Tujuh Panil Borobudur dan Ajaran Menukar Penderitaan

A A

Panil relief cerita Maitrakanyaka di lorong pertama Candi Borobudur. (Foto: Lee dan Lee/Amerta, CC BY-SA 4.0)

Cekricek.id — Di panil Ib.106, di deret bawah dinding utama lorong pertama Borobudur, seorang perempuan duduk di sebuah pendapa terbuka. Tangan kanannya terulur menerima kantong uang di atas nampan berhias bunga, sementara di depannya seorang lelaki muda duduk bersimpuh di lantai, menyerahkan penghasilan hari itu. Di bawah tempat duduk perempuan itu, pemahat menorehkan empat kantong uang kecil.

Perempuan itu ibu Maitrakanyaka, dan empat kantong uang itu melambangkan empat keping karshapana, penghasilan pertama sang anak dari kedai okkarika miliknya di Kota Varanasi. Panil itu adalah panil pertama dari tujuh panil berurutan yang memahat kisahnya, dan kisah itulah yang diteliti So Tju Shinta Lee dan Salim Lee dari Dharmamega Bumi Borobudur Foundation dalam artikel berjudul Reflections on the Maitrakanyaka-Avadana at Candi Borobudur: The Teaching of Exchanging and Equalizing.

Kajian itu terbit di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Volume 43 Nomor 1, edisi Juni 2025. Artikelnya menempati halaman 1 sampai 20. Kedua penulis membandingkan relief Borobudur dengan naskah Sanskerta, Tionghoa, Tibet, dan Pali.

Daftar Isi
  1. Tujuh Panil
  2. Nama yang Berubah
  3. Empat Bahasa
  4. Uang untuk Ibu
  5. Apsara yang Berkurang
  6. Roda dan Batasnya

Tujuh Panil

Panil relief Ib.106 Borobudur memperlihatkan seorang perempuan duduk di pendapa menerima nampan berisi kantong uang
Panil Ib.106, Maitrakanyaka menyerahkan empat karshapana kepada ibunya. (Foto: Lee dan Lee/Amerta, CC BY-SA 4.0)

Penomoran ketujuh panil itu, dari Ib.106 sampai Ib.112, mengikuti kerja arkeolog N.J. Krom pada 1927. Nomor Ib merujuk pada dinding dalam lorong pertama, deret bawah — barisan panil yang menjadi latar utama kisah Maitrakanyaka di Borobudur.

Seluruh cerita Jataka dan Avadana di Borobudur menempati 720 panil, hampir separuh dari relief naratif candi. Rinciannya tersebar di empat baris. Pagar langkan lorong pertama memuat 372 panil di deret atas dan 128 panil di deret bawah.

Dua baris sisanya adalah dinding dalam lorong pertama deret bawah dengan 120 panil, serta pagar langkan lorong kedua dengan 100 panil. Deretan panjang itu bersandar pada naskah pembanding seperti Jatakamala, Divyavadana, dan Avadanasataka.

Letak kisah ini dianggap penting oleh kedua peneliti. Maitrakanyaka adalah cerita kedua dari akhir dalam deret Avadana, tepat sebelum deret Lalitavistara dimulai. Alasannya ada di penutup cerita, karena tokohnya terlahir kembali di Tusita, surga yang sama dengan tempat Lalitavistara bermula.

Nama yang Berubah

Kisah ini tersimpan dalam empat bahasa klasik, yaitu Sanskerta, Tionghoa klasik, Tibet, dan Pali. Dua istilah dipakai bergantian untuk menyebutnya. Jataka berarti kisah kelahiran, sedangkan Avadana diartikan perbuatan besar atau kepahlawanan menurut kamus Monier-Williams.

Dalam Avadanasataka berbahasa Sanskerta, kisah ini bernomor 36 dan tokohnya bernama Maitrakanyaka. Nama itu berarti putri dari Mitra, ayahnya. Kisah yang sama muncul di Divyavadana nomor 38 dan Jatakamala karya Gopadatta nomor 5.

Versi berbentuk syair ada di Avadanakalpalata karya Ksemendra dan di Bhadrakalpa-avadana. Versi Tionghoanya ada empat di koleksi Taisho Tripitaka. Tokohnya bernama Cizhe di T190, Citongnu di T203, Milan di T152, dan Milian di T2121.

Baca juga Tiga Candi Rakai Panangkaran dan Kelas Dasar Tantra

Versi Tibet justru tersimpan di Karmavibhanga bernomor Toh 338, bukan di koleksi Jataka atau Avadana. Di sana tokohnya bernama Maitrayajna. Nama yang sama muncul di dua naskah Karmavibhanga berbahasa Sanskerta dari Nepal.

Dalam tradisi Pali ia selalu bernama Mittavindaka, tersebar di lima Jataka bernomor 439, 41, 82, 104, dan 369. Brough mengartikan nama itu sebagai orang yang menyebabkan hanya sedikit diperoleh. Hanya Jataka nomor 439 yang bercerita cukup lengkap.

Latar belakang tokohnya pun berbeda antarversi. Dalam Avadanasataka ia anak saudagar kaya yang murah hati kepada ibunya. Dalam Jataka Pali nomor 41 ia lahir di keluarga miskin dan ditinggalkan orang tuanya karena dianggap pembawa sial.

Empat Bahasa

Metode yang dipakai adalah analisis naratif dialogis, mengikuti Brett Smith terbitan 2016. Relief dibaca berdampingan dengan naskah-naskah pembandingnya. Yang dicatat bukan hanya adegan, melainkan juga sikap tangan, benda yang dipegang, jumlah figur, interaksi antartokoh, dan suasana lingkungan.

Avadanasataka dinilai sebagai versi tertua di antara semua naskah itu. Naskah tersebut diperkirakan disusun pada abad pertama atau kedua Masehi. Dasarnya sederhana, karena terjemahan Tionghoanya sudah selesai paling lambat abad ketiga menurut catatan J.S. Speyer.

Naskah Sanskertanya sudah lama disunting orang. Speyer mengerjakannya pada 1902 sampai 1909, kemudian P.L. Vaidya pada 1958, dan Klaus Wille menyatukan kedua suntingan itu pada 2005. Konrad Klaus menerjemahkan versi Divyavadana ke bahasa Jerman pada 1983.

Terjemahan Inggrisnya menyusul kemudian. Charles Willemen menerjemahkan T203 pada 1994, sedangkan Naomi Appleton menerjemahkan 40 dari 100 kisah Avadanasataka termasuk kisah ini. Bruno Galasek-Hul dan Lama Kunga Thartse Rinpoche menerjemahkan Karmavibhanga versi Tibet pada 2024.

Reliefnya sendiri sudah lama diperiksa. Alfred Foucher memeriksanya lebih dari seabad lalu, yaitu pada 1909. N.J. Krom menulis kajian yang lebih rinci pada 1927, dan Douglas Andrew Inglis membahasnya lagi pada 2014 dalam tesis tentang pahatan kapal di Borobudur.

Uang untuk Ibu

Ceritanya bermula di Kota Varanasi. Seorang saudagar kaya bernama Mitra kehilangan bayinya yang baru lahir, lalu disarankan memberi nama perempuan kepada anak berikutnya agar berumur panjang. Tidak lama setelah anak itu lahir, ayahnya tewas di laut.

Ibunya menyembunyikan pekerjaan sang ayah karena takut anaknya bernasib sama. Ia mengatakan ayahnya seorang pedagang okkarika. Maitrakanyaka lalu membuka kedai okkarika dan memperoleh empat karshapana pada hari pertama, yang seluruhnya ia serahkan kepada ibunya.

Uang itu tidak berhenti di tangan ibunya, melainkan dibagikan kepada para pertapa, brahmana, orang miskin, dan pengemis. Pekerjaan berikutnya penjual wewangian dengan hasil delapan karshapana. Setelah itu ia menjadi pandai emas dan memperoleh 16 karshapana, lalu 32 karshapana keesokan harinya.

Baca juga Candi Naga Panataran Bukan Kisah Samudramanthana

Panil pertama memahat adegan penyerahan uang tersebut. Ibunya duduk di pendapa terbuka dan mengulurkan tangan kanan ke arah kantong uang di atas nampan berhias bunga. Empat kantong uang dipahat di bawah tempat duduknya, menandai empat karshapana itu.

Profesi penjual wewangian tidak pernah muncul di dinding candi. Panil berikutnya langsung menampilkan kedainya sebagai pandai emas. Kedua peneliti membaca lompatan itu sebagai bukti proses seleksi dan penyesuaian oleh perancang serta pemahat Borobudur.

Bangunan di panil pertama berhias kalamakara, sementara bangunan di panil kedua bertingkat dua dengan deretan pot di atapnya. Pot semacam itu biasanya menandakan kekayaan. Lelaki berjanggut yang bertumpu pada tongkat dipahat sebagai penanda kegiatan berderma kepada brahmana.

Panil kedua memuat sedikitnya dua adegan sekaligus. Di sisi kanan tokohnya melayani pembeli perempuan yang memegang sepasang timbangan. Di sisi kiri ibunya berlutut dan menyentuh kakinya, memohon agar ia tidak berlayar seperti mendiang ayahnya.

Dalam pahatan itu tangan kiri tokoh terangkat dan wajahnya memalingkan diri dari ibunya. Krom membaca sikap itu sebagai penolakan. Naskahnya menyebut hal yang lebih keras, yaitu bahwa Maitrakanyaka menendang kepala ibunya sebelum pergi.

Apsara yang Berkurang

Sebelum berlayar, ibunya sempat memanjatkan doa agar akibat perbuatan anaknya tidak menimpa anaknya sendiri. Dalam versi Tibet Toh 338, empat kota apsara yang kelak disinggahi justru dikaitkan dengan empat kali tokoh menuruti ibunya.

Panil ketiga memahat kapal yang dihantam badai. Ikan makara yang disebut naskah nyaris tidak terlihat, dan yang tampak hanya makhluk laut kecil di sudut kanan bawah. Ada pula sekoci yang arahnya berbeda dari kapal besar, yang oleh Inglis dibaca sebagai upaya penyelamatan diri.

Setelah selamat dengan berpegang pada papan kayu, tokohnya sampai di Kota Ramanaka dan disambut empat apsara pembawa bunga. Ia tinggal bertahun-tahun di sana. Di kota berikutnya, Sadamatta, penyambutnya berjumlah delapan apsara di antara pepohonan dan binatang.

Di Nandana jumlahnya mulai berselisih dengan naskah. Teks menyebut 16 apsara, tetapi relief hanya memahat 11, dengan empat berdiri dan sisanya duduk. Selisih serupa terjadi di Brahmottara, tempat teks menyebut 32 apsara sementara relief hanya menampilkan 14.

Perjalanan ke selatan berakhir di kota besi bernama Ayomaya, yang gerbangnya menutup begitu tokoh masuk. Di dalam ia bertemu lelaki yang kepalanya dikoyak roda menyala. Lelaki itu mengaku menderita karena pernah melukai kepala ibunya sendiri.

Panil terakhir memuat tiga adegan. Di tengah, tokohnya berbicara dengan yaksha penjaga kota besi yang bertumpu pada gada, dengan ular mengangkat kepala di dekat kakinya. Di sisi kanan berdiri lelaki dengan roda besi berputar di atas kepalanya.

Baca juga Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu

Identitas lelaki beroda itu tidak dipastikan. Krom, mengikuti tafsir Foucher, menyebut lelaki tersebut kemungkinan orang yang ditemui Maitrakanyaka, bukan tokoh utamanya sendiri. Kata kemungkinan juga dipakai di beberapa pembacaan lain dalam artikel ini.

Roda dan Batasnya

Puncak cerita ada pada roda tersebut. Roda berpindah ke kepala Maitrakanyaka setelah ia teringat perbuatannya terhadap ibunya. Alih-alih menolak, ia justru menyanggupi memikul roda itu untuk semua makhluk agar orang lain terhindar dari siksa serupa.

Roda pun terangkat dan naik ke udara, dan tokohnya terlahir di antara para dewa di surga Tusita. Di sisi kiri panil terakhir ia dipahat sebagai bodhisattwa di atas singgasana berhias makara. Sepasang kinnara dan pohon kalpavriksa menandai alam surgawi itu.

Di titik inilah kedua peneliti menaruh titik beratnya. So Tju Shinta Lee dan Salim Lee menulis bahwa dari sekian pelajaran moral kisah ini, “satu aspek yang kerap terlewat adalah pesan tentang tanggung jawab yang berani”. Kalimat itu diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Praktik yang mereka maksud disebut parivartana dalam bahasa Sanskerta dan tonglen dalam bahasa Tibet, yang berarti menukar dan menyamakan. Intinya kesediaan mengambil penderitaan orang lain dan memberikan kebahagiaan sendiri sebagai gantinya.

Ajaran itu tidak dibaca dari relief saja. Kedua peneliti menautkannya pada Nagarjuna dan Shantideva pada abad kedelapan Masehi. Latihan semacam ini masuk kelompok pembersihan batin yang dalam bahasa Tibet disebut lojong, dan mereka mengibaratkannya dengan bijih emas yang dimurnikan.

Versi naskah lain menekankan hal yang berbeda-beda. T152 memperingatkan bahaya lima indra, T190 menekankan hukum karma yang tidak terhindarkan, dan T203 menyoroti akibat perbuatan terhadap orang tua. Identitas tokoh pun berbeda di ujung tiap versi.

Avadanasataka, T203, T2121, dan Toh 338 menyebut Buddha pernah terlahir sebagai Maitrakanyaka. Dalam empat Jataka Pali, bodhisattwanya justru raja dewa yang menjelaskan nasib Mittavindaka. Perbedaan itu tidak diselesaikan, melainkan dicatat apa adanya.

Batas kajian ini diakui di dalam artikelnya sendiri. Relief Borobudur hanya disebut kemungkinan terinspirasi berbagai versi naskah, bukan dipastikan bersumber dari satu naskah tertentu. Jumlah apsara yang berkurang dan makara yang nyaris tak terlihat menunjukkan pemahatnya tidak menyalin teks mana pun secara utuh.

Tujuh panil itu masih berdiri di lorong pertama.

Bagikan

Baca Juga

Struktur bata Candi Jiwa di Kawasan Percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat
Dari 1980-an ke Kelas: Rencana STEAM untuk Batujaya
Barisan pramusaji membawa piring hidangan rijsttafel di ruang makan Hotel Homann, Bandung
Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera
Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Foto hitam putih pasar Payakumbuh sekitar 1910 dengan los beratap rumbia, pedagang duduk beralas tikar, dan keranjang hasil bumi di tanah
Payakumbuh, Kota Kolonial yang Dibentuk Lima Staatsblad
Ilustrasi kapal dagang kayu berlambung tinggi yang kandas miring di pantai berpasir gelap dengan tali tambang terbentang, keranjang anyaman, dan warga menarik tali dari kejauhan
Dua Kapal dan Laut Bali Utara dalam Babad Buleleng
Candi Naga di Kompleks Candi Panataran, Blitar, dengan tubuh candi batu andesit berhias pahatan naga melingkar dan deretan figur penopang
Candi Naga Panataran Bukan Kisah Samudramanthana