Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729

Ilustrasi batu nisan kuno berukir sulur rapat di kompleks makam tua

Ilustrasi nisan kuno berukir. Ragam hias nisan Lombok memperlihatkan pertemuan budaya Sasak dan Islam. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Di Situs Makam Kuna Raja-Raja Selaparang, Lombok Timur, ada satu batu nisan yang berbeda dari ribuan nisan lain di pulau itu: ia bertulisan. Pada bidang persegi panjang yang dikelilingi ragam hias, terpahat kalimat dalam dua aksara sekaligus, Arab dan Jawa-Bali, dengan dua bahasa, Arab dan Jawa Kuna. Bunyinya “La Ilaha Illallah Wa Muhammadun rasulullah * Gagawayan Parayuga”. Kalimat pertama syahadat. Kalimat kedua diterjemahkan sebagai “(Nisan-nisan) ini dibuat oleh para putra”. Frasa Jawa Kuna itu sekaligus candrasengkala: kata yuga bernilai 1, para bernilai 1, gagawayan bernilai 4, dan mesan bernilai 2, sehingga menghasilkan tahun 1142 Hijriah atau 1729 Masehi. Sampai sekarang itu satu-satunya nisan kuna berhias di Pulau Lombok yang memuat epitaf, dan siapa yang dimakamkan di bawahnya tetap tidak diketahui.

Kelangkaan tulisan pada nisan Lombok inilah yang membuat penelusurannya bertumpu pada bentuk. Lalu Muhamad Balia Farsahin dari Magister Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia bersama Adinda Tasya Namira, mahasiswa Magister Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya di universitas yang sama, menyusun rintisan klasifikasinya dalam artikel Nisan Kuna Berhias di Pulau Lombok: Suatu Studi Pendahuluan Tipologisasi Nisan Lombok, yang terbit dalam Berkala Arkeologi Volume 46 Nomor 1 pada Mei 2026. Mereka menyurvei 12 situs makam — tiga di Lombok Timur dan sembilan di Lombok Tengah — dan menemukan empat tipe utama.

“Fenomena ini menunjukkan absennya tradisi penulisan identitas pada masa silam di Pulau Lombok, berbeda dengan tradisi di Pulau Sumatra, Jawa, atau Sulawesi yang lazim mencantumkan epitaf lengkap,” tulis kedua peneliti itu. Akibatnya, jenis kelamin orang yang dimakamkan hanya bisa dikenali dari bentuk fisik nisannya. Tradisi menuliskan nama dan angka tahun dengan aksara Latin di Lombok baru muncul pada masa kontemporer.

Batu Sungai, Batu Bokah, dan Pakaian untuk Nisan

Dalam bahasa Sasak, nisan disebut paesan atau maesan. Ia bukan sekadar penanda. Rangkaian adat sesudah penguburan dihitung berdasarkan hari — nelung tiga hari, mituq tujuh hari, nyiwaq sembilan hari, metangdase empat puluh hari, nyatus seratus hari, dan nyiu atau nyibu seribu hari. Pemasangan nisan permanen atau tanjaq pesan umumnya dilakukan pada hari ketujuh, menggantikan nisan sementara dari kayu atau bambu yang dipasang saat penguburan. Sebelum ditanam, nisan-nisan itu menjalani prosesi upacara adat lebih dulu. Dasarnya adalah kepercayaan masyarakat Sasak bahwa nisan merupakan representasi mendiang yang harus dihormati — termasuk lewat tradisi memakaikan pakaian pada nisan sesuai jenis kelamin orang yang meninggal.

Pada masa awal islamisasi, yang dipakai adalah nisan monolit dari batu sungai. Tipe ini selalu polos tanpa hiasan, ukurannya bervariasi, dan tersebar merata sampai kini dengan material yang menyesuaikan sumber daya alam tiap wilayah. Ketika pengaruh Islam dari Jawa dan Sulawesi menguat, barulah masyarakat Sasak mengenal nisan berhias. Bahannya jauh lebih terbatas: hampir seluruhnya batu kapur atau batu Bokah, yang hanya ditemukan di wilayah selatan seperti Desa Teruwai.

Ukurannya pun berubah menurut zaman. Temuan tertua cenderung kecil, mirip nisan anak-anak masa kini, sedangkan periode berikutnya berubah menjadi monumental hingga sekitar satu meter. Pada mula kemunculannya, nisan bangsawan maupun non-bangsawan sama-sama berukuran kecil, dan yang membedakan status adalah kerumitan ragam hiasnya — kalangan bangsawan memakai hiasan yang raya, sementara golongan non-bangsawan memakai nisan sederhana atau polos. Belakangan, ukuran monumental menjadi ciri khas makam bangsawan, sedangkan dimensi nisan non-bangsawan tidak banyak berubah. Hierarki itu masih hidup sampai hari ini dalam bentuk pemisahan lokasi pemakaman, perbedaan ukuran nisan, dan penyesuaian ragam hias dengan strata sosial. Fungsi nisan sebagai tinggalan material yang menyimpan informasi sosial membuat variasi-variasi kecil itu justru penting.

Tipe Lombok-Tralaya, Warisan dari Trowulan

Nisan berhias pertama yang berkembang di Lombok adalah Tipe Lombok-Tralaya, berbentuk pipih dan menyerupai kala-makara atau kala-mrga. Akarnya di Situs Makam Kuna Tralaya di Trowulan, Mojokerto. Morfologinya terbagi menjadi kaki yang disebut singkil, badan, dan kepala atau mukuta. Tipe ini dipakai seluruh masyarakat Sasak kecuali di Lombok Utara — Tanjung, Sokong, Bayan, dan Sembalun — yang secara konsisten mempertahankan tradisi nisan monolit dari dulu sampai kini.

Perbedaan gender terbaca pada kepala nisan: laki-laki berujung runcing, baik berbentuk segitiga tajam maupun agak membulat dengan lekukan setengah lingkaran di sepanjang tepinya, sedangkan perempuan berujung datar atau pipih. Pada bagian kaki terdapat bates ujan, istilah Sasak untuk batas penanaman nisan, yang biasanya diisi ragam hias geometris. Badan nisan umumnya memuat motif tumpal berisi suluran, sulur gelung, ceplok bunga, atau garis geometris dengan tinggi bervariasi, dari seperempat badan sampai mencapai kepala. Bila tumpalnya tidak ada, ragam hias yang sama diaplikasikan bebas tanpa batas di seluruh badan. Ada pula bagian sayap yang disebut kembang awan, terklasifikasi menjadi tiga bentuk: simbar segitiga, makara yang distilir dengan suluran, dan sayap burung — ditambah variasi local genius berupa bulatan ikal menyerupai ujung rambut keriting yang membulat.

Kedua peneliti mencatat satu pola menarik dalam pembagian ruang hias. Nisan yang tepi kepalanya berhias biasanya badannya tidak penuh ragam hias, dan sebaliknya, nisan yang tepi kepalanya polos akan memiliki badan yang padat oleh hiasan. Satu hal yang mereka nyatakan terus terang: terminologi Jawa masih dipakai dalam penelitian ini karena belum ditemukan data valid untuk penyebutan bagian-bagian Nisan Tipe Lombok-Tralaya dalam bahasa Sasak.

Bentuk dari Sulawesi, Hiasan dari Jawa

Tipe kedua adalah Lombok-Bugis, yang berasal dari wilayah kerajaan beretnis Bugis di Sulawesi seperti yang banyak dijumpai di Situs Makam Kuna Raja-raja Bone, Raja-raja Soppeng, dan Raja-raja Jeneponto. Kakinya persegi, badannya bervariasi antara phallus, gada, dan segitiga terbalik, sementara kepalanya berkisar dari kuncup bunga, bunga mekar, sampai susunan pelipit yang makin ke atas makin mengecil. Di batas antara kaki dan badan terdapat bentuk menyerupai antefiks pada candi Hindu-Buddha era Jawa Kuna, yang bila dicermati merupakan stilisasi kala-makara dalam wujud motif kelopak bunga, suluran, dan sulur gelung.

Kerapatan hiasnya bergantung pada bentuk dasar. Nisan berbadan segitiga terbalik biasanya sangat raya, terutama pada makam bangsawan kerajaan, sedangkan yang berbadan phallus atau gada cenderung sederhana dengan garis geometris memanjang — dan pada varian itu kepala nisanlah yang menjadi pusat estetika. Satu catatan yang dianggap penulisnya perlu ditindaklanjuti: varian perempuan dari Tipe Lombok-Bugis tidak masuk dan tidak berkembang di Lombok. Sejauh ini belum ditemukan pengaruh Bugis-Makassar pada nisan perempuan, dan menurut keduanya fenomena itu memerlukan kajian yang lebih mendalam.

Dari dua tipe itulah lahir tipe ketiga, yang mereka namai Nisan Tipe Lombok. Penggunaannya diperkirakan bermula sekitar tahun 1700-an, berdasarkan tradisi lisan masyarakat Sasak yang masih mengingat tahun kematian mendiang — bukan berdasarkan angka tahun yang tertulis, karena angka semacam itu memang hampir tidak ada. Nisan laki-lakinya memadukan bentuk dasar dari Tipe Lombok-Bugis dengan ragam hias tumpal dari Tipe Lombok-Tralaya, dengan kaki persegi, badan segitiga terbalik atau phallus, dan kepala dari kuncup bunga sampai segitiga berujung datar. Bila badannya segitiga terbalik, mukutanya cenderung segitiga berujung datar; bila badannya phallus, mukutanya biasanya kuncup Bunga Teratai atau padma.

Nisan Tipe Lombok perempuan berjalan di jalur lain. Ia mempertahankan bentuk pipih khas Tralaya tetapi menyederhanakan sayapnya dan menghilangkan motif tumpal, sambil menjaga lengkungan kala-makara bersudut runcing dan kepala datar. Yang mencolok adalah kepadatan hiasnya. Pada nisan kelompok bangsawan, suluran, sulur gelung, ceplok bunga, garis geometris, dan jalinan dedaunan memenuhi seluruh permukaan badan sampai ke bagian samping — oleh penulisnya disebut mencerminkan konsep horror vacui, keengganan pemahat membiarkan bidang kosong. Ujung luar lengkungan kala-makara yang menonjol keluar diduga menggantikan fungsi kembang awan yang sudah hilang.

Dua Nisan Aceh yang Tidak Punya Keturunan

Tipe keempat justru menarik karena kegagalannya berkembang. Nisan Tipe Aceh di Lombok hanya ditemukan dua buah, di dua lokasi berbeda. Yang pertama di Situs Makam Kuna Raja-Raja Selaparang, diklasifikasikan sebagai Nisan Aceh Tipe C dengan kronologi sekitar 1500 Masehi. Yang kedua di Situs Makam Raja Langko, diidentifikasi sebagai Nisan Aceh Tipe K dengan periode jauh lebih muda, sekitar 1700 sampai 1800 Masehi. Jarak kronologis itu menunjukkan pengaruh Aceh datang ke Lombok dalam dua fase yang berselang jauh.

Petunjuk terkuat justru datang dari batunya. Kedua nisan itu memakai batu andesit, jenis batuan yang sulit ditemukan di Pulau Lombok dan karena itu tidak lazim dipakai sebagai bahan nisan di sana. Dari situ muncul dugaan kuat bahwa keduanya diimpor langsung dari Aceh, diperkuat catatan tentang keberadaan “Kampung Keuraxa” di Aceh, pusat perajin nisan yang dikenal mengekspor produknya ke luar wilayah. “Penulis menduga tokoh di balik makam tersebut kemungkinan adalah seorang ulama atau pedagang berpengaruh yang berasal dari Serambi Mekkah,” tulis mereka. Dugaan itu belum bisa dipastikan; identitas kedua tokoh masih misteri karena minimnya dukungan data tekstual maupun tradisi lisan, dan hipotesis tentang jaringan perdagangan serta syiar Islam ini pun dinyatakan masih memerlukan validasi lewat sumber tertulis yang lebih mendalam. Yang jelas, tipologi Aceh tidak pernah diadopsi ke dalam tradisi nisan lokal Sasak. Persoalan pelestarian makam tokoh yang berada jauh dari daerah asalnya memang kerap berhadapan dengan kekosongan sumber semacam ini.

Latar historisnya panjang. Kontak Lombok dengan Jawa sudah terjadi setidaknya sejak abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, diperkuat temuan arca Siwa Mahadewa koleksi Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat yang bergaya seni Mataram Kuno abad ke-9 sampai ke-11, ditambah lingga-yoni berukuran besar, fragmen ghanta, dan reruntuhan struktur bangunan kuna. Pada era kejayaan Majapahit, Lombok tercatat masuk wilayah mandala Wilwatikta, dan Kakawin Nagarakrtagama Pupuh 14 Bait 4 menyebut wilayah-wilayah di Pulau Lombok sebagai bagian kedaulatan kerajaan itu. Tradisi lisan Sasak memperkuatnya lewat mitos pendirian Kerajaan Pujut di selatan dan naskah genealogis Piagem Batu Tulis di utara, yang sama-sama menautkan leluhur bangsawan lokal ke Majapahit.

Sementara itu, kedatangan Islam menurut Babad Lombok dipelopori Sunan Prapen, putra Sunan Ratu Giri, sekitar abad ke-16 Masehi, dimulai dari Labuhan Lombok di pantai timur untuk menghindari pengaruh kuat Kerajaan Gel-Gel di barat. Klaim itu sendiri dinyatakan perlu dikritisi karena minimnya bukti pembanding dari sumber-sumber primer di Jawa. Sebagian masyarakat masuk Islam secara sukarela, sebagian lain seperti Kadatuan Parigi dan Sarwadadi dipaksa lewat kekuatan militer, sedangkan yang menolak memilih menyingkir ke dataran tinggi di utara dan selatan — mereka dikenal sebagai orang Boda, yang sampai kini masih dijumpai di Karang Panasan dan Desa Belongas. Adapun kendali atas Lombok Timur sempat berpindah-pindah, dari Gel-Gel ke Gowa-Tallo sekitar 1640 Masehi, lalu ke Sumbawa, sampai elite lokal Sasak mengundang Kerajaan Karangasem untuk mengusir penguasa Sumbawa. Jejak perpaduan antara ajaran Islam dan tradisi setempat di Lombok terbaca justru pada bagaimana figur makhluk hidup yang normatif dihindari dalam seni Islam disamarkan dengan halus menjadi jalinan sulur dan garis dekoratif.

Kedua penulis menyebut sendiri bahwa tulisan ini baru tinjauan awal atas 12 situs di dua kabupaten, bukan pemetaan seluruh pulau. Di bagian penutup mereka merekomendasikan agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi serta Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Barat melakukan konservasi fisik yang sistematis dan mempercepat penetapan status hukum sebagai Cagar Budaya bagi lokasi-lokasi penelitian yang belum terdaftar — sejauh ini baru Situs Makam Kuna Raja-Raja Selaparang yang sudah berstatus demikian.

Baca Juga

Ilustrasi dua buku terbuka di meja kayu perpustakaan
Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah
Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod
Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ilustrasi ruang tamu rumah kayu tradisional dengan jendela menghadap perbukitan
Trailer Ngeri-Ngeri Sedap Beredar Lewat Grup WhatsApp Marga Batak
Ilustrasi rahang bergigi di meja laboratorium bersanding dengan mikroskop
Satu Butir Pati di Gigi Rangka Plawangan Ternyata Bukan Gandum
Ilustrasi ruang pertemuan dengan kursi lipat dan meja bermikrofon
Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Mahasiswa mementaskan randai di Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang
Belasan Mahasiswa Lintas Daerah Pentaskan Randai Hasil Belajar Bersama Mak Katik