- Nanas ditaruh berdiri dan naga merayap ke arahnya, diulang di atap depan maupun belakang.
- Nanas dibaca lewat tujuh makna, dari daya tahan sampai banyaknya saluran informasi negara.
- Benteng Keraton Buton punya dua belas gerbang yang disebut lawa dan enam belas bastion.
- Tiap gerbang dan tiap bastion dijaga empat sampai enam meriam.
- Naskah ini menyebut rekor Guinness 2006 di satu bagian dan rekor MURI 2006 di bagian lain.
Cekricek.id — Sebuah nanas berdiri tegak di atap depan, seekor naga merayap ke arahnya. Di atap belakang, susunan yang sama diulang persis.
Dua lambang itu menempel pada rumah panggung di kawasan Keraton Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Yang satu buah, yang lain makhluk.
Keduanya dicatat dua peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Budi Sulistiono dan Anissa Windarti. Windarti penulis korespondensinya.
Tulisan mereka berjudul Archaeological Resources of Buton Sultanate as Tourism Assets and Potential Resources for The Religious Harmony in Indonesia.
Naskahnya terbit di Purbawidya Volume 15 Nomor 1 edisi Juni 2026, halaman 300 sampai 317. Naskah itu masuk 17 Januari 2025 dan terbit 10 Juni 2026.
Metodenya deskriptif kualitatif dengan pendekatan arkeologis dan historis. Datanya dari wawancara mendalam, pengamatan lapangan, dan analisis dokumen.
Wawancara dan diskusi kelompok terarahnya berlangsung 6 sampai 10 September 2019. Narasumbernya antara lain antropolog Dr. Munafi Laode dan filolog Hasyaruddin.
Nama lain yang ditemui dr. Izzat Manarfa, Sultan Kesultanan Buton, dan H. Lulu, tokoh masyarakat sekaligus pengusaha. Ali Arham, Kepala Dinas Pariwisata, ikut diwawancarai.
Daftar Isi
Nanas yang Berduri, Naga yang Merayap
Kesultanan Buton berdiri pada 1332 dan berakhir pada 1960. Rentangnya kira-kira 600 tahun, jauh lebih panjang daripada usia kebanyakan kerajaan yang seangkatan.
Nanas dipilih leluhur orang Buton sebagai lambang Kesultanan Wolio. Naga dipilih belakangan, dan menurut naskah ini berasal dari pengaruh Tiongkok.
Alasannya bertaut pada satu nama. Menurut tradisi, raja pertama Buton adalah Putri Wa Kaa Kaa, yang disebut berasal dari negeri itu.
Keduanya tidak berdiri sendiri-sendiri di atap. Nanas ditaruh berdiri, naga merayap ke arahnya, dan pasangan itu diulang di sisi depan maupun belakang.
Pada rumah adat atau atap berbentuk rumah adat, keduanya hampir selalu ada. Yang satu menandai asal ke dalam, yang lain menandai hubungan ke luar.
Ornamen semacam itu dipahat pada tiang, balok, rusuk, dan langit-langit sesuai aturan seni keraton. Fungsinya bukan hanya keindahan, tetapi juga penanda status.
Keraton sendiri sudah menjadi pusat kegiatan budaya sejak masa Hindu. Kedudukan itu berlanjut pada masa Islam, ketika ia sekaligus menjadi pusat kerajaan dan tempat raja bermukim.
Tata letak dan susunan bangsalnya tidak lepas dari falsafah hidup kebudayaan agraris. Nilai estetiknya terlihat pada struktur luar maupun bagian dalamnya.
Baca juga Candi Naga Panataran Bukan Kisah Samudramanthana
Duri untuk Kuasa, Daging untuk Rakyat
Nanas dibaca lewat tujuh makna sekaligus. Sebagiannya menandai kekuatan, sebagian lain menandai kelembutan.
Yang pertama soal daya tahan. Nanas mudah tumbuh di mana saja, di tanah berpasir maupun berbatu, dan itu dibaca sebagai kemampuan orang Buton menyesuaikan diri.
Daunnya berduri, dan itu berarti Buton punya kekuatan yang tidak bisa diganggu sembarangan. Dagingnya manis dan segar, tanda orang Buton berhati baik meski berkuasa.
Pohonnya rendah tetapi tampak gagah. Susunan itu dibaca sebagai kepemimpinan yang rendah hati sekaligus kesatria.
Tepi daunnya bergerigi, dibaca sebagai pedang dan perisai. Mahkota di atas buahnya dibaca sebagai kebesaran dan kejayaan.
Di sekeliling buah ada banyak tunas, menandai mudahnya berkembang biak. Isinya manis dan berair, menandai kehidupan yang makmur bagi seluruh rakyat.
Makna ketujuh yang paling tidak terduga. Seluruh kulit buah penuh bayangan mata dan telinga, menandai banyaknya saluran informasi negara.
Duri dan daging karena itu dibaca berpasangan. Jalan menuju kemakmuran disebut sering berhalangan, dan halangan itu dilambangkan durinya.
Dua Belas Lawa, Enam Belas Bastion
Benteng Keraton Buton punya dua belas gerbang yang disebut lawa. Angka itu, menurut naskah ini, menandai jumlah lubang pada tubuh manusia.
Bentuk dan bahan tiap pintu berbeda-beda. Sebagian dibuat dari kayu, sebagian lain dari batu.
Selain lawa, ada enam belas pos jaga atau bastion. Tiap gerbang dan tiap bastion dijaga empat sampai enam meriam.
Di sudut kanan selatan ada godana-oba, gudang mesiu. Di sisi kiri berdiri gudang amunisi.
Benteng itu bukan satu-satunya. Peninggalan serupa terbentang dari Kaledupa dan Wanci sampai ujung utara Pulau Buton di Kulisusu, jumlahnya ratusan.
Menurut keterangan H. Lulu, benteng-benteng itu saksi bisu bahwa ancaman datang dan pergi di kawasan tersebut. Dari benteng pula orang Buton membangun tradisi berunding dengan bangsa lain.
Kawasan intinya benteng keraton, yang dinilai bernilai sakral tinggi. Menurut keterangan Ali Arham, kawasan inti lain meliputi pelabuhan lama, Lipu Katobengke, Wajo, Baadia, dan Sorawolio.
Peninggalan di dalam dan sekitarnya beragam. Ada kamali, masjid, baruga, tiang bendera kesultanan, makam sultan, dan makam-makam kuno.
Ada pula gua persembunyian Arung Palaka, Raja Bone, ketika melarikan diri ke Keraton Buton. Benda lain berupa peta silsilah, perkakas rumah tangga kerajaan, alat perang, keramik, dan dokumen kerajaan.
Penghargaannya dicatat dua kali dengan dua nama berbeda. Naskah ini menyebut rekor Guinness Book of World Records 2006, lalu di bagian lain menyebut rekor MURI 2006 sebagai benteng terluas.
Islam masuk sesudah Hindu dan Buddha, dan perubahannya disebut mendasar. Penyebarannya berlangsung damai lewat perdagangan, kesenian, perkawinan, dan pendidikan.
Pembawanya beragam: ulama Arab, pedagang, ulama sufi, dan para sultan. Pendekatannya memakai kearifan lokal, dan penyebarnya digambarkan ramah serta mudah bergaul.
Jejaknya tinggal pada bangunan ibadah. Masjid peninggalan abad ke-15 sampai ke-16 disebut berbentuk peralihan antara budaya Hindu-Buddha dan budaya Islam.
Baca juga Lokomotif Uap Silukah, Saksi Jalur Maut Sijunjung
Dipugar di Satu Sisi, Keropos di Sisi Lain
Pengelolaannya kini di tangan Pemerintah Kota Baubau lewat dinas kebudayaan dan pariwisata. Dasarnya Keputusan Wali Kota Baubau Nomor 105 Tahun 2003.
Keputusan itu menetapkan kawasan Benteng Keraton Buton sebagai kawasan warisan sejarah khusus. Sesudahnya keraton diresmikan sebagai objek wisata sejarah.
Statusnya bertambah pada 2012. Baubau ditetapkan sebagai Kota Pusaka dan menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara pada tahun yang sama.
Pendataan berjalan di dua arah. Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar mencatat 14 objek sejarah di Kota Baubau, berupa makam, struktur benteng, keraton, rumah adat, dan masjid.
Rencana tata ruang Baubau 2011 sampai 2030 menetapkan dua kawasan cagar budaya, yaitu Keraton Buton dan Badia. Di dalamnya ada sembilan ruang terbuka hijau arkeologi seluas 12,81 hektare.
Dua yang terluas berada di benteng keraton. Bagian dalamnya 3,40 hektare dan bagian luarnya 2,96 hektare.
Di sisi lain, kondisi fisiknya tidak seragam. Kawasan Benteng Wolio masih tertata rapi, tetapi di beberapa tempat mulai rontok dan dipugar.
Bagian utaranya mulai keropos dan sebagian batunya berjatuhan. Sebagian pemilik rumah juga mengganti rumah kayunya dengan rumah bata.
Pemanfaatannya pun belum seimbang dengan potensinya. Sejumlah aset wisata budaya disebut belum diberdayakan sepenuhnya.
Penyebabnya dua sisi. Pemerintah kota masih dalam tahap membenahi objek, yaitu memugar dinding benteng dan makam serta memasang papan informasi.
Di luar benda, ada pula arsip. Koleksi naskah dan arsip Keraton Buton tersimpan di perpustakaan AM Zahari dan terbuka bagi guru maupun masyarakat yang ingin mempelajari sejarahnya.
Naskah ini menempatkan dua manfaat berdampingan. Yang satu wisata, yang lain bahan ajar sejarah lokal di sekolah.
Sejarah lokal disebut berperan membentuk kesadaran sejarah, terutama di era digital. Dari sana diharapkan tumbuh rasa cinta tanah air dan identitas kebangsaan.
Kedudukan Buton dalam historiografi Indonesia sendiri pernah timpang. Daerah itu sempat dilabeli bekerja sama dengan Belanda, lalu lama dilupakan.
Pembacaan lain datang dari buku Susanto Zuhdi berjudul Labu Rope Labu Wana. Di sana Buton digambarkan terjepit dua hegemoni besar, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Ternate.
Dengan memanfaatkan aspek ekologi, jaringan niaga, dan budaya materinya, Kesultanan Buton disebut tetap bertahan di wilayahnya. Kerja sama dengan kompeni menjadi jalan keluar dari jepitan itu.
Di sektor wisata, Indonesia disebut tertinggal di kawasan ASEAN. Pembandingnya Malaysia, Singapura, dan Thailand, yang sama-sama mengandalkan budaya dan sumber daya alam.
Kebutuhan wisata budaya pun bergeser. Wisatawan tidak lagi puas menonton, melainkan ingin ikut merasakan identitas setempat.
Warga di dalam kawasan benteng masih menjalankan budaya aslinya lewat pertunjukan seni pada upacara adat. Potensi itu, kata naskah ini, bisa digali dengan melibatkan mereka sebagai pemandu wisata.
Batas kajiannya juga perlu disebut. Datanya berasal dari satu rangkaian pengamatan dan wawancara pada September 2019, tanpa pengukuran kunjungan wisatawan.
Usul penutupnya menimbang dua pihak sekaligus. Masyarakat setempat sebagai pewaris diminta dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengelolaan.
Baca juga Kepuasan Wisatawan Ke’te Kesu’ Berhenti di Angka 3,96















