Manuskrip Lontar Trowulan Menunggu Giliran Didata

A A

Pecahan tembikar era Majapahit yang dipajang di Museum Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Daftar Isi
  1. Kotak Jati di Ruang Sejuk
  2. Bhomantaka, Pararaton, Usana Bali
  3. Kelas Jawa Kuno yang Berhenti
  4. Lembar yang Tak Lagi Utuh

Cekricek.id — Di dalam kotak jati berbentuk persegi panjang itu ada kapur barus yang dibungkus klip plastik. Kotaknya sendiri berada di dalam lemari kayu berkaca, di sebuah ruang penyimpanan khusus bersuhu sejuk di Museum Majapahit, Trowulan. Kapur barus itu diganti setiap tiga tahun sekali. Tugasnya menahan kelembapan agar lembaran daun lontar di sebelahnya tidak lapuk lebih cepat daripada seharusnya, dan sejauh ini tugas itu dijalankannya tanpa bantuan alat apa pun.

Lembaran itu diikat benang putih lewat lubang di bagian tengahnya. Pada ujung benang salah satu ikatan tertulis “Iti Tutur Husana Bali” disertai keterangan tiga belas lembar dan tanggal 17 September 2023. Tanggal itu bukan tanggal penulisan naskah dan bukan pula tanggal ia masuk museum. Itu tanggal ketika naskah tersebut dikeluarkan dari lemari, dibuka ikatannya, dan dipakai sebagai media internalisasi nilai budaya di hadapan orang.

Kotak, benang, dan kapur barus itu dicatat Lauhil Fatihah dan Edi Dwi Riyanto dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, dalam artikel Pelestarian Manuskrip Lontar: Studi Kasus Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan. Artikel tersebut terbit di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 3 pada Desember 2025. Keduanya mengamati langsung koleksi itu, mewawancarai orang-orang yang merawatnya, lalu menyandingkan hasilnya dengan arsip dan dokumen kebijakan.

Kotak Jati di Ruang Sejuk

Ilustrasi lemari pajang kayu berkaca di sebuah ruang museum dengan cahaya redup.
Ilustrasi lemari pajang kayu berkaca di sebuah ruang museum dengan cahaya redup. [Foto: Pexels]

Ada dua kotak kayu penyimpanan di ruang itu. Kotak pertama berukuran panjang 54,6 sentimeter, lebar 5,5 sentimeter, dan tinggi 10 sentimeter, memuat 31 lembar naskah dari dua judul sekaligus: Pararaton dan Usana Bali. Di dalamnya lembaran tersebut dipilah menjadi empat kelompok yang masing-masing berisi delapan, sepuluh, empat, dan sepuluh naskah. Tiap kelompok punya ikatan benangnya sendiri.

Ukurannya rapat pada satu rentang. Panjangnya berkisar 36,5 sampai 47,1 sentimeter, lebarnya 3,3 sampai 3,6 sentimeter, tebalnya setengah sampai satu sentimeter. Keseragaman itu, tulis kedua peneliti, mencerminkan standar ukuran lontar yang lazim dipakai di Jawa Timur pada masa lampau. Angka-angka tersebut bukan hasil pengukuran mereka sendiri; semuanya direkam staf balai purbakala pada 2008 dan disimpan di secarik kertas yang ikut ditaruh di dalam kotak.

Kotak kedua lebih besar: panjang 56 sentimeter, lebar 6,9 sentimeter, tinggi 14,9 sentimeter. Ia dibuat khusus untuk satu naskah, Bhomantaka, yang lembarannya memang lebih panjang daripada yang lain. Tiga puluh lembar tercatat di bagian pertama kotak itu, masing-masing sepanjang 49,3 sampai 49,5 sentimeter, selebar 2,9 sampai 3 sentimeter, dengan tebal sekitar satu milimeter. Perbedaan wadahnya sendiri sudah menjadi keterangan tentang perbedaan naskah yang disimpan di dalamnya.

Baca juga Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan

Abdul Rozak, staf Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI yang bertugas di Museum Majapahit, menerangkan bahwa asal-usul naskah itu belum diketahui secara pasti. Naskah tersebut sudah berada di museum sejak awal pendiriannya dan kemungkinan pernah dirawat Ir. Maclaine Pont, meski tidak tertutup kemungkinan ia datang dari tempat lain di Jawa Timur. Peralihan kelembagaan sesudah kemerdekaan, ketika Oudheidkundige Vereeniging Majapahit dialihkan menjadi dinas purbakala yang menangani peninggalan seluruh Jawa Timur, membuat jejaknya kabur.

Bhomantaka, Pararaton, Usana Bali

Kata lontar berasal dari bahasa Jawa ron ental, daun pohon siwalan, yang dalam nama ilmiahnya disebut Borassus flabellifer. Pohon itu tumbuh subur di Asia Tenggara, terutama di tanah berkapur dan lahan kering. Sampai abad kedua puluh masyarakat di Nusantara masih terbiasa menulis di atasnya. Karya yang lahir dari kebiasaan tersebut, menurut Pigeaud yang dikutip artikel ini, mencakup teks religi dan etika, sejarah dan mitologi, kesusastraan, hukum, sampai folklor dan adat istiadat.

Kawasan tempat ketiga naskah itu kini berada ditetapkan lewat Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 260/M/2013. Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan membentang di tujuh kecamatan, empat di Kabupaten Mojokerto yaitu Jatirejo, Puri, Trowulan, dan Sooko, serta tiga di Kabupaten Jombang yaitu Mojowarno, Mojoagung, dan Sumobito. Di dalamnya ada warisan fisik berupa cagar budaya dan unsur takbenda yang masuk kategori objek pemajuan kebudayaan.

Tiga judul di Museum Majapahit tidak berasal dari satu zaman dan satu niat. Kakawin Bhomantaka diterbitkan Friederich pada 1852 dalam aksara Jawa modern, tanpa terjemahan, tanpa nama pengarang, dan tanpa angka tahun. Teeuw dan Robson menerbitkan teks beserta terjemahan Inggrisnya pada 2005 dan menempatkannya pada periode Jawa Timur abad kedua belas, tetap dengan pengarang yang tidak dikenal. Zoetmulder sendiri, tulis kedua peneliti, sampai akhir belum yakin menempatkan karya itu pada periode mana pun.

Isinya kisah kematian Bhoma, raksasa putra Wisnu dan Dewi Bhumi, yang mengacaukan dunia. Kresna mengutus putranya, Samba, untuk merebut dan menghancurkan istana Naraka. Mendengar keratonnya hancur, Bhoma menghentikan serangannya ke kahyangan dan pulang untuk merebutnya kembali. Ia tumbang dalam pertempuran besar melawan Kresna, yang dalam kisah itu merupakan salah satu penjelmaan Wisnu.

Serat Pararaton berdiri di wilayah yang lain sama sekali. Naskah aslinya pendek, tiga puluh dua halaman folio berisi 1.126 baris prosa berbahasa Jawa Kuno dengan aksara Jawa carik atau tulisan tangan. Ia menceritakan kelahiran Ken Angrok, pendiri Singhasari, sampai menjelang jatuhnya Majapahit pada masa Bhre Pandansalas, lengkap dengan mitos dan khayalan yang ditanam untuk melegitimasi tokoh-tokohnya. Isinya bisa disandingkan dengan Negarakretagama dan prasasti-prasasti peninggalan Singhasari serta Majapahit.

Baca juga Kilas Balik yang Menjelaskan Dendam Ratu Charlotte

Usana Bali tergolong babad. Ia mengisahkan turunnya para dewa ke bumi untuk menjaga keseimbangan dunia, pemerintahan Mayadanawa yang melarang rakyatnya sembahyang di parahyangan, dan pertempuran yang berakhir dengan kekalahannya. Di sela kisah itu tersimpan catatan hubungan lama antara Jawa dan Bali, termasuk penuturan tentang pemeluk Hindu asal Majapahit yang pernah bermukim di sana dan membangun pura di Basuki sebelum mengalami penindasan.

Ketiganya belum berstatus cagar budaya. Yanti Muda Octaviana, Koordinator Museum Majapahit, menerangkan bahwa manuskrip lontar di sana masih tercatat sebagai Objek Diduga Cagar Budaya, sehingga memperoleh perlakuan pelestarian yang setara meski penetapannya belum keluar. Menurutnya, naskah-naskah itu belum bisa memasuki tahap pelindungan karena masih banyak koleksi museum lain yang menunggu giliran didata. Kriterianya sendiri tidak rumit di atas kertas: berusia sekurang-kurangnya lima puluh tahun dan punya arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, atau kebudayaan.

Kelas Jawa Kuno yang Berhenti

Pada 2023 lontar itu keluar dari lemari. Museum Majapahit, yang saat itu bernama Pengelolaan Informasi Majapahit di bawah Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, menyelenggarakan kelas bahasa Jawa Kuno selama satu tahun penuh. Pesertanya 25 sampai 30 guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Kecamatan Trowulan. Pengajarnya membaca isi naskah di depan kelas dan memakainya sebagai bahan pengenalan bahasa Jawa Kuno kepada para guru itu.

Itulah asal tanggal yang tertulis di ujung benang tadi. Bhomantaka tercatat 1 Oktober 2023, sedangkan Pararaton dan Usana Bali tercatat 17 September 2023. Pada hari-hari itu naskah tidak sekadar menjadi koleksi arsip, melainkan bahan ajar. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 memang menempatkan manuskrip sebagai satu dari sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan yang berhak memperoleh pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan sekaligus.

Baca juga Ketika Prompt Jadi Pelajaran di Kelas Bahasa

Program itu berhenti setelah satu tahun dan tidak berlanjut pada periode berikutnya. Kedua peneliti mencatatnya sebagai kegagalan membangun kesinambungan, bukan sekadar jeda administratif yang bisa dikejar tahun depan. Tanpa lanjutan, pemanfaatan naskah sebagai objek pemajuan kebudayaan berhenti pada satu angkatan guru saja, di satu kecamatan, dan lontar kembali ke dalam kotaknya.

Lembar yang Tak Lagi Utuh

Tidak semua koleksi di ruang itu masih terbaca. Sebagian lembar lontar sudah rusak atau tidak lagi utuh, dan hanya bisa dipulihkan lewat restorasi. Langkahnya berurutan: identifikasi kondisi awal naskah, perbaikan fisik, lalu digitalisasi sebagai tindakan pendukung. Konservasi dipakai untuk mencegah kerusakan, restorasi untuk memperbaiki apa yang sudah telanjur terjadi, dan keduanya menuntut orang yang tahu apa yang sedang ia pegang.

Di titik inilah kendalanya berhenti pada dua hal yang sangat konkret. Tenaga ahli konservasi terbatas dan teknologi pendukung untuk digitalisasi belum memadai. Pendanaan juga disebut minim di dalam simpulan artikel itu. Ancaman terhadap bahannya sendiri sementara itu tidak berkurang: manuskrip lontar, tulis Fatihah dan Riyanto, “sangat sensitif terhadap perubahan iklim, serangan mikroorganisme atau serangga, serta risiko bencana”.

Ruang penyimpanan itu mungkin cukup aman dari banjir, tetapi gempa dan kebakaran tetap memerlukan perhatian khusus. Penduplikasian dan digitalisasi karena itu disebut sebagai pengaman tambahan agar isinya selamat meski fisiknya tidak. Jalan keluar lain yang mereka usulkan tidak berhenti di museum: kolaborasi perlu diperluas ke pemerintah, akademisi, komunitas, serta pemuka dan umat Hindu dan Buddha. Komunitas Jawa Kuno pernah menjalankan program serupa di museum yang sama.

Kedua peneliti tidak memperluas klaim mereka melewati apa yang mereka lihat. Yang diperiksa adalah koleksi di satu museum di satu kawasan cagar budaya, bukan nasib manuskrip lontar di seluruh Indonesia. Asal-usul naskahnya pun mereka akui masih memerlukan kajian lanjutan untuk ditelusuri, sebab arsip peralihan lembaganya tidak lengkap dan sebagian jejaknya sudah hilang bersama pergantian dinas yang mengurusnya.

Sementara itu kapur barus di dalam kotak jati tetap bekerja. Ia akan diganti lagi tiga tahun sekali, menahan lembap dari lembaran-lembaran yang giliran pendataannya belum juga tiba.

Bagikan

Baca Juga

Tiga Bentuk Pintu yang Bicara di Istana Siak
Aksesibilitas Borobudur: Enam Fasilitas, Dua Tersedia
Lembaga Adat Borobudur Tersisih dari Meja Kebijakan
Benteng Keraton Buton dan Dua Belas Pintunya
Keraton Buton, Nanas dan Naga di Atap Rumah Warganya
Klenteng Tay Kak Sie Dirawat Uang Umat