- Senior digambarkan memiliki segalanya: pelari jarak jauh berprestasi di masa muda, pensiunan perusahaan kereta api yang membuatnya banyak bepergian, menikah dua kali, dan berkeluarga besar.
- Naskah menolak membaca diam itu sebagai ketundukan.
- Ambivalensi itulah yang menjadikan Senior hibrid.
- Kajian tersebut hanya menelaah satu cerpen dengan satu kerangka teori, sehingga klaim bahwa migrasi melahirkan identitas hibrid berlaku bagi tokoh-tokoh rekaan Rushdie, bukan bagi migran nyata mana pun.
Daftar Isi
Bermigrasi sering dibayangkan sebagai jalan satu arah menuju kehidupan yang lebih baik, seolah seseorang cukup berkemas, berangkat, lalu tiba sebagai versi dirinya yang lebih berhasil. Namun, cerpen In the South karya Salman Rushdie justru memperlihatkan bahwa perpindahan tidak pernah benar-benar selesai di tempat tujuan, sebab yang ikut berpindah bukan hanya tubuh, melainkan juga cara seseorang memandang kampung halaman, bahasa, pakaian, bahkan arah mata angin, sehingga identitas yang tersisa tak lagi sama dengan yang dulu dibawa pergi.
Pembacaan itu disusun Dyani Prades Pratiwi, Andina Meutia Hawa, Diah Tyahaya Iman, Nurhayati, dan Ferdinal dari Universitas Andalas dalam artikel Migration, Hybridity, and Identity in Salman Rushdie’s In the South, yang terbit di Andalas International Journal of Socio-Humanities volume 8 nomor 1 tahun 2026. Mereka membaca cerpen yang dimuat The New Yorker pada 2009 itu dengan teori hibriditas Homi K. Bhabha, lalu menyimpulkan bahwa tokoh-tokohnya hidup di ruang antara, tempat identitas bersifat cair, tidak stabil, dan terus dibentuk ulang lewat percampuran budaya.
Kelima penulis berangkat dari kegelisahan yang mereka nyatakan terang di bagian pendahuluan. Menurut naskah, banyak orang ikut bermigrasi tanpa persiapan memadai karena hanya memikirkan hal-hal baik di tempat lain, dan bayangan utopia itu memberi ilusi tanpa menimbang akibatnya. Mereka mengutip International Organization for Migration bahwa pada 2020 terdapat 281 juta migran di seluruh dunia, jumlah yang sudah lebih dari tiga kali lipat sejak 1970, lalu memilih sastra sebagai cermin untuk membaca gejala tersebut.
Dua lelaki bernama sama
Cerpen itu berkisah tentang dua lelaki paruh baya di India Selatan yang sama-sama berinisial V, dan lebih sering disebut Senior dan Junior karena yang satu tujuh belas hari lebih tua. Senior digambarkan memiliki segalanya: pelari jarak jauh berprestasi di masa muda, pensiunan perusahaan kereta api yang membuatnya banyak bepergian, menikah dua kali, dan berkeluarga besar. Junior sebaliknya hidup biasa, tak pernah pindah, tak beristri, dan sudah lama meninggalkan mimpinya bepergian lewat darat, udara, dan antariksa.
Rushdie, sebagaimana dikutip naskah, melukiskan Junior sebagai orang yang gagal menjadi peserta dalam arak-arakan kehidupan. Namun, para penulis mengingatkan bahwa pertentangan Senior dan Junior tidak otomatis sama dengan pertentangan Barat dan Timur, sebab Senior bukan Barat dan Junior bukan Timur. Poros yang sesungguhnya baru muncul ketika tokoh ketiga hadir, yakni D’Mello, sahabat Junior yang besar di Mumbai dan tak pernah berhenti membicarakan kota metropolitan itu beserta segala kemegahannya.
D’Mello selalu datang membawa cerita, kadang kisah marah tentang ketidakadilan terhadap orang miskin di permukiman kumuh Mumbai, kadang anekdot lucu tentang para pengunjung Wayside Inn, kafe terkenal di kawasan Kala Ghoda. Naskah membaca kebiasaan itu sebagai tanda bahwa ia hidup dalam nostalgia dan terus meromantisasi kampung halamannya. Dua sebab diajukan: sebagai migran ia merasa tinggal di tempat yang lebih buruk daripada kotanya sendiri, dan nostalgia adalah tahap adaptasi sekaligus perlawanan terhadap identitas asal.
Bahasa penjajah sebagai mahkota
Namun, D’Mello tidak hanya dibaca sebagai perantau yang rindu rumah. Karena ia orang kota, hidupnya terasa penuh, terhubung dengan dunia, dan fasih berbahasa Inggris, Senior dan Junior memandangnya lebih unggul, kosmopolitan, dan dinamis. Dari situ para penulis menempatkan D’Mello sebagai representasi Barat, sedangkan kedua lelaki tua itu mewakili Timur yang memandang Barat sebagai pihak yang lebih tinggi, sebuah konstruksi yang menurut naskah memang dimaksudkan untuk menundukkan Timur.
Buktinya ditemukan pada selisih usia yang janggal. D’Mello dua puluh tahun lebih muda daripada Senior dan Junior, tetapi ia mampu membuat kedua lelaki yang lebih tua itu mendengarkan ceritanya, bahkan membayangkan diri mereka sebagai dirinya. Rushdie menulis bahwa setiap kali D’Mello hadir dan berbicara, Junior merasa sedang menjalani kehidupan lain yang penuh aksi dan warna, menjadi lelaki yang tak pernah ia jadi. Bahasa Inggris, bahasa penjajah, menjadi mahkota yang membuat penguasaan itu terasa wajar.
Di mata Junior, yang belum pernah bermigrasi, Mumbai lalu menjelma utopia, tempat yang dipenuhi hal-hal lebih baik karena hanya ia kenal lewat cerita-cerita indah. Justru di situlah, menurut naskah, konstruksi pascakolonial bekerja. Inti pascakolonialisme tidak lagi soal menjajah tanah, melainkan menjajah lewat budaya, dan utopia dibaca sebagai hasil konstruksi budaya Barat yang menjajah cara pandang Timur, seolah Barat selalu lebih baik dan lebih unggul daripada tempat orang itu sendiri berdiri.
Baca juga Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya
Diam yang melawan
Namun, Timur dalam cerpen ini tidak pasif, dan para penulis bersandar pada Bhabha untuk menegaskannya. Setiap kali D’Mello datang, Senior memilih diam, padahal ia mampu berbahasa Inggris sebaik tamunya dan diam-diam bangga pada kepiawaiannya dalam apa yang ia sebut bahasa nomor satu dunia. Naskah menolak membaca diam itu sebagai ketundukan. Diam Senior adalah bentuk perlawanan, dan perlawanan itu suatu hari berubah menjadi tindakan yang diucapkan terang-terangan.
Suatu hari, ketika D’Mello kembali bercerita tentang Mumbai dengan gaya menggebu, Senior melanggar aturan diamnya dan membentak dalam bahasa Inggris, bertanya mengapa tubuh D’Mello tidak pulang saja ke sana karena kepalanya sudah lebih dulu pergi. D’Mello hanya menggeleng sedih. Ia tak lagi punya pijakan di kota asalnya, dan kota itu tinggal menjadi rumah hanya di dalam mimpi dan percakapan. Jawabannya kepada Senior, dalam kutipan cerpen di naskah, adalah bahwa ia akan mati di sini, di Selatan, di antara buah-buah masam seperti Senior.
Adegan itu menjadi poros pembacaan naskah, karena di sanalah D’Mello tampil sebagai sosok hibrid. Tubuhnya tetap berada di Selatan, tetapi batinnya terbelah, tinggal di keadaan antara yang oleh Bhabha disebut liminalitas. “Kondisi ini memperlihatkan bagaimana migran dapat kehilangan identitas yang stabil, ketika rumah menjadi ruang yang dibayangkan alih-alih kenyataan yang dijalani,” tulis Dyani Prades Pratiwi dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu.
Pada saat yang sama, bentakan itu memperlihatkan mimikri Senior. D’Mello selalu memakai bahasa Inggris untuk memamerkan keistimewaan linguistik, aspirasi, dan keberpihakannya pada modernitas kolonial, sehingga Senior membalik bahasa kolonial itu menjadi senjata. Lewat bahasa itu ia membongkar jarak D’Mello dari tanah asalnya dan menggugat klaimnya sebagai orang yang masih memiliki rumah. Namun, justru di situ muncul ambivalensi, sebab untuk melawan D’Mello, Senior tetap harus bersandar pada bahasa penjajah.
Gentleman Eropa di kantor pos
Ambivalensi, menurut Bhabha yang dikutip naskah, lahir dari cinta sekaligus benci terhadap sesuatu. Senior membenci D’Mello sebagai wakil Barat, tetapi ia meniru penampilan, nilai, norma, bahkan cara berpakaian Barat. Rushdie menggambarkan Senior gemar pergi ke kantor pos dengan menyamar sebagai gentleman Eropa, mengenakan jas dan topi, memutar-mutar tongkat bergagang perak, meniru sosok dari Piccadilly yang pernah ia baca dan lelaki dalam lagu lama kesukaannya.
Ambivalensi itulah yang menjadikan Senior hibrid. Berbeda dengan D’Mello, ia tidak merangkul hibriditasnya, tetapi juga tidak bisa lolos darinya, sehingga ia menempati ruang antara. Para penulis membaca gagasan ruang ketiga Bhabha sebagai hasil negosiasi yang memperlakukan kedua budaya yang mengapitnya secara setara. Dengan mengaburkan batas antara kita dan mereka, hubungan dua budaya itu dapat berjalan berdampingan, bukan saling menundukkan seperti dalam pembacaan tentang D’Mello sebelumnya.
Baca juga Lima Lukisan Retno Amalia Pratiwi Menjawab Novel Gibran
Selatan yang hanya sebuah fiksi
Gagasan ruang antara itu juga hadir lewat stereotip Utara dan Selatan. Dalam cerpen, orang selatan digambarkan hangat, lamban, dan sensual, sedangkan orang utara seperti ikan yang dingin, dan naskah menyandingkannya dengan stereotip Timur yang eksotis dan Barat yang kaku. Utara adalah Mumbai, Selatan adalah kota tempat tinggal kedua V. Dari kisah tsunami dalam cerpen, para penulis menduga Rushdie mungkin terilhami tsunami 2004 yang melanda Asia Tenggara dan menjangkau Tamil Nadu di selatan India.
Justru Senior sendiri yang meruntuhkan stereotip itu. Dalam kutipan cerpen yang dipilih naskah, ia berkata bahwa selatan adalah sebuah fiksi yang ada hanya karena manusia sepakat menyebutnya begitu, dan seandainya bumi dibayangkan terbalik, merekalah yang menjadi orang utara. Mata angin, katanya, seperti uang yang bernilai hanya karena manusia mengatakannya. Belakangan Mumbai pun dilihat bukan milik utara ataupun selatan, melainkan kota perbatasan terbesar, tempat di antara.
Para penulis membaca pergeseran itu sebagai tanda bahwa Senior telah menegosiasikan hibriditasnya. Ia menjadi ruang ketiga yang menggeser cara pandangnya terhadap batas stereotip Timur dan Barat, lalu melihat kedua budaya sebagai setara. Menurut naskah, pergeseran itu dipengaruhi percampuran budaya dalam dirinya, sebab ia digambarkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan bersentuhan dengan banyak budaya. Mumbai lalu menjadi ruang hibrid, persis seperti D’Mello yang berasal dari sana.
Kesimpulan naskah merangkum ketiganya sebagai tiga wajah persoalan migran. Junior, penduduk yang tak pernah bermigrasi, memandang Mumbai sebagai utopia, D’Mello mewakili migran yang hidup dalam nostalgia, sedangkan Senior disebut sebagai migran yang menghadapi distopia di tempat lain. Hibriditas ditemukan pada Senior dan D’Mello. “Tokoh-tokoh hibrid dalam cerita ini muncul sebagai sumber ketegangan, yang menyoroti kompleksitas pengalaman migran,” tulis kelima penulis.
Temuan ini tetap perlu dibaca dalam batasnya. Kajian tersebut hanya menelaah satu cerpen dengan satu kerangka teori, sehingga klaim bahwa migrasi melahirkan identitas hibrid berlaku bagi tokoh-tokoh rekaan Rushdie, bukan bagi migran nyata mana pun. Dugaan tentang tsunami 2004 pun disampaikan naskah sebagai kemungkinan, bukan kepastian. Harapan para penulis agar kajian ini menjadi pedoman masyarakat menghadapi migrasi, dengan demikian, masih bertumpu pada tafsir atas sebuah teks sastra.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Rujukan yang tidak saling bertemu
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal yang tidak saling bertemu. Pembahasan melekatkan distopia pada D’Mello, migran yang merasa hidup lebih buruk daripada di kotanya, sementara kesimpulan menyebut Senior sebagai migran yang kembali ke kampung halaman dan menghadapi distopia, padahal bagian pembahasan tidak menceritakan Senior pulang kampung. D’Mello juga disebut pindah dari kota ke tempat yang lebih kecil, tetapi tetap dijadikan wakil Barat, dan satu kalimat bahkan salah mengetik West menjadi Wets.
Soal rujukan, tubuh naskah menyebut artikel Wiegandt terbit 2023, sedangkan daftar pustaka mencantumkannya sebagai terbitan 2025. Definisi migrasi dari International Organization for Migration dikutip bertahun 2019, tetapi di daftar pustaka entri itu tidak bertahun. Beberapa nama di daftar pustaka, seperti Hall, Barth, serta Ashcroft bersama rekan-rekannya, tidak pernah dirujuk di tubuh naskah. Celah-celah ini tidak meruntuhkan pembacaan atas cerpen, tetapi layak diperiksa sebelum naskah dijadikan pegangan.
Pada akhirnya, cerpen tentang tiga lelaki di sebuah kota selatan ini meninggalkan pertanyaan yang lebih luas daripada soal siapa yang pergi dan siapa yang menetap. Bila Junior yang tak pernah pindah tetap membayangkan Mumbai sebagai tempat yang lebih baik, D’Mello yang pernah pindah tak lagi bisa pulang, dan Senior yang banyak bepergian justru menyebut selatan sebagai fiksi, apakah identitas seorang migran terbentuk oleh perjalanan itu sendiri, atau oleh cerita yang terus diulang tentang tempat yang ditinggalkan?














