Sungai Batang Tembesi Keruh Dilukis dalam Kilau Senja

A A

Jembatan berpelengkung di Sarolangun, Jambi, membentang di atas air sungai yang keruh kecokelatan. [Foto: Indonesiagood/Wikimedia Commons CC BY 4.0]

  • Batang Tembesi sepanjang 210 kilometer adalah aliran terbesar di Kabupaten Sarolangun.
  • Tujuh sungai di Sarolangun tercatat tercemar penambangan tanpa izin.
  • Uji laboratorium 2010 sampai 2012 sudah menemukan merkuri di sungai tersebut.
  • Karya Kilau di Atas Keruh dikerjakan dengan teknik stensil di atas kanvas.
Daftar Isi
  1. Sungai sepanjang 210 kilometer yang berubah warna
  2. Merkuri yang tercatat sejak lebih dari satu dasawarsa
  3. Jembatan Beatrix jadi titik fokus kanvas
  4. Indah dari jauh, keruh dari dekat
  5. Yang tidak cocok di dalam naskah

Dari atas Jembatan Beatrix, Sungai Batang Tembesi terlihat lapang dan tenang, apalagi menjelang matahari terbenam. Turun sedikit ke bawah jembatan, pemandangannya berganti: air berwarna cokelat keruh, dan sampah rumah tangga menumpuk di sekitar tiang penyangga. Jarak antara dua pemandangan itu hanya beberapa meter, tetapi keduanya menceritakan dua hal yang sama sekali berbeda tentang sungai yang sama.

Jarak itu yang dijadikan Lia Handayani bersama Ahmad Solihin dan Hamzah sebagai bahan sebuah karya cetak grafis. Laporannya terbit dalam artikel River Pollution in Batang Tembesi as an Idea for Representational Printmaking Creation di V-Art: Journal of Fine Art, Volume 5 Nomor 2 tahun 2026. Ketiganya berasal dari Program Studi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, dan pencemaran sungai itu dijadikan sumber gagasan, bukan sekadar latar cerita.

Yang dihasilkan bukan tulisan tentang pencemaran, melainkan sebuah karya berjudul Kilau di Atas Keruh berukuran 110 kali 140 sentimeter. Karya itu dikerjakan dengan teknik stensil memakai cat akrilik di atas kanvas, dan menampilkan panorama Jembatan Beatrix beserta sungainya pada saat senja. Karya itu diselesaikan pada 2026 dan dipajang dalam bingkai, dengan ukuran yang membuat pemandangan sungai itu hadir hampir sebesar aslinya di hadapan orang yang berdiri menontonnya.

Sungai sepanjang 210 kilometer yang berubah warna

Batang Tembesi bukan sungai kecil. Ia daerah aliran sungai terbesar di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, dengan panjang sekitar 210 kilometer, lebar antara 20 sampai 250 meter, dan kedalaman rata-rata 5 sampai 10 meter. Ukuran itu membuatnya sanggup menjadi jalur angkutan sekaligus penopang kegiatan ekonomi warga di sepanjang tepinya, dari hulu sampai ke pusat pasar.

Sungai sepanjang dua ratus kilometer lebihSungai sepanjang dua ratus kilometer lebihSungai sepanjang dua ratus kilometer lebihUkuran Batang Tembesi dan keadaan sungai di sekitarnya210Kilometerpanjang sungai20-250Meterlebar sungai5-10Meterkedalamanrata-rata7Sungaitercemar diSarolangunJalan risetnyaSungai diamatiWarga diwawancaraiSketsa dibuatSungai ini menghubungkan Ulu Batang Asai dan Ulu Limun ke PasarBawah Sarolangun.
Sumber: Lia Handayani, Ahmad Solihin, dan Hamzah, River Pollution in Batang Tembesi as an Idea for Representational Printmaking Creation, V-Art: Journal of Fine Art, 5(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Jalurnya menghubungkan kawasan Ulu Batang Asai dan Ulu Limun melalui Muara Asai menuju pusat perdagangan Pasar Bawah Sarolangun, terutama di sekitar Jembatan Beatrix, lalu terus ke hilir ke arah Muara Tembesi dan Kota Jambi. Sungai ini, menurut penulis, bukan hanya urusan ekonomi melainkan juga bagian dari ingatan bersama dan jati diri warga Sarolangun yang tumbuh di tepinya.

Yang berubah adalah warnanya. Penulis menggambarkan air yang dulu jernih dan bisa langsung dipakai kini tampak keruh dan kecokelatan, dengan kesan seperti susu bila dilihat dari kejauhan. Perubahan itu disebut sebagai paradoks yang dirasakan langsung: dari jauh terlihat memikat, dari dekat menyimpan ancaman yang tidak kecil bagi kesehatan warga yang masih memakainya untuk keperluan sehari-hari di tepi sungai.

Tempat itu juga punya arti pribadi bagi penulisnya. Jembatan Beatrix disebut sebagai tempat ia biasa berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari, dan dari sanalah ia terbiasa memandang sungai yang lapang. Selisih antara ingatan tentang sungai yang dulu jernih dan keadaannya sekarang itulah yang disebut melahirkan keresahan, lalu berubah menjadi gagasan berkarya.

Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya

Merkuri yang tercatat sejak lebih dari satu dasawarsa

Keterangan resminya sudah lama ada. Menurut laporan instansi lingkungan hidup Sarolangun yang dikutip penulis, tujuh sungai di kabupaten itu tercemar oleh penambangan tanpa izin, dan Batang Tembesi termasuk yang digolongkan berada dalam keadaan lingkungan yang tidak aman. Uji laboratorium pada rentang 2010 sampai 2012 sudah menemukan merkuri yang berasal dari penambangan emas tanpa izin di sepanjang alirannya.

Jalan Batang Tembesi sampai jadi lukisanJalan Batang Tembesi sampai jadi lukisanJalan Batang Tembesi sampai jadi lukisanSungai terbesar di Kabupaten Sarolangun, Provinsi JambiDuluAirnya jernih dan bisa langsung dipakai wargaSarolangun2010Peraturan daerah pengelolaan sampah rumah tanggaterbit2012Uji laboratorium menemukan merkuri dari tambangemas tanpa izinKiniTujuh sungai di Sarolangun tercatat tercemar tambangliar2026Karya cetak grafis Kilau di Atas Keruh selesai dikanvasSumber pencemarnya disebut tambang emas tanpa izin, limbah sawit,dan sampah rumah tangga.
Sumber: Lia Handayani, Ahmad Solihin, dan Hamzah, River Pollution in Batang Tembesi as an Idea for Representational Printmaking Creation, V-Art: Journal of Fine Art, 5(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Keadaan itu diperberat oleh sampah rumah tangga. Peraturan daerah tentang pengelolaan sampah rumah tangga yang terbit pada 2010 disebut belum dipatuhi sebagaimana mestinya, sehingga bahan pencemar kimia dan limbah rumah tangga menumpuk bersamaan. Penulis menambahkan limbah industri kelapa sawit sebagai sumber ketiga yang ikut menyumbang, sehingga tiga jalur pencemaran berjalan bersamaan di badan air yang sama, tanpa satu pun yang berhenti lebih dahulu daripada yang lain.

Mereka juga mengutip penelitian lain tentang beban pencemaran di sungai itu, yang menyimpulkan bahwa beban tersebut sudah melampaui daya dukung yang dibutuhkan agar ekosistem sungai tetap sehat. Keterangan itulah yang dijadikan penulis sebagai dasar untuk mengangkat pencemaran sebagai pokok karya, bukan sekadar kesan pribadi saat berdiri di jembatan pada sore hari. Keterangan resmi dan penelitian itu ditempatkan lebih dahulu, baru sesudahnya bentuk karyanya disusun.

Jembatan Beatrix jadi titik fokus kanvas

Di atas kanvas, yang paling menarik perhatian adalah jembatannya. Jembatan Beatrix digambarkan dari sudut samping yang menyerong, dengan lengkungan berwarna kuning keemasan sebagai titik fokus utama. Garis-garis menyerong di sepanjang badan jembatan mengarahkan pandangan mata ke garis cakrawala, tempat matahari terbenam muncul di atas hamparan sungai. Susunan itu memberi kesan ruang yang dalam sekaligus menghubungkan jembatan dengan sungainya.

Latar belakangnya berupa panorama senja dengan gradasi ungu, merah muda, jingga, dan krem di langit. Awan digambar dengan bentuk yang disederhanakan, sementara siluet bukit dan tumbuhan di kedua tepi sungai menjaga keseimbangan susunannya. Semua itu memberi kesan hangat, tenang, dan tidak menakutkan sama sekali bagi yang melihatnya sekilas, sehingga bagian atas kanvas justru terbaca sebagai pemandangan yang menyenangkan.

Permukaan sungainya yang berbeda. Ia didominasi cokelat, jingga, dan kemerahan, warna yang menurut penulis bukan sekadar pantulan cahaya senja melainkan lambang keadaan ekologi sungai tersebut. Keindahan langit dan kekeruhan air ditempatkan berdampingan dalam satu bidang gambar, dan justru pertemuan itulah yang ingin ditonjolkan penulisnya sebagai ironi yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata kepada orang yang menontonnya.

Bentuk yang dipakai tidak meniru kenyataan mentah-mentah. Penulis memperbesar sebagian bentuk, menajamkan kontras, dan menyederhanakan atau menghilangkan unsur tertentu agar perhatian penonton tertuju pada penanda kerusakan. Dua cara itu disebut distorsi dan disformasi, dan keduanya lazim dipakai agar sebuah karya berbicara lebih keras daripada sebuah foto biasa yang merekam keadaan apa adanya tanpa penekanan.

Baca juga Rumah Bolon Jadi Gaun, Atap Segitiganya Naik ke Bahu

Sebelum sampai pada bentuk akhirnya, penulis membuat tiga sketsa digital sebagai pilihan. Ketiganya diberi judul Estetika yang Terluka, Kilau di Atas Keruh, dan Saksi Bisu Aliran Pekat. Ketiganya dinilai dari kekuatan susunan dan kesesuaiannya dengan pesan ekologis yang hendak disampaikan, lalu satu di antaranya dipindahkan ke kertas manila yang dipotong menjadi acuan cetak. Dua sketsa yang lain ditinggalkan dan tidak dilanjutkan ke tahap pengerjaan.

Indah dari jauh, keruh dari dekat

Pilihan tekniknya pun punya alasan yang disebutkan. Stensil menghasilkan bidang warna yang rata dan bertepi tegas, dengan kontras kuat dan bentuk yang berulang. Sifat itu dianggap cocok untuk menyampaikan kritik sosial, karena gambarnya tidak berlapis-lapis dan pesannya tidak mudah tersamar oleh detail yang tidak perlu ada. Warna yang rata membuat batas antara langit dan air terbaca jelas.

Ada satu alasan lagi yang lebih halus. Pengerjaan stensil berlangsung bertahap, satu lapis warna demi satu lapis warna, dan penulis menyamakannya dengan cara pencemaran bekerja: menumpuk sedikit demi sedikit sampai akhirnya tidak bisa diabaikan. Cara mengerjakan karya dan cara sungai itu rusak dianggap berjalan dengan irama yang sama, yaitu pelan tetapi tidak pernah berhenti.

Sebagai pembanding, penulis menyebut dua karya cetak saring Shepard Fairey, yaitu karya tahun 2022 tentang senja yang indah akibat pencemaran udara dan karya tahun 2024 tentang sosok perempuan yang berusaha bertahan di air bergolak. Bedanya, karya dari Sarolangun ini tidak memakai sosok manusia dan tidak memakai lambang kota, melainkan langsung menampilkan sungainya sebagai pokok gambar, lengkap dengan jembatan yang dikenal warga.

Yang tidak cocok di dalam naskah

Pembaca yang teliti akan menemukan satu hal yang membingungkan. Bagian hasil dan ringkasan menyebut karya yang diwujudkan berjudul Kilau di Atas Keruh, yang merupakan sketsa kedua dari tiga sketsa alternatif. Namun keterangan gambar untuk sketsa terpilih justru menuliskan judul sketsa ketiga, yaitu Saksi Bisu Aliran Pekat. Pembaca tidak bisa memastikan sketsa mana yang sebenarnya dijadikan karya akhir.

Selisih kecil lainnya menyangkut sumber rujukan. Angka lebih dari 1,7 miliar orang yang masih bergantung pada sumber air tercemar disebut berasal dari laporan badan kesehatan dunia tahun 2022 di dalam badan tulisan, sementara daftar pustakanya mencantumkan tahun 2025 untuk sumber yang sama. Satu penelitian tentang beban pencemaran juga tercantum dua kali di daftar pustaka dengan rentang halaman yang berbeda.

Hal ketiga bukan kekeliruan, melainkan batas yang perlu disadari. Karya ini tidak mengukur apa pun. Ia tidak menambah data baru tentang kadar merkuri, tidak memantau perubahan mutu air, dan tidak menguji apakah orang yang melihatnya benar-benar berubah sikap. Yang ditawarkan adalah cara memandang, bukan bukti tambahan tentang keadaan sungai itu, dan penulisnya sendiri menempatkan karyanya sebagai ajakan, bukan sebagai temuan ilmiah.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Yang tersisa dari kerja ini adalah satu kalimat yang tidak perlu ditulis. Sebuah kanvas berukuran satu setengah meter memperlihatkan senja yang cantik di atas air yang keruh, dan siapa pun yang pernah berdiri di Jembatan Beatrix akan langsung tahu bagian mana yang sedang dipersoalkan. Itulah keuntungan sebuah gambar yang tidak dimiliki laporan laboratorium mana pun.

Bagikan

Baca Juga

Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80
Monumen Bundo Kanduang Sijunjung dan Empat Warnanya
Parno Adat Perkawinan Kerinci Kekurangan Tukang Parno
Kucing Hitam Jadi Motif Tujuh Karya Batik Tulis Si Upiak
Wayang KASPO Dibuat dari Papan Limbah Kulit Singkong
Persentase Minyak Mentah Lima Sumur Jambi Ditebak Model Linear