Rejang Terancam, Enggano Justru Lebih Terjaga

Warga Enggano berfoto bersama di bawah pohon kelapa dalam dokumentasi KITLV.

Dr. Van Haeften bersama Radja Pakela dan sejumlah warga Enggano di Pulau Dua, dalam dokumentasi koleksi KITLV. [Foto: KITLV via Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Bahasa dengan penutur yang banyak tidak akan mati. Kalimat itu terdengar seperti hukum alam, begitu masuk akal sehingga hampir tak pernah diuji, dan karena tak pernah diuji ia perlahan berubah menjadi dasar bagi cara kita menyusun prioritas penyelamatan bahasa daerah. Sebuah pemetaan vitalitas yang dikerjakan di Provinsi Bengkulu mengujinya, dan urutan yang selama ini dianggap wajar itu terbalik: bahasa dengan penutur terbanyak di provinsi tersebut justru jatuh ke kategori terancam punah, sementara bahasa yang penuturnya paling sedikit, sebuah bahasa pulau di seberang lautan, dinilai berada satu tingkat lebih terjaga. Jumlah penutur ternyata ukuran yang paling mudah dipercaya sekaligus paling gampang menyesatkan.

Pemetaan itu dikerjakan Sarwo F. Wibowo, peneliti pada Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu, dan terbit dengan judul Pemetaan Vitalitas Bahasa-Bahasa Daerah di Bengkulu: Pentingnya Tolok Ukur Derajat Kepunahan bagi Pelindungan Bahasa Daerah dalam Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, Volume 5 Nomor 2, edisi Desember 2016, halaman 139–151. Yang dikerjakannya bukan penyelamatan bahasa, melainkan sesuatu yang lebih mendasar dan justru lebih jarang dianggap mendesak, yaitu menyusun alat ukurnya. Empat bahasa daerah di Bengkulu ditimbang memakai sembilan indikator vitalitas rumusan UNESCO, lalu hasilnya diterjemahkan menjadi peta berwarna, hijau untuk yang aman dan warna yang kian panas untuk yang kian dekat pada titik habis.

Empat bahasa itu adalah Melayu Bengkulu, Rejang, Pekal, dan Enggano, dan sebelum dipetakan pun keempatnya sudah memiliki reputasi yang terbentuk dari aritmetika yang sangat sederhana. Merujuk data Pusat Bahasa tahun 2008 yang dipakai di dalam artikel tersebut, bahasa Rejang memiliki lebih dari satu juta penutur, bahasa Melayu Bengkulu sekitar satu juta penutur dengan sembilan variasi dialek, bahasa Pekal sekitar tiga ribu penutur, dan bahasa Enggano kurang lebih seribu penutur. Dari deretan angka semacam itu, siapa pun sanggup menyusun daftar prioritas dalam beberapa detik, dan hampir pasti akan meletakkan Enggano di baris teratas serta Rejang di baris paling bawah, sebagai bahasa yang tak perlu dikhawatirkan.

Aritmetika yang Menipu

Hasil pemetaan menempatkan bahasa Melayu Bengkulu pada kategori aman, bahasa Enggano pada kategori mulai terancam punah, dan bahasa Rejang pada kategori terancam punah, satu tingkat lebih genting daripada bahasa pulau yang penuturnya hanya seperseribu jumlah penuturnya sendiri. Bahasa Pekal belum sempat diukur dan pada tabel hasil hanya diberi keterangan bahwa penelitiannya belum dilakukan, sehingga peta tersebut, sejak lahir, telah mengandung satu ruang kosong yang menganga. Kejutan yang sesungguhnya tidak terletak pada Enggano yang bertahan, melainkan pada Rejang yang tidak, sebab Rejang justru bahasa dengan jumlah penutur terbesar di provinsi itu, bahasa yang oleh ukuran mana pun mestinya berada di posisi paling nyaman dan paling akhir dipikirkan.

Wibowo mencatat keterkejutannya sendiri dalam kalimat yang menahan diri: “Meskipun secara kuantitatif jumlah penutur yang masih menggunakan bahasa Rejang hingga ke generasi terakhir lebih banyak dari bahasa Enggano, hasil ini cukup mengejutkan mengingat bahasa Rejang memiliki jumlah penutur terbesar di Provinsi Bengkulu.” Kalimat itu penting bukan semata karena isinya, melainkan karena letaknya di dalam alur penelitian: keterkejutan muncul ketika alat ukur menghasilkan angka yang bertentangan dengan dugaan penyusunnya sendiri, dan pada titik itulah sebuah alat ukur membuktikan bahwa ia benar-benar mengukur sesuatu, bukan sekadar mengulang apa yang telah diyakini jauh sebelum pengukuran dimulai. Sebuah instrumen yang selalu membenarkan penggunanya bukanlah instrumen.

Baca juga Blug, Bluk, Bleg: Kecap Anteuran Sunda Dibaca dari Jepang

Namun. Peta ini tidak menjelaskan sebab, dan ada baiknya menahan diri untuk tidak membacanya seperti diagnosis. Yang dilakukan sembilan indikator UNESCO adalah memberi nilai pada kondisi yang tampak pada saat pengamatan berlangsung, bukan menelusuri rantai peristiwa yang membawa sebuah bahasa sampai ke kondisi tersebut. Bahwa Rejang berada di kategori yang lebih genting daripada Enggano adalah temuan tentang keadaan, bukan pernyataan tentang penyebab, dan artikelnya sendiri tidak mengklaim lebih jauh dari itu. Perbedaan di antara keduanya terlihat kecil di atas kertas dan menjadi besar dalam praktik, karena sebuah temuan cenderung dibaca sebagai resep begitu ia berwujud warna di atas peta.

Sembilan Ukuran, Satu Kejutan

Sembilan indikator itu, bila diurai satu per satu, memperlihatkan betapa kecilnya porsi jumlah penutur di dalamnya. Yang ditimbang adalah transmisi bahasa antargenerasi, jumlah penutur absolut, proporsi penutur terhadap populasi total, tren ranah penggunaan bahasa, respons terhadap ranah dan media baru, ketersediaan materi pendidikan bahasa dan literasi, kebijakan bahasa pemerintah dan institusi, status resmi serta penggunaan bahasa, dan terakhir jumlah dan kualitas dokumentasi bahasa. Jumlah penutur cuma satu dari sembilan, dan bahkan ketika ia muncul untuk kedua kalinya sebagai proporsi terhadap populasi, ia tetap kalah suara oleh indikator yang mengukur apakah bahasa itu masih berpindah tangan, masih dipakai, masih dituliskan.

Datanya dihimpun lewat studi pustaka, wawancara, observasi ranah penggunaan, dan survei dengan kuesioner yang disusun cukup panjang. Instrumen awalnya memuat 123 butir pertanyaan, diuji validitas dan reliabilitasnya dengan bantuan SPSS memakai Kendall’s tau_b serta cronbach alpha, lalu menyusut menjadi 118 butir yang dinyatakan sahih. Pengambilan sampel dilakukan secara stratified random sampling atas populasi penutur bahasa daerah di Bengkulu, tersebar pada 22 daerah pengamatan: 9 titik untuk Melayu Bengkulu, 8 titik untuk Rejang, 3 titik untuk Pekal, dan hanya 2 titik untuk Enggano, sebuah komposisi yang timpang, tidak sebanding dengan luas wilayah tutur masing-masing bahasa, dan diakui sendiri oleh penulisnya sebagai keterbatasan.

Baca juga Satu Peristiwa, Empat Cara: Kalimat Aktif di 4 Bahasa Dunia

Di situlah persoalannya. Artikel ini, dibaca sampai ke bagian tengahnya, ternyata tidak sedang bercerita tentang Rejang ataupun Enggano, melainkan tentang cara kerja perlindungan bahasa itu sendiri. “Usaha revitalisasi yang didasarkan pada data mengenai jumlah penutur saja dan/atau pendapat masyarakat umum tidak dapat mencegah kepunahan bahasa-bahasa minoritas,” tulis Sarwo F. Wibowo, peneliti Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu tersebut. Kalimat itu membelokkan arah seluruh temuan: dua bahasa yang bertukar tempat di daftar prioritas bukanlah anomali yang menarik untuk diceritakan, melainkan bukti bahwa daftar prioritas yang selama ini dipakai memang disusun dengan alat yang keliru sejak awal, dan bahwa keliru sejak awal berarti setiap keputusan turunannya ikut goyah.

Ia menilai penelitian perlindungan bahasa daerah selama ini “bersifat sporadis”, dan sebabnya, menurut dia, sederhana saja, yakni belum adanya tolok ukur yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan bahasa mana yang lebih mendesak direvitalisasi. Argumen itu ia sandarkan pada Gunarwan, sosiolinguis yang tulisannya menjadi rujukan di artikel tersebut: “Untuk melihat vitalitas suatu bahasa kita harus mengungkap empat faktor, yaitu faktor sosiolinguistik, faktor demografis, faktor psikologis, dan faktor ekonomik.” Demografi, sekali lagi, hanya satu dari empat, sementara tiga sisanya justru bagian yang paling sulit dicacah karena tak pernah berbentuk angka kependudukan yang rapi dan siap dikutip di dalam dokumen perencanaan mana pun.

Perisai yang Terbuat dari Jarak

Enggano adalah sebuah pulau, dan pulau itu jauh. Artikel tersebut menautkan ketahanan bahasa Enggano dengan keterasingan geografisnya, merujuk temuan Wibowo sendiri pada 2014 bahwa vitalitas bahasa Enggano relatif lebih terjaga karena faktor alamnya yang terisolir. Penjelasan semacam itu rapi, barangkali terlalu rapi, dan sebaiknya dibaca sebagai dugaan yang masuk akal alih-alih sebab yang telah terbukti, sebab isolasi bukanlah variabel yang ikut ditimbang oleh sembilan indikator UNESCO. Yang membuatnya lebih berlapis, kajian terdahulu yang dikutip di artikel yang sama, yaitu Herawaty pada 1998, sudah lebih dahulu menyatakan bahwa bahasa Enggano berisiko mengalami kepunahan, sehingga dua penilaian dengan jarak hampir dua dasawarsa itu berdiri berdampingan tanpa pernah benar-benar didamaikan.

Baca juga Alquran Basa Sunda Lancaran dan Tuduhan Melanggar Batas

Justru sebaliknya yang terjadi pada Rejang. Dengan penutur terbanyak, sebaran wilayah yang luas, dan kehadiran yang tak terbantahkan di provinsi itu, bahasa tersebut malah tersandung pada indikator yang paling menentukan nasibnya. Wibowo, dalam tulisannya pada 2015 yang ia kutip kembali di artikel ini, menyimpulkan bahwa terhambatnya transmisi antargenerasi menjadi sebab utama terancam punahnya bahasa Rejang. Sebuah bahasa, dengan kata lain, tidak mati lantaran kehabisan penutur; ia kehabisan penutur karena lebih dahulu berhenti diwariskan, dan jeda di antara dua peristiwa itu sanggup berlangsung satu generasi penuh tanpa terlihat oleh siapa pun yang sibuk menghitung kepala dan merasa aman karena hitungannya masih besar.

Peta ini berlubang, dan penulisnya menunjuk lubang itu sendiri. “Disadari penelitian ini masih memiliki berbagai kekurangan, seperti terbatasnya jumlah daerah pengamatan,” tulisnya, dan keterbatasan tersebut bukan formalitas belaka: Enggano hanya diwakili dua daerah pengamatan, sedangkan bahasa Pekal sama sekali belum diukur sehingga statusnya dibiarkan kosong. Empat bahasa di satu provinsi juga bukan Indonesia, dan hasil Bengkulu tak bisa dipindahkan begitu saja ke provinsi lain yang lanskap bahasanya berbeda. Artikel itu mengutip Crystal untuk menegaskan skala persoalan, bahwa secara rata-rata setidaknya satu bahasa di dunia punah dalam dua minggu, tetapi angka global tidak pernah sanggup menggantikan pengukuran setempat.

Yang tersisa justru pertanyaan yang tidak dijawab papernya. Jika keterasingan geografis benar bekerja sebagai perisai bagi bahasa Enggano, apa yang terjadi pada perisai itu ketika jarak menyusut, dan pada titik mana sebuah bahasa berhenti dilindungi oleh keterpencilannya lalu mulai dirugikan olehnya? Lalu bila transmisi antargenerasi memang indikator yang paling menentukan, apa sebenarnya yang memutus rantai tersebut di wilayah tutur Rejang, sementara di seberang lautan rantai yang sama masih tersambung pada komunitas yang penuturnya seribu kali lebih sedikit? Sembilan indikator sanggup memberi nilai pada keadaan; nilai itu belum tentu menjelaskan bagaimana keadaan tersebut terbentuk, dan jarak antara keduanya adalah ruang yang masih dibiarkan kosong oleh peta ini.

Baca Juga

Ilustrasi pelabuhan sungai di delta Brantas dengan kapal dagang berlayar segi empat bersandar, kuli memikul bal kain bercelup nila menuruni titian papan, gudang beratap daun dan teras bata merah di tepi muara
Tujuh Nama Orang India di Jawa pada Prasasti Kuno
Bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik dengan latar hutan dan kerucut gunung api
Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda
Ilustrasi halaman buku beraksara Arab dilihat dari atas.
Satu Peristiwa, Empat Cara: Kalimat Aktif di 4 Bahasa Dunia
Ilustrasi halaman mushaf terbuka di atas rehal kayu berukir di ruang bernuansa Sunda.
Alquran Basa Sunda Lancaran dan Tuduhan Melanggar Batas
Ilustrasi perahu layar tradisional berlayar di muara sungai berkabut di pesisir barat Kalimantan
Arsip 1814: Bajak Laut Sambas Dipimpin Sultannya
Ilustrasi kumpulan naskah tulisan tangan kuno.
Saat Bangsawan Sunda Bangga Bisa Berbahasa Jawa Kuno