Cekricek.id — Kulit kayu bus dikupas tegak lurus dengan parang. Lapisan tipis di permukaan batang dibersihkan lebih dulu, lalu kupasan diteruskan sampai bagian tengah batang.
Batang yang dipilih bukan sembarang batang. Yang diambil batang lurus berdiameter di atas 15 sentimeter, karena dari batang seperti itu kulitnya keluar panjang dan lebar.
Ukuran kulit untuk atap sudah ada patokannya. Panjangnya 80 sampai 120 sentimeter dan lebarnya 60 sampai 80 sentimeter.
Pemasangannya bertumpuk dua lapis. Susunannya dimulai dari sudut bawah ke puncak atap, seperti orang memasang seng.
Dua lapis itu ada sebabnya. Dengan susunan begitu, atap tidak bocor ketika hujan dan bertahan lebih lama.
Kayu bus adalah nama setempat untuk Melaleuca leucadendron. Pohon itu endemik di dataran rendah Papua bagian selatan.
Pemakaiannya dicatat Suharno dari Jurusan Biologi dan Akhmad Kadir dari Jurusan Antropologi, keduanya Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Laporan mereka terbit di Biodiversitas Volume 24 Nomor 11 edisi November 2023. Halamannya 6323 sampai 6331.
Riwayat naskahnya pendek. Diterima 10 Oktober 2023 dan revisinya disetujui 29 November tahun yang sama.
Daftar Isi
Delapan Kampung, Tujuh Puluh Lima Orang yang Diwawancarai
Penelitiannya berlangsung di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Datanya dikumpulkan sepanjang 2022 sampai 2023.
Sampelnya diambil dari delapan kampung yang mewakili enam distrik. Nama kampungnya Wasur, Yanggandur, Rawa Biru, Sota, Muting, Urumb, Koiburse, dan Bersehati.
Jumlah yang diwawancarai tujuh puluh lima orang. Mereka terdiri atas kepala kampung dan tetua adat, warga biasa, serta pemakai kayu bus.
Wawancaranya memakai kuesioner semiterstruktur. Selain itu ada pengamatan langsung di hutan dan di rumah-rumah warga kampung.
Yang ditanyakan tiga hal. Pengetahuan warga tentang pohon itu, bagian yang dipakai, dan untuk keperluan apa bagian itu dipakai.
Datanya diolah dengan cara sederhana. Hasil pengamatan diuraikan secara deskriptif, sedangkan jawaban wawancara dihitung persentasenya di Microsoft Excel.
Lokasinya berada di dataran rendah pada ketinggian 4 sampai 44 meter di atas permukaan laut. Suhunya 26 sampai 31,5 derajat Celsius.
Kelembapannya 79 sampai 89 persen. Curah hujannya 900 sampai 1.600 milimeter per tahun menurut data Badan Pusat Statistik 2023.
Derajat keasaman tanahnya 5,0 sampai 6,0. Kadir dan kawan-kawan pada 2022 menyebut kondisi itu cocok untuk lahan pertanian.
Baca juga Perhiasan Tradisional Papua dan Dua Tabel yang Isinya Sama
Seratus Persen Tahu Kayunya, Nol Persen Tahu Akarnya
Ada tiga belas pernyataan yang diajukan ke tujuh puluh lima orang itu. Jawabannya dihitung dalam tiga kolom, yaitu tahu, ragu, dan tidak tahu.
Lima pernyataan pertama dijawab seragam. Seluruh narasumber mengaku mengenal pohonnya, bisa menunjukkan lokasinya, tahu manfaatnya, tahu bagian yang dipakai, dan pernah memakai kayunya.
Kulit batangnya hampir sama meratanya. Sembilan puluh lima persen pernah memakai, sedangkan lima persen mengaku belum pernah.
Daunnya mulai berbeda-beda. Enam puluh lima persen pernah memakai, tujuh belas persen ragu, dan delapan belas persen belum pernah.
Akarnya justru yang paling janggal. Tidak seorang pun mengaku tahu pemakaian akar, dua puluh dua persen ragu, dan tujuh puluh delapan persen tidak tahu.
Namun di badan tulisan disebutkan hal yang berbeda. Akar disebut dipakai untuk obat tradisional berdasarkan keterangan tujuh puluh delapan persen narasumber yang mendengarnya dari orang tua.
Angka tujuh puluh delapan persen itu ada di kolom tidak tahu pada tabelnya. Dua bacaan itu berdiri berdampingan tanpa penjelasan.
Untuk rumah, angkanya lebih rapi. Sembilan puluh dua persen pernah mengolah kayunya untuk bangunan rumah dan delapan puluh delapan persen memakai kulitnya untuk atap.
Penyulingan minyak atsiri dari daun tercatat lima puluh empat persen. Dua puluh satu persen ragu dan dua puluh lima persen belum pernah.
Pemakaian di luar rumah paling rendah. Hanya dua puluh tiga persen yang memakai kulitnya sebagai alas hasil panen, sementara enam puluh satu persen belum pernah.
Kayu bakar dijawab seragam lagi. Seluruh narasumber menyatakan pernah memakai kayu bus untuk keperluan itu.
Batang untuk Rangka, Kulit untuk Atap, Daun untuk Minyak
Batangnya dipakai dalam beberapa bentuk. Ada yang langsung dipasang tanpa diolah, ada yang dijadikan balok, ada pula yang dijadikan papan.
Ukuran baloknya tiga macam. Lima kali lima, lima kali sepuluh, dan sepuluh kali sepuluh sentimeter.
Papannya satu ukuran. Tebal dua sentimeter dengan lebar dua puluh sentimeter.
Ketahanannya dinilai memadai oleh warga. Kayu bermutu baik rata-rata bertahan lima tahun, dan bisa sampai dua belas tahun bila terlindung dari air.
Atap dari kulit kayu bertahan lebih lama. Warga menyebut umur pakainya sampai dua belas tahun.
Ada alasan lain warga memilih kulit kayu. Ruangan disebut terasa lebih hangat saat hujan dan lebih sejuk saat panas.
Bagian kulit yang disebut bus paal punya kegunaan lain. Bagian itu dipakai sebagai salah satu bahan dalam pembuatan sagu.
Kadir dan kawan-kawan pada 2022 mencatat kedudukan sagu di sana. Sagu disebut sebagai salah satu sumber pangan utama masyarakat adat Marind Anim di Merauke.
Ranting dan potongan kayunya menjadi kayu bakar. Rantingnya tidak dibuang, melainkan dipakai untuk keperluan dapur.
Daunnya disuling menjadi minyak atsiri. Patramurti dan kawan-kawan pada 2022 menyebut kandungan sineolnya mencapai 50 sampai 65 persen.
Penyulingan itu terutama berjalan di kawasan Taman Nasional Wasur. Kegiatannya mendapat bantuan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat.
Selain kayu bus, warga mengenal kayu rahe. Nama itu untuk Eucalyptus sp., yang daunnya juga bisa disuling.
Batang kayu rahe tidak lurus, sehingga pemakaiannya terbatas. Kayu itu lebih dipilih untuk kusen, jendela, rak, dan lemari.
Baca juga Hutan Adat Sungai Utik, dari Tolakan 1979 ke SK 2020
Izin Tetua Adat Sebelum Pohon Ditebang
Menebang kayu bus di sejumlah kampung tidak bisa dilakukan sendiri. Izinnya harus diminta lebih dulu kepada tetua adat atau kepala suku.
Sesudah itu ada koordinasi dengan kepala kampung. Urutan itu berlaku di kampung-kampung di luar kawasan taman nasional.
Di kawasan Taman Nasional Wasur, urutannya bertambah. Sesudah izin kepala kampung atau tetua adat, permohonan diajukan ke Balai Taman Nasional Wasur.
Izin penebangan di dalam kawasan itu diurus terpisah. Penulisnya membaca urutan tersebut sebagai bukti adanya aturan pengelolaan hutan berbasis kearifan setempat.
Kawasan Taman Nasional Wasur luasnya sekitar 413.810 hektare. Angka itu dikutip dari Yarman dan Damayanti pada 2012.
Di dalamnya ada empat kelompok etnis asli. Namanya Malind Imbuti, Kanume, Marori Men Gey, dan Yeinan.
Keempatnya sudah tinggal turun-temurun di sana. Mereka memiliki hak ulayat atas seluruh tanah di kawasan tersebut.
Kosmaryandi pada 2012 mencatat persoalan yang muncul dari situ. Kawasan taman nasional disebut merupakan wilayah masyarakat adat, tetapi pengelolaannya tidak pernah memperhitungkan mereka.
Ia menunjuk kriteria dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68. Huruf e pada aturan itu menyatakan tidak boleh ada penduduk di dalam kawasan taman nasional.
Menurut Kosmaryandi, kriteria itu hanya melihat ketergantungan penduduk pada kawasan. Aspek sosial budaya masyarakat adat disebut tidak diperhitungkan.
Akibatnya, menurut dia, pengelolaan taman nasional menjadi tidak selaras. Aturan itu juga disebut berpotensi memunculkan sengketa penguasaan lahan.
Diameter di Bawah 50 Sentimeter dan Harga 2,5 Juta per Kubik
Pengamatan acak dilakukan di beberapa lokasi. Yang diukur diameter pohon terbesar di tiap titik.
Hasilnya, sebagian besar pohon di Merauke berdiameter kurang dari 50 sentimeter. Penulisnya menghubungkan hal itu dengan tingginya permintaan kayu bus.
Pohon berdiameter besar disebut jarang ditemukan. Alasannya pemakaian kayu itu sudah meluas.
Harga kayunya dalam bentuk balok cukup tinggi di Merauke. Angkanya mencapai 2,5 juta rupiah atau sekitar 166 dolar Amerika per meter kubik.
Pasokannya datang dari beberapa wilayah. Sebutannya Wasur, Muting, Jagebob, Kurik, dan Sota.
Bahan bangunan lain justru sulit dan mahal. Batu dan pasir didatangkan dari daerah lain seperti Sulawesi dan Jawa.
Karena itu rumah berdinding bata terbatas jumlahnya. Biaya bahan konvensional disebut terlalu tinggi.
Kebakaran hutan kerap terjadi pada musim kemarau. Kulit pohon yang tebal membuat api bertahan lama dan sulit dipadamkan.
Pohonnya sendiri tidak mati sesudah terbakar. Kulit barunya tumbuh dan batangnya kembali seperti semula.
Hutan kayu bus juga habitat banyak satwa. Di antaranya semut rangrang, kakatua, rayap pembuat musamus, kanguru, babi hutan, rusa, dan kasuari.
Yarman dan Damayanti pada 2012 mencatat jumlah burungnya. Ada sekitar 403 jenis, 74 di antaranya endemik Papua dan sekitar 114 jenis dilindungi.
Lahan basah berkayu bus di taman nasional itu penting bagi burung migran. Burung-burung tersebut datang dari Australia dan Selandia Baru.
Baca juga Tim ITS Bangun Akses Air Bersih di Ransiki Papua Barat
Penulisnya menutup dengan satu saran. Perlu kesepakatan lewat aturan masyarakat adat yang didukung aturan daerah dan pengelola Taman Nasional Wasur.
Penebangan pilih disebut sebagai jalan tengah. Yang ditebang hanya pohon yang memang sudah layak dipakai.
Satu hal tidak dijelaskan dalam laporan itu. Berapa banyak kayu bus yang ditebang tiap tahun dan seberapa cepat pohonnya tumbuh kembali tidak diukur.















