Cekricek.id — Perhiasan tradisional kerap diperlakukan sebagai benda pameran. Padahal di sebagian Papua benda-benda itu masih dipakai, dan yang berubah justru kapan orang mengenakannya.
Rini Maryone, peneliti Balai Arkeologi Papua, membandingkan perhiasan tubuh suku-suku di Kabupaten Sarmi dengan suku Momuna di Kabupaten Yahukimo. Pendekatannya etnoarkeologi.
Etnoarkeologi membaca benda masa kini untuk menerangkan benda masa lalu. Yang diamati bukan hanya bentuknya, melainkan siapa yang memakainya dan pada kesempatan apa.
Sarmi terletak di pesisir utara, masuk wilayah budaya Tabi. Yahukimo berada di pegunungan tengah, berbatasan dengan kebudayaan pantai selatan.
Maryone mencatat sekitar 270 suku tersebar di lima wilayah budaya adat Papua. Topografi yang kasar dan penduduk yang jarang membuat komunitas terisolasi satu sama lain.
Keterisolasian itu yang diajukan sebagai sebab keragaman. Setiap komunitas mengembangkan ciri sendiri karena jarang bertemu komunitas lain.
Daftar Isi
Bahan yang diambil dari halaman sendiri
Daftar bahannya nyaris seluruhnya berasal dari lingkungan terdekat. Taring babi, gigi anjing, tulang sayap kelelawar, bulu burung taon-taon, bulu kasuari, dan cenderawasih yang diawetkan.
Dari tumbuhan diambil kulit kayu darem, pohon nik, daun palem besar, pucuk sagu, biji rumput, buah sagu, dan rotan. Daun borukokete dipakai suku Momuna sebagai penutup kelamin pria.
Kerang bivalvia dijadikan gelang, kalung, alat serut, bahkan mas kawin dan alat tukar. Batu kali dan batu dari Pegunungan Cycloop juga masuk daftar bahan.
Muru adalah batu putih dari kali yang diruncingkan kedua ujungnya. Benda itu dipakai suku Momuna sebagai tusuk hidung, oleh laki-laki maupun perempuan.
Noken dibuat dari serat kulit kayu genemo dan darem yang dipintal lalu dijalin dengan tangan. Pewarnanya pun dari hutan yang sama.
Merah diambil dari kulit pohon semai, kuning dari akar mengkudu atau pohon inken, biru dari buah pohon uai. Noken adalah benda budaya yang dibuat perempuan.
Pada suku Manirem Kuestan, ukurannya dibedakan dengan nama. Dok fun untuk yang kecil, fun wasafa untuk yang sedang, fun sokefe untuk yang besar.
Ukuran menentukan fungsi. Yang kecil dan sedang untuk benda praktis, yang besar untuk sayur, umbi, dan daging.
Hiasan dada bernama kombat memakai tiga jenis serat pohon. Seratnya dari pohon sasarera dan darem, sedangkan talinya dari serat halus pohon pupre.
Kalung taring babi punya fungsi yang melampaui busana. Benda itu dikalungkan ondoafi kepada tamu sebagai tanda kehormatan.
Pakaian tradisional Sarmi memakai kulit kayu yang dilukis. Tradisi melukis di atas kulit kayu itu disebut sudah dimulai sejak tahun 1600-an.
Kulit pohon bergetah seperti darem dikuliti tipis, ditumbuk, dibilas, lalu dijemur. Setelah kering, permukaannya siap dilukis atau diukir.
Warnanya pun dari bahan setempat. Hitam dari jelaga dan arang periuk, putih dari kapur sirih, merah dari batu kapur merah.
Ketiganya dicampur getah pohon sukun, air, atau minyak kelapa. Motif yang dipilih biasanya bernuansa kekayaan alam dan keadaan sekitar kampung.
Baca juga Kerajinan Karawo Gorontalo
Di Yahukimo noken dipakai laki-laki dan perempuan untuk membawa apa saja. Termasuk menggendong bayi, babi, anjing, ubi jalar, dan sayur.
Remaja putri Momuna bahkan memakainya sebagai baju. Satu benda yang sama menempati posisi berbeda di dua tempat yang berbeda.
Membakar bambu, menyebutnya tato
Budaya tato di Papua selama ini dianggap milik pesisir. Peneliti terdahulu menempatkannya di Waropen, Sentani, dan wilayah suku Moi.
Maryone menemukan tradisi serupa pada suku Momuna di pegunungan. Suku itu tinggal di rumah pohon, kebudayaannya dekat dengan Korowai.
Namun cara membuatnya bukan menusukkan pigmen. Sepotong bambu pendek dipanaskan di api, lalu ditempelkan ke tangan dan kaki.
Setelah kering, bekas tempelan itu membentuk bulatan-bulatan di kulit. Bagi mereka hasil itu dianggap menarik dan indah.
Secara teknis yang terjadi adalah pembentukan parut, bukan penyuntikan warna ke bawah kulit. Papernya tetap menyebutnya tato, atau kukulidima dalam bahasa setempat.
Pembuatannya dilakukan pada anak yang sudah diinisiasi, mulai usia dua belas tahun. Berlaku untuk laki-laki maupun perempuan.
Motif Momuna disebut lebih sederhana dibanding motif pesisir. Perbandingan itu tidak disertai contoh motif dari kedua sisi.
Baca juga Etnoastronomi Suku Bajo Wuring dan Bintang yang Tak Dicatat
Dua tabel dengan judul yang sama
Artikel ini dibangun sebagai perbandingan dua wilayah. Namun bukti tabelnya hanya berasal dari satu wilayah.
Tabel 1 berjudul Bentuk Perhiasan Tubuh Pada suku-suku Yang Berada di Kabupaten Sarmi. Tabel 2 berjudul persis sama, kata demi kata.
Isinya juga sama. Lima belas baris yang sama, dari kulit kerang tifok sampai tenunan terfo, dengan bahan dan fungsi yang sama.
Artinya tidak ada tabel yang memuat perhiasan suku Momuna. Nama suku itu ada di judul artikel dan di abstrak, tetapi tidak di tabel mana pun.
Keterangan sumber di bawah keduanya juga hampir seragam. Yang satu ditulis olah data lapangan, yang lain olahan data lapangan.
Data Momuna tetap muncul, tetapi tersebar sebagai kalimat di bagian pembahasan. Tulang kelelawar, batu muru, daun borukokete, anting bambu, dan tato disebut di sana.
Susunan itu membuat dua sisi perbandingan berdiri di atas bukti yang tidak setara. Satu sisi punya tabel rinci, sisi lain hanya paragraf.
Kolom yang bergeser satu baris
Masalah kedua ada di dalam tabel yang tersedia. Kolom bahan tampak bergeser terhadap kolom nama benda.
Baris tujuh, kalung taring babi bernama srim dan wapewna, kolom bahannya kosong. Fungsinya justru ditulis dua kali dengan kalimat yang sama.
Baris delapan bernama kalung biji rumput atau tante. Bahannya tertulis terbuat dari taring babi dengan serat genemo sebagai tali.
Baris sembilan bernama kalung buah sagu atau nafera. Bahannya tertulis kalung biji rumput, terbuat dari biji rumput berwarna keabu-abuan.
Pola itu konsisten: bahan pada satu baris adalah bahan yang seharusnya berada di baris sebelumnya. Bahan bunga sagu untuk nafera muncul terlambat dan terpisah.
Pembaca yang mengutip tabel ini apa adanya akan menulis bahwa kalung biji rumput terbuat dari taring babi. Kekeliruannya berasal dari tata letak, bukan dari lapangan.
Baca juga Valuasi Koleksi Museum Indonesia
Nama-nama tempat juga berpindah ejaan di dalam satu naskah. Abstrak menulis Sarim Regency, sementara seluruh badan tulisan menulis Sarmi.
Kabupaten Yahukimo sempat ditulis Yahukumo di pendahuluan. Pada bagian nilai budaya, Sarmi berubah menjadi Sarmin.
Tenunan yang di tabel bernama terfo ditulis tervo di badan tulisan dan di simpulan. Kata kunci berbahasa Inggris memuat Momuna Tribed, bukan Tribes.
Penomoran gambar ikut bergeser. Gambar 5 muncul dua kali, untuk flora Sarmi dan flora Momuna, sedangkan Gambar 8 tentang tato muncul mendahului Gambar 6 dan 7.
Rujukan dalam kurung tidak selalu bertemu daftar pustaka. Teks menyebut Fagam 1991, sedangkan daftar memuat Fagan, B. M. terbitan 1999.
Nama lain juga terbalik susunannya. Teks menulis Heriyanti, Utomo Drajat 1986, sementara daftar menulis Drajat, Heriyati Untoro.
Nilai yang ditarik Maryone dari benda-benda itu ada delapan. Religius, gotong royong, estetika, kemandirian, disiplin, kerja keras, kreatif, dan peduli lingkungan.
Estetikanya disebut lahir dari meniru alam. Peniruan itu dinyatakan tidak sembarangan, melainkan dipilih berdasarkan bentuk, sifat, warna, dan sebutan lokalnya.
Yang tidak ditulis di bagian metode
Metode menyebut tiga cara pengumpulan data: studi kepustakaan, observasi lapangan, dan wawancara. Wawancara disebut dilakukan dengan masyarakat yang dianggap terkait pembuatan perhiasan.
Tidak ada satu pun nama informan yang muncul. Tidak ada jumlah informan, tidak ada tanggal, dan tidak ada nama kampung meski metodenya menyebut kampung-kampung.
Dua rujukan di pendahuluan justru menunjuk laporan penelitian penulis sendiri. Maryone 2016 untuk peralatan hidup suku-suku di Sarmi, Maryone 2014 untuk suku Momuna di Yahukimo.
Keduanya laporan Balai Arkeologi Papua, bukan artikel jurnal. Artikel ini terbit 2021, lima sampai tujuh tahun setelah kedua laporan itu.
Kemungkinan besar datanya memang berasal dari dua lapangan lama yang disatukan. Metode tidak menyatakan hal itu, dan tidak menyebut kapan survei dilakukan.
Simpulan pun menyusut dibanding pembahasan. Pembahasan mendaftar delapan nilai budaya, sedangkan simpulan mendaftar tujuh dan menghilangkan nilai religius.
Di balik semua itu ada satu temuan yang tetap berdiri. Di Sarmi perhiasan tubuh kini hanya dikenakan pada acara adat.
Di Yahukimo benda yang sejenis masih dipakai pada kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat upacara. Perbedaan itu bukan soal bentuk, melainkan soal frekuensi.
Maryone menyebut sebagian nilai dan kegunaannya sudah beralih fungsi, meski bendanya masih terlihat dan digunakan. Kalimat itu mengandung pertanyaan yang tidak dijawabnya.
Kalau sebuah benda bertahan tetapi kesempatan memakainya menyempit, apa sebenarnya yang sedang dilestarikan. Bendanya, atau kebiasaan yang dulu melingkupinya.















