Enam Benda Tradisi Mowuwusoi Dibaca dalam Tiga Lapis Makna

A A

Lesung padi kayu tradisional Sulawesi Selatan koleksi Museum La Galigo, Makassar. [Foto: Seeharee/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Tradisi Mowuwusoi di Kampung Adat Hukaea Laea digelar sebagai syukuran panen sekaligus ritual pemurnian setelah masa panen padi berakhir.
  • Enam benda yang dibedah adalah kampiri, lesung, alu, nyiru, gong, dan padi, masing-masing pada lapis denotasi, konotasi, dan mitos.
  • Lesung dimaknai sebagai simbol kesabaran, sedangkan gerakan alu dibaca sebagai lambang kerja keras.
  • Kampiri dipercaya sebagai rumah atau istana bagi Sangkoleo Mpae, sebutan untuk jiwa padi.
  • Naskah tidak menyebut jumlah informan, nama mereka, maupun waktu observasi dan wawancara.
Daftar Isi
  1. Tradisi Mowuwusoi Digelar Sesudah Masa Panen Padi Berakhir
  2. Denotasi Membaca Benda dari Bentuk dan Kegunaannya
  3. Konotasi Memberi Lesung dan Alu Nilai Kesabaran serta Kerja Keras
  4. Mitos Menjadikan Kampiri Istana bagi Sangkoleo Mpae atau Jiwa Padi
  5. Komunikasi Simbolik Menghubungkan Warga Moronene dengan Leluhur dan Alam
  6. Tabel dan Uraian Naskah Tidak Selalu Memberi Makna yang Sama

Cekricek.id — Sebuah lesung dalam tradisi Mowuwusoi bisa dibaca tiga kali: sebagai wadah menumbuk padi, sebagai lambang kesabaran, dan sebagai tempat bersemayam roh penjaga hasil bumi. Cara membaca berlapis itu dipakai tiga peneliti komunikasi untuk menelaah enam benda dalam upacara panen Suku Moronene. Lokasinya Kampung Adat Hukaea Laea, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Nama ilmiah untuk cara membaca itu semiotika, yakni kajian tentang tanda. Dalam perspektif ilmu komunikasi, tulis para peneliti, setiap benda, tindakan, maupun ritual dapat dipahami sebagai tanda yang memiliki makna tertentu. Karena itu, mereka memakai semiotika untuk mengungkap makna tersembunyi di balik alat dan bahan dalam tradisi Mowuwusoi. Yang dicari bukan hanya fungsi pakainya.

Kajian itu berjudul Analisis Semiotika Alat Dan Bahan Dalam Tradisi Mowuwusoi Pada Suku Moronene Di Kampung Adat Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana. Penulisnya Sri Wahdania, Muslan, dan Abdul Sarlan Menungsa. Ketiganya dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara. Di bagian ucapan terima kasih, Muslan dan Abdul Sarlan Menungsa disebut sebagai dosen pembimbing.

Naskahnya terbit di Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Volume 4 Nomor 3 Tahun 2026, halaman 5481–5495. Kerangka yang dipakai adalah teori semiotika Roland Barthes, yang membagi makna ke dalam tiga tingkatan: denotasi, konotasi, dan mitos. Enam benda yang dibedah adalah kampiri, lesung, alu, nyiru, gong, dan padi, sehingga seluruhnya ada delapan belas makna yang dipetakan.

Tradisi Mowuwusoi Digelar Sesudah Masa Panen Padi Berakhir

Sulawesi Tenggara, menurut naskah itu, dihuni berbagai kelompok etnis, seperti Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene. Masing-masing memiliki tradisi dan kearifan lokal yang berbeda. Suku Moronene disebut sebagai salah satu masyarakat adat tertua di provinsi itu. Mereka masih mempertahankan berbagai ritual adat yang berkaitan dengan siklus kehidupan dan aktivitas pertanian.

Salah satu ritual yang masih dilaksanakan adalah tradisi Mowuwusoi di Kampung Adat Hukaea Laea. Para peneliti menyebutnya upacara syukuran panen sekaligus ritual pemurnian, yang dilaksanakan setelah masa panen padi berakhir. Artinya, Mowuwusoi punya dua sisi sekaligus: berterima kasih atas hasil yang sudah dituai dan membersihkan diri menjelang masa tanam berikutnya.

“Bagi masyarakat Moronene, Mowuwusoi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah bentuk penghormatan kepada leluhur, ungkapan rasa syukur atas hasil panen, serta harapan agar musim tanam berikutnya memperoleh keselamatan dan keberkahan,” tulis Sri Wahdania, Muslan, dan Abdul Sarlan Menungsa.

Tradisi itu juga diyakini sebagai sarana menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual yang dipercaya warga. Dalam pelaksanaannya, tradisi Mowuwusoi melibatkan berbagai alat dan bahan yang memiliki fungsi tertentu di setiap tahapan ritual. Makna benda-benda itu, menurut naskah, diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Kekhawatiran para peneliti ada pada pewarisan lisan tersebut. Mereka menulis bahwa perkembangan zaman dan arus modernisasi berpotensi mengurangi pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai simbolik dalam tradisi itu. Penelitian ini mereka tempatkan sebagai upaya mendokumentasikan sekaligus melestarikan warisan budaya lokal. Harapannya, hasil penelitian menjadi sumber informasi bagi masyarakat, terutama generasi muda.

Denotasi Membaca Benda dari Bentuk dan Kegunaannya

Tiga istilah Barthes perlu diterjemahkan lebih dulu. Denotasi, menurut naskah, menjelaskan makna yang tampak secara langsung. Konotasi mengungkap makna yang berkaitan dengan nilai sosial dan budaya. Mitos menjelaskan kepercayaan kolektif yang berkembang dalam suatu masyarakat. Contohnya, pada lapis pertama sebuah alu cukup disebut alat penumbuk padi dari kayu.

Untuk sampai ke tiga lapis itu, penelitian memakai pendekatan kualitatif dengan desain yang disebut studi kasus fenomenologi, istilah yang tidak dijabarkan lebih jauh dalam naskah. Data primer datang dari informan yang memahami dan terlibat dalam tradisi Mowuwusoi. Mereka adalah Tumpuro’o atau dukun padi, ketua adat, tokoh masyarakat, dan masyarakat Moronene. Data sekunder diambil dari buku, jurnal, dokumen, dan hasil penelitian terdahulu.

Informan dipilih lewat purposive sampling, artinya dipilih berdasarkan kriteria tertentu, terutama punya pengetahuan dan pengalaman tentang tradisi itu. Data dikumpulkan melalui observasi pelaksanaan tradisi beserta alat dan bahannya, wawancara mendalam tentang makna simbolik, dan dokumentasi berupa foto serta catatan lapangan. Data lalu dipilah, dikelompokkan, disusun sesuai fokus penelitian, dan ditafsirkan dengan teori Barthes.

Keabsahannya diuji dengan triangulasi, yaitu uji kredibilitas data dengan membandingkan sumber, teknik, dan waktu. Hasilnya dirangkum dalam satu tabel. Pada lapis denotasi, kampiri adalah lumbung, wadah dari rotan bertiang tinggi yang ditutupi atap daun pohon sagu dan dibentuk seperti rumah. Kegunaannya menyimpan padi dalam jangka lama.

Lesung adalah wadah berlubang di tengah untuk menampung padi yang akan ditumbuk, supaya biji padi tidak tumpah saat dipukul alu. Alu sendiri terbuat dari kayu berbentuk bulat, dipakai dengan cara diangkat lalu dihentakkan ke bawah. Tujuannya agar kulit padi terkelupas dan terpisah dari biji berasnya.

Baca juga Semalam di Huma Baduy, Mendengarkan Carita Pantun

Nyiru adalah wadah bulat dari anyaman rotan untuk menapis padi yang habis ditumbuk. Hasil tumbukan dikibaskan atau diguncang, sehingga kulit padi yang ringan, yakni sekam, terbang tertiup angin, sedangkan beras yang berat jatuh kembali ke nyiru. Gong adalah alat bundar yang digantung dan dipukul, bunyinya menjadi pengiring saat lulo melicu. Naskah tidak menjelaskan apa itu lulo melicu.

Benda keenam adalah padi, tanaman sawah yang hijau lalu menjadi kuning keemasan saat matang. Padi disebut inti pelaksanaan tradisi Mowuwusoi, diolah menjadi beras, dan menjadi makanan pokok masyarakat Moronene. Dari lapis denotasi ini, para peneliti menyimpulkan masyarakat Moronene masih mempertahankan peralatan tradisional sebagai bagian dari kehidupan agraris mereka.

Konotasi Memberi Lesung dan Alu Nilai Kesabaran serta Kerja Keras

Lapis kedua bergeser dari kegunaan ke nilai. Kampiri dipahami sebagai simbol kekayaan dan tabungan untuk masa depan. Di bagian pembahasan, maknanya diperluas: kampiri menggambarkan pentingnya mempersiapkan kehidupan masa depan melalui sikap hemat dan kemandirian. Dengan kata lain, lumbung yang pada lapis pertama hanya tempat menyimpan kini dibaca sebagai pesan untuk menyimpan.

Lesung dimaknai sebagai simbol kesabaran dalam menjalani kehidupan. Pasangannya, alu, dibaca dari gerakannya. Tabel naskah menyebut gerakan naik-turun berulang kali dengan tenaga penuh itu menyimbolkan kekuatan fisik manusia yang berjuang bekerja keras dalam kehidupan sehari-hari. Di pembahasan, lesung dan alu disatukan sebagai simbol kesabaran dan kerja keras dalam memperoleh hasil yang baik.

Lapangan berumput dengan sapi merumput di depan rumah dan perbukitan hijau
Suasana Desa Morengke, Kecamatan Mata Usu, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. [Foto: Wadaihangit/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Nyiru dimaknai sebagai simbol pemilihan dan kebijaksanaan dalam menentukan yang baik dan yang buruk. Pembahasan naskah menulisnya sebagai ajaran bagi manusia untuk mampu memilah hal yang bermanfaat dari yang merugikan. Pada lapis pertama, benda yang sama memisahkan sekam dari beras dengan cara diguncang dan dikibaskan.

Bunyi gong dipandang sebagai simbol panggilan kepada leluhur. Di pembahasan, gong disebut melambangkan hubungan spiritual antara masyarakat dengan leluhur. Adapun padi dimaknai sebagai simbol kemakmuran masyarakat Kampung Adat Hukaea Laea, lalu di pembahasan disebut simbol kesejahteraan dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Menurut para peneliti, nilai-nilai sosial pada lapis konotasi ini diwariskan dari generasi ke generasi. Ringkasnya ada di abstrak naskah: setiap simbol mencerminkan nilai kehidupan masyarakat Moronene, seperti kerja keras, kebersamaan, kesabaran, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam.

Mitos Menjadikan Kampiri Istana bagi Sangkoleo Mpae atau Jiwa Padi

Lapis ketiga paling mudah disalahpahami karena namanya. Mitos dalam naskah ini merujuk pada kepercayaan kolektif yang berkembang dalam masyarakat, dan para peneliti menjelaskan kedudukannya dengan meminjam Barthes. “Dalam perspektif Roland Barthes, mitos tersebut merupakan bentuk penandaan budaya yang diterima sebagai kebenaran bersama dan berfungsi menjaga nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat,” tulis mereka.

Pada lapis ini, kampiri dipercaya sebagai rumah atau istana bagi Sangkoleo Mpae, sebutan untuk jiwa padi. Lesung diyakini sebagai tempat bersemayam roh penjaga hasil bumi. Aktivitas menumbuk dengan alu dipercaya sebagai proses pembersihan jiwa dan raga. Tiga benda yang sama pada lapis pertama hanya lumbung, wadah, dan penumbuk.

Proses menapis dengan nyiru dipahami sebagai bentuk penyucian jiwa padi. Bunyi gong dipercaya sebagai undangan kepada para leluhur agar turut hadir dalam tradisi Mowuwusoi dan memberkati hasil panen. Padi sendiri dipandang sebagai makhluk yang bernyawa, dan masyarakat meyakini roh leluhur bersemayam di dalamnya.

Para peneliti menyoroti tiga kepercayaan: Sangkoleo Mpae, roh penjaga hasil bumi, dan bunyi gong yang dianggap mampu menghadirkan leluhur. Menurut mereka, ketiganya menunjukkan bahwa tradisi Mowuwusoi merupakan bagian dari sistem kepercayaan yang telah lama hidup dalam masyarakat Moronene. Abstrak naskah menyebut sistem itu diyakini menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta.

Komunikasi Simbolik Menghubungkan Warga Moronene dengan Leluhur dan Alam

Istilah terakhir yang dipakai naskah adalah komunikasi simbolik. Simbol, tulis para peneliti, merupakan media komunikasi yang mampu menyampaikan gagasan, keyakinan, dan nilai-nilai sosial suatu masyarakat. Jadi, yang dimaksud komunikasi di sini bukan percakapan antarwarga, melainkan pesan yang dititipkan lewat benda dan ritual, lalu dibaca oleh generasi berikutnya.

Dari kerangka itu, hasil penelitian menyebut tradisi Mowuwusoi tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga media komunikasi simbolik yang menghubungkan manusia dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Lewat alat dan bahan tradisional itu, masyarakat Moronene mewariskan pesan tentang kerja keras, kesabaran, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap alam.

Baca juga Naleung Sambo dan Bu Lekat di Talam Peusijuek

Simpulan naskah mengulang temuan itu dengan tambahan nilai kebersamaan, rasa syukur, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Para peneliti lalu menyatakan tradisi Mowuwusoi perlu terus dilestarikan. Masyarakat adat diharapkan tetap mewariskan nilainya kepada generasi muda, sedangkan pemerintah daerah dan lembaga pendidikan disebut dapat mendukung lewat dokumentasi, pendidikan budaya, dan kegiatan pengembangan kearifan lokal.

Tabel dan Uraian Naskah Tidak Selalu Memberi Makna yang Sama

Naskah ini tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Dari isinya, jumlah informan tidak disebut, nama mereka tidak dicantumkan, dan waktu observasi maupun wawancara tidak dicatat. Tidak ada satu pun kutipan langsung dari Tumpuro’o, ketua adat, atau warga, sehingga seluruh delapan belas makna disampaikan dengan suara para peneliti.

Keterangan metodenya juga tidak seragam. Abstrak menyebut metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan triangulasi sumber. Bagian metode menyebut desain studi kasus fenomenologi serta tiga jenis triangulasi, yaitu sumber, teknik, dan waktu. Latar belakang menyebut tiap alat punya fungsi dalam setiap tahapan ritual, tetapi urutan tahapan tradisi Mowuwusoi itu tidak diuraikan di bagian mana pun.

Tabel dan uraian pun beberapa kali berbeda. Pada lapis denotasi, tabel menyebut lesung dipakai untuk menyimpan padi yang akan ditumbuk, sedangkan uraian menyebutnya menampung. Pada lapis mitos, tabel menulis nyiru sebagai hasil pembersihan untuk jiwa padi, uraian menyebutnya penyucian. Sikap hemat dan kemandirian pada kampiri hanya muncul di pembahasan, tidak di tabel.

Ada pula nilai yang disebut di abstrak dan simpulan tetapi tidak dilekatkan pada benda mana pun. Kebersamaan tidak menjadi makna konotasi salah satu dari enam benda. Sang Pencipta juga tidak muncul dalam makna mitos keenam benda itu, yang seluruhnya berkisar pada jiwa padi, roh penjaga hasil bumi, pembersihan jiwa, dan leluhur.

Baca juga Sinonggi Tolaki, Makanan Paceklik yang Kini Jadi Ikon Daerah

Jangkauan tiga lapis makna dalam kajian ini berhenti pada enam benda: kampiri, lesung, alu, nyiru, gong, dan padi. Istilah denotasi, konotasi, dan mitos di sini tidak menjelaskan kapan persisnya upacara digelar, siapa yang menumbuk dan menapis, atau berapa warga Hukaea Laea yang ditanya. Bahkan gong, satu-satunya benda yang dipercaya mengundang leluhur, tidak disertai keterangan tentang siapa yang memukulnya.

Bagikan

Baca Juga

Ritual Kahik Malar Menjemput Jiwa yang Hilang karena Kecelakaan
Hukum Adat Tau Taa Wana, Givu yang Diputus lewat Mogombo
Orang Rimba Lari ke Hutan Saat Pandemi, Ubi Kayu Tetap Cukup
Tata Bahasa Higaonon Akhirnya Dicatat dari Opol
Lalapan Cireundeu Tercatat 38 Jenis, Kebun Jadi Sumber Utama
Keraton Buton, Nanas dan Naga di Atap Rumah Warganya