- Tujuh cerpen edisi Hadiah Majalah Horison 1969 dibedah unsur intrinsiknya.
- Pemenang menerima Rp5.000,00, dipilih H.B. Jassin, Taufiq Ismail, dan Arief Budiman.
- Ideologi Horison disimpulkan sebagai humanisme universal dari Manifes Kebudayaan 1963.
- Cerpen Umar Kayam dan Danarto disebut acuan karya baik menurut majalah itu.
Daftar Isi
Alief Agustiana membaca ulang tujuh cerpen yang pernah dimuat Majalah Horison sepanjang 1966 hingga 1968, lalu dikumpulkan redaksinya dalam satu edisi hadiah pada 1969. Ia tidak membacanya sebagai penikmat cerita. Yang ia cari adalah keyakinan apa yang sebetulnya dipegang sebuah majalah sastra ketika memutuskan cerpen mana yang pantas diberi uang dan pujian.
Bersama Nana Suryana dan Mochammad Irfan Hidayatullah, keduanya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Alief menuliskan pembacaan itu dalam Ideologi Majalah Horison pada Cerpen-Cerpen Edisi Hadiah Majalah Horison Tahun 1969: Kajian Sosiologi Sastra, yang terbit di Metahumaniora, 15(1), 2025. Ketiganya berangkat dari satu anggapan sederhana bahwa penerbit tidak pernah memilih tanpa alasan.
Tujuh cerpen yang dikumpulkan Alief Agustiana
Edisi yang dipakai Alief adalah Horison nomor 4 tahun 1969, yang memberi apresiasi kepada karya sastra terbaik yang pernah dimuat majalah itu pada 1966, 1967, dan 1968. Pemenangnya menerima Rp5.000,00. Di samping karya terbaik, redaksi juga memilih karya yang mendapat pujian tanpa disertai hadiah, sehingga yang sampai ke tangan Alief berjumlah tujuh cerpen sekaligus.
Pemilihannya dikerjakan tiga orang, yaitu H.B. Jassin, Taufiq Ismail, dan Arief Budiman. Ketiganya bukan nama asing di tubuh majalah itu sendiri, dan justru di situlah Alief melihat celah untuk membaca sikap redaksi. Siapa yang memegang palu penilaian, menurut pembacaannya, ikut menentukan karya macam apa yang kemudian dianggap layak disebut baik oleh Horison.
Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya
Tujuh cerpen itu ditulis tujuh orang yang berbeda. Umar Kayam menyumbang “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”, M. Fudoli menulis “Si Kakek dan Burung Dara”, A. Romli menulis “Pendjual Kapas”, Danarto menulis “Rintrik”, J. Sijaranamual menulis “Larut Malam”, Satyagraha Hoerip menulis “Sebelum jang Terakhir”, dan Gerson Poyk menulis “Oleng Kamoleng”.
Yang menarik perhatian Alief lebih dahulu adalah cerpen Umar Kayam. Dua tahun sebelum edisi itu terbit, pada masa Orde Lama, cerpen-cerpen di Indonesia didominasi corak revolusioner. Kayam justru menulis tentang Jane dan Marno, dua orang yang rindu pada masa lalu masing-masing dan menjalin hubungan yang hanya menjadi pelarian, tanpa satu pun urusan revolusi di dalamnya.
Apa yang ditemukan Alief pada cerpen Danarto dan Gerson Poyk
Dari Danarto, Alief mencatat tokoh bernama Rintrik, seorang manusia yang disebut sempurna sifat kemanusiaannya dan bertindak sebagai juru selamat di sebuah lembah. Rintrik memperjuangkan nilai-nilai kebaikan lewat ceramah yang ia sampaikan kepada para petani di tempat umum, dibalut hal mistik. Amanatnya, kata Alief, perjuangan tetap harus dijunjung sekalipun hasilnya meleset dari harapan.
J. Sijaranamual membawa Alief ke arah yang lebih gelap. Tokoh utama “Larut Malam” adalah bekas kepala desa yang serakah, yang rela membunuh istrinya sendiri demi membangun oligarki keluarga. Penyesalan tokoh itu disampaikan lewat suasana yang bergerak antara kenyataan dan alam kejiwaan seorang pemabuk, dan amanatnya sederhana saja, bahwa ketamakan manusia bukan hal yang baik.
Gerson Poyk menempatkan ceritanya di rumah bordil. Tokoh utamanya seorang warga negara asing asal Jerman yang dahulu berprofesi sebagai pastor, dibawa dan dijebak oleh seorang tukang cukur ke rumah bordil miliknya, lalu menyaksikan hidup seorang pelacur yang tersiksa. Poyk memaparkannya dengan jenaka, tetapi Alief mencatat kepahitan yang tetap terasa di baliknya.
Tiga cerpen sisanya menambah warna yang lain. M. Fudoli menulis duka seorang kakek di perdesaan berbukit dengan teknik kilas balik yang hati-hati, A. Romli menulis ketakutan menghadapi kematian lewat percakapan di toko perlengkapan jenazah, dan Satyagraha Hoerip menulis keasingan seorang tokoh di dalam kereta bersama saudaranya, Yusak, dan seorang kondektur yang sama-sama menua.
Baca juga Empat Puluh Teka-teki Tua di Pasaman Barat
Kalimat yang dibaca Alief di halaman pertama Horison
Setelah tujuh cerpen itu selesai dibedah, Alief dan kedua rekannya kembali ke halaman awal edisi pertama Horison, Juli 1966. Di sana, dengan ejaan lama yang mereka pertahankan sebagaimana aslinya, tercetak “semangat untuk memperdjuangkan kembali semua nilai-nilai demokratis dan kemerdekaan manusia, martabat manusia Indonesia”. Kalimat itu jadi kunci bagi seluruh pembacaan mereka.
Kalimat itu, menurut Alief, sejalan dengan rumusan humanisme universal dalam Naskah Manifes Kebudayaan yang terbit pada 1963. Di naskah itu kebudayaan universal dirumuskan sebagai perjuangan budi nurani untuk memerdekakan setiap manusia dari belenggunya, menuntut kebebasan dari kemiskinan dan rasa takut, serta hak mengeluarkan pendapat yang lazim disebut orang sebagai demokrasi.
Sambungan antara keduanya bukan kebetulan. Alief mendaftar nama-nama di tubuh redaksi Horison yang ikut menandatangani Manifes Kebudayaan, yaitu H.B. Jassin, DS Moeljanto, Zaini, Taufiq Ismail, Arief Budiman, dan Mochtar Lubis. Majalah itu sendiri didirikan Mochtar Lubis bersama P.K. Ojong, Zaini, Arief Budiman, dan Taufiq Ismail, lalu terbit sebulan sekali seharga lima rupiah.
Kesimpulan ketiganya ditulis tanpa berputar. “Hasil penelitian membuktikan bahwa ideologi Majalah Horison merupakan humanisme universal”, tulis Alief Agustiana, Nana Suryana, dan Mochammad Irfan Hidayatullah pada bagian awal naskah mereka. Semangat itulah yang menurut mereka dipakai para juri sebagai tolok ukur ketika menilai cerpen mana yang berhak menang.
Ali Sadikin dan jaminan yang ia ucapkan
Bagian berikutnya membawa Alief keluar dari halaman majalah. Pada masa Orde Lama, karya sastra dituntut sejalan dengan revolusi yang berhaluan Manipol/Usdek, dan karya bernapaskan ideologi Lekra kemudian tidak diizinkan terbit oleh pemerintahan Orde Baru. Salah satu yang ia sebut adalah Perburuan, novel Pramoedya Ananta Toer yang terbit pada 1950.
Di awal masa Orde Baru, pemerintah justru memberikan jaminan bahwa politik tidak lagi campur tangan dalam urusan berkesenian. Alief mengangkat ceramah Gubernur Ali Sadikin di peresmian Pusat Kesenian Jakarta pada 10 November 1968: “Politik tidak boleh intervensi ke dalam Pusat Kesenian ini, semacam pra-Gestapu dulu”, kata Ali Sadikin di hadapan hadirin waktu itu.
Jaminan semacam itu, dalam pembacaan Alief, menjelaskan mengapa Horison tidak diintervensi pemerintahan baru. Cerpen Umar Kayam dan cerpen M. Fudoli, yang sibuk dengan kerinduan dan kesepian alih-alih revolusi, akan berhadapan dengan pemerintah seandainya terbit pada masa Sukarno. Di bawah pemerintahan berikutnya, karya Kayam justru memenangkan hadiah.
Baca juga Sungai Batang Tembesi Keruh Dilukis dalam Kilau Senja
Alief lalu meminjam pemikiran Escarpit untuk menamai apa yang dilakukan Horison. Pemberian hadiah sastra, menurut Escarpit, adalah bentuk sponsorisasi tidak langsung yang mampu memengaruhi pasar sastra, sebab pemberi sponsor hanya memberi penghasilan kepada pengarang yang sesuai standarnya. Dari sudut itu, hadiah Horison adalah patronase, bukan sekadar ucapan selamat.
Hasilnya, menurut Alief, terbaca pada antusiasme para sastrawan untuk dimuat di sana. Ia menyebut Danarto, esais Goenawan Mohamad, serta akademisi sekaligus penyair Sapardi Djoko Damono sebagai sebagian dari nama baru yang muncul lewat majalah itu. Horison membentuk keseragaman nilai artistik sesuai ideologinya, dan para penulis datang mendekat.
Kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca naskah
Naskah Alief dan kedua rekannya menyimpan beberapa hal yang bisa diperiksa siapa pun yang membacanya sampai selesai. Judul cerpen Gerson Poyk ditulis “Oleng Kamoleng” pada bagian pembahasan, lalu berubah menjadi “Oleng Kemoleng” beberapa alinea kemudian. Judul cerpen Satyagraha Hoerip mengalami hal serupa, berpindah dari ejaan lama ke ejaan baru tanpa penjelasan.
Hal kedua ada di daftar pustaka. Cerpen J. Sijaranamual dicatat terbit di Horison nomor 7 tahun ketiga pada halaman 202 sampai 204, sementara cerpen Satyagraha Hoerip dicatat terbit di Horison nomor 12 tahun ketiga pada rentang halaman yang persis sama. Dua karya berbeda menempati halaman yang sama, dan itu bisa dicek baris demi baris oleh pembaca.
Hal ketiga menyangkut penyebutan. Sepanjang naskah, ketujuh cerpen berkali-kali disebut sebagai cerpen pemenang, padahal Alief sendiri menyatakan bahwa cerpen A. Romli dan cerpen Gerson Poyk hanya mendapat pujian redaksi tanpa hadiah. Sumber ceramah Ali Sadikin pun ditulis berasal dari Horison nomor 4 tahun 1968, sementara edisi hadiahnya disebut terbit pada 1969.
Naskah ini juga tidak memuat satu kalimat pun tentang batas jangkauannya sendiri. Bahan yang dipegang Alief hanya tujuh cerpen dari satu edisi satu tahun, dan majalahnya pun diambil dari sebuah situs web pribadi, bukan arsip lembaga. Sejauh mana simpulan itu boleh dibawa ke luar tahun 1969 harus ditakar sendiri oleh pembacanya.
Yang tersisa dari pembacaan Alief Agustiana adalah gambaran tentang sebuah majalah yang memilih dengan sadar. Horison tidak menyuruh Umar Kayam atau Danarto menulis dengan cara tertentu, melainkan memberi hadiah kepada mereka yang sudah menulis begitu, dan dari tumpukan pilihan itulah keyakinan redaksinya terbaca bertahun-tahun kemudian oleh orang yang tidak pernah menemui mereka.














