Ratu Maha Maya di Dua Belas Panil Borobudur

Ratu Maha Maya di Dua Belas Panil Borobudur

Panil relief Lalitavistara di Candi Borobudur yang menggambarkan perjalanan Ratu Maya ke Lumbini. [Foto: Wikimedia Commons/Photo Dharma (CC BY 2.0)]

Cekricek.id — Pada masa Jawa Kuno, pemahat Candi Borobudur menutup dinding utama dan pagar langkan bangunan itu dengan 1.460 panil relief naratif, mulai dari 160 panil Karmavibhangga di lantai dasar sampai 460 panil Gandavyuha-Bhadracari di tingkat-tingkat di atasnya. Di antara semuanya, hanya 120 panil yang mengisahkan riwayat hidup Siddhartha Gautama, deretan yang dikenal sebagai relief Lalitavistara dan dipahat di baris atas dinding utama tingkat pertama. Hampir seluruh pembacaan atas deretan itu bergerak mengikuti satu tubuh saja: tubuh sang calon Buddha. Dewi Fatimah Adzir Maulana dan Chaidir Ashari dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, memilih berhenti pada tubuh yang lain.

Artikel keduanya, Penggambaran Peran Ratu Maha Maya pada Relief Lalitavistara Candi Borobudur dalam Perspektif Life Course, terbit di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 43 No. 2 pada Desember 2025. Isinya sederhana di permukaan: mendata setiap panil tempat Ratu Maha Maya, ibu Siddhartha, muncul, lalu membaca perubahan sikap tubuh dan sikap tangannya sebagai penanda tahap kehidupan. Hasil pendataan itu dua belas panil, seluruhnya berada pada episode pertama dan kedua relief, di dinding barat dan dinding utara candi. Dua belas dari seratus dua puluh, dan selama ini nyaris tidak pernah dibaca sebagai satu rangkaian tersendiri.

Krom 1927 dan Nama yang Belum Dicari

Dasar identifikasi adegan relief Lalitavistara sampai sekarang masih banyak bersandar pada pekerjaan N.J. Krom yang terbit pada 1927, Barabudur: Archaeological Description, dan Maulana serta Ashari mengutipnya berulang kali — untuk panil 13, 17, 21, 26, 27, dan 28. Pembagian deretan itu ke dalam lima episode, yang mereka pakai sebagai kerangka penomoran, diambil dari John Miksic: episode pertama pada panil 1 sampai 15 mengenai awal kelahiran Sang Buddha, episode kedua pada panil 16 sampai 45 mengenai kelahiran dan kehidupan awalnya, dan seterusnya sampai panil 120. Ratu Maha Maya seluruhnya berada di dua episode pembuka itu.

Sesudah Krom, penelitian atas relief yang sama tumbuh ke berbagai arah, dan hampir semuanya lewat di samping sang ratu. Yulie Pusvitasary pada 2009 menelaah tempat duduk dalam relief Lalitavistara dan kaitannya dengan tahap-tahap kehidupan Siddhartha Gautama. R.D. Darujati pada 2014 meneliti busana dan perhiasan tokoh yang sama, Ni Putu Ayu Ajnadewi Prabharani pada 2020 mengkaji sikap duduknya, dan Andi Farid Hidayanto membedah makna satu panil saja, panil 13. Rusdianto dan kawan-kawan pada 2020 menghitung spesies mamalia di lima babak cerita relief itu, sementara Sitepu dan kawan-kawan pada 2021 membaca objek floranya lewat semiotika.

Yang menonjol dari daftar tersebut bukan kekurangannya, melainkan polanya. Busana, sikap duduk, fauna, dan flora sudah pernah menjadi satuan analisis tersendiri; perempuan yang mengandung tokoh utamanya belum. Bahkan kerangka besar candi itu pun masih diperdebatkan — So Tju Shinta Lee, Agus Aris Munandar, dan Lilawati Kurnia pada 2025 masih menimbang ulang pembagian Borobudur ke dalam Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Di tengah perdebatan sebesar itu, dua belas panil yang memuat Ratu Maha Maya tetap berstatus latar bagi adegan yang dianggap lebih penting.

Gilchrist 2007 dan Pertanyaan yang Bergeser

Alat yang dipakai Maulana dan Ashari datang dari luar arkeologi Indonesia. Glen H. Elder pada 1998 merumuskan life course sebagai rangkaian peristiwa dan peran yang dijalankan seseorang dari waktu ke waktu, dan Elizabeth D. Hutchison pada 2010 memerincinya menjadi lima konsep kerja: cohort, transitions, trajectories, life events, dan turning points. Cohort adalah sekelompok orang yang lahir pada periode sama dan mengalami perubahan sosial dalam urutan yang sama; transisi adalah pergeseran peran dan status; lintasan adalah pola panjang yang memuat beberapa transisi; sedangkan titik balik adalah peristiwa yang mengubah lintasan itu secara permanen.

Penerapan kerangka itu pada perempuan masa lampau punya sejarahnya sendiri. Mary Harlow dan Ray Laurence, dalam buku mereka pada 2002 tentang tumbuh dan menua di Roma kuno, mencatat bahwa perjalanan hidup perempuan Romawi jarang memperoleh perhatian khusus karena identitas dan transisi hidup mereka umumnya dituliskan melalui hubungan dengan laki-laki: anak dari ayah, istri dari suami, ibu dari anak. Lima tahun kemudian Roberta Gilchrist menyodorkan konsekuensinya bagi arkeologi feminis — pengalaman life course laki-laki dan perempuan bisa berbeda, dan bagi perempuan transisi peran sosial sering lebih menentukan ketimbang perubahan umur biologis.

Baca juga Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik

Lapisan kedua datang dari konsep embodiment yang dirumuskan Rosemary A. Joyce pada 2007: tubuh bukan sekadar objek biologis, melainkan tempat identitas sosial, gender, dan subjektivitas dibentuk serta dipraktikkan. Jenny Hockey dan Janet Draper pada 2005 menambahkan bahwa identitas sosial masih dapat terbentuk meski tubuhnya tidak lagi hadir, yakni lewat benda atau praktik material yang mereka sebut body-based traces. Untuk membaca panilnya sendiri, Maulana dan Ashari memakai metode ikonografi Erwin Panofsky yang terbit pada 1955, dengan tiga tahap: deskripsi praikonografi, analisis ikonografi, dan interpretasi ikonologi.

Panil 8 sampai 28 dalam Bacaan Anandajoti

Fase pertama, sebelum mengandung, mencakup panil 8, 11, dan 13 di dinding barat. Pada panil 8, menurut bacaan Anandajoti Bhikku yang terbit pada 2020, Ratu Maha Maya duduk bersimpuh di paseban bersama suaminya, Raja Suddhodana, meminta izin menjalani delapan ikrar Upavasatha; tangan kirinya diletakkan di paha kanan dan tangan kanannya berada di samping pinggang. Pada panil 11 ia duduk virasana sambil tersenyum dan memegang tangkai bunga. Pada panil 13 ia berbaring di ranjang ketika Bodhisattva berwujud gajah putih turun dinaungi payung lalu memasuki rahimnya, dengan tangan kanan menopang kepala dan kaki agak menekuk.

Fase kedua dimulai pada panil 15. Di taman berpohon asoka itu sang ratu dilukiskan berdiri abhanga, yaitu berdiri dengan kaki agak menekuk, sementara tangan kanannya bersikap varada mudra. Pada panil 16 ia duduk lalitasana dan wajahnya, menurut deskripsi kedua peneliti, tampak lebih cemas; Raja Suddhodana datang dengan gajah dan pengawal tetapi tidak bisa masuk menemuinya. Pada panil 17 ia menceritakan mimpinya kepada sang raja dengan anjali mudra dan kepala agak menunduk. Pada panil 18, ketika 64 brahmana terpelajar diundang untuk menafsirkan mimpi itu, tubuhnya lebih membungkuk dan tangan kanannya memegang lengan kirinya.

Pergeseran yang paling kentara muncul pada panil 21, ketika Ratu Maha Maya tampak hadir sekaligus di tiga istana — menurut Krom akibat kekuatan meditasi Bodhisattva — dan untuk pertama kalinya memakai lingkaran cahaya atau sirascakra di belakang kepala, tanda yang kemudian bertahan pada panil 22, 26, dan 27. Sebelum mengandung, sikap tangannya digambarkan bebas; sesudahnya menjadi lebih teratur dan bermakna, berupa mudra yang, seperti dicatat Rahman pada 2018, membawa muatan tertentu. Puncaknya panil 28: berdiri abhanga sambil mencengkeram dahan pohon, gestur yang menurut J. Chawla berkaitan dengan ikonografi yakshi, roh pohon perempuan yang melambangkan kesuburan dan kehidupan.

Baca juga Jemparingan dan Jejak Panahan Jawa Sebelum Islam

Batas kajian ini perlu disebut terus terang. Seluruh datanya dikumpulkan lewat studi kepustakaan, bukan perekaman lapangan baru, sehingga identifikasi tokoh bergantung penuh pada tafsir Krom dari 1927 dan Anandajoti dari 2020; bila salah satu keliru mengenali satu figur, seluruh rantai pembacaan ikut bergeser. Sebagian pahatannya pun sudah aus — tangan kanan salah satu figur pada panil 21 tidak lagi bisa diidentifikasi, dan sosok di sisi kiri panil 26 sudah tidak jelas. Yang dihasilkan adalah interpretasi ikonologis atas dua belas panil, bukan bukti mengenai apa yang benar-benar dimaksudkan pemahatnya.

Nidanakatha, Mahavastu, dan Sepuluh Bulan Tujuh Hari

Rantai riset yang lain justru berjalan di luar batu. Miranda Shaw pada 2006 mencatat bahwa dalam proses pemilihan ibu, Bodhisattva mencari perempuan yang tidak hanya suci dan penuh kebajikan, tetapi juga memiliki sisa usia hidup tepat sepuluh bulan tujuh hari. Dua teks menjelaskan angka itu dengan alasan yang bertolak belakang. Menurut Nidanakatha, sebagaimana diterjemahkan Rhys Davids, sisa usia sepanjang itu dibutuhkan agar sang ibu mampu mengandung hingga kelahiran. Mahavastu, dalam terjemahan J. Jones pada 1949, menyatakan sebaliknya: yang dicari justru perempuan dengan sisa hidup tidak lebih dari itu.

Alasan kedua teks berbeda, tetapi kesimpulannya sama — kematian Ratu Maha Maya bukan akibat proses melahirkan, melainkan bagian dari rencana spiritual yang sudah ditentukan sebelumnya. Tujuh hari setelah melahirkan ia wafat dan terlahir kembali di Surga Tusita. Peristiwa itulah yang oleh Maulana dan Ashari ditempatkan sebagai titik balik, dan justru bagian itu tidak dipahatkan sama sekali: setelah kelahiran Sang Buddha, sang ratu tidak muncul lagi dalam relief. Di sinilah gagasan Hockey dan Draper bekerja, sebab kehadiran sosial dipertahankan lewat narasi dan simbol keibuan, bukan lewat tubuh yang tergambar.

Kelangkaan posisi itu sudah lama dicatat dalam literatur Buddhis. Vannesa R. Sasson, dalam tulisannya pada 2013 yang dikutip di artikel ini, mengangkat sebuah puisi Gotami dalam Therigatha-Atthakatha: “mudah bagi wanita untuk mendapatkan gelar kepala ratu, ibu dari raja, tetapi sangat sulit untuk mendapatkan gelar, ibu dari Sang Buddha.” Sasson mencatat pula keterangan bahwa hanya satu perempuan di 10.000 sistem dunia yang pantas mendapat bagian itu. Bagi Maulana dan Ashari, keterangan semacam inilah yang menjelaskan mengapa dua belas panil tadi tidak bisa diperlakukan sebagai pelengkap.

Baca juga Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku

Magetsari 1982 dan Ibu dari Para Buddha

Lapisan terakhir menyambungkan relief ke arca. Noerhadi Magetsari, dalam disertasinya pada 1982 mengenai pemujaan Tathagata di Jawa pada abad kesembilan, menempatkan ajaran paramita sebagai yang diwujudkan lewat relief Lalitavistara, Avadana, dan Jataka di Borobudur. Istilah paramita sendiri, seperti dirangkum Leslie S. Kawamura pada 2004, memuat beberapa makna sekaligus: kesempurnaan, mencapai pantai seberang, atau menyeberang. Dalam teks Mahayana seperti Astasahasrika Prajnaparamita Sutra, kebijaksanaan transendental disebut sebagai ibu dari para Buddha, keterangan yang dicatat Abira Bhattacharya pada 2021.

Dari titik itu figur Prajnaparamita masuk. Arca jenis ini, menurut Gosta Liebert, umumnya dipahat berlengan empat dengan atribut manuskrip di atas bunga teratai. Maulana dan Ashari menunjuk satu contoh konkret: arca Prajnaparamita koleksi Metropolitan Museum of Art di New York, bergaya Sailendra dari abad ke-9 Masehi, berlengan empat, dengan salah satu tangan kanannya bersikap varada mudra — sikap yang sama dengan tangan Ratu Maha Maya pada panil 15 dan panil 21. N. Ito pada 2022 bahkan mencatat dugaan kuat bahwa di Indonesia prajnaparamita dalam beberapa kasus dimaknai sebagai seorang ratu.

Kesinambungan itu berlangsung di atas perubahan pandangan yang jauh lebih besar. Terjemahan Mahayanasutralamkara oleh L. Jamspal dan kawan-kawan pada 2004 mencatat pandangan lama bahwa seseorang harus berubah menjadi laki-laki untuk bisa mencapai pencerahan, lalu pandangan yang membantahnya: tubuh perempuan justru diakui bisa menjadi jalan menuju tingkat tertinggi. Muliyani Sofiana pada 2019 mengutip sabda Buddha, “Kalau seorang perempuan tidak kalah lebih baik ketimbang seorang laki-laki, karena seorang perempuan akan melahirkan seorang Buddha lainnya”. Michael Zimmermann pada 2002 menambahkan bahwa sutra Tathagatagarbha memakai kata garbha, rahim, sebuah kata benda feminin, untuk sifat Buddha yang tersembunyi dalam setiap makhluk.

Maulana dan Ashari tidak mengklaim menutup persoalan. Yang mereka nyatakan lebih sempit: penerapan konsep life course dalam arkeologi diperluas ke kehidupan perempuan yang dalam kajian-kajian sebelumnya belum mendapat perhatian, dengan dua belas panil sebagai bahan ujinya. Bambang Soelistyanto sudah mencatat pada 1985 bahwa unsur Tantrayana berpengaruh di kawasan Nusantara, termasuk pada Buddha Mahayana di Jawa Tengah; dugaan tentang prajnaparamita sebagai ratu baru disentuh Ito pada 2022. Rantai itu masih terbuka di kedua ujungnya, dan panil-panil di dinding barat serta utara Borobudur baru mulai dibaca sebagai perjalanan hidup seseorang.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi lempeng logam pipih bergores dan gulungan pita timah tergeletak di batu tepi sungai bersama daun sirih, pinang belah, dan wadah sesaji anyaman daun, berlatar reruntuhan bata berlumut
Mantra Penolak Bala di Dua Lempeng Timah Jambi
Ilustrasi ruang pamer museum komunitas di pedesaan Jawa Tengah dengan lemari kaca dan rak kayu berisi fosil rahang serta tulang, seorang pemandu berkemeja batik menunjuk vitrin, dan rombongan murid berseragam menyimak
Museum Purbakala Bumiayu, Tumbuh dari Halaman Rumah
Ilustrasi dinding ceruk batu gamping berlapis kerak dengan gambar cadas berpigmen merah pudar bermotif figur manusia berkepala berjumbai, ikan, penyu, dan perahu, dengan lanskap karst serta tambak terlihat di kejauhan
Perahu dan Pemanah di Gambar Cadas Leang Ulu Tedong
Ilustrasi ceruk buatan manusia berlubang masuk persegi dengan pelipit pada tebing batu berlumut di tepi sungai kecil, dikelilingi ladang palawija, pohon aren, dan perbukitan berhutan
Gua Umang Karo: Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?
Ilustrasi pelabuhan sungai di delta Brantas dengan kapal dagang berlayar segi empat bersandar, kuli memikul bal kain bercelup nila menuruni titian papan, gudang beratap daun dan teras bata merah di tepi muara
Tujuh Nama Orang India di Jawa pada Prasasti Kuno
Bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik dengan latar hutan dan kerucut gunung api
Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda