Sinonggi Tolaki, Makanan Paceklik yang Kini Jadi Ikon Daerah

A A

Seorang perempuan memotong sagu kering menjadi balok di samping baskom biru. [Foto: Keenan63/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Sebuah makanan bisa menyimpan seluruh pandangan hidup satu suku. Begitu klaim yang dibawa penelitian tentang sinonggi ini sejak paragraf pertamanya.

Sinonggi adalah makanan pokok masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara. Bahannya sari pati sagu, dan cara makannya punya tata krama sendiri.

Klaimnya besar, bahannya justru tipis. Yang dikumpulkan wawancara dengan warga Tolaki di Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan, tanpa disebut berapa orang.

Penelitinya Sultrayansa dan Dian Trianita Lestari. Keduanya dari Universitas Halu Oleo, Kendari.

Tulisannya terbit di Journal Publicuho Volume 9 Nomor 2 edisi Mei sampai Juli 2026. Halamannya 1499 sampai 1508.

Pendekatannya kualitatif dengan dua pisau baca. Yang pertama makna simbolik, yang kedua komunikasi antarbudaya.

Daftar Isi
  1. Sagu yang Dulu Makanan Paceklik
  2. Dua Nama yang Bicara, Ruslan dan Fina
  3. Tiga Makna dan Lima Nilai yang Disusun
  4. Tolaki, Konawe, dan Yunnan yang Disebut Sekilas
  5. Janji Komunikasi Persuasif yang Tak Diuji

Sagu yang Dulu Makanan Paceklik

Riwayat sinonggi tidak dimulai sebagai kebanggaan. Muin pada 2014 mencatatnya sebagai makanan sekunder pengganti beras bagi Suku Tolaki pada masa paceklik.

Wadahnya pun berubah. Dahulu sinonggi disimpan dalam dulang kayu yang dalam bahasa Tolaki disebut odula.

Sekarang orang menyimpannya dalam baskom. Menurut Muin, bagi penikmatnya ada cita rasa yang agak berbeda.

Perubahan wadah itu satu-satunya perubahan fisik yang dicatat penelitian ini. Selebihnya yang dibahas makna, bukan bendanya.

Cara makannya yang jadi inti pembahasan. Sinonggi disantap bersama-sama dari satu wadah besar dan dibagikan memakai alat khusus.

Alat khusus itu tidak dinamai. Tulisan ini menyebut keberadaannya tanpa menerangkan bentuk atau namanya dalam bahasa Tolaki.

Posisi duduknya melingkar. Lauk-pauknya dibagi bersama di tengah lingkaran itu.

Dari susunan itulah penulisnya membaca kesetaraan. Dalam kebersamaan, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, tua atau muda.

Baca juga Enggano, Pulau yang Baru Mengenal Beras pada Zaman Jepang

Dua Nama yang Bicara, Ruslan dan Fina

Hanya dua narasumber yang dikutip sepanjang tulisan. Namanya Ruslan dan Fina, keduanya disebut tanpa keterangan umur maupun pekerjaan.

Keterangan Ruslan yang paling konkret di seluruh naskah. Ia menyebut pohon sagu kini sudah dijadikan tanaman adat.

Konsekuensinya ada sanksi. Menurut Ruslan, siapa pun yang merusaknya akan dikenakan denda.

Tiga hal tidak ikut disebut. Berapa besar dendanya, lembaga adat mana yang menetapkannya, dan di wilayah mana aturan itu berlaku.

Fina berbicara tentang hal yang berbeda. Menurutnya orang makan sinonggi bersama-sama karena ingin menjaga kebersamaan.

Ia membandingkan dua keadaan. Kalau makan sendiri rasanya berbeda, tetapi kalau makan bersama jadi lebih akrab dan hangat.

Dari situ, kata Fina, muncul kepedulian dan saling menghormati. Hubungan antarkeluarga maupun sesama warga menjadi lebih erat.

Ia menutup dengan satu kalimat yang tegas. Sinonggi disebutnya bukan sekadar soal makan, tetapi tentang memperkuat ikatan sosial.

Keterangan Fina yang kedua menyangkut kemandirian. Menurutnya sinonggi memperlihatkan masyarakat Tolaki bisa hidup dari hasil alam mereka sendiri.

Alasannya sagu sudah tersedia di sekitar mereka. Karena itu, katanya, mereka tidak terlalu bergantung pada makanan dari luar.

Kalimat penutupnya paling sering dikutip penulisnya. Sinonggi disebut bukti bahwa orang Tolaki mampu berdiri di atas tanah dan budaya mereka sendiri.

Tiga Makna dan Lima Nilai yang Disusun

Dari dua keterangan itu penulisnya menyusun tiga lapis makna. Yang pertama makna alamiah dan spiritual.

Pohon sagu tumbuh di lahan rawa dan lembap. Penulisnya membacanya sebagai gambaran ketangguhan dan kesetiaan terhadap lingkungan.

Lapisan kedua makna sosial dan solidaritas. Dasarnya cara makan bersama dari satu wadah yang dianggap menghapus jarak sosial.

Lapisan ketiga makna identitas dan kebanggaan. Sinonggi disebut selalu hadir dalam festival daerah dan pameran kuliner sebagai wakil jati diri Tolaki.

Dari tiga lapis itu diturunkan lima nilai. Kesederhanaan, kebersamaan, kemandirian, gotong royong, dan pelestarian alam.

Kesederhanaan dibaca dari bahan dasarnya. Sagu disebut simbol kehidupan yang cukup dan tidak berlebihan.

Kebersamaan dibaca dari posisi duduk. Setiap orang duduk sejajar dan makan dari wadah yang sama.

Kemandirian dibaca dari kemampuan mengolah. Masyarakat disebut sanggup mengubah bahan alam menjadi sumber pangan.

Gotong royong dibaca dari proses pembuatannya. Penulisnya menyebut pembuatan sinonggi melibatkan kerja sama seluruh anggota keluarga.

Pelestarian alam dibaca dari sikap terhadap hutan sagu. Masyarakat Tolaki disebut menjaganya agar tetap lestari sebagai sumber kehidupan.

Kelima nilai itu tidak diuji ke narasumber satu per satu. Semuanya disimpulkan dari dua kutipan yang sama.

Baca juga Sasi Lompa Haruku, Dua Puluh Pelanggaran dalam Setahun

Tolaki, Konawe, dan Yunnan yang Disebut Sekilas

Latar suku Tolaki diuraikan cukup luas. Penyebarannya meliputi Kendari, Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur.

Akar sejarahnya dirunut ke satu kerajaan. Masyarakat Tolaki disebut berakar dari Kerajaan Konawe yang pernah dipimpin Haluoleo.

Mata pencahariannya bertumpu pada pertanian. Sebagian besar bekerja sebagai peladang maupun petani.

Cara bertaninya disebut kolektif. Bercocok tanam dan mengelola sawah dilakukan bersama dengan mengedepankan gotong royong.

Ada pula satu keyakinan tentang asal usul. Sebagian masyarakat Tolaki percaya leluhur mereka berasal dari kawasan Yunnan Selatan.

Leluhur itu disebut berasimilasi dengan penduduk asli setempat. Dari proses itulah identitas etnis Tolaki yang dikenal sekarang terbentuk.

Keyakinan itu dikutip dari Wulandari pada 2022. Tulisan ini tidak menelusurinya lebih jauh, juga tidak membandingkannya dengan kajian lain.

Sagu sendiri disebut sedang kehilangan tempat. Pohon itu dinyatakan tidak lagi menjadi komoditas pertanian unggulan.

Kekhawatirannya disebut terbuka. Lahan sagu yang dulu jadi sumber penghasilan berpotensi tergantikan komoditas tanaman lain.

Karena itulah aturan adat tadi dianggap penting. Perlindungan pohon sagu dibaca sebagai kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan manusia dan alam.

Janji Komunikasi Persuasif yang Tak Diuji

Judul dan tujuan penelitiannya menjanjikan dua hal. Mengungkap makna simbolik sinonggi dan menjelaskan perannya sebagai media komunikasi persuasif.

Bagian pertama dikerjakan panjang lebar. Bagian kedua justru berhenti pada tataran teori.

Landasan teorinya sendiri lengkap. Blumer pada 1969 dipakai untuk interaksi simbolik, Hall pada 1959 untuk istilah antarbudaya lewat bukunya The Silent Language.

Martin dan Nakayama pada 2017 dipakai untuk tiga pendekatan. Yang disebut pendekatan ilmu sosial, pendekatan interpretif, dan pendekatan kritis.

Samovar dan Porter pada 2014 dipakai untuk definisi komunikasi antarbudaya. Ting-Toomey pada 1999 dipakai untuk konsep identitas budaya.

Namun tidak satu pun teori itu diuji ke data. Tidak ada narasumber yang ditanya apakah sikapnya berubah sesudah ikut makan sinonggi.

Persuasi hanya dinyatakan, tidak ditunjukkan. Penulisnya menyebut makna simbolik sinonggi menjadi instrumen persuasif yang membentuk perilaku sosial masyarakat Tolaki.

Bagian metodenya juga pendek. Tidak ada keterangan tentang jumlah informan, cara memilihnya, lama penelitian, maupun teknik analisis yang dipakai.

Celah penelitian yang diklaim penulisnya sendiri sebetulnya wajar. Kajian budaya Tolaki selama ini lebih banyak menyorot Kalosara, tradisi Mosehe, adat Peohala, dan simbol dalam tarian Lulo.

Sinonggi memang jarang dikaji dari sisi komunikasi. Kaharuddin pada 2023 pernah menelitinya, tetapi dari sisi etnomatematika.

Baca juga Kayu Bus Merauke, Kulitnya Jadi Atap Tahan Dua Belas Tahun

Ancaman yang disebut penulisnya datang dari tiga arah. Pola konsumsi masyarakat berubah, budaya kuliner modern masuk, dan minat generasi muda pada tradisi lokal berkurang.

Akibatnya disebut bisa berlapis. Pemahaman atas nilai simbolik sinonggi berkurang, makna budayanya bergeser, dan fungsi komunikasi sosialnya melemah.

Kearifan lokal sendiri didefinisikan lewat satu rujukan. Suhartini pada 2009 menyebutnya pandangan hidup dan pengetahuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menjaga keseimbangan dengan lingkungan.

Hubungan budaya dan komunikasi dibaca sebagai hubungan dua arah. Suryandari pada 2019 dikutip untuk pandangan itu.

Di satu sisi budaya membentuk cara orang berkomunikasi. Di sisi lain proses komunikasi ikut membentuk, mempertahankan, dan mengembangkan budaya itu sendiri.

Sinonggi juga ditempatkan sebagai jembatan antaretnis. Ketika orang dari budaya lain ikut makan, terjadi pertukaran makna yang disebut membuka pemahaman lintas budaya.

Saran penutupnya terbagi dua. Yang pertama untuk pelestarian tradisi, yang kedua untuk sumber bahannya.

Pelestariannya diminta lewat empat jalur. Pendidikan budaya, kegiatan adat, festival kuliner, serta penguatan peran keluarga dan lembaga adat.

Untuk bahannya, sasarannya pemerintah daerah. Program perlindungan dan pengelolaan sumber daya sagu diminta dijalankan secara berkelanjutan.

Saran terakhirnya untuk peneliti berikutnya. Peran sinonggi dalam membentuk identitas generasi muda disebut perlu dikaji lebih dalam.

Ada satu kejanggalan yang tampak di tiap halaman genap. Kepala halamannya memuat judul artikel lain tentang difusi inovasi pelayanan kependudukan digital di Kelurahan Balaraja.

Judul itu tidak ada hubungannya dengan sinonggi. Nama penulis dan nomor DOI di baris yang sama justru sudah benar.

Mariyatul dan kawan-kawan pada 2025 mencatat hal yang lebih pokok. Sejumlah praktik budaya Tolaki mulai dipandang sebagai kegiatan seremonial tanpa pemahaman filosofis yang mendalam.

Kekhawatiran itu yang belum dijawab penelitian ini. Yang diwawancarai orang yang masih memegang maknanya, bukan generasi yang disebut mulai kehilangannya.

Bagikan

Baca Juga

Kue Mangkuak Sianok Bertahan di Adat, Kalah di Pasar
Bahalo, Goti, Tumang: Kosakata Sagu Halmahera
Blug, Bluk, Bleg: Kecap Anteuran Sunda Dibaca dari Jepang
Magdalena Fridawati Cicipi Sambal Poco-Poco di Proyek Jejak Nyambel
Nex Carlos Ajak Warganet Ikut Program UMKM Naik Level Bareng Polytron
Berbagai Resep Makanan Sahur yang Sederhana dan Bergizi