Mantra Penolak Bala di Dua Lempeng Timah Jambi

Ilustrasi lempeng logam pipih bergores dan gulungan pita timah tergeletak di batu tepi sungai bersama daun sirih, pinang belah, dan wadah sesaji anyaman daun, berlatar reruntuhan bata berlumut

Ilustrasi dua lempeng timah bertulis dan sesaji sirih di tepi sungai, menggambarkan indikasi praktik ritual masyarakat Sumatra Kuno. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Pada 686 Masehi penguasa Sriwijaya memahat kutukan pada batu Kota Kapur. Enam tahun kemudian kutukan serupa dipahat di Karang Berahi, lalu menyusul di Palas Pasemah pada abad ke-8. Prasasti Sriwijaya lazim memuat sapatha, ancaman bagi orang yang tidak taat kepada otoritas. Batu dipilih karena keras dan awet. Teksnya ditujukan kepada orang banyak, dan memang dibuat supaya dibaca orang banyak.

Tujuh abad setelah itu, tulisan sakral di Sumatra berpindah ke logam yang jauh lebih murah. Dua lempeng timah dari Jambi dibaca ulang oleh Altahira Wadhah, Hafiful Hadi Sunliensyar, dan Irsyad Leihitu dari Program Studi Arkeologi Universitas Jambi. Hasil pembacaan mereka terbit dengan judul Mantra dalam Dua Prasasti Timah Koleksi Rumah Menapo Jambi: Indikasi Praktik Ritual Masyarakat Sumatra Kuno di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Volume 43 Nomor 1, terbitan Juni 2025.

Penelitian itu memakai metode epigrafi dengan penalaran induktif. Objeknya dua benda saja, bernomor inventaris 10/PADMA/Pb/VIII/2019 dan 17/PADMA/Sn/VIII/2019. Datanya dikumpulkan lewat observasi langsung dan perekaman di Rumah Menapo, Jambi. Alih aksara dikerjakan dengan metode edisi standar, alih bahasa dengan metode harfiah kata per kata. Sesudah itu teks diuji lewat kritik ekstern dan kritik intern, lalu ditafsirkan pada sisi religinya.

Abad Ke-14: Timah Menggantikan Batu

Prasasti batu tidak berhenti pada masa Sriwijaya. Pada abad ke-13 sampai ke-14 Masehi, Kerajaan Melayu menghasilkan prasasti batu dari era Adityawarman, yang memerintah pada 1356 sampai 1375 Masehi. Isinya sebagian besar peristiwa yang telah direalisasikan sang raja, silsilahnya, dan peristiwa krusial lain. Pada periode yang sama, media logam berbentuk lempengan — emas dan timah — ikut dipakai di Sumatra.

Timah punya dua keunggulan praktis. Muhamad Alnoza pada 2021 mencatat logam ini lunak sehingga mudah dibentuk, digores, dilipat, dan dibawa. Nilainya pun lebih murah dibanding emas dan perak. Menurut Alnoza, timah ditulis dengan tujuan yang lebih privat, dan hal itu tampak dari isi prasastinya yang berupa mantra pemujaan dewa-dewi dari berbagai sekte keagamaan.

Bahannya tersedia di tempat. Timah sudah dipakai sebagai campuran tembaga untuk membuat perunggu sejak masa prasejarah, dan pemakaiannya berlanjut pada masa Hindu dan Buddha. Prasasti timah sejauh ini hanya ditemukan di Sumatra, salah satu penghasil timah terbesar di dunia. Schwartz dan koleganya pada 1995 memasukkan kawasan ini ke dalam Jalur Timah Asia Tenggara, yang dikenal pula sebagai The Sibamasu Block.

Penanggalan kedua lempeng dikerjakan lewat bentuk aksaranya. Louis-Charles Damais menyebut aksara pada masa Adityawarman sebagai aksara Sumatra Kuno. Bentuk aksara dua prasasti timah ini dibandingkan dengan Prasasti Amoghapasa tahun 1347 Masehi, Prasasti Pagaruyung I tahun 1356 Masehi, dan Naskah Tanjung Tanah dari abad ke-14 Masehi. Dari sisi bahasa dan paleografi, keduanya dinilai otentik dan berasal dari abad ke-14 sampai ke-15 Masehi.

Pada 2019 jumlahnya sudah terhitung. Katalog susunan Ninny Susanti Tejowasono dan timnya mencatat 103 prasasti berbahan timah yang ditemukan dan masih berada di wilayah Sumatra. Dua di antaranya adalah lempeng Jambi yang dibaca ulang dalam penelitian ini. Keduanya ditemukan penduduk di Sungai Batanghari, di sekitar Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi, lalu diakuisisi Yayasan Padmasana yang kini disebut Rumah Menapo.

Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno

Semasa Adityawarman: Sirih dan Penolak Bala

Lempeng pertama berukuran kecil sekali. Panjangnya 5 sentimeter, lebarnya 2,4 sentimeter, beratnya 6 gram. Bahannya timah hitam atau timbal, bersimbol Pb, dan kini berwarna hitam keabu-abuan. Sisi depannya kosong. Tujuh baris aksara hanya ada di sisi belakang, sebab lempeng itu ditemukan dalam keadaan tergulung sehingga sisi luarnya yang dianggap sebagai sisi depan.

Bahasanya hampir seluruhnya Melayu Kuno. Kata benda seperti sirih, kayin, galagah, kudu, dan burak muncul berdampingan dengan kata kerja gantas, tanam, dan muji. Prefiks bar- dan di- ikut dipakai, dua bentuk yang menurut Waruno Mahdi tergolong Melayu Klasik. Sejumlah kosakata Sanskerta dan Jawa Kuno juga terserap. Tim Jambi menempatkan bahasa lempeng ini pada periode transisi menuju Melayu Klasik.

Bentuk teks menandai jenisnya. Baris pertama dibuka kata hum, perubahan bunyi dari om dalam bahasa Sanskerta, dan baris terakhir memuat kata swaha. Tejowasono dan timnya menyebut kombinasi itu sebagai formulasi mantra. Alih bahasa harfiahnya berbunyi: sirih sirih paji yang asli, si Lagas berkain pati, tanam sendiri kemudian petik, tanam di sini jangan dipetik. Sesudah itu empat nama disebut — si Galagah, si Burak, si Kudu, si Nirmula — yang memuji.

Bagian penutup teks itu yang paling menentukan. Baris terakhirnya berbunyi “ri dina ci rakṣa rakṣa”, yang diterjemahkan sebagai singkirkan kesengsaraan dan kumpulkan perlindungan perlindungan. Ketiga peneliti menilai kalimat itu mengunci isi lempeng. Mereka menulis, “hasil pembacaan prasasti timah 10/PADMA/Pb/VIII/2019 menegaskan isinya adalah mantra”. Perdebatan panjang soal isi benda ini bermula justru dari baris-baris sebelumnya.

Sirih disebut lebih dulu daripada apa pun dalam teks itu. Bagi penutur Austronesia sirih memiliki kedudukan penting dan telah dikonsumsi sejak masa prasejarah. Tanaman itu digambarkan pada relief kebun Candi Borobudur dalam cerita Karmawibhangga. Anthony Reid menerangkan mengunyah sirih sebagai tradisi Asia Tenggara yang berarti penting dalam upacara ritual, bahkan menilai bahan-bahan sirih lebih penting daripada makanan.

Praktiknya bertahan jauh sesudah masa Hindu dan Buddha. Sirih dipersembahkan sebagai sesaji kepada roh leluhur, dalam ritual daur hidup, dan dalam pengobatan tradisional. Pada masyarakat Kerinci sirih menjadi unsur penting dalam ritual terhadap roh para leluhur. Dari rangkaian itu tim Universitas Jambi menyimpulkan sirih dipakai sebagai bahan sekaligus media penolak bala dalam ritual yang mengiringi mantra tersebut.

Abad Ke-15: Palu dan Jerat Dewa Yama

Lempeng kedua lebih panjang dan lebih terang warnanya. Ukurannya 13,9 sentimeter kali 1,6 sentimeter dengan berat 11 gram. Bahannya timah putih bersimbol Sn, tahan karat dan mudah ditempa. Ujung kanannya berbentuk segitiga, ujung kirinya menyisakan bekas patahan. Permukaannya bergelombang, tanda benda itu semula digulung. Tiga baris teks ada di sisi depan, dua baris lagi di sisi belakang.

Bahasanya berbeda dari lempeng pertama. Melayu Kuno asli hampir tidak muncul, kecuali prefiks bar- dan kosakata Sanskerta yang sudah terserap. Perubahan bunyi v menjadi b terlihat pada binasa dari vinasa, bajra dari vajra, bighna dari vighna, dan sarbwa dari sarva. Bentuk serapan serupa terdapat pada Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah dari abad ke-14 Masehi, termasuk kata binasa itu sendiri.

Baca juga Kehamilan dalam Naskah Jawa Kuno: 36 Dewa Merakit Tubuh Janin

Isinya pemujaan kepada Dewa Yama, dewa kematian dalam mitologi Hindu. Teksnya dibuka salam hormat kepada pemilik vajra yang bengis. Yama disebut lengkap dengan laksananya: palu kayu, pemberat, pedang, alu untuk membunuh, dan jerat yang kuat di tangannya. Baris berikutnya memuat permohonan untuk membunuh, membakar, dan memisahkan semua perusak di dunia, lalu ditutup seruan swaha.

Dua nama lain ikut disebut. Yaksasenapati, secara harfiah pemimpin para Yaksa, adalah nama lain Dewa Kubera. Dalam mitologi Hindu, Yaksa dianggap makhluk setengah dewa yang bisa berbuat baik dan jahat kepada manusia. Nama kedua adalah Caya atau Chaya, sosok bayangan yang diciptakan Samjna, istri Dewa Surya sekaligus ibu Dewa Yama. Chaya dikisahkan pernah mengutuk Yama karena dewa itu berperilaku kasar kepadanya.

Mantra semacam ini punya tempatnya sendiri dalam upacara. Hariani Santiko menyebut pemujaan terhadap Dewa Yama biasanya dilakukan pada ritual bernama puja caru, yaitu upacara homa yang mempersembahkan bubur atau nasi dari beras bercampur biji-bijian, susu, mentega, dan gula merah. Dalam prasasti Hindu dan Buddha di Jawa, persembahan itu umumnya dikaitkan dengan upacara pendirian sima atau tanah perdikan.

Satu prasasti Jawa menyebutnya secara spesifik. Prasasti Trailokyapuri atau Jiu II bertarikh 1408 Saka, atau 1486 Masehi, dikeluarkan raja Sri Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya pada zaman akhir Majapahit. Pada sisi a baris 18 sampai 19 disebut caru untuk hyang Dharmma, yaitu Yama, untuk Bhatari Durgi, dan untuk segala jenis yang menakutkan. Sesajinya berupa susu sapi.

2018 dan 2019: Tiga Pembacaan yang Berbeda

Kedua lempeng mulai masuk catatan penelitian pada 2018. Wahyu Rizki Andhifani melaporkan temuan prasasti timah di Jambi dalam laporan berjudul Identitas Aksara dan Bahasa di Sumatera Bagian Selatan. Pada tahun yang sama, Arlo Griffiths menerbitkan alih aksara lempeng bernomor 10. Griffiths menilai benda itu memuat sebuah mantra atau jimat, sedangkan Tejowasono dan timnya berpendapat isinya aturan pertanian.

Perbedaan paling tajam ada pada empat nama. Griffiths mengartikan si galagah, si kudu, dan si nirmula sebagai nama tanaman. Rangkaian si-la-ga-s ia pisahkan menjadi sila dan gas, lalu diterjemahkannya sebagai “silakan digosok atau dipotong dengan lembut”. Kata sila berarti silakan atau mohon, sedangkan gas atau ghasa berarti memotong atau menggosok dengan lembut. Tim Jambi menempuh jalan yang berbeda.

Baca juga Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda

Partikel si di depan keempat kata itu, menurut mereka, adalah kata sandang untuk nama orang. Zoetmulder dan Robson mencatat partikel si menunjuk orang, dan pada masyarakat Jawa Kuno dipakai bagi orang berstrata sosial rendahan. Prasasti Jawa Kuno menyimpan banyak contohnya: si katak, si makara, si kancil, si lele, dan si tikus. Nama-nama tanaman itu, kata mereka, adalah personifikasi manusia.

Satu kata lagi dianggap salah tulis. Griffiths membaca burkat sebagai serapan dari bahasa Arab, berkat. Tim Jambi menolaknya karena kata itu diapit kata-kata berpartikel si yang merujuk nama tanaman. Dalam Melayu Kuno terdapat kata burak yang berarti gelagah atau tebu liar. Burkat pun dinilai kekeliruan tangan citralekha, sang penggores prasasti, yang seharusnya menulis burak.

Kesimpulan mereka bersandar pada definisi yang dipakai sejak awal artikel. Mantra dirumuskan begini: “Mantra merupakan teks suci yang bersifat sakral yang diucapkan oleh seorang pawang dalam upacara ritual”. Edi Suwatno, yang mereka rujuk, menempatkan mantra sebagai penangkal hal-hal jahat sekaligus pengumpul hal-hal baik, entah yang datang dari manusia maupun dari makhluk supernatural.

2025: Titik Terakhir yang Diketahui

Yang dicapai penelitian ini punya batas yang jelas. Objeknya hanya dua benda, dan keduanya bukan temuan ekskavasi terkendali melainkan temuan penduduk di sungai, sehingga konteks arkeologisnya hilang. Penanggalannya pun bersifat relatif dan disebut sendiri oleh penulisnya sebagai asumsi sementara. Satu kata pada lempeng kedua, kayi, sampai artikel ini terbit belum ditemukan artinya di kamus mana pun.

Rentang tarikhnya juga belum terkunci. Kritik intern menempatkan kedua lempeng pada abad ke-14 sampai ke-15 Masehi. Namun bentuk aksara pada lempeng bernomor 17 masih membuka rentang yang jauh lebih lebar, abad ke-10 sampai ke-15 Masehi, bahkan satu ciri ketidakrapian penulisannya justru menunjuk masa sesudah abad ke-15 Masehi. Angka itu belum bisa dipersempit.

Kaitan dengan ritual pun berhenti pada taraf indikasi. Tim Jambi menyebut mantra pada lempeng kedua kemungkinan dibacakan saat pelaksanaan puja caru. Pembandingnya bukan sumber Sumatra, melainkan prasasti Jawa, sejumlah lontar Bali, dan tradisi Sraddha di India. Tidak ada satu pun catatan sezaman dari Jambi yang merekam jalannya upacara itu dari awal sampai selesai.

Naskah artikel itu diterima redaksi jurnal pada 20 Juli 2024 dan disetujui pada 17 Juni 2025. Sesudah itu belum ada pembacaan baru atas kedua lempeng tersebut. Dua benda kecil itu tetap tersimpan di Rumah Menapo, Jambi.

Baca Juga

Ilustrasi ruang pamer museum komunitas di pedesaan Jawa Tengah dengan lemari kaca dan rak kayu berisi fosil rahang serta tulang, seorang pemandu berkemeja batik menunjuk vitrin, dan rombongan murid berseragam menyimak
Museum Purbakala Bumiayu, Tumbuh dari Halaman Rumah
Ilustrasi dinding ceruk batu gamping berlapis kerak dengan gambar cadas berpigmen merah pudar bermotif figur manusia berkepala berjumbai, ikan, penyu, dan perahu, dengan lanskap karst serta tambak terlihat di kejauhan
Perahu dan Pemanah di Gambar Cadas Leang Ulu Tedong
Ilustrasi bangkai kapal besi tua tergeletak di dasar laut berpasir gelap dengan lambung tertutup terumbu karang, lubang-lubang robekan pada dinding, kemudi dan baling-baling di buritan, serta seorang penyelam di kejauhan
Kapal Karam Jepang Sangihe dan Luka yang Menghadap Keluar
Ilustrasi ceruk buatan manusia berlubang masuk persegi dengan pelipit pada tebing batu berlumut di tepi sungai kecil, dikelilingi ladang palawija, pohon aren, dan perbukitan berhutan
Gua Umang Karo: Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?
Ilustrasi pelabuhan sungai di delta Brantas dengan kapal dagang berlayar segi empat bersandar, kuli memikul bal kain bercelup nila menuruni titian papan, gudang beratap daun dan teras bata merah di tepi muara
Tujuh Nama Orang India di Jawa pada Prasasti Kuno
Bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik dengan latar hutan dan kerucut gunung api
Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda