Dua Kapal dan Laut Bali Utara dalam Babad Buleleng

A A

Ilustrasi kapal dagang kayu yang kandas di pesisir utara Bali, adegan yang menjadi salah satu wacana maritim utama dalam Babad Buleleng. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Sebuah kapal dagang asing yang kandas tak berdaya di pesisir Panimbangan dan sebuah armada perang yang berangkat penuh persiapan menuju Blambangan tampak seperti dua peristiwa yang tidak saling berhubungan. Keduanya justru berasal dari satu naskah yang sama, tergores pada lembar-lembar lontar berumur ratusan tahun, dan keduanya berbicara tentang benda yang sama: laut di sebelah utara Pulau Bali. Kapal pertama datang dari luar lalu terjebak di pasir. Armada kedua berangkat dari dalam lalu pulang membawa seekor gajah.

Dua adegan itu dibaca berdampingan oleh Pande Putu Abdi Jaya Prawira, I Nyoman Darma Putra, dan I Wayan Pastika dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dalam artikel Unsur Maritim Bali Utara: Refleksi Sastrawi Teks Babad Buleleng, yang terbit di jurnal Purbawidya volume 14 nomor 1 pada 2025. Pendekatannya kualitatif melalui sumber tekstual, dengan metode interpretatif dan pijakan teori hermeneutika Paul Ricoeur. Naskah utamanya satu manuskrip lontar Babad Buleleng koleksi Unit Lontar Universitas Udayana, panjang 45 sentimeter, lebar 3,5 sentimeter, tebal 43 halaman.

Sumber sekundernya dua: hasil alih aksara yang diterbitkan UPTD Pusat Dokumentasi Budaya Bali pada 1997 dan edisi teks yang disusun Worsley pada 1972. Dari pembacaan itu, ketiga peneliti menyusun tiga wacana kunci yang mengandung motif maritim, yakni kapal karam di Penimbangan, pelayaran ke Blambangan, dan hadiah gajah dari Raja Solo. Pelayaran disebut sebagai motif yang paling produktif di antara ketiganya, dan Babad Buleleng ditempatkan sebagai monumen teks yang mewacanakan kehidupan maritim serta pesisir masyarakat Bali Utara. Dua wacana pertama itulah yang paling menarik disandingkan, sebab keduanya bergerak ke arah yang berlawanan.

Daftar Isi
  1. Kapal yang Datang ke Panimbangan
  2. Armada yang Berangkat ke Blambangan
  3. Yang Sama pada Kedua Pelayaran
  4. Yang Berbeda: Dagang dan Perang

Kapal yang Datang ke Panimbangan

Kapal pertama masuk ke dalam cerita dalam keadaan gagal. Sebuah kapal asing kandas di pesisir Panimbangan, dan pemiliknya, Ki Mpu Awang, digambarkan bersedih hati. Ia meminta bantuan kepada Kepala Desa Gendis dengan sebuah perjanjian: bila kapal itu berhasil kembali ke laut, seluruh muatannya diserahkan kepada penolongnya. Muatan itu dirinci dalam teks berupa kain bermutu bagus, lepek, piring, mangkuk, serta bermacam jenis barang dagangan. Tawaran itu menggerakkan seluruh desa, sebab yang dijanjikan bukan upah melainkan isi sebuah kapal dagang antarpulau.

Kentungan dipukul bertalu-talu, warga berkumpul membawa tali tambang dan bambu, lalu berduyun-duyun menuju pantai. Hasilnya nihil. Menurut pembacaan para peneliti, kapal itu tidak bergeser sejengkal pun dan warga pulang dengan rasa malu. Barulah kemudian kabar itu sampai ke telinga Ki Gusti Panji, yang datang ke pantai ditemani Ki Dumpyung dan Ki Dosot sambil membawa keris pemberian Dalem di Klungkung. Keris dihunus ke arah kapal, terdengar suara gaib yang berkata “Janganlah ragu!”, dan kapal itu pun terlempar kembali ke bagian laut yang dalam.

Mpu Awang menepati janjinya. Seluruh isi kapal diserahkan, keris pusaka itu kemudian diberi nama Ki Semang, dan kapal tersebut melanjutkan pelayarannya kembali ke Jawa. Ketiga peneliti membaca adegan ini bukan sebagai catatan penyelamatan belaka, melainkan sebagai simpul kontak antarbangsa yang terekam dalam sastra. “Dalam wacana kapal karam ini, Gusti Panji menjadi simbol masyarakat lokal yang memberi bantuan pada pedagang asing asal Cina yang diwakili oleh sosok Mpu Awang,” tulis Pande Putu Abdi Jaya Prawira bersama kedua rekannya di bagian pembahasan artikel itu.

Ada satu detail yang menurut mereka justru penting karena tidak terjadi. Kapal itu karam di teritori pantai yang masih terjangkau masyarakat, tetapi tidak ada penjarahan terhadap isinya. Warga sekitar malah ikut mengupayakan kapal kembali ke laut setelah tahu ada imbalan yang dijanjikan. Dari situ, para peneliti menarik aspek keamanan maritim: muatan kapal yang karam di wilayah Penimbangan tetap utuh sebelum pertolongan lebih lanjut datang. Motif kapal karam itu sendiri, mereka catat, pernah dikumpulkan Manguin pada 1991 dari Palembang, Buleleng, Lampung, Banjarmasin, dan pesisir Jawa.

Baca juga Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik

Armada yang Berangkat ke Blambangan

Kapal kedua bergerak ke arah sebaliknya. Kerajaan Buleleng di bawah I Gusti Panji Sakti melakukan invasi ke wilayah Brangbangan atau Blambangan di Jawa Timur, dan seluruh perjalanan itu memanfaatkan laut sebagai moda transportasi. Teks yang dikutip para peneliti menggambarkan banyak perahu yang sudah disiapkan dan ditambatkan, berdesakan dari samudra sampai ke aliran sungai, menunggu perintah sang raja. Keberangkatan baru dilakukan setelah pendeta kerajaan menetapkan hari baik. Pasukan itu mendarat di Candi Gading, wilayah pesisir Tirtharum.

Nama tempat itu dibongkar oleh para peneliti sebagai persandian dua kata, yakni tirtha yang berarti air dan arum yang berarti wangi, sehingga mengacu pada pseudonim untuk daerah Banyuwangi. Candi Gading sendiri dikenal pada masa Majapahit sebagai pelabuhan untuk mengadakan hubungan dengan daerah luar, dan pada masa kini menjadi bagian dari Muncar. Setelah mendarat, pasukan melanjutkan penyerangan ke wilayah Banger, dihadang Raja Brangbangan, dan pertempuran itu berakhir dengan kekalahan di pihak Brangbangan. Penaklukan Blambangan oleh Buleleng, mengutip Suada, terjadi pada 1698.

Pelayaran kedua adalah pelayaran pulang, dan justru muatan pulang itulah yang menjadi kunci tafsir. Pasukan Buleleng kembali dari Jawa membawa seekor gajah, hadiah dari Raja Solo, dan mendarat di Pantai Lingga. “Keberhasilan pasukan Buleleng dalam berlayar dengan pasukan dari Bali ke Jawa dan kembali membawa seekor gajah menunjukkan simbol kekuatan maritim yang kuat,” tulis ketiga peneliti. Gajah adalah hewan besar dan berat, dan kapal yang mampu mengangkutnya menyeberangi selat, menurut mereka, mengindikasikan armada yang lebih unggul daripada perahu kecil untuk perdagangan lokal.

Di sisi angka, teks babad justru diam. Para peneliti secara tegas mencatat bahwa naskah tidak menyebutkan jumlah kapal maupun jumlah pasukan yang berangkat ke Brangbangan. Angka baru muncul dari sumber sekunder, yakni catatan Simpen yang dikutip Wijana, yang menyebut jumlah pasukan dan jumlah pahlawan tempur terlatih yang dikepalai dua puluh orang, di antaranya Ki Tamblang Sampun, Ki Gusti Made Batan, dan Ki Macan Gading. Angka-angka dalam kutipan itu tidak konsisten satu sama lain sehingga tidak layak diperlakukan sebagai hitungan pasti kekuatan armada.

Baca juga Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga

Yang Sama pada Kedua Pelayaran

Bila dua adegan itu dijajarkan, persamaannya segera terlihat. Pada kasus pertama, laut menjadi jalan yang membawa saudagar asing beserta kain, piring, dan mangkuknya sampai ke pasir Panimbangan. Pada kasus kedua, laut menjadi jalan yang membawa raja Buleleng beserta pasukannya sampai ke pesisir Banyuwangi dan kembali lagi ke Bali. Dalam kedua wacana itu, para peneliti menyimpulkan laut tidak berhenti sebagai latar tempat. Laut ikut menggerakkan cerita, menentukan nasib tokoh-tokohnya, dan merepresentasikan hubungan masyarakat pesisir dengan dunia luar.

Persamaan kedua terletak pada perbendaharaan simbol yang dipakai untuk membaca keduanya. Kapal karam ditafsirkan sebagai perjalanan hidup yang terjebak, dengan muatan dagang sebagai unsur pradana atau kebendaan dan keris pusaka sebagai unsur purusa atau kejiwaan, dua kutub yang dalam pandangan Hindu justru harus bertemu. Pelayaran armada ditafsirkan sebagai ujian bagi pemimpin, dengan laut sebagai entitas sakral yang menggembleng dan melegitimasi. Keduanya, dalam pembacaan itu, adalah teks tentang keseimbangan, bukan sekadar tentang perahu.

Persamaan ketiga bersifat geografis dan masih bisa dicek hari ini. Kabupaten Buleleng membujur di sepanjang pantai utara Bali dengan panjang pantai 157,05 kilometer, garis pantai terpanjang di Pulau Bali, dan memiliki daratan di tiga pulau berbeda, yakni Pulau Bali, Pulau Tabuhan, dan Pulau Menjangan. Mengacu data Dinas Statistik Kabupaten Buleleng, lima puluh tiga desa atau sekitar tiga puluh lima persen dari total desa di kabupaten itu berada di daerah pesisir. Panimbangan dan Lingga sama-sama berada di garis pantai tersebut.

Persamaan keempat justru berupa batas, dan para peneliti tidak menyembunyikannya. Yang dibaca hanyalah teks, bukan lapangan. Sumbernya satu manuskrip lontar setebal 43 halaman, dibaca secara heuristik lalu ditafsirkan, sehingga seluruh simbolisme purusa, pradana, maupun kesucian pesisir merupakan tafsir peneliti atas bahasa naskah, bukan temuan yang diverifikasi di luar naskah. Babad sendiri adalah historiografi tradisional, bukan catatan peristiwa yang terverifikasi. Fragmen keramik dan prasasti pelabuhan kuno yang disinggung berfungsi sebagai konteks, bukan sebagai pembuktian bahwa adegan di Panimbangan benar-benar terjadi.

Baca juga Arsip 1814: Bajak Laut Sambas Dipimpin Sultannya

Yang Berbeda: Dagang dan Perang

Perbedaannya dimulai dari siapa yang berkuasa atas kapal. Pada kasus pertama, kapal dimiliki orang luar dan orang Bali Utara hanya menjadi penolong yang dibayar dengan muatan, sehingga kekayaan datang sebagai imbalan atas jasa. Pada kasus kedua, kapal dimiliki kerajaan dan orang Bali Utara menjadi pihak yang menyeberang untuk menyerang, sehingga kekayaan berubah bentuk menjadi hadiah diplomatik berupa gajah. Satu wacana berbicara tentang menerima yang datang, satu wacana lagi berbicara tentang menjangkau yang jauh.

Perbedaan kedua ada pada alat yang menyelesaikan persoalan. Di Panimbangan, tali tambang, bambu, dan tenaga sekampung dinyatakan gagal, dan yang berhasil justru keris beserta keyakinan yang dipertegas suara gaib. Di Blambangan, yang menentukan bukan pusaka melainkan kesiapan armada, hari baik yang ditetapkan pendeta kerajaan, serta jumlah pasukan yang menurut para peneliti tidak sedikit. Pada kasus pertama, kekuatan spiritual menyelesaikan apa yang gagal diselesaikan tenaga fisik; pada kasus kedua, kemampuan teknis dan logistik justru menjadi inti argumen.

Perbedaan ketiga terletak pada rantai akibatnya. Imbalan dari kapal Mpu Awang, mengikuti catatan Wijana yang dikutip artikel ini, menjadi pendanaan yang menopang ekspansi Panji Sakti berikutnya, termasuk pembentukan laskar perang yang diharapkan menjadi palang pintu dan benteng kerajaan. Ekspedisi ke Blambangan menghasilkan sesuatu yang berbeda jenisnya, yaitu pengakuan dari kerajaan lain. Kerajaan Buleleng sendiri, mengutip Suwitha, didirikan I Gusti Ngurah Panji Sakti pada 1664 dan kemudian menjadi kekuatan politik terkemuka di Bali sampai akhir abad ke-18.

Yang tidak dilakukan artikel ini adalah memenangkan salah satu sisi. Kapal karam di Panimbangan tetap dibaca sebagai wacana pelayaran, perdagangan laut, kontak kebudayaan, dan keamanan maritim sekaligus, sementara pelayaran ke Blambangan dibaca sebagai wacana kekuatan armada dan hubungan diplomatik. Keduanya ditempatkan sederajat sebagai citraan bahwa Buleleng pernah menjadi lokus maritim yang kuat di Bali. Perdagangan tidak dinyatakan lebih penting daripada armada, dan sebaliknya, sebab keduanya bertumpu pada laut yang sama.

Di luar naskah, dua kutub itu masih berdampingan sampai sekarang. Pantai Lovina, Pantai Pemuteran, dan Pelabuhan Buleleng disebut para peneliti sebagai destinasi wisata populer di wilayah Bali Utara hari ini, sementara Pura Penimbangan, Pura Yeh Ketipat, dan Desa Panji — tempat-tempat yang dicatat Artika sebagai tujuan wisata yang lahir dari babad — masih bisa ditapaki pengunjung. Satu sisi menawarkan laut sebagai pemandangan, sisi lain menawarkannya sebagai ingatan. Naskah lontar itu tidak memilih di antara keduanya, dan artikel ini pun tidak.

Bagikan

Baca Juga

Candi Naga di Kompleks Candi Panataran, Blitar, dengan tubuh candi batu andesit berhias pahatan naga melingkar dan deretan figur penopang
Candi Naga Panataran Bukan Kisah Samudramanthana
Bangkai lokomotif uap Silukah dengan ketel dan roda berjari-jari yang disimpan di bawah bangunan pelindung beratap seng
Lokomotif Uap Silukah, Saksi Jalur Maut Sijunjung
Candi Kalasan di Kabupaten Sleman dilihat dari sisi timur laut, dengan tubuh candi batu andesit berelung dan berhias serta atap bersusun
Tiga Candi Rakai Panangkaran dan Kelas Dasar Tantra
Ilustrasi belati bermata dua berpola pamor berpilin dengan gagang berukir figur manusia dan sarung kayu berukir, tergeletak di bangku kayu bengkel pandai besi beratap daun dengan perapian arang menyala
Jejak Keris Abad ke-15 di Catatan Armada Cheng Ho
Ilustrasi meriam besi tua berkarat di atas landasan batu dengan lubang sundut terlihat jelas, berlatar meriam perunggu berpatina hijau di atas kereta kayu jati di beranda gedung museum bergaya kolonial
Sembilan Belas Logo Kamar Dagang VOC di Meriam Kuno
Detail kain hanbok hijau dengan bordir lingkaran bermotif naga.
52 Kata Korea Masuk Bahasa Indonesia lewat Hallyu