Ketakutan Si Cantik dalam Novel Cantik Itu Luka

A A

Ilustrasi buku tua yang terbuka di atas permukaan kayu. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Perempuan yang Tidak Masuk Hitungan
  2. Warisan Sebuah Dongeng
  3. Kasih Sayang yang Mengunci
  4. Kemandirian yang Datang Terlambat

Cekricek.id — Setiap kali orang membicarakan perempuan dalam Cantik Itu Luka, yang naik ke permukaan hampir selalu perempuan yang bertahan, yang menawar nasibnya sendiri, yang membalas dunia dengan kepala tegak. Dewi Ayu dibaca sebagai perempuan yang tidak bisa dipatahkan, Alamanda sebagai perempuan yang keras kepala, dan tumpukan kajian feminis atas novel Eka Kurniawan itu memperkuat kesan tersebut dari tahun ke tahun. Tetapi di teras rumah yang sama, pada malam-malam yang berulang, duduk seorang perempuan yang tidak melawan apa pun. Ia hanya menunggu seseorang datang. Perempuan itu bernama Si Cantik, dan justru dialah yang paling jarang dibaca orang.

Tiga peneliti akhirnya membacanya. Bhramastya Sandy Hargita dari Politeknik Negeri Sriwijaya, bersama Nurhadi dari Universitas Negeri Yogyakarta dan Aesoh Roding dari Attarkiah Islamiah Institute di Thailand, menerbitkan Fear of independence: A psychoanalytic approach to the main female character’s longing for love in Cantik Itu Luka pada jurnal Diksi Vol. 34 No. 1, tahun 2026. Yang mereka telusuri bukan kekuatan tokoh, melainkan ketakutan untuk berdiri sendiri — gejala yang sejak Colette Dowling dikenal dengan nama Cinderella Complex, dan yang di dalam novel itu mengambil bentuk paling sederhana yang bisa dibayangkan, yaitu duduk di teras dan menanti.

Perempuan yang Tidak Masuk Hitungan

Ilustrasi kursi gantung berbantal yang kosong di sudut berdinding bata.
Ilustrasi kursi gantung berbantal yang kosong di sudut berdinding bata. [Foto: Pexels]

Si Cantik hampir tidak pernah keluar rumah karena yakin wajahnya membuat orang menghindar, dan keyakinan itu bukan sekadar prasangka: dalam novel disebutkan bahwa Rosinah, pengasuh yang membesarkannya, pernah berulang kali mencoba membawanya ke rumah tetangga sejak ia masih bayi dalam gendongan, dan tidak ada satu pun yang mau menerimanya. Rumah pun menyempit menjadi seluruh dunianya. Yang tersisa dari dunia luar hanyalah orang-orang yang lewat di jalan depan, dan ia mengintip mereka dari balik tirai, seperti orang yang diam-diam menunggu diajak. Ketika ibunya pulang dan rumah ramai oleh tamu yang ingin mendengar ceritanya, Si Cantik justru mengunci diri di kamar. Dari titik itulah kebiasaan menunggu tumbuh, malam demi malam, di teras yang sama, tanpa jadwal dan tanpa kepastian siapa yang ditunggu.

Kepada Rosinah yang berulang kali bertanya apa yang sebenarnya ia tunggu, Si Cantik menjawab dengan kalimat yang oleh ketiga peneliti dijadikan pintu masuk seluruh analisis. Dalam kutipan dari halaman 22 novel itu, sebagaimana diterjemahkan di dalam jurnal tersebut, jawabannya berbunyi, “Aku sedang menunggu Pangeranku datang dan menyelamatkanku dari kutukan wajah buruk.” Kalimat itu tidak diucapkan sekali lalu selesai. Ia diulang, hampir sebagai rumus, dan pengulangan itulah yang menurut Hargita dan kawan-kawan menandai sesuatu yang lebih dalam daripada kesepian biasa. Yang ditunggu bukan orang tertentu dengan nama dan wajah, melainkan pembebasan dari sesuatu yang ia yakini melekat pada dirinya sendiri, dan pembebasan itu ia serahkan sepenuhnya kepada orang lain.

Baca juga Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik

Yang menunggu bersamanya adalah sesosok makhluk yang ia yakini malaikat pelindung, yang di dalam alur novel kemudian ternyata roh jahat. Keyakinan pada janji makhluk itu membuat penantiannya bertahan meski tidak pernah ada yang datang. Pada bagian lain yang dikutip peneliti dari halaman 491, novel itu mencatat malam kedua penantian: sebuah iring-iringan pengantar jenazah lewat, seorang penjual bajigur lewat tanpa sekali pun menoleh, tidak ada pangeran, dan Si Cantik akhirnya tertidur di kursi sampai Rosinah datang menggendongnya ke tempat tidur. Adegan itu tidak dramatis sama sekali. Justru karena tidak dramatis, ia menjelaskan banyak hal: penantian yang gagal pun tidak mengubah apa-apa pada orang yang menunggu, sebab yang menopangnya bukan bukti melainkan janji.

Warisan Sebuah Dongeng

Istilah yang dipakai jurnal itu berasal dari dongeng yang paling sering diceritakan ulang di dunia, dengan variasi di hampir setiap kebudayaan: seorang gadis yang hidupnya membaik setelah seorang pangeran datang menyelamatkannya. Dowling memakai nama dongeng tersebut untuk menyebut ketakutan perempuan akan kemandirian, sementara Harriet Lerner menautkan keawetan pola itu pada ideologi patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan dalam masyarakat. Kerangka teoretis yang dipakai ketiga peneliti diambil dari Karen Horney, yang membantah pandangan bahwa rasa rendah diri perempuan berakar pada kesadaran akan perbedaan anatomi, dan menggantinya dengan faktor sosiokultural: norma patriarkal, harapan yang dilekatkan pada gender, dan pola relasi yang diserap sejak kecil sampai menjelma rasa tidak cukup pada diri sendiri.

Horney membagi strategi menghadapi kecemasan menjadi tiga, dan yang dipakai untuk membaca Si Cantik adalah yang pertama, bergerak mendekat kepada orang lain: mencari persetujuan, kasih sayang, dan dukungan secara berlebihan agar merasa aman. Alih-alih membangun harga diri yang berdiri sendiri, orang dengan kecenderungan ini bersandar pada sosok yang dianggap lebih kuat — dalam banyak narasi, sosok laki-laki. Membaca lewat kerangka itu, penantian di teras bukan kesabaran, melainkan mekanisme pertahanan. Sisi lain kecenderungan yang sama muncul ketika sosok yang dinanti akhirnya benar-benar datang. Si Cantik berdandan sepanjang hari sebelum pertemuan berikutnya, dan pada bagian yang dikutip dari halaman 494 novel itu berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan lagi hanya diam, mengangguk, dan menggeleng, melainkan akan berbicara supaya lelaki itu tidak bosan.

Baca juga Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan

Si Cantik tidak sendirian di rak buku. Jurnal itu menyandingkannya dengan Lily Bart dalam The House of Mirth karya Edith Wharton, sebagaimana dikaji Asmarani, dengan Tita dalam Eiffel I’m in Love yang diteliti Intan, dan dengan Annelies Mellema dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang pernah diteliti Hargita dan Nurhadi sendiri. Perbandingan itu membuat satu perbedaan menonjol. Annelies mengenali ketergantungannya pada Minke dan ingin lepas, tetapi gagal dan tetap terperangkap dalam konflik batinnya; Si Cantik, pada akhirnya, tidak. Ketiga peneliti juga berhati-hati menolak pembacaan yang terlalu ringkas: mengutip Dyke dan Murphy, mereka mengingatkan bahwa perempuan kerap memaknai keberhasilan lewat relasi yang terpelihara, sehingga kebutuhan akan hubungan tidak otomatis sama dengan kelemahan.

Kasih Sayang yang Mengunci

Sebab ketakutan itu, menurut temuan mereka, ada dua, dan yang pertama justru datang dari kasih sayang. Rosinah membesarkan Si Cantik dengan perlindungan yang nyaris tanpa celah, bersedia melakukan apa saja agar anak itu tumbuh seperti anak perempuan lain, menutup segala kemungkinan ia terluka, dan dengan begitu menutup pula kemungkinan ia belajar mengurus diri sendiri. Dowling sudah lama menunjuk pola yang sama pada anak perempuan di luar novel: mereka lebih jarang didorong untuk mandiri dan melindungi diri dibandingkan anak laki-laki, yang sejak dini justru dibiasakan pada perlakuan berbeda. Perlindungan yang berlebihan, tulis tim itu mengikuti Dowling, meninggalkan ketergantungan pada afiliasi dan proteksi yang terbawa sampai dewasa.

Lapisan kedua datang dari ibunya. Dewi Ayu, menurut pembacaan jurnal tersebut, sejak awal menginginkan anak yang buruk rupa supaya anak itu luput dari nasib yang menimpa tiga kakaknya dan dirinya sendiri, yaitu diperebutkan laki-laki lalu terseret ke jalan hidup yang sama. Ketika ternyata Si Cantik tetap menarik perhatian laki-laki, ia justru memperketat kendali atas hidup anaknya. Kendali itu tidak melahirkan perlawanan terbuka melainkan permusuhan yang dipendam serta kecemasan, dan Si Cantik makin merasa terasing di dunia yang ia anggap tidak ramah. Dua bentuk kasih sayang, satu dari pengasuh dan satu dari ibu kandung, bergerak ke arah yang berlawanan, dan hasil akhirnya sama: seorang perempuan yang tidak pernah diberi kesempatan berdiri sendiri.

Baca juga Lima Buku Kajian Jawa, Tiga Penulis Indonesia

Sebab kedua adalah konsep diri yang buruk soal tubuh. Si Cantik sensitif terhadap apa pun yang menyinggung penampilannya, bahkan ketika tidak dimaksudkan sebagai hinaan. Dalam petikan dari halaman 24 yang dikutip jurnal itu, percakapan makan malam tentang kulit yang menua berlanjut menjadi permainan perbandingan yang menyebut-nyebut binatang, sampai Si Cantik memotongnya dengan menyebut dirinya sendiri sebagai pembanding, pendek dan menakutkan. Ketakutan ditinggalkan tumbuh dari akar yang sama; ia bahkan menyembunyikan kehamilannya dari lelaki yang ia nanti karena khawatir lelaki itu pergi. Yang menarik, para peneliti mengutip Killing dan Killing untuk menegaskan bahwa konsep diri anak lebih dibentuk oleh label yang diberikan lingkungan — si gemuk, si kurus — daripada oleh rupa fisiknya sendiri.

Kemandirian yang Datang Terlambat

Jalan keluarnya, dalam novel, datang lewat kematian. Setelah Sang Pangeran — Krisan — meninggal, Si Cantik berkabung lebih dalam daripada ibu pemuda itu sendiri, lalu perlahan mulai mengenali posisinya. Ia menyadari tidak lagi bisa bersandar pada sosok yang selama ini ia anggap penyelamat. Ia mulai keluar rumah, mengunjungi saudara-saudara perempuannya, dan mereka saling berkunjung; pada bagian yang dikutip dari halaman 499, novel itu menulis bahwa mereka hidup di rumah masing-masing dan saling mendatangi untuk menghibur diri. Ejekan tetangga yang menyebut mereka rombongan janda tidak lagi ia hiraukan, dan ia keluar dengan gaun panjang serta kain yang hampir menutupi wajahnya. Dowling menyebut perempuan yang sampai pada titik semacam itu sebagai orang yang berani menjadi rapuh, dan istilah itu dipakai jurnal tersebut sebagai penutup bagian temuannya.

Yang layak dijaga adalah batas klaimnya. Ini kajian kualitatif atas satu tokoh dalam satu novel, dikerjakan dengan pembacaan berulang oleh peneliti sendiri sebagai penjamin konsistensi tafsir, bukan survei atas perempuan Indonesia dan bukan pula potret sastra Indonesia secara keseluruhan. Tim penulisnya mengakui keterbatasan itu dengan menyatakan bahwa perspektif yang lebih menyeluruh masih perlu dikejar, dan menyarankan penelitian lanjutan menelaah gaya masing-masing pengarang dalam menampilkan ketakutan tokoh perempuan. Temuan bahwa penantian Si Cantik berhenti setelah Krisan mati pun menjelaskan urutan peristiwa di dalam cerita, bukan sebab-akibat psikologis yang bisa dipindahkan begitu saja ke ruang praktik.

Pembacaan semacam ini mengubah cara kita memandang satu sudut novel yang selama ini dilewati. Perempuan yang duduk di teras itu tidak lagi tampak sebagai tokoh pelengkap yang malang, melainkan sebagai catatan tentang bagaimana perlindungan, ejekan, dan sebuah dongeng lama bisa bekerja bersama-sama pada satu orang. Pertanyaan yang tidak dijawab jurnal itu, dan mungkin memang tidak bisa dijawab dari dalam teks, tinggal satu: kalau kemandirian Si Cantik baru datang setelah orang yang ia tunggu tidak mungkin lagi datang, apakah yang ia temukan itu kebebasan, atau sekadar penantian yang kehabisan alamat?

Bagikan

Baca Juga

Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya
Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin
Dua Nama Sasana dalam Novel Pasung Jiwa
Subjektivasi Perempuan dalam Dua Novel Jawa
124 Tuturan Emosi dalam Novel The Lady Escort
Revolver Dipanggil Sobat, Monyet Dipanggil Kawan