- Badan Wayang KASPO dibuat dari papan partikel berbahan limbah kulit singkong.
- Produksi singkong nasional disebut lebih dari 18,3 juta ton pada 2020.
- Papan partikelnya disimpan tiga bulan tanpa serangan rayap maupun jamur.
- Tiga edisi sudah terbit: Jawara, Andalas, dan Borneo, masing-masing dua suku.
Daftar Isi
KASPO adalah singkatan yang dipanjangkan penulisnya menjadi Wayang Alam yang Adaptif Nusantara Go-green Kulit Singkong Asli Sirkular dan edukatif Pelestari Organik. Nama itu juga diambil dari telo kaspo, sebutan setempat untuk satu jenis singkong. Wujudnya wayang rakit yang badannya dibuat dari papan berbahan limbah kulit singkong, dan busananya bisa dilepas lalu diganti.
Karya itu dibuat Danti Rizki Amalia, Reza Pahlawan, Cholis Mahardhika, dan Dedy Sartono dari Departemen Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Yogyakarta. Laporannya berjudul Wayang KASPO: Wayang Rakit Kontemporer Berbusana Adat dari Limbah Kulit Singkong sebagai Edukasi Budaya Berkelanjutan, terbit di Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, Volume 9 Nomor 1 tahun 2025. Naskahnya diterima 7 Juli 2025 dan disetujui 16 Desember 2025.
Kulit Singkong dan Racun yang Tidak Stabil
Titik berangkatnya angka produksi. Indonesia disebut sebagai salah satu penghasil singkong terbesar di dunia, dengan produksi nasional lebih dari 18,3 juta ton per tahun pada 2020. Kabupaten Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk wilayah dengan produksi tinggi, tetapi pengelolaan limbahnya belum mengimbangi jumlah panennya.
Kulit singkong yang menumpuk bukan sampah yang diam. Naskah itu menyebut limbah tersebut mengandung senyawa sianida yang tidak stabil dan menimbulkan bau tidak sedap, sehingga berpotensi merusak kualitas tanah dan lingkungan di sekitarnya. Keadaan itulah yang disebut menuntut jalan keluar yang tidak berhenti pada pengurangan limbah semata.
Jalan keluar yang dipilih adalah mengolah limbah menjadi produk kreatif berbasis budaya. Pendekatan itu disandarkan pada gagasan ekonomi sirkular, yang oleh penulisnya diterjemahkan sebagai pemanfaatan kembali limbah sebagai sumber daya bernilai guna. Selain menekan pencemaran, pengolahan semacam itu dinilai membuka lapangan kerja dan menumbuhkan industri kreatif setempat.
Persoalan keduanya berjalan beriringan. Naskah itu menyebut dominasi budaya Barat membuat pola pikir dan gaya hidup modern dijadikan tolok ukur kemajuan, sehingga budaya lokal terpinggirkan dan literasi budaya generasi muda ikut menurun terhadap identitas kulturalnya sendiri.
Pengamatan yang dikutipnya lebih tajam lagi. Supiyah dan rekan-rekannya pada 2021 mencatat anak berusia lima sampai enam tahun belum mengenali suku bangsanya sendiri, suku teman sebayanya, maupun pakaian adat ketika ketiganya diperlihatkan dalam bentuk gambar. Dari catatan itulah media belajar yang lebih dekat dengan dunia bermain anak dianggap perlu.
Tiga Tahap Menurut Model Gustami
Metode yang dipakai adalah metode penciptaan seni kriya model Gustami terbitan 2007. Model itu berisi tiga tahap utama, yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan karya. Pilihan itu disebut relevan karena menuntut keterpaduan antara gagasan, pertimbangan estetis, serta aspek teknis dan fungsional karya yang hendak dibuat.
Tahap eksplorasi berisi penggalian ide lewat observasi lapangan, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Pengamatannya diarahkan pada pengelolaan limbah kulit singkong di Gunungkidul dan perkembangan kerajinan wayang. Wawancaranya melibatkan perajin, pelaku industri pengolahan singkong, dan pemerhati seni kriya untuk memperoleh data soal bahan, teknik, dan peluang pengembangan produk.
Tahap perancangan dimulai dari sketsa alternatif yang dibuat manual, lalu dilanjutkan dengan visualisasi digital berupa gambar tampak depan, tampak samping, dan detail ornamen. Yang dirancang bukan hanya badan wayangnya, melainkan juga sistem rakitnya, busana adat Nusantara, tongkat, pengait, kartu permainan, dan kemasan produk.
Pertimbangannya ditulis berderet: estetika, fungsi, ergonomi, keamanan, kenyamanan, teknik produksi, filosofi, makna simbolik, nilai edukatif, dan peluang ekonomi. Karakter penggunanya ikut menentukan, yaitu anak berusia lima tahun ke atas, sehingga bentuknya dibuat aman, mudah dirakit, dan menarik dilihat oleh mata anak-anak.
Baca juga Enam Benda Tradisi Mowuwusoi Dibaca dalam Tiga Lapis Makna
Dari Kulit Menjadi Lembaran Papan
Papan partikel yang dipakai dibuat lewat lima langkah berurutan. Kulit singkong disortir, dikeringkan, dihaluskan, dicampur dengan perekat berbasis pati, lalu dicetak menjadi lembaran papan. Perekat berbasis pati itu dipilih agar bahannya tetap berasal dari sumber yang sama dengan limbahnya, yaitu tanaman singkong.
Lembaran yang sudah jadi kemudian dipotong mengikuti pola wayang dengan teknik potong laser, dirakit komponennya, dan diwarnai permukaannya dengan teknik sungging. Pengerjaannya melibatkan mitra kerja di luar tim peneliti, yaitu kelompok pengolah singkong, jasa potong laser, percetakan kartu permainan, dan perancang kemasan produk.
Ketahanannya diuji dengan cara sederhana. Papan partikel disimpan kurang lebih tiga bulan dan tidak menunjukkan tanda serangan rayap maupun pertumbuhan jamur. Uji fisiknya berupa perlakuan mekanis wajar seperti pembengkokan dan tekanan ringan, dan papan itu disebut mampu menahan gaya tanpa retak maupun patah, serta tahan air dalam jumlah wajar.
Wayang yang Boleh Dibongkar Pasang
Wayang KASPO sengaja tidak diikat pada pakem pewayangan tradisional. Konsep rakitnya mengambil prinsip dress up seperti pada permainan boneka kertas, tetapi dikembangkan menjadi wayang tiga dimensi. Penggunanya bisa merakit, melepas, dan mengganti busana adat Nusantara sesuai edisi yang tersedia, lalu mewarnai pengalaman bermainnya sendiri.
Tiap produk dilengkapi tiga jenis kartu permainan. Kartu Terka berisi tebak gambar pakaian adat, Kartu Kata berisi percakapan berbahasa daerah, dan Kartu Teka-Teki berisi teka-teki silang berbasis kode QR. Ketiganya dipakai agar penggunanya mengenal busana adat, bahasa daerah, dan keterangan budaya sambil bermain.
Edisinya dibagi menurut pulau. Sampai laporan itu ditulis, terbit tiga edisi, yaitu Jawara untuk Jawa dan Madura, Andalas untuk Sumatra, dan Borneo untuk Kalimantan. Tiap edisi memuat dua suku dengan busana adat yang berbeda, dan warna kemasannya dibedakan untuk mewakili karakter budaya masing-masing wilayah.
Dasar pedagogisnya diambil dari dua arah. Konsep pembelajaran berbasis budaya yang berkembang dari pemikiran Vygotsky, Piaget, dan Brooks dipakai untuk menegaskan bahwa belajar lebih bermakna bila bertumpu pada konteks budaya yang dekat dengan kehidupan anak. Pendekatan game-based learning dipakai untuk menyatukan unsur edukasi dan hiburan dalam satu produk.
Baca juga Enam Simbol Dayak Kayan Dicatat di Satu Desa di Bulungan
Tiga Pilar yang Disebut Penulisnya
“Limbah kulit singkong dapat diolah menjadi papan partikel yang memiliki ketahanan fisik memadai serta aman digunakan sebagai media edukatif,” tulis Danti Rizki Amalia, peneliti Departemen Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta, bersama tiga rekan penulisnya. Kalimat itu muncul di abstrak dan diulang pada bagian simpulan.
Keberlanjutan yang dimaksud dibagi tiga. Pada sisi lingkungan, pemakaian limbah menekan tumpukan sampah organik. Pada sisi sosial, produknya dipakai sebagai sarana pengenalan budaya bagi generasi muda. Pada sisi ekonomi, pengolahan limbah membuka peluang pendapatan bagi masyarakat pengolah singkong dan perajin kriya di sekitarnya.
Alasan memilih wayang juga ditulis terbuka. Wayang disebut sebagai warisan budaya takbenda yang diakui UNESCO sejak 2008 hingga 2021, tetapi dinilai kurang relevan oleh generasi muda karena bentuk dan penyajiannya dianggap kaku. Dari penilaian itulah bentuk rakit dan sistem bongkar pasang dipilih sebagai jembatannya.
Yang Bisa Diperiksa di Naskahnya
Naskah itu memuat beberapa hal yang bisa diperiksa sendiri oleh pembacanya. Kepanjangan KASPO yang ditulis penulisnya tidak tersusun dari huruf-huruf singkatannya: kalimat panjang itu dimulai dengan kata Wayang dan Alam, sementara huruf pada singkatan tersebut tidak dapat ditelusuri satu per satu ke kata-kata yang menyusunnya.
Penomoran gambarnya melompat. Naskah memuat Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3, lalu langsung berpindah ke Gambar 6 dan Gambar 7 tanpa memuat Gambar 4 dan Gambar 5 di halaman mana pun. Keterangan pengakuan UNESCO juga ditulis sebagai rentang, yaitu sejak 2008 hingga 2021, tanpa penjelasan apa yang berubah pada tahun penutupnya.
Uji ketahanannya tidak disertai angka. Pembengkokan dan tekanan ringan disebut sebagai perlakuan mekanis wajar, tetapi besarnya gaya, alat ukur yang dipakai, dan jumlah papan yang diuji tidak dicantumkan. Begitu pula ketahanan terhadap air, yang dinyatakan dalam jumlah wajar tanpa keterangan lama perendaman maupun kadar airnya.
Keterbatasannya diakui sendiri oleh penulisnya di bagian akhir. Uji pemanfaatan produk dalam konteks pembelajaran formal belum dilakukan secara luas, sehingga efektivitasnya sebagai media belajar di sekolah belum terukur. Penelitian lanjutan disarankan untuk menguji hal itu, menambah variasi edisi budaya, dan memperkuat narasi serta teknologi pendukungnya.
Baca juga Film Dokumenter untuk Kesenian Bangreng Sumedang
Yang tersisa dari penciptaan itu adalah satu papan yang dulunya kulit, tiga edisi yang sudah terbit, dan satu pertanyaan yang belum dijawab naskahnya: apakah anak berusia lima tahun benar-benar mengenali busana adat di kartunya setelah bermain. Bahannya sudah terbukti bertahan tiga bulan; pengaruhnya pada pengetahuan penggunanya belum diukur sama sekali.















