Cekricek.id — Seorang pangeran Sunda pulang dari perantauan dan menyombongkan satu hal. Bukan harta, bukan jabatan. “Aiṅ bisa carek java, bisa aiṅ ṅaro basa” — aku bisa berbahasa Jawa, aku dwibahasawan. Kalimat itu terdapat pada baris 1057 sampai 1064 naskah Bujangga Manik, dan diucapkan setelah sang tokoh membaca kitab Darmaweya dan Pandawa Jaya di Rabut Palah, tempat suci Majapahit yang kini dikenal sebagai Panataran di kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Kalimat itulah salah satu bukti yang dipakai Aditia Gunawan, kurator naskah Sunda di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dalam artikel Vernacularization and bilingualism among the Sundanese; A case study of Kawi culture (Vernakularisasi dan kedwibahasaan pada masyarakat Sunda; studi kasus budaya Kawi), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 3 pada 2025. Pertanyaan yang ia ajukan sederhana: dalam tatanan bahasa masyarakat Sunda pramodern, apa sebenarnya peran bahasa Sunda Kuno dan bahasa Jawa Kuno?
Seratus Dokumen dan Bahasa yang Tak Perlu Disebut Namanya
Bahasa Sunda Kuno termasuk segelintir bahasa kuno di Nusantara yang terawetkan dalam naskah dan prasasti. Dokumen-dokumen itu, tulis Aditia, dipakai untuk bermacam keperluan: administrasi politik, risalah keagamaan, babad, puisi kepahlawanan dan didaktik, sampai panduan teknis. Jumlahnya sekitar seratus, sebagian besar berupa naskah.
Baca juga: Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729
Yang menarik, di dalam dokumen-dokumen itu nama bahasanya sendiri tidak pernah muncul. Ketika penulis Siksa Kandang Karesian mendaftar 55 bahasa para nusa, bahasa Sunda tidak ikut didaftar. Ketika Bujangga Manik berbangga bisa carek Java, ia tidak menyebut dirinya fasih berbahasa Sunda. “Hal itu tampaknya mencerminkan cara pandang yang berpusat pada ke-Sunda-an: tidak semua yang menjadi miliknya perlu disebutkan,” tulis Aditia Gunawan — kalimat aslinya berbahasa Inggris. Sebutan “Sunda Kuno” sendiri buatan orang luar, terjemahan istilah Oud-soendaneesch dari K.F. Holle pada pertengahan abad ke-19. Orang Sunda yang pertama memakai golongan “kuno” adalah redaktur majalah Pasundan lewat tulisan berjudul “Basa Boehoen” pada 1922 — dan bahkan di situ kata “Sunda” tidak dicantumkan.
Empat Abad Sebelum Naskah Sunda Muncul
Bahasa Jawa Kuno sudah dipakai di wilayah Sunda jauh lebih dulu. Prasasti Sang Hyang Tapak yang dikeluarkan Sri Jayabhupati, yang mengaku raja Sunda, berangka tahun setara 1030 Masehi dan ditulis dalam bahasa Jawa Kuno — padahal penduduknya diperkirakan berbahasa Sunda. Dokumen berbahasa Sunda baru muncul pada awal abad ke-15, antara lain lewat prasasti pendek Linggawangi. Sesudah itu bahasa Sunda menjadi bahasa dominan dalam naskah dan satu-satunya bahasa dalam prasasti.
Naskah-naskah pra-Islam dari Jawa Barat memang tidak sebanyak koleksi Jawa Tengah, Jawa Timur, atau Bali, tetapi ciri fisiknya mencolok: hampir semuanya ditulis pada daun gebang. Di antara teks berbahasa Jawa Kuno yang tersimpan di sana terdapat Arjunawiwaha, Candrakirana yang merupakan panduan menggubah puisi, Sang Hyang Hayu, Bhima Swarga, Kunjarakarna, Dharma Patanjala, Tattwa Jnana, dan Siksa Guru. Kolofon yang memuat tahun menempatkan penyalinannya pada rentang abad ke-14 sampai abad ke-16: naskah Arjunawiwaha berangka 1256 Śaka atau 1334 Masehi, sedangkan satu naskah Sang Hyang Hayu berangka 1445 Śaka atau 1523 Masehi. Penyalinan teks-teks itu, menurut Aditia, berhenti sama sekali setelah abad ke-16 ketika perhatian kaum terpelajar berpindah ke tradisi naskah Islam.
Dua di antara teks itu tampaknya diproduksi dan beredar terutama di wilayah Sunda: Sang Hyang Hayu dan Siksa Guru. Yang pertama disebut para penulis Sunda dengan istilah lokal Sang Hyang Watang Ageng, “Kitab Besar yang Suci”, dan bertahan dalam tidak kurang dari lima belas naskah — tiga belas dari Jawa bagian barat, dua dari Jawa Tengah, satu dari Bali yang baru diketahui penulis pada 2024. Panjangnya luar biasa: sekitar 18.100 kata, hanya kalah dari Bhuwanakosa yang sekitar 21.000 kata, dan jauh melampaui Dharma Patanjala dengan 12.500 kata serta Tattwa Jnana dengan 12.800 kata.
Gosip Pelayan Perempuan tentang Seorang Pangeran
Menguasai bahasa Jawa, dalam gambaran teks-teks itu, sama dengan memegang kunci ke perpustakaan yang lebih luas. Sekembalinya Bujangga Manik ke Sunda, ia bertemu Jompong Larang, pelayan seorang bangsawan perempuan bernama Ajung Larang. Pelayan itu terpukau, lalu membisikkan keistimewaan sang pangeran kepada majikannya: bisa berbahasa Jawa, tahu isi kitab-kitab suci, paham susunan pustaka, mengerti hukum dan petuah.
Aditia menaruh perhatian pada siapa yang berbicara. Yang memuji bukan Bujangga Manik yang memang belajar bahasa Jawa, melainkan seorang pelayan yang mewakili orang kebanyakan — sehingga penilaian itu menggambarkan pandangan masyarakat, bukan cuma pandangan si terpelajar. Siksa Kandang Karesian bahkan menyatakan bahwa pergi ke Jawa tanpa mempelajari bahasanya sama saja sia-sia: sepulangnya ke Sunda, terasa seperti tidak pernah bepergian, dan “apa yang dibeli sebagai hasil kunjungan itu tak berharga”.
Apakah dengan demikian masyarakat Sunda pra-Islam adalah masyarakat diglosia — masyarakat dengan dua ragam bahasa yang pemakaiannya ditentukan konteks, bukan kelas penuturnya? Aditia mengajak berhati-hati. Ia menimbang rumusan Charles A. Ferguson, Thomas M. Hunter, Alan Hudson, dan J. Fishman, lalu memilih memeriksa bukti pemakaian kedua bahasa di dalam satu teks yang sama.
Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ketika Dewa Berbahasa Sunda dan Musuhnya Berbahasa Jawa
Bukti itu ia sebut alih kode. Dalam Carita Parahyangan, ketika Rahyang Sanjaya membuka sebuah kitab, penulisnya berpindah bahasa: sebaris seloka bergaya Sanskerta, lalu silsilah raja-raja dalam bahasa Jawa Kuno, sebelum kembali ke bahasa Sunda. Kesan yang muncul adalah adanya rujukan berbahasa Jawa yang memuat silsilah leluhur, dan bahasa itu dipandang berwibawa untuk urusan asal-usul penguasa.
Dalam Tutur Bwana, polanya lain lagi dan jauh lebih hidup. Darma Jati, sang dewa tertinggi, berbicara dalam bahasa Sunda ketika menyambut tamunya. Kala Sakti, tokoh antagonis yang berkedudukan lebih rendah, menjawab dengan bahasa Jawa Pertengahan sambil menantang lawannya lari atau mati. Aditia membandingkannya dengan pertunjukan wayang golek hari ini, ketika dalang Sunda dengan gampang mengganti bahasa tokohnya menjadi Melayu atau Jawa. Artinya, pembaca Tutur Bwana dibayangkan mengerti bahasa Jawa.
Alih kode juga muncul di teks-teks yang bersifat mengajar. Beberapa teks membuka paragraf pertamanya dengan rumusan Jawa Kuno ndeh nihan warahakena dan sejenisnya, lalu meneruskan dalam bahasa Sunda. Sejumlah kata kunci Jawa Kuno dipakai karena tidak ada padanannya dalam bahasa Sunda Kuno — misalnya kalinganya (artinya adalah), ngaranya (disebut), kangken (dianggap sebagai), dan lwirnya (bentuknya adalah).
Ngaranna atau Ngaranya, dan untuk Siapa Teks Ditulis
Di sinilah penghitungan Aditia jadi menarik. Ia membandingkan dua teks yang keduanya berbahasa Sunda Kuno tetapi ditujukan kepada pembaca berbeda. Dalam Siksa Kandang Karesian, bentuk yang di-Sunda-kan menang telak: kalingan-na muncul 13 kali sementara kalinganya hanya dua kali; ngaranna muncul 104 kali sementara ngaranya 27 kali; kata tunjuk Sunda ini dipakai sembilan kali, sedangkan nihan yang Jawa Kuno hanya lima kali.
Dalam Sasana Mahaguru keadaannya terbalik. Kalinganya muncul sembilan kali dan kalingan-na sama sekali tidak ada; ngaranya muncul 223 kali berbanding ngaranna 54 kali; nihan 97 kali berbanding ini 71 kali. Penjelasan yang ditawarkan Aditia berpijak pada sasaran pembaca: Siksa Kandang Karesian ditujukan kepada orang awam yang diperkirakan kurang akrab dengan bahasa Jawa Kuno, sedangkan Sasana Mahaguru ditujukan kepada murid-murid di lingkungan keagamaan yang sudah terbiasa dengan istilah-istilah itu.
Terjemahan yang Berhenti di Tengah Jalan
Puncak proses vernakularisasi — pengalihan gagasan ke dalam bahasa setempat — terlihat pada Sasana Mahaguru, satu-satunya teks Sunda Kuno yang bisa disebut terjemahan dalam arti ketat, karena hampir seluruh bagiannya dapat dibandingkan dengan sumbernya: Siksa Guru dan Sang Hyang Hayu, keduanya berbahasa Jawa Kuno.
Pada bagian yang bersumber dari Siksa Guru, penerjemahnya bekerja rapi. Ia mengalihkan tiap kata kunci dengan padanan Sunda: wedi menjadi borang untuk takut, luhya menjadi mumulan untuk malas, jrih menjadi takut, dan erang menjadi supen untuk rasa malu. Bahkan ia menafsirkan ulang preposisi Jawa Kuno ri sebagai penanda sebab, bukan arah — keputusan yang menurut Aditia tampak disengaja.
Baca juga: Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Pada bagian yang bersumber dari Sang Hyang Hayu, hasilnya jauh berbeda. “Dalam proses ‘penerjemahan’ dari Sang Hyang Hayu, kita melihat bahwa penulis Sasana Mahaguru tampaknya mengandalkan penyalinan mekanis alih-alih penerjemahan yang aktif,” tulis Aditia — juga terjemahan dari kalimat berbahasa Inggris. Pada satu paragraf contoh, tidak ada satu pun kata Sunda yang tersisa. Dua kemungkinan penyebab ia ajukan sebagai dugaan, bukan kesimpulan: si penulis kehabisan waktu setelah menggarap separuh teks, atau ajaran metafisika dalam Sang Hyang Hayu memang terlalu sulit dipindahkan karena kosakata bahasa Sunda Kuno belum cukup rumit untuk itu.
Kesimpulan besarnya menyentuh anggapan yang lazim hari ini. Kedwibahasaan orang Sunda dan penghormatan mereka pada bahasa Jawa, tulis Aditia, bukan semata-mata akibat kekuasaan politik Mataram pada abad ke-16 sampai ke-19 ketika kaum ménak memakai bahasa Jawa dalam surat resmi, melainkan sudah berakar pada masa pramodern lewat budaya Kawi. Kesimpulan itu berdiri di atas landasan yang penulisnya sendiri akui terbatas: dokumen yang tersedia hanya sekitar seratus, rentang bahasa Sunda Kuno sebagai bahasa tulis terlalu pendek, dan dari 26 judul karya Jawa yang disebut-sebut dalam teks Sunda, tidak bisa dipastikan semuanya pernah sampai ke tanah Sunda dalam bentuk tertulis — sebagiannya mungkin hanya beredar lewat tradisi lisan atau pertunjukan rakyat.
















