Daftar Isi
Cekricek.id — Sri Megawati berhenti pada satu kalimat pendek di halaman sebelas sebuah novel Jerman. Kalimat itu diucapkan seorang perempuan muda bernama Leyla, yang saat itu baru turun dari pesawat di sebuah bandara di Suriah, negeri tempat ayahnya dibesarkan. Pada halaman itu tertulis, “Warum sehen die alle gleich aus hier?” — mengapa mereka semua tampak sama di sini? Kata “di sini” biasanya menandai kedekatan. Pada Leyla, yang sedang mengamati orang-orang dinas rahasia di ruang kedatangan, kata itu justru menandai jarak. Megawati menandainya, lalu mencari kalimat sejenis di seluruh novel.
Megawati mengajar di Universitas Negeri Yogyakarta. Bersama dua rekannya di kampus yang sama, Sulis Triyono dan Aditya Rikfanto, ia menuliskan pembacaannya atas novel itu dalam artikel The role of spatial and temporal deixis in enhancing narrative understanding in Die Sommer, yang terbit di jurnal LITERA Volume 24 Nomor 3 pada 2025. Novelnya sendiri berjudul Die Sommer, ditulis Ronya Othmann dan diterbitkan Carl Hanser Verlag pada 2020. Kisahnya berpindah-pindah antara Jerman dan Kurdistan, dan antara beberapa lapis waktu sekaligus.
Yang dikerjakan Megawati dan timnya bukan meringkas cerita. Mereka memburu satu jenis kata saja: kata yang maknanya baru muncul kalau pembaca tahu siapa yang sedang bicara, di mana, dan kapan. Dalam linguistik kata semacam itu disebut deiksis. Kata “di sini”, “di sana”, “sekarang”, dan “dulu” tidak punya alamat tetap. Alamatnya ditentukan oleh posisi orang yang mengucapkannya. Leyla, tokoh utama novel itu, mengucapkannya dari dua tempat sekaligus, dan itulah yang membuat Megawati tertarik: pada orang seperti Leyla, kata sependek itu menjadi tempat bertemunya dua dunia.
Leyla lahir dan besar di Jerman, anak seorang ayah Kurdi dari sebuah desa di Suriah utara, dekat perbatasan Turki. Setiap musim panas keluarganya terbang ke desa itu. Sisa tahunnya ia lewatkan bersekolah di dekat München, lalu kuliah di Leipzig. Ronya Othmann menyusun kisah itu dengan melompat-lompat antara dua tempat dan beberapa lapis waktu, sehingga pembaca gampang tersesat — dan justru di titik itulah Megawati menaruh perhatian. Kebingungan pembaca, menurut tim itu, bukan cacat novelnya melainkan bagian dari cara novel itu bekerja.
Menandai Setiap Kata Penunjuk di Halaman

Langkah pertama tim itu sederhana dan melelahkan: membaca dekat, halaman demi halaman, lalu menandai setiap kata, frasa, dan kalimat yang maknanya bergantung konteks. Megawati dan rekan-rekannya memakai tiga teknik berurutan. Pertama, memilah tiap ungkapan menurut acuannya — tempat atau waktu. Kedua, memeriksa sebarannya di sepanjang teks dengan memecah kalimat menjadi bagian-bagiannya untuk melihat pola yang berulang. Ketiga, membaca ungkapan itu sebagai tanda, yakni menanyakan apa kerjanya di dalam cerita, bukan sekadar apa artinya di kamus. Mereka mencatat, misalnya, apakah kata “hier” atau “dort” muncul bersama sudut pandang tertentu.
Cara memilah itu mereka ambil dari Sudaryanto, ahli metode analisis bahasa yang bukunya lazim dipakai di jurusan sastra Indonesia. Kerangka teorinya datang dari dua nama Jerman: Karl Bühler, yang menyebut kata-kata semacam ini sebagai penunjuk bahasa dan memperkenalkan gagasan titik acuan atau origo, dan Konrad Ehlich, yang memisahkan deiksis dari anafora. Ehlich berpendapat kata penunjuk mengarahkan lawan bicara ke luar teks, sementara anafora menahan perhatian di dalam teks. Bagi Ehlich, kata penunjuk juga membentuk lapisan makna yang penting untuk tafsir sastra, bukan sekadar penanda tata bahasa.
Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga
Ada satu nama Indonesia lagi yang dipakai Megawati sebagai pijakan: Bambang Kaswanti Purwo, yang pada 1984 membagi deiksis luar-teks menjadi tiga dimensi — persona, ruang, dan waktu. Tim Yogyakarta itu memakai dua dari tiga: ruang dan waktu. Persona mereka tinggalkan. Keputusan itu memperkecil cakupan, tetapi membuat pekerjaannya bisa selesai. Peter Stockwell, yang juga dikutip tim itu, mengingatkan bahwa linguistik selama ini terlalu banyak bekerja pada bahan satu bahasa dan satu budaya, sehingga ruang acuan lintas budaya jarang terlihat.
Hasil tandaan itu tidak diserahkan pada tafsir satu orang. Mengikuti anjuran metodologis Lexy J. Moleong, Megawati dan timnya menyilangkan bacaan dengan sesama peneliti: satu orang menandai, yang lain memeriksa, lalu keduanya berdebat sampai sepakat. Tafsir yang lolos kemudian diuji lagi terhadap kerangka Bühler dan Ehlich, ditambah kerangka naratif dari Monika Fludernik, Peter Stockwell, dan Barbara Dancygier. Dancygier-lah yang menyediakan istilah pasangan dekat dan jauh yang kemudian banyak dipakai Megawati untuk membaca perpindahan sudut pandang Leyla.
Memilah Nama Tempat Menjadi Dua Dunia
Dari tandaan itu muncul daftar nama tempat yang panjang, dan Megawati membelahnya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama Jerman: Leipzig, Bielefeld, Celle, kawasan dekat München, ditambah ruang-ruang kecil seperti kantin kampus, ruang kuliah, dan perpustakaan. Kelompok kedua Kurdistan dan Timur Tengah: Aleppo, Shingal, Rojava, Nusaybin, Deir-e-Zor, Kobane, Damaskus, Idlib, Hama, dan sebuah desa kecil di antara Tirbespî dan Rmelan. Pada halaman pertama novel itu, desa tersebut hanya diterangkan letaknya: di Suriah utara, dekat Turki.
Perbedaan kedua daftar itu bukan cuma soal geografi. Nama-nama Jerman, kata tim itu, menandai tahapan hidup seorang pencari suaka: tempat mendarat, tempat bersekolah, tempat bekerja. Pada halaman 134 ada kalimat yang berbunyi, “Ich bin in Leipzig angekommen. Später war ich in Bielefeld, dann in Celle” — saya tiba di Leipzig, kemudian di Bielefeld, lalu di Celle. Tiga kota, satu perpindahan, tanpa keterangan apa pun tentang alasannya. Megawati menambahkan catatan yang tidak enak: meski Leyla akrab dengan kantin, ruang kuliah, dan perpustakaan kampusnya, ruang-ruang itu tidak menghapus posisinya sebagai orang luar.
Nama-nama di daftar kedua bekerja lain. Menurut Megawati dan timnya, tiap nama di sana membawa muatan kekerasan kolektif yang tidak perlu dijelaskan lagi kepada pembaca. Menyebut Aleppo berarti menyebut kehancurannya. Menyebut Shingal berarti menyebut pembantaian orang Yazidi. Nama tempat berubah menjadi tanda ingatan, dan riwayat pribadi Leyla masuk ke dalamnya tanpa perlu satu kalimat pun yang berbunyi seperti pelajaran sejarah. Pada satu bagian, Othmann cukup menulis bahwa Leyla melihat semuanya lewat layar internet di Jerman, dan jarak antara dua dunia itu langsung terasa.
Baca juga Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi
Bagian yang paling menarik justru pada dua kata terpendek. Megawati mencatat bahwa “hier” dan “dort” di novel itu tidak setia pada satu negara. Pada halaman 43 tertulis, “Hier lernten wir Vokabeln, dort wurde gekämpft” — di sini kami menghafal kosakata, di sana orang berperang. Tetapi pada halaman 132 Leyla menyebut Laut Baltik, yang jelas berada di Jerman tempat ia tinggal, dengan kata “dort”: kami selalu berenang di sana. Pada halaman 4 dan 5, kata yang sama dipakai untuk desa kakek-neneknya: di sana kakek nenek saya tinggal, di sana sumurnya, di sana ladangnya.
Tim itu menafsirkan pergeseran tersebut sebagai perpindahan sudut pandang, bukan kekeliruan penulisnya. Jerman bisa menjadi “di sana” ketika Leyla sedang berada di desa ayahnya; Suriah bisa menjadi “di sini” sekaligus terasa asing. Yang menarik, menurut Megawati, “dort” untuk Laut Baltik justru tidak bernada terasing. Ia bernada kebiasaan: sesuatu yang dilakukan berulang, seperti ritual. Kata yang sama, dua muatan yang berlawanan. Yang berubah, tulis tim itu, bukan peta melainkan tempat Leyla berdiri ketika mengucapkannya.
Menempelkan Tahun pada Riwayat Satu Keluarga
Pada penanda waktu, Megawati menemukan pola yang mirip. Angka tahun di novel itu tidak berdiri sebagai keterangan kronologis. Pada halaman 18 tertulis bahwa peristiwanya terjadi pada akhir musim panas 1973, dan di kalimat berikutnya ayah Leyla menyebut usianya waktu itu dua belas tahun. Tahun 2011 muncul sebagai tahun keluarga itu bersemangat, tanpa kata “Arab Spring” disebut. Pembaca yang tahu akan mengisinya sendiri. Megawati menyebut cara ini menempelkan biografi satu keluarga pada rangka peristiwa yang jauh lebih besar tanpa menaikkan suara.
Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah
Dua angka lain bekerja lebih berat. Rentang 1915 sampai 1916 muncul lewat riwayat kakek Leyla dan kawan Armenianya, menyeret pembantaian orang Armenia ke dalam ruang keluarga. Angka 1987 muncul dalam sebuah kalimat pendek: pada tahun itu ayahnya mengajukan status tanpa kewarganegaraan. Megawati menyebut tanggal-tanggal semacam ini sebagai titik temu, tempat riwayat satu orang dan riwayat kolektif kebetulan bersinggungan di satu baris. Kalimat tentang status tanpa kewarganegaraan itu, catat tim tersebut, sekaligus keputusan politik dan keputusan pribadi, dan novel itu tidak memisahkan keduanya.
Selain angka, ada penanda musim. Kata “Hochsommer” atau puncak musim panas, menurut tim itu, tidak sekadar menerangkan cuaca; ia menandai irama tahunan Leyla, karena musim panas adalah waktu keluarga itu terbang ke desa. Sebaliknya “im Winter” menandai kehidupan di Jerman. Musim menjadi jam yang berputar, bukan garis yang bergerak maju — yang oleh Megawati dan rekannya disebut lapisan waktu yang lebih puitis daripada kronologis. Musim gugur muncul sekali sebagai penanda masa sakit paman Leyla di Suriah.
Kata keterangan waktu melengkapi daftar itu. “Jetzt” atau sekarang dipakai di bagian-bagian reflektif, misalnya pada halaman 32: sekarang mereka tidak bisa lagi melindungi kami. “Damals” atau dulu hampir selalu membuka kilas balik dan menandai jarak. “Früher” menandai kebiasaan lama yang berulang. Perubahan bentuk kata kerja — dari lampau ke bentuk kini — dipakai Othmann untuk menarik peristiwa lama ke depan mata pembaca. Ada juga kata yang sengaja kabur, seperti “irgendwann” atau entah kapan, yang menurut tim itu meniru cara ingatan bekerja: tidak semua yang diingat punya tanggal.
Menguji Tafsir dan Menandai Batasnya
Megawati, Sulis Triyono, dan Aditya Rikfanto menutup laporan mereka dengan klaim yang cukup terkendali. Mereka tidak mengatakan telah menemukan kaidah umum tentang sastra transkultural. Yang mereka periksa satu novel, dengan metode kualitatif dan tafsir yang disilangkan antarpeneliti, dan mereka mengakhirinya dengan ajakan agar perangkat kebahasaan lain dalam cerita lintas budaya diteliti lebih lanjut. Satu novel Jerman-Kurdi bukan potret sastra diaspora secara keseluruhan, dan tim itu tidak memperlakukannya sebagai potret semacam itu.
Kelemahan pendekatan semacam ini juga tidak sulit ditebak. Membaca dekat selalu bergantung pada pembacanya; nomor halaman bisa diperiksa siapa saja, tetapi tafsir atas kata “dort” tidak bisa dihitung dengan angka. Yang dilakukan Megawati adalah menekan risiko itu dengan pemeriksaan silang, bukan menghapusnya. Ia menempatkan temuan itu sebagai satu cara membaca, bukan satu-satunya. Nomor halaman yang dicantumkan sepanjang artikel itu berfungsi seperti alamat: siapa pun yang punya novelnya bisa datang dan membantah.
Namun ada yang tersisa dari cara membaca itu, dan gunanya melampaui novel Ronya Othmann. Orang yang tumbuh di antara dua tempat memakai kata penunjuk dengan cara yang tidak stabil, dan ketidakstabilan itu bisa dibaca. Anak perantau yang menyebut kampung ibunya sebagai “di sana” setelah tiga hari berada di sana sedang menandai sesuatu tentang dirinya, bukan tentang peta. Megawati tidak mengembangkan kemungkinan itu di artikelnya, dan memang bukan itu yang ia janjikan.
Sri Megawati kembali ke kalimat di halaman sebelas itu di bagian akhir tulisannya. Leyla berdiri di negeri ayahnya, memakai kata yang berarti dekat, dan merasa asing. Dua hal itu terjadi dalam satu kata sepanjang empat huruf. Tidak ada penjelasan tambahan di sekitarnya. Novel itu membiarkannya begitu saja. Yang tersisa buat pembaca hanyalah kata sependek itu, dan kesadaran bahwa ia sendiri memakainya setiap hari tanpa pernah memeriksanya.














