Cekricek.id — Angka tahun pada dua umpak batu andesit di sudut timur laut dan barat daya Candi Boyolangu sudah dibaca orang sejak masa Hindia Belanda. Yang satu terbaca 1291 Saka. Yang lain terbaca 1311 Saka. Selisih dua puluh tahun itu dipakai Nicolaas Johannes Krom pada 1923 untuk menyimpulkan bahwa bangunan tersebut didirikan dalam dua tahap. Muhamad Satok Yusuf membaca ulang kedua inskripsi itu dan mendapat hasil yang berbeda. Dua-duanya 1291 Saka. Yang berbeda hanya gaya aksaranya.
Yusuf berasal dari Program Studi Pascasarjana Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Pembacaan ulang itu ia tuangkan dalam artikel Meninjau Ulang Candi Boyolangu sebagai Pendharmaan Gayatri Rajapatni di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 42 No. 1, terbit pada 2024. Naskahnya diterima redaksi jurnal pada penghujung Desember 2023 dan disetujui pada 26 Maret 2024. Satu koreksi atas dua baris pahatan, dan susunan cerita yang berdiri di atasnya selama hampir seabad ikut bergeser dari tempatnya.
Situs itu berada di Dusun Dadapan, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada ketinggian 49 meter di atas permukaan laut. Lahannya seluas 945 meter persegi. Tiga struktur bata merah berdiri di sana, satu candi induk di tengah dan dua candi perwara di sisi utara dan selatan, disusun dengan teknik gosok. Candi perwara sisi selatan berdenah persegi 5,7 meter kali 5,6 meter dengan tinggi tersisa 0,68 meter, sedangkan yang di sisi utara berdenah persegi panjang 6 meter kali 2,9 meter. Warga setempat mula-mula menyebutnya Punden Gilang. Belakangan orang memanggilnya Candi Gayatri.
Daftar Isi
Seabad Para Ahli Mengunci Satu Nama pada Reruntuhan Bata di Tulungagung
Nama Gayatri menempel pada reruntuhan itu berkat Pieter Vincent van Stein Callenfels. Pada 1916 ia menulis dalam Oudheidkundige Verslag bahwa Punden Gilang adalah tempat pendharmaan Rajapatni, permaisuri Raden Wijaya sekaligus nenek Raja Hayam Wuruk. Dasarnya uraian Kakawin Nagarakretagama pupuh LXIX sampai LXXIV, yang menyebut mendiang Rajapatni dicandikan di Bhayalango, toponimi yang bunyinya nyaris sama dengan Boyolangu. Nama bangunannya, menurut bacaan Van Stein Callenfels atas kakawin tersebut, adalah Prajnaparamitapuri atau rumah bagi Dewi Prajnaparamita. Temuan arca Prajnaparamita di tempat itu dianggap mengunci kesimpulan.
Krom menambahkan lapisan berikutnya pada 1923 lewat Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst II. Tiga struktur, satu di tengah berukuran paling besar, dan seluruhnya dibangun dalam dua tahap. Willem Frederik Stutterheim menyusul pada 1932. Ia sepakat bahwa kakawin menyebut dua candi bernama Prajnaparamitapuri dan Wisesapura, tetapi menaruh keduanya di halaman yang sama di Boyolangu, dengan struktur sisi utara untuk Jayendradewi, kakak Rajapatni. Slamet Muljana kemudian mendukung garis besar itu tanpa argumen tambahan.
Agus Aris Munandar pada 2003 memperkuat sisi arcanya. Menurut dia, arca Prajnaparamita dari Boyolangu, Candi Putri, dan halaman Candi Singosari sama-sama perwujudan Rajapatni. L.A. Bertha Wasisto pada 2009 merekonstruksi candi induk sebagai balai terbuka beratap tumpang, mirip bangunan meru pada pura di Bali, bertumpu pada sebelas umpak di teras ketiga. Hadi Sidomulyo yang paling keras membelot. Dalam bukunya pada 2010, ia meminta orang mencari candi pendharmaan Rajapatni di Pasuruan.
Yusuf menyebut gejala pewarisan itu sebagai keajegan pendapat, ketika pandangan ahli terdahulu diperlakukan sebagai hasil penelitian yang sudah mapan lalu diteruskan tanpa diuji. “Perlu adanya penalaran kritis terhadap kajian terdahulu mengenai kedudukan Candi Boyolangu sebagai pendharmaan Rajapatni. Peneliti harus melihat kemungkinan adanya pandangan lain yang dapat memberikan referensi pengetahuan pembanding,” tulis peneliti pascasarjana arkeologi Universitas Indonesia itu. Gejala serupa, catatnya, terjadi pada arca Bhairawa dari Padangroco, Sumatera Barat, yang telanjur dianggap teguh sebagai arca berlanggam Majapahit.
Baca juga Ketika Juru Tulis Jawa Menyalin sambil Ikut Bicara
Sebuah Kendi yang Membelah Jawa, dan Dua Nama Desa yang Ternyata Kembar
Kakawin Nagarakretagama pupuh LXVII dan LXXVIII menyimpan cerita lain. Atas perintah Raja Airlangga, Mpu Bharada terbang dari barat ke timur sambil mengucurkan air kendi, dan Pulau Jawa terbelah oleh perairan sempit. Jubahnya tersangkut pohon asam di sebuah desa. Ia mengutuk pohon itu agar tetap kerdil, dan desa itu bernama Kamal Pandak sejak saat itu. Kendinya diletakkan di Dusun Palungan. Di Kamal Pandak itulah candi pendharmaan pertama untuk Rajapatni didirikan.
Perairan yang membelah Jawa itu disebut arnnawa, dan para ahli tidak pernah sepakat membacanya. Johan Hendrik Caspar Kern, yang menggarap kakawin itu pada 1914, menyebutnya lautan. Van Stein Callenfels membantahnya dua tahun kemudian dengan menunjuk Sungai Brantas. Frederik David Kan Bosch pada 1924 menambahkan Sungai Lekso di Blitar sebagai hulunya, Cornelis Christiaan Berg pada 1953 menunjuk Sungai Porong sebagai hilirnya, sedangkan M. Boechari dan Ninie Susanti mengajukan Sungai Lanang-Lamong.
Yusuf memisahkan dua hal yang selama ini ditumpuk menjadi satu. Sungai Lanang-Lamong adalah batas riil Kerajaan Panjalu dan Janggala, sebab seluruh prasasti kedua kerajaan itu, dari Malenga 974 Saka sampai Sumengka 987 Saka, berserak di sekitarnya. Sungai Brantas-Porong adalah batas politis, ditetapkan Raja Kertanagara dari Singhasari dan diteruskan Hayam Wuruk. Muljana keberatan atas usul Lanang-Lamong karena Prasasti Turun Hyang 966 Saka dari Kerajaan Janggala justru berada di daerah aliran Sungai Porong. Prasasti Wurare 1211 Saka memberitakan penyatuan simbolis itu lewat peletakan arca Mahaksobhya di Trowulan.
Bhayalango ternyata ada dua. Nama itu muncul di hulu dan di hilir Sungai Brantas, persis seperti Panumbangan yang dalam Prasasti Talan 1068 Saka menunjuk Desa Plumbangan di Doko, Blitar, tetapi dalam Prasasti Canggu 1280 Saka menunjuk desa di Kabupaten Sidoarjo. Pakandangan mengalami hal serupa. Prasasti Palah 1119 Saka menaruhnya di Srengat, Blitar, sementara Prasasti Kudadu 1216 Saka menaruhnya di Benowo, Surabaya. Nama kembar adalah gejala biasa pada masa Jawa Kuno.
Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Pada 1281 Saka atau 1359 Masehi, Hayam Wuruk berjalan ke Lumajang dan menginap tiga malam di Bhayalango. Rombongan itu sebelumnya melewati Kapulungan, nama yang juga disebut dalam pupuh XIX. Sidomulyo membaca peristiwa itu sebagai raja yang sedang memilih tanah untuk candi neneknya. Yusuf membacanya terbalik. Tanah untuk Prajnaparamitapuri sudah disucikan Pendeta Jnanawidi bertahun-tahun sebelumnya, sehingga raja itu datang untuk melihat sejauh mana pembangunannya berjalan. Bhayalango di Pasuruan hanyalah desa tetangga Kamal Pandak, kembaran nama dari Bhayalango di Tulungagung.
Rajapatni wafat pada 1272 Saka atau 1350 Masehi. Prajnaparamitapuri di Kamal Pandak rampung pada 1287 Saka atau 1365 Masehi menurut pupuh LXXIV bait pertama, dan pada tahun yang sama Wisesapura di Bhayalango baru mulai dibangun menurut bait berikutnya. Penyelesaian candi kedua pada 1291 Saka tidak diberitakan Mpu Prapanca, sebab ia sudah menutup gubahannya di Kamalasana pada 1297 Saka. Angka penyelesaian itu justru tersimpan pada dua umpak yang dibaca ulang Yusuf.
Kamal Pandak sendiri, menurut Yusuf, kini bernama Desa Asem Kandang di Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Satu kilometer dari sana, di sisi timur Bukit Bale Panjang, Desa Raci, Kecamatan Bangil, berdiri Makam Mbah Damarwulan. Lima struktur makam ditata dalam dua halaman, pohon pule tumbuh di antaranya, dan di tanahnya tergeletak dua blok batu andesit berukuran 52 kali 30 kali 20 sentimeter serta 43 kali 23 kali 20 sentimeter. Blok itu, katanya, sisa bangunan candi.
Baca juga Jemparingan dan Jejak Panahan Jawa Sebelum Islam
Arca Tanpa Kepala yang Berpindah Peran dari Dewi menjadi Nenek Seorang Raja
Di Tulungagung, arca itu masih duduk di tempatnya. Batu andesit berwarna abu-abu, panjang dan lebar satu meter, tinggi tersisa 1,24 meter. Ia duduk dalam pose vajraparyangka di atas dua bantalan kelopak teratai ganda yang bagian depannya sudah rompal. Kepala dan kedua telapak tangannya hilang, sehingga sikap tangan yang biasanya menjadi kunci pengenalan tidak lagi bisa dibaca. Tubuhnya digambarkan padat berisi, rambutnya bergelombang terurai di belakang bahu, dan dua tanaman teratai merambat dari bonggolnya mengapit sisi kanan dan kiri.
Teratai yang menjulur dari bonggol itulah persoalannya. Yusuf mencatat dua belas penciri arca berlanggam Singhasari, dan arca Boyolangu memenuhi empat di antaranya: sirascakra berbentuk rangkaian lidah api, prabha berupa kurawal polos, alas duduk padmasana, serta teratai tadi. Motif kawung pada kainnya sama dengan kain arca Nandiswara dan Mahakala dari Candi Singosari. Arca itu buatan zaman Singhasari, sementara tokoh yang katanya diwujudkannya wafat 73 sampai 77 tahun setelah kerajaan tersebut runtuh pada 1214 Saka.
Jalan keluarnya, menurut Yusuf, bukan menggeser tanggal melainkan menggeser peran. Penguasa Majapahit mendudukkan arca dewi Buddhis yang sudah ada di Boyolangu sebagai arca perwujudan Rajapatni. Praktik semacam itu punya dua contoh lain, yaitu arca Amoghapasa Lokeswara yang didudukkan sebagai perwujudan Adityawarman menurut Prasasti Amoghapasa 1208 Saka, dan arca Mahaksobhya dari Trowulan yang didudukkan sebagai perwujudan Kertanagara menurut Prasasti Wurare. Konsep dewaraja masuk ke dalam material, dan menurut Yusuf dilakukan secara berlebihan.
Ada satu arca Prajnaparamita lain, tersimpan di Museum Mpu Tantular, Kabupaten Sidoarjo, yang disebut berasal dari Pasuruan. Pori-pori batunya lebih besar. Wajahnya lebih lonjong, pahanya terlalu besar untuk pinggangnya yang ramping, hiasan mahkotanya kaku berupa ceplok bunga, dan kelopak teratai pada alas duduknya terlalu lebar. Bahkan kerusakan pada kepala makara di kanan-kiri sandaran ditiru persis. Yusuf menilai arca itu duplikat era modern, kerja perajin Trowulan yang biasa membuat suvenir.
Seluruh bangunan argumen ini berdiri di atas pendekatan deskriptif kualitatif berupa observasi lapangan, perekaman tekstual dan piktorial, telaah pustaka, lalu perbandingan gaya arca dan penafsiran bait kakawin. Tidak ada ekskavasi baru, tidak ada penanggalan absolut. Yusuf sendiri menulis Makam Mbah Damarwulan baru diduga kuat sebagai sisa Prajnaparamitapuri. Angka tahun penyucian tanah pun tidak seragam di dalam artikelnya, berkisar antara 1271 dan 1274 Saka. Pembacaan ulang dua umpak itu juga belum diuji peneliti lain.
Sejak tahun 2000, arca tanpa kepala itu bernaung di bawah cungkup beratap genteng limas yang bertumpu pada empat tiang setinggi dua meter. Sebelas umpak batu masih berdiri di teras ketiga, dua di antaranya memikul angka tahun yang sudah dibaca tiga generasi peneliti. Stutterheim, yang pada 1932 ikut memasang tafsir yang kini dibongkar, sempat menulis satu kalimat yang dikutip Yusuf di awal artikelnya: “… dan masih tersisa ruang terbuka bagi berbagai tafsir.”














