- Kajian dua peneliti Universitas Negeri Padang mencatat 3.690 data deiksis persona dengan 14 bentuk dari dua novel bergaya fabel.
- Bentuk aku paling mendominasi, sedangkan bentuk dia tercatat sebagai deiksis persona dengan jumlah data terkecil di seluruh tabel pertama.
- Deiksis sosial hanya 95 data dari 8 bentuk honorifik, dengan sapaan bang terbanyak 47 data dan kakek paling sedikit 2 data.
- Abstrak menyebut 2.724 data konteks berasal dari 65 bentuk, sedangkan bagian hasil menyebut 6 situasi tutur.
- Objek kajian hanya dua novel, dan deiksis tempat, waktu, serta wacana belum tercakup dalam penelitian ini.
Daftar Isi
Cekricek.id — Kata “aku” menang telak. Kajian deiksis novel fabel oleh dua peneliti Universitas Negeri Padang mencatat 3.690 data deiksis persona dari 14 bentuk.
Penelitian itu dikerjakan Nurfatjriah Wulandari bersama Ngusman Abdul Manaf. Keduanya berasal dari Universitas Negeri Padang, dan naskah mereka dimuat jurnal Persona.
Judulnya Jenis dan Bentuk Deiksis Persona dan Deiksis Sosial serta Konteks Penggunaannya dalam Novel Bergaya Fabel. Anak judulnya menyebut studi dalam dua novel Indonesia terpilih.
Artikel itu mengisi halaman 451 sampai 466 pada volume 5, nomor 3, tahun 2026. Dua novel menjadi seluruh sumber datanya.
Dua Novel yang Dibedah
Novel pertama adalah O karya Eka Kurniawan. Novel kedua adalah Dongeng Kucing karya Boy Candra, dan keduanya dipilih karena mengangkat isu sosial lewat tokoh hewan.
Menurut naskah ini, O bercerita lewat sudut pandang seekor monyet betina bernama O. Alurnya tidak linear, dan temanya menyentuh identitas serta perbedaan kelas sosial.
Tentang Dongeng Kucing, penulisnya menyebut novel itu membuka peluang analisis pragmatik. Pemakaian deiksis di dalamnya dinilai mencerminkan cara bahasa membangun perspektif tokoh.
Pendekatan yang dipakai deskriptif kualitatif. Datanya berupa tuturan tokoh yang mengandung deiksis persona dan deiksis sosial di dalam dua novel tersebut.
Tahapan kerjanya empat langkah. Peneliti mengidentifikasi deiksis beserta penggunaannya, mengabsahkan data lewat triangulasi, mengklasifikasi data, lalu menafsirkannya.
Triangulasi dijalankan dosen pembimbing yang disebut ahli di bidang linguistik. Validasi berlangsung dengan mengecek data pada lembar validasi, lalu menandatanganinya bila data dianggap valid.
Baca juga Kidung Subrata, Naskah Merapi-Merbabu dengan 22 Salinan
Kenapa Kata Ganti Diurus Serius
Naskah ini membuka dengan alasan kenapa deiksis penting. Pemakaiannya sering terjadi dalam percakapan sehari-hari, dan ia diperlukan agar kesalahpahaman tidak muncul.
Penulisnya mencontohkan ambiguitas rujukan pada kata dia. Kata itu bisa menunjuk lebih dari satu orang dalam sebuah percakapan bila konteksnya tidak jelas.
Contoh lain adalah pemakaian gue dan elo. Sapaan yang bergantung pada lingkungan sosial disebut membuat pemakaian deiksis menjauh dari kondisi ideal.
Dalam komunikasi lisan, deiksis dipahami lewat situasi antara penutur dan lawan tutur. Dalam teks tertulis, deiksis ditentukan oleh sudut pandang pengarang.
Fabel dipilih karena tokoh hewannya merupakan personifikasi karakter manusia. Tokoh hewan dipakai sebagai strategi simbolik untuk menyampaikan kritik soal ketimpangan sosial, relasi kuasa, dan konflik identitas.
Aku Mendominasi, Dia Paling Jarang
Hasilnya, deiksis persona terkumpul 3.690 data dengan 14 bentuk. Deiksis sosial jauh lebih sedikit, yaitu 95 data dengan 8 bentuk.
Deiksis persona pertama tunggal punya empat bentuk, yakni aku, saya, ku-, dan -ku. Bentuk aku disebut paling mendominasi seluruh data yang terkumpul.
Persona kedua tunggal punya tiga bentuk, yaitu kau, kamu, dan -mu. Persona ketiga tunggal juga tiga bentuk, yakni dia, ia, dan -nya.
Yang paling jarang justru bentuk dia. Menurut naskah ini, dia adalah bentuk deiksis persona dengan jumlah data terkecil di seluruh tabel pertama.
Persona pertama jamak memakai kami dan kita. Persona kedua jamak hanya kalian, sedangkan persona ketiga jamak hanya mereka.
Penulisnya menyimpulkan pengarang lebih banyak menghadirkan sudut pandang tokoh lewat persona pertama tunggal. Simpulan itu ditarik dari dominasi bentuk aku.
Satu contoh data diambil dari O. Tuturan “Aku sudah punya isteri dan anak” merujuk kepada tokoh polisi bernama Sobar.
Contoh dari Dongeng Kucing berbunyi “Aku dari kota”. Bentuk aku pada tuturan itu merujuk kepada tokoh kucing hitam bernama Bobin.
Dua tuturan itu memakai bentuk yang sama. Rujukannya berbeda karena penuturnya berbeda, dan begitulah sifat deiksis yang dijelaskan penulisnya.
Bentuk kau juga dicontohkan dari dua sisi. Di O ia dipakai pada “Kau makin gila, Betalumur”, sedangkan di novel kedua ia merujuk kucing putih bernama Gaura.
Bentuk kami muncul pada tuturan “Setengah bungkus rokok sehari, atau kami cari tempat lain”. Rujukannya sepasang pemulung tua dalam novel O.
Contoh persona kedua jamak diambil dari novel yang sama. Tuturan “Kuingatkan kalian, gedung ini berhantu” juga merujuk kepada sepasang pemulung tua itu.
Di novel kedua, kalian dipakai pada “Kalian saudara kandung, harus saling dukung”. Rujukannya kucing kembar Kiti Pengkor dan Bobin.
Bentuk mereka dicontohkan lewat dua tuturan. Pada yang pertama rujukannya pemuda miskin dan gadis kaya dalam film, pada yang kedua manusia yang berlalu-lalang.
Baca juga Matrilineal Minangkabau, Utopia Kesetaraan Perempuan
Bang, Kawan, Sayang, Nak
Deiksis sosial dalam dua novel itu seluruhnya berjenis honorifik. Delapan bentuk tercatat, yakni sayang, sobat, abang, bang, nak, kawan, pak, dan kakek.
Bentuk bang paling banyak muncul dengan 47 data. Bentuk kakek paling sedikit dengan 2 data, dan seluruh deiksis sosial berhenti di angka 95.
Contoh honorifik bang diambil dari novel O. Tuturan “Buat dapur juga sering empot-empotan, Bang” merujuk kepada tokoh Rudi Gudel.
Pada contoh lain, bang merujuk kepada tokoh pemilik sirkus. Sapaan yang sama menunjuk orang berbeda, bergantung siapa yang sedang berbicara.
Bentuk kakek muncul di kedua novel. Di O ia merujuk kakek dari gadis penolong Betalumur, sedangkan di novel kedua ia merujuk kucing Si Tua.
Kuasa dan Keakraban Menentukan Sapaan
Penulisnya memakai kerangka Brown dan Levinson untuk membaca konteks tuturan. Petutur dirinci berdasarkan perbedaan kekuasaan dan tingkat solidaritas atau keakraban.
Kekuasaan dibagi tiga, yaitu petutur lebih berkuasa, petutur lebih rendah kekuasaannya, dan petutur sama kedudukannya. Solidaritas dibagi dua, yakni tinggi dan rendah.
Dari kerangka itu lahir enam situasi tutur. Konteks pemakaian deiksis persona terkumpul 2.724 data, sedangkan konteks deiksis sosial hanya 86 data.
Pada petutur lebih berkuasa dengan solidaritas rendah, bentuk kau dan sapaan bang cenderung dipakai. Bila solidaritasnya tinggi, bentuk aku yang menonjol, tetap dengan sapaan bang.
Pada petutur sama kedudukannya dengan solidaritas rendah, bentuk kau dipakai bersama sapaan kawan. Bila solidaritasnya tinggi, bentuk aku berpasangan dengan sapaan sayang.
Pada petutur berkekuasaan lebih rendah dengan solidaritas rendah, bentuk kau kembali dominan. Bila solidaritasnya tinggi, kau berpasangan dengan sapaan nak.
Sel terbesar ada pada situasi petutur sama kedudukannya dengan solidaritas tinggi. Bentuk aku di sana tercatat 313 data, terbanyak di seluruh tabel konteks.
Sel terkecil berisi 2 data. Bentuk ku-, ia, dan kita pada situasi petutur lebih berkuasa dengan solidaritas rendah masing-masing hanya muncul dua kali.
Bentuk saya juga hanya 2 data. Angka itu muncul pada situasi petutur sama kedudukannya dengan solidaritas rendah, setara dengan bentuk kalian pada solidaritas tinggi.
Satu contoh tuturan pada relasi kuasa berbunyi “Aku tahu kau berutang budi kepada Jarwo Edan, Bang”. Rujukan sapaannya adalah tokoh Rudi Gudel.
Contoh pada relasi setara berbunyi “Kita akan pindah, Sobat”. Contoh lain, “Kau beruntung, Kawan kecil”, merujuk kepada tokoh monyet kecil.
Penulisnya menyatakan pola hubungan dengan solidaritas rendah cenderung mempertahankan jarak sosial. Pemilihan sapaan disebut mengikuti hubungan sosial, usia, dan status antartokoh.
Angka yang Tidak Sinkron dan Batas Kajian
Ada ketidakcocokan di dalam naskah sendiri. Abstraknya menyebut 2.724 data konteks deiksis persona berasal dari 65 bentuk, dan 86 data deiksis sosial dari 10 bentuk.
Bagian hasil menyebut angka yang berbeda. Di sana 2.724 data disebut berasal dari 6 situasi tutur, dan 86 data dari 5 situasi tutur.
Satu label bagian juga tidak cocok dengan isinya. Bagian yang diberi judul deiksis sosial bentuk bang justru memuat dua contoh tuturan berbentuk kakek.
Penulisnya menyampaikan keterbatasan penelitian secara terbuka. Objek kajiannya hanya dua novel bergaya fabel, sehingga temuannya terbatas pada karakteristik kedua novel itu.
Batas kedua ada pada fokus kajian. Tiga jenis deiksis lain, yakni deiksis tempat, deiksis waktu, dan deiksis wacana, belum tercakup.
Batas ketiga ada pada instrumen. Penelitinya sendiri yang menjadi instrumen, sehingga identifikasi dan klasifikasi data tidak lepas dari subjektivitas penafsiran meski sudah ditriangulasi.
Baca juga Jabatan Puun Kanekes Berakhir Ketika Istrinya Meninggal
Saran penulisnya ada tiga. Menambah jumlah novel bergaya fabel, menganalisis jenis deiksis lain, serta mengaitkan temuan deiksis dengan gaya bahasa, struktur naratif, atau pesan moral.
Manfaat praktis yang disebut adalah bahan ajar. Hasil kajian dinilai dapat dipakai dalam pembelajaran pragmatik di perguruan tinggi maupun sekolah menengah.













![Ilustrasi tangan memegang smartphone yang menampilkan sebuah artikel berita. [Foto: Canva]](https://cekricek.id/aset/u/2026/09/Foto_11zon-100x75.webp)

