paling sering dirujuk Derks. Ricklefs menulis bahwa sebagian besar riset untuk perspektif baru tersebut justru dikerjakan sarjana Indonesia. Ia menambahkan satu kalimat yang tegas: “There, in my view, lies the future of the study of Islam among the Javanese.” Kepemimpinan kajian Islam di Indonesia, menurutnya, harus datang dari dalam negeri itu sendiri. Ia menyebut telah bersandar pada karya sarjana Indonesia, yang sudah mapan maupun yang masih muda, sepanjang penelitiannya sendiri.

Baca juga Ritual Batu Mbah-Mbeh yang Bertahan di Watugaluh

Dalam catatan kaki ia mencantumkan dua puluh lima nama sarjana Indonesia yang ia rujuk di tiga bukunya tentang islamisasi di Jawa. Tidak satu pun dari dua puluh lima nama itu muncul sebagai penulis di buku yang memuat esainya. Keterlibatan Ricklefs dalam proyek Yerusalem tidak jelas. Ia meninggal pada 29 Desember 2019. Esainya tetap berdiri di halaman pembuka buku itu, dan Derks menilainya sebagai sumber ilham utama bagi para penulis lain.

2018: Dua Buku, Nol Penulis Indonesia

Pada tahun proyek Yerusalem dimulai, dua buku sejenis terbit lebih dulu. Yang pertama disunting Ding Choo Ming dan Willem van der Molen, berjudul Traces of the Ramayana and Mahabharata in Javanese and Malay Literature, terbit di Singapura. Yang kedua disunting Yumi Sugahara dan Willem van der Molen, berjudul Transformation of Religions as Reflected in Javanese Texts, terbit di Tokyo. Keduanya membahas warisan sastra dan budaya yang sama, yaitu warisan Jawa dan Melayu.

Pada 2019 Monique Zaini-Lajoubert mengulas buku pertama di jurnal Archipel nomor 97. Ia menyatakan heran karena tidak ada satu pun penulis Malaysia maupun Indonesia di dalamnya. Kedua penyuntingnya juga tidak menulis bab, kecuali pengantar. Ding Choo Ming, sarjana Malaysia yang menggagas konferensi asal buku itu, bahkan tidak ikut menulis pengantarnya dan tidak meninggalkan jejak di halaman mana pun.

Buku kedua memuat kejanggalan yang mirip. Pengantarnya menyebut peserta konferensi datang dari Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, Australia, Israel, dan Jepang. Namun tidak ada penulis Indonesia maupun Jawa yang mengisi bab di buku itu. Dua akademikus Belanda yang tidak tercantum dalam daftar peserta konferensi justru ikut menyumbang tulisan. Penyuntingnya sendiri, sekali lagi, tidak menulis bab di bukunya.

2021 dan 2023: Wacana, lalu Storied Island

Hasil sementara proyek Yerusalem diumumkan lebih dulu lewat penerbitan di Indonesia. Els Bogaerts dan Tony Day menyunting edisi khusus jurnal Wacana, volume 22 nomor 3, yang terbit pada 2021. Di pengantarnya mereka menyebut proyek itu berusaha menghidupkan kembali kajian Jawa. Kata yang mereka pakai adalah merevitalisasi. Dari sebelas tulisan di edisi tersebut, tiga berasal dari Indonesia.

Baca juga Manuskrip Lontar Trowulan Menunggu Giliran Didata

Ketiganya diperlakukan terpisah. Dua di antaranya tidak dibahas Bogaerts dan Day di pengantar, melainkan diperkenalkan sendiri oleh seorang mahasiswa doktoral dari Hebrew University. Derks mencatat hal itu tanpa memperoleh penjelasan apa pun. Ia membiarkannya berdiri sebagai pertanyaan. Pada tahun yang sama Ricci dan Van der Molen menulis pengumuman pendek di Archipel yang mengaitkan proyek itu langsung dengan apa yang mereka sebut merosotnya kajian Jawa di universitas seluruh dunia.

Bukunya sendiri terbit pada 2023. Storied Island: New Explorations in Javanese Literature disunting Ronit Ricci, diterbitkan Brill di Leiden sebagai jilid ke-316 seri Verhandelingen KITLV, dan tersedia sebagai terbitan akses terbuka. Dalam pengantarnya Ricci menyebut kajian Jawa sebagai bidang yang “has been gradually shrinking”. Ia menyebut dua nama filolog Indonesia di catatan kaki, bersama satu kolega Australia, dengan keterangan bahwa mereka tidak dapat menulis bab. Tidak ada penjelasan lain sesudah itu.

Derks tidak menyembunyikan kekagumannya pada isi buku itu. Bab karya Tony Day tentang Serat Centhini disebutnya bacaan yang luar biasa. Day memperlakukan tembang itu sebagai karya sastra, bukan sebagai ensiklopedia tentang Jawa, dan menyebutnya “arguably the greatest expression of literary art ever written in Javanese”. Terjemahan Day ke bahasa Inggris dinilai Derks membuka teks itu bagi pembaca di luar Jawa. Membaca petikan tembang itu, tulis Derks, ia sempat bertanya-tanya sedang membaca apa: komedi, mistik, atau realisme yang serba berlebihan.

2023 dan 2024: Yogyakarta, Manila, dan 7,5 Persen

Pada Agustus 2023 para filolog Indonesia berkumpul di Yogyakarta. Manassa, asosiasi filolog Indonesia, menggelar simposium internasional pernaskahan Nusantara yang kesembilan belas. Temanya Penguatan Keindonesiaan Melalui Kajian Naskah Nusantara. Dalam ajakan menulisnya, panitia menyebut identitas nasional sedang menghadapi tantangan globalisasi. Nasionalisme, patriotisme, dan peradaban Indonesia disebut terancam, dan naskah Nusantara ditempatkan sebagai salah satu alat untuk memperkuatnya kembali.

Setahun berikutnya arah yang berlawanan tampak lebih terang. Tony Day dan Edwin Wieringa menyunting edisi khusus jurnal Philological Encounters volume 9 nomor 1–2 pada 2024. Pengantarnya menyebut filologi Jawa punya kecenderungan isolasionis dan “island mentality”. Penulis di edisi itu, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh penyuntingnya, adalah akademikus non-Jawa yang memakai pendekatan teoretis non-Jawa.

Baca juga Berkas 2.197 Pengawas TPS Dibaca dengan Tiga Metode

Pada 18 sampai 20 Juli 2024 konferensi dwitahunan kelima SEASIA digelar di Manila. Temanya De/Centering Southeast Asia. Ajakan menulisnya menantang narasi dominan yang selama ini berpusat di Barat dan menyerahkan cerita kawasan kepada orang Asia Tenggara sendiri. Dua pertemuan itu berlangsung di kawasan yang sama dengan arah yang saling membelakangi. Yang satu mencari teori dari luar, yang lain mencari kearifan lokal dari dalam.

Di titik itulah Derks menjumlahkan. Dalam tujuh tahun terakhir terbit lima publikasi akademik tentang warisan sastra dan budaya Indonesia. Jumlah esai di dalamnya empat puluh satu. Yang ditulis orang Indonesia tiga, seluruhnya dari edisi khusus Wacana. Angkanya 7,5 persen. Derks menyebut angka itu tetap sangat rendah meskipun edisi khusus Wacana ikut dihitung.

Derks tidak mengubah hitungan itu menjadi tuduhan. Ia menyatakan tidak meragukan integritas para penyunting. Ia juga menyebut keterbatasan pengamatannya sendiri: penilaiannya atas buku itu hanya sejauh yang mampu ia nilai, pembacaannya atas sikap Manassa hanya kesan yang ia peroleh dari satu ajakan menulis, dan pembelahan dua kubu filolog yang ia gambarkan ia sebut sebagai pengamatan yang masih harus diuji. Dugaan bahwa lokasi Yerusalem menjadi penghalang pun ia sebut sebagai kemungkinan, bukan sebab.

Jalan keluar yang ia tawarkan bersifat praktis. Kedua kelompok bisa bertukar gagasan lebih teratur, sepakat untuk tidak sepakat bila perlu, dan menerbitkan karya bersama atau menggelar konferensi bersama. Ia menunjuk daftar sekitar dua puluh pembicara Manassa 2023 yang seluruhnya filolog Indonesia terkemuka. Jumlah filolog Indonesia, menurut hitungannya, lebih banyak dan rata-rata usianya lebih muda. Di laman asosiasi itu ia juga menemukan sejumlah nama pendatang baru. Ada harapan di sana, tulisnya.

Bagian terakhir ulasannya menyinggung bahasa. Derks mengutip The New Yorker edisi 8 Desember 2022 yang memuat sikap John M. Coetzee terhadap bahasa Inggris global. “I do not like the way in which English is taking over the world,” kata peraih Nobel Sastra 2003 itu di festival sastra Hay. Coetzee kerap menerbitkan bukunya dalam terjemahan Belanda dan Spanyol lebih dulu sebelum versi Inggrisnya keluar.

Derks menutup ulasannya dengan usul agar cara serupa dicoba di filologi Jawa. Tulisan itu terbit pada 2025. Sampai baris terakhirnya, daftar penulis kelima publikasi tadi tidak berubah.

Bagikan

Baca Juga

Nyeri Punggung Bawah Menimpa 56 Persen Pegawai Bank di Pokhara
Pemakai Rokok Elektrik Korea Turun Setelah Imbauan Tahun 2019
Igya Ser Hanjob, Cara Suku Arfak Menjaga Hutan dan Menjamu Tamu
Hoaks Kesehatan di Media Sosial Lebih Sering Dijumpai Anak Muda
Enam Negara Cepat Menurunkan Stunting, Anak Miskin Tertinggal
Cegah Demensia, Kota di Jepang Ramai Latih Otak, Sepi Urus Rokok