Kidung Subrata, Naskah Merapi-Merbabu dengan 22 Salinan

A A

Ilustrasi Gunung Merbabu di Jawa Tengah yang berselimut hijau dan kabut. [Foto: Pexels]

  • Kidung Subrata memegang jumlah salinan terbanyak di skriptorium Merapi-Merbabu, yaitu 22 naskah.
  • Belum ada penelitian tunggal atas teks ini, dan kajian yang ada berhenti pada katalogisasi.
  • Naskah L304 berbahan lempir lontar berjumlah 19 lembar, dan nomor lempirnya tidak berurutan.
  • Tiga dari sembilan konsep ajaran yang teridentifikasi baru dibedah, enam sisanya disiapkan untuk penelitian lanjutan.
  • Analisisnya bersandar pada satu naskah, dan sebagian tafsirnya adalah dugaan penulisnya sendiri.

Cekricek.id — Pada abad ke-16 dan ke-17, lereng Gunung Merapi dan Merbabu bukan hanya ladang dan permukiman. Di sana orang menyalin naskah.

Naskah-naskah itu ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan dan aksara Buda. Isinya sastra kidung, dan kawasan penulisnya dikenal sebagai skriptorium Merapi-Merbabu.

Di antara naskah kidung dari kawasan itu, Kidung Subrata memegang jumlah salinan terbanyak, yaitu 22 naskah. Kajian filologis atasnya justru masih tipis.

Prastowo Budi Purnama dari Komunitas Sraddha Sala menggarap salah satu salinannya. Tulisannya berjudul Pandangan Awal: Tiga Konsep Ajaran Masyarakat Pegunungan dalam Teks Kidung Subrata.

Naskahnya terbit di jurnal Arnawa Volume 3 Nomor 2 tahun 2025, halaman 102 sampai 114. Yang dikaji naskah berkode L304 Peti 71 Rol 855/1 koleksi Perpustakaan Nasional.

Daftar Isi
  1. Sampai Kini, Kidung Subrata Belum Pernah Dikaji Tunggal
  2. L304, Sembilan Belas Lempir yang Nomornya Tak Urut
  3. Oṅkāra, Aksara yang Menurunkan Aksara Lain
  4. Tali, Busur, dan Anak Panah
  5. Bañcana dan Lima Unsur yang Menggoda

Sampai Kini, Kidung Subrata Belum Pernah Dikaji Tunggal

Poerbatjaraka pada 1964 sudah menyebut Kidung Subrata bernilai filosofis tinggi. Bahasanya disebut sulit, dan itu yang membuatnya sekaligus menantang dan menarik.

Meski salinannya paling banyak, belum ada penelitian tunggal atas teks ini di lingkungan naskah Merapi-Merbabu. Kajian yang ada berhenti pada katalogisasi.

Baru pada 2022 penulisnya sendiri menyunting L304 secara diplomatis dalam skripsinya. Yang dianalisis waktu itu hanya satu konsep, yakni bayu–śabda–hiḍěp.

Artikel 2025 ini melanjutkan pekerjaan tersebut. Dua konsep ditambahkan, yaitu oṅkāra dan bañcana.

Ketiganya bagian dari pemetaan awal sembilan konsep ajaran yang teridentifikasi di dalam teks. Enam sisanya disiapkan untuk penelitian lanjutan.

Kesembilannya meliputi oṅkāra, bayu–śabda–hiḍěp, bañcana, parsendriya, dasendriya, turu dan ngimpi, banyu, catur paḍa, serta gětih.

Prosedur kerjanya empat langkah. Penelusuran fragmen, alih aksara ke Latin, penerjemahan ke bahasa Indonesia, lalu analisis isi.

Alih aksaranya kali ini berbeda dari skripsi. Suntingan dibersihkan dari ejaan yang membingungkan supaya tidak melahirkan tafsir ganda.

Kawasan itu memang aktif secara keagamaan pada masa lalu. Gunung Merbabu menyimpan sejumlah situs periode Siwa-Buddha berupa candi dan petirtaan.

Sebarannya mengikuti pembagian ruang tiga lapis dunia. Puncak Pregowati dianggap swarloka, sedangkan lereng dan kaki gunung ditandai sebagai bhuwarloka.

Sekitar 390 naskah dari skriptorium itu kini tersimpan di Perpustakaan Nasional. Sebagian besar disalin di berbagai wilayah sekitar Gunung Merbabu, dengan 12 desa teridentifikasi.

Baca juga Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi

L304, Sembilan Belas Lempir yang Nomornya Tak Urut

Naskah L304 berbahan lempir lontar berjumlah 19 lembar. Delapan belas di antaranya teks utama, satu lempir berisi Suluk Asmara.

Ukurannya bervariasi. Panjangnya antara 33,1 sampai 34,8 sentimeter dengan lebar 3 sampai 3,8 sentimeter.

Lempir-lempir itu dilindungi sampul pengapit dari bambu. Bambunya diawetkan dengan dibakar sehingga warnanya menjadi cokelat kehitaman.

Sampul atas panjangnya 33,9 sentimeter dengan lebar 3,5 sampai 3,6 sentimeter. Sampul bawah sedikit lebih panjang, yaitu 34,2 sentimeter.

Kondisinya tidak utuh. Lubang, patahan mendatar dan tegak, serta bagian yang terkelupas terutama terlihat pada lempir 2, 3, 4, 12, dan 13.

Pengamatan langsung penulisnya menemukan hal lain. Nomor lempir naskah ini tidak berurutan.

Sebuah sengkalan pada lempir 18 mencatat waktu penyalinan. Rentangnya 22 Juni sampai 2 Agustus, wuku dalěm, tahun pahang, hari Rabu Kliwon, 1497 tahun Merapi-Merbabu.

Sengkalan lain ada di lempir 1 verso. Angka itu merujuk pada tahun 1463 Merapi-Merbabu, yang diduga penulisnya sebagai tahun teks sumbernya.

Perhitungan tahun di skriptorium itu belum diketahui pasti. Bila angkanya tahun Saka, penyalinan L304 bertepatan dengan 1575 Masehi.

Genrenya sisya lělana, sastra yang mengisahkan pengembaraan seorang murid mencari ilmu sejati. Tokohnya Ki Subrata, seorang pertapa.

Ia digambarkan menempuh lělana dan brata. Tujuannya memahami hakikat kehidupan dan mencapai moksa.

Oṅkāra, Aksara yang Menurunkan Aksara Lain

Konsep pertama yang dianalisis oṅkāra. Penulisnya memilihnya karena konsep itu dinilai mengajarkan hubungan antara aksara dan tubuh manusia.

Di dalam Kidung Subrata sendiri, keterangannya pendek saja. Ia ditulis pada lempir ke-2 verso dalam beberapa baris.

Isinya menempatkan oṅkāra sebagai unsur yang membentuk aksara. Ada pula brahmākṣara yang disebut asal-usul tryākṣara.

Dalam tradisi Sanskerta, brahmākṣara dipahami sebagai padanan oṅkāra. Keduanya merujuk pada aksara mistis dan suci om.

Kidung Subrata tidak merinci ketiga aksara itu. Teks pembanding menyebut tryākṣara terdiri atas a, u, dan ma.

Ketiganya dalam tradisi Bali dilengkapi tiga tanda. Tanda-tanda itu ardhacandra, windu, dan nāda.

Begitu pula pañcākṣara, yang tidak diterangkan lebih jauh di Kidung Subrata. Di teks lain ia terdiri atas na, ma, śi, wa, dan ya.

Dibaca bersamaan, kelima aksara itu berbunyi nama śiwaya. Bentuknya adaptasi lokal dari ungkapan Sanskerta yang berarti hormat kepada śiwa.

Kesimpulan penulisnya: oṅkāra adalah asal-muasal turunan aksara mistis lain. Dari sana terbentuk tryākṣara, lalu pañcākṣara, lalu seterusnya.

Dalam pandangan Tantra, tubuh manusia terbentuk dari susunan aksara yang mewujud menjadi fisik. Karena itu oṅkāra dibaca sebagai keseluruhan yang membentuk manusia.

Baca juga Prasasti 907 Masehi Menyebut Wayang, Kabar Tertua Pertunjukan Jawa

Tali, Busur, dan Anak Panah

Konsep kedua bayu–śabda–hiḍěp. Ketiganya masing-masing mewakili tenaga fisik, ucapan, dan pikiran.

Di teks lain nama gabungannya berbeda-beda. Ada yang menyebutnya trirodri, ada trisakti, dan dalam ajaran Hindu Bali dikenal sebagai tripramāna.

Di dalam Kidung Subrata, ketiganya disebut pada lempir ke-3 verso. Ia muncul sebagai unsur yang menyertai pelaku yoga.

Isinya mengingatkan seorang yogin agar tidak melupakan kekokohan ketiga unsur itu. Teksnya tidak menjelaskan lebih jauh hakikatnya.

Karena itu penafsirannya dilanjutkan lewat Sang Hyang Kamāhayānikan. Naskah pembanding itu memuat ajaran Siwa-Buddha bercorak Tantrayana.

Di sana disebutkan bahwa ketika seseorang meninggal, bayu meninggalkan perasaan. śabda meninggalkan pendengaran, dan hiḍěp meninggalkan pikiran.

Ketiganya membentuk pengetahuan. Siapa yang menguasainya berarti menguasai pengetahuannya, dan siapa yang melupakannya kehilangan pengetahuan itu.

Perwujudan simboliknya dijelaskan lewat metafora panah. Bayu adalah tali, śabda adalah busur, dan hiḍěp adalah proses meluncurnya anak panah.

Ingatan sendiri adalah anak panahnya. Panah akan mengenai sasaran bila hati teguh, dan meleset bila hati ragu.

Dalam jagad yang besar, ketiganya punya wujud lain. Bayu mewujud sebagai lautan, śabda sebagai manusia, dan hiḍěp sebagai air.

Di antara ketiganya, hiḍěp menempati posisi tertinggi. Ia menjadi dasar bagi tutur, karya, dan kesadaran manusia.

Bañcana dan Lima Unsur yang Menggoda

Konsep ketiga bañcana. Secara kata ia berarti bahaya atau hambatan.

Penulisnya menduga istilah itu yang kini menjadi kata bencana. Meski artinya berdekatan, pemaknaannya disebut cukup berbeda jauh.

Di dalam Kidung Subrata, bañcana diartikan sebagai marabahaya yang menyerang diri manusia. Keterangannya ada pada lempir 1 verso sampai lempir 2 recto.

Isinya menyebut seseorang akan terhindar dari marabahaya bila berhasil bersanding dengan kejernihan. Penulisnya membaca kejernihan itu sebagai kesucian hati dan cinta kasih.

Caranya dengan mengikat puisi-nyanyian yang berlandaskan ketulusan cinta. Menulis karya sastra karena itu disamakan dengan ruwatan menjauhkan kesengsaraan.

Penulis sastra masa lalu, menurut dugaan penulisnya, harus menulis dalam keadaan netral. Maksudnya tidak terdoktrin oleh kitab-kitab lain.

Keterangan lain ada di lempir ke-9 recto. Di sana bañcana muncul sebagai tipu daya yang lahir dari unsur material.

Unsur material itu lima, biasa disebut pancamahabhuta. Kelimanya pretiwi, apah, teja, bayu, dan akasa.

Kelimanya penyusun dunia sekaligus penyusun diri manusia. Dari sanalah nafsu muncul, sehingga mencapai kejernihan menuntut pengendalian atas kelima unsur itu.

Penjelasan ketiga konsep itu di dalam teks memang serba pendek. Penulisnya menduga keringkasan itu disengaja pengarang Kidung Subrata.

Dugaannya dua. Pengarang ingin memusatkan cerita pada sosok Subrata, dan sekaligus menunjukkan penguasaannya lewat rujukan yang halus.

Batas kajiannya disebut terang-terangan. Analisisnya bersandar pada satu naskah, dan sebagian tafsirnya adalah dugaan penulisnya sendiri.

Kajian ini juga bukan titik akhir. Penulisnya menyiapkan riset sosiologis atau etnografis untuk menguji apakah ketiga konsep itu masih diajarkan dalam ritus keagamaan sekarang.

Baca juga Tujuh Panil Borobudur dan Ajaran Menukar Penderitaan

Bagikan

Baca Juga

Keraton Buton, Nanas dan Naga di Atap Rumah Warganya
Jabatan Puun Kanekes Berakhir Ketika Istrinya Meninggal
Tari Perang Nias Hidup di Gunung Pangilun Sejak 1939
Dana Desa Menaikkan Harapan Hidup, Bukan Lama Sekolah
Tiga Puluh Empat Laporan Warisan Budaya di Meja BRIN
Kerajinan Karawo Bertahan di Tangan 21 Perajin