Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin

A A

Ilustrasi tangan membuka lembaran halaman sebuah buku. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Membaca Ulang Novel dengan Teknik Simak dan Catat
  2. Memilah Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk
  3. Menimbang Kuasa dan Keakraban di Balik Sapaan
  4. Menutup Kajian pada Tiga Jenis Saja

Cekricek.id — Melani Septiana Dilla membaca satu novel dari halaman pertama sampai halaman terakhir, lalu mengulanginya sambil mencatat. Yang ia buru bukan jalan cerita dan bukan watak tokohnya. Ia memburu kata-kata kecil yang maknanya berpindah tergantung siapa yang sedang bicara: saya, gue, lo, kamu, mereka, Non, Papa. Kata-kata yang biasanya dilewati pembaca tanpa dipikirkan. Dari satu novel setebal itu, catatannya berhenti pada angka 1.030. Bukan seribu tiga puluh kata, melainkan seribu tiga puluh kejadian pemakaian, masing-masing dengan keterangan siapa berbicara kepada siapa dan dalam keadaan apa.

Melani mahasiswa Universitas Negeri Padang. Bersama Siti Ainim Liusti, ia menulis Penggunaan Deiksis dalam Novel Lilin Karya Saniyyah Putri Salsabila Said, yang terbit di jurnal Persona: Kajian Bahasa dan Sastra, Volume 5 Nomor 2 tahun 2026, halaman 379 sampai 388. Objeknya novel Lilin karangan Saniyyah Putri Salsabila Said, terbitan Haru Semesta Persada tahun 2020, sebuah novel bertema keluarga yang padat percakapan. Nama Siti Ainim Liusti sendiri sudah muncul dalam kajian serupa tiga tahun sebelumnya, saat ia menelaah deiksis dalam novel Bulan karya Tere Liye.

Kata-kata yang diburu Melani punya nama teknis. Deiksis, istilah dalam kajian pragmatik untuk kata atau frasa yang rujukannya baru bisa ditentukan lewat konteks. Bambang Kaswanti Purwo menyebut sebuah kata bersifat deiktis apabila maknanya berubah mengikuti penutur, waktu, dan tempat tuturannya. George Yule menempatkannya sebagai salah satu bidang utama pragmatik, sejajar dengan implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan kesantunan berbahasa. P.W.J. Nababan menyebut deiksis sebagai penunjuk terhadap kata atau ungkapan yang sudah atau akan dipakai dalam percakapan itu.

Membaca Ulang Novel dengan Teknik Simak dan Catat

Ilustrasi tangan menulis catatan di buku tulis bergaris.
Ilustrasi tangan menulis catatan di buku tulis bergaris. [Foto: Pexels]

Cara kerja Melani sederhana dan melelahkan. Ia memakai metode simak dengan teknik baca dan teknik catat: membaca novel itu, menandai setiap kalimat yang memuat deiksis, lalu memindahkannya ke dalam tabel menurut jenis, bentuk, dan konteksnya. Novel Lilin dipilih justru karena banyaknya percakapan antartokoh yang menggambarkan interaksi sehari-hari, jenis bahan yang paling ramai memuat kata tunjuk semacam itu. Melani tidak menghitung kata dalam narasi pengarang, melainkan dalam tuturan yang keluar dari mulut para tokoh.

Baca juga Melodi Penutup Randai Kuantan Jadi Komposisi Baru

Satu tuturan tidak cukup dicatat sendirian. Melani harus menuliskan pula siapa yang berbicara, kepada siapa, dalam keadaan apa, dan bagaimana hubungan keduanya. Tanpa keterangan itu kata gue pada satu halaman tidak bisa dibedakan dari gue pada halaman lain. Hasil analisisnya kemudian diperiksa lewat triangulasi, dengan dosen pembimbing yang ahli di bidang linguistik bertindak sebagai validator atas kesesuaian klasifikasinya. Pemeriksaan itu diperlukan karena satu kata bisa masuk ke dua kotak sekaligus, tergantung sudut pandang yang dipakai pencatatnya.

Memilah Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk

Angka yang dikumpulkan Melani terbelah menjadi tiga. Deiksis persona, yaitu kata ganti orang, muncul 848 kali dan menjadi jenis yang paling dominan. Deiksis sosial, berupa bentuk sapaan yang menandai kedudukan, muncul 120 kali. Deiksis wacana, yang menunjuk bagian lain di dalam teks itu sendiri, muncul 62 kali. Bentuk kamu tercatat 152 kali, gue 113 kali, lo 109 kali, kita 83 kali, dan saya 76 kali. Melani juga mencatat bentuk anda sebanyak 23 kali, jumlah yang jauh lebih kecil dan hampir seluruhnya muncul dalam hubungan yang berjarak.

Sebaran itu bukan sekadar rekapitulasi. Pada halaman 46 novel itu tertulis kalimat “Memangnya tamparan yang saya berikan belum cukup?”, diucapkan tokoh bernama Dimas kepada Alena, anaknya sendiri, sesudah sebuah adegan kekerasan dalam keluarga. Melani mencatat kata saya di situ merujuk pada Dimas. Yang menarik baginya bukan rujukannya, melainkan pilihan bentuknya: Dimas memakai saya, bentuk berjarak, kepada anak kandungnya. Melani mencatat konteksnya sebagai hubungan yang timpang kekuasaannya dan belum akrab, dua keterangan yang membuat pilihan kata itu berhenti terdengar wajar.

Bandingkan dengan tuturan pada halaman 160. Di situ Bima mengajak Devan kabur dari tempat penculikan, dan kalimatnya berbunyi “Gak usah banyak drama, buruan kita kabur”. Bentuk kita dipakai Bima untuk merangkul dirinya sendiri bersama lawan bicaranya. Melani mencatat keduanya berkedudukan setara dan sudah akrab, dan keakraban itulah yang membuat bentuk jamak inklusif terasa wajar di tengah situasi genting. Bima tidak menyuruh Devan kabur; ia mengajak, dan kata kita yang mengerjakan perbedaan itu.

Baca juga Klenteng Tay Kak Sie Dirawat Uang Umat

Kedudukan yang timpang menghasilkan pilihan lain. Ketika Wina menculik Alena, tuturannya pada halaman 150 memakai kamu berulang kali kepada orang yang tidak ia kenal akrab. Sementara pada halaman 224 Nur menegur Dimas dan Dinda sekaligus dengan bentuk kalian. Melani menempatkan Nur sebagai penutur yang lebih berkuasa sekaligus sudah akrab dengan keduanya, dan bentuk jamak itu menandai bahwa teguran ditujukan kepada dua orang sekaligus. Kekuasaan dan keakraban ternyata bisa berjalan bersama tanpa saling meniadakan.

Menimbang Kuasa dan Keakraban di Balik Sapaan

Untuk membaca pilihan-pilihan itu, Melani meminjam kerangka Penelope Brown dan Stephen Levinson. Keduanya memusatkan perhatian pada hubungan antara penutur dan lawan tutur lewat dua sumbu: kekuasaan, yang menandai beda kedudukan sosial, dan solidaritas, yang menandai tingkat keakraban. Dua sumbu itu dipakai Melani untuk menjelaskan mengapa tokoh yang sama bisa berpindah dari saya ke gue, dari kamu ke lo, dalam novel yang sama. Perpindahan semacam itu tidak pernah netral, sebab tiap bentuk menaruh penutur pada jarak yang berbeda dari lawan bicaranya.

Deiksis sosial memperlihatkannya paling terang. Melani menghitung sapaan Papa 46 kali, Mami 30 kali, Mama 22 kali, Bunda 11 kali, dan Non 11 kali. Sapaan terakhir itu keluar dari mulut Mina, pembantu rumah tangga di rumah keluarga Alena. Pada halaman 211 novel itu, Mina memanggil Alena dengan sebutan Non sambil memberitahukan makan malam sudah siap, sekaligus meminta Alena yang memanggil tuan rumah. Melani mencatat Mina berkedudukan lebih rendah, tetapi hubungannya dengan Alena akrab.

Satu kata itu memuat seluruh peta rumah tangga tersebut. Non menandai Alena sebagai anak majikan, menandai Mina sebagai orang yang bekerja di sana, sekaligus menandai keakraban keduanya. Pilihan sapaan semacam ini, tulis Melani dan Siti Ainim Liusti, tidak bersifat acak melainkan dipengaruhi oleh perbedaan status sosial, peran, usia, maupun hubungan kekeluargaan yang dimiliki para tokoh. Sapaan Papa, Mami, Mama, dan Bunda yang muncul berdampingan di satu novel juga menandakan susunan keluarga yang tidak tunggal.

Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah

Jenis ketiga bekerja di dalam teks, bukan di antara orang. Pada halaman 205, Caca bercerita kepada Alena tentang seorang guru dan menyebut Bu Ningsih lebih dulu, baru kemudian memakai frasa guru itu untuk merujuk kembali kepadanya. Melani menyebut bentuk semacam ini anafora, rujukan ke belakang. Kebalikannya muncul pada halaman 121, saat Leo membujuk Reni dan memakai bentuk -nya sebelum nama Tiara disebutkan; Melani menamainya katafora, rujukan ke depan. Fungsinya, menurut catatan Melani, menghindarkan pengulangan nama yang sama terus-menerus agar tuturan tetap padu.

Menutup Kajian pada Tiga Jenis Saja

Melani dan Siti Ainim Liusti menyatakan sendiri batas pekerjaan mereka. Kajiannya hanya memfokuskan diri pada tiga jenis deiksis, yaitu persona, sosial, dan wacana, sehingga deiksis tempat dan deiksis waktu tidak dihitung sama sekali. Keduanya menyarankan penelitian berikutnya mengkaji seluruh jenis deiksis dengan teori pragmatik atau kerangka konteks yang berbeda, dan pada objek yang lebih beragam. Tanpa dua jenis yang tersisa itu, peta bahasa dalam novel Saniyyah Putri Salsabila Said masih menyimpan bagian yang belum dihitung.

Batas lain melekat pada bahannya. Yang dibaca Melani satu novel karangan satu pengarang, sehingga angka 1.030 itu menggambarkan cara bertutur tokoh-tokoh di dalam Lilin, bukan kecenderungan sastra Indonesia mutakhir. Dominasi bentuk gue dan lo di sana lebih tepat dibaca sebagai pilihan gaya Saniyyah Putri Salsabila Said dalam menulis dialog remaja perkotaan daripada sebagai potret bahasa sehari-hari secara umum. Banyaknya sebuah bentuk juga tidak dengan sendirinya menandakan bentuk itu paling penting bagi cerita.

Kajian semacam ini juga punya riwayatnya sendiri. Melani menempatkan temuannya di samping penelitian Aci pada 2019 dan Nadratunnisa bersama koleganya pada 2022, yang menghitung lima jenis deiksis dalam novel lain. Perbedaannya terletak pada bentuk -nya dan kamu yang di sini diperlakukan sebagai deiksis wacana, sesuatu yang tidak muncul pada dua penelitian tersebut, serta pada penggunaan konteks situasi tutur yang tidak dipakai Syahara dan Rini. Dengan Putra, yang meneliti deiksis persona pada 2024, Melani berbagi landasan yang sama, yaitu hubungan antartokoh sebagai dasar penafsiran, meski objek dan fokusnya berbeda.

Kembali kepada Melani dan tabelnya. Seribu tiga puluh catatan itu, pada akhirnya, adalah daftar tentang siapa boleh memanggil siapa dengan sebutan apa di dalam satu keluarga rekaan. Seorang ayah memilih saya kepada anaknya, seorang pembantu memilih Non kepada anak majikannya, dua remaja memilih gue dan lo. Novelnya bisa ditutup dan dikembalikan ke rak oleh Melani, tetapi susunan kuasa dan jarak itu tetap terbaca dari kata-kata yang paling pendek di dalamnya.

Bagikan

Baca Juga

Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya
Deiksis Novel Fabel, 3.690 Data dari Dua Novel Indonesia
Dua Nama Sasana dalam Novel Pasung Jiwa
Ketika Kata Di Sini Terasa Asing dalam Die Sommer
Ganefri: Keterbukaan Informasi Harus Diikuti Pembenahan Sistem
Marah Mendominasi Novel Aku Tak Membenci Hujan