Marah Mendominasi Novel Aku Tak Membenci Hujan

A A

Ilustrasi seorang remaja perempuan membaca buku di antara rak toko buku. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Kemarahan yang Dibiarkan Telanjang
  2. Kesantunan yang Dipilih Belakangan
  3. Diam yang Tidak Pernah Muncul

Cekricek.id — Sastra populer sering diperlakukan sebagai ruang yang santun, tempat tokoh menahan diri karena penulisnya ingin mereka disukai, dan tempat perasaan disampaikan dengan kalimat yang sudah dihaluskan lebih dulu. Novel remaja yang satu ini menolak anggapan itu hampir di setiap bab. Tokohnya membentak, menuduh, mengeluh, lalu meminta maaf dengan tergesa, nyaris selalu tanpa basa-basi. Ketika dua peneliti dari Padang duduk menghitung tuturan di dalamnya satu per satu, yang muncul dari hitungan itu bukan potret kesopanan remaja, melainkan sebaran kemarahan yang merata dari halaman awal sampai halaman terakhir, disertai permintaan maaf yang jumlahnya nyaris sebanyak bentakannya.

Novel itu berjudul Aku Tak Membenci Hujan, karya Sri Puji Hartini, diterbitkan di Bandung pada 2023. Yang membedahnya adalah Lara Putri Yulina dan Siti Ainim Liusti, keduanya dari Universitas Negeri Padang, lewat artikel Tindak Tutur Ekspresif dan Strategi Bertutur dalam Novel Aku Tak Membenci Hujan Karya Sri Puji Hartini: Kajian Pragmatik yang dimuat jurnal Persona: Kajian Bahasa dan Sastra, Volume 5 Nomor 1, tahun 2026, halaman 23 sampai 33. Keduanya membaca novel itu bukan sebagai cerita yang harus dinikmati, melainkan sebagai kumpulan tuturan yang bisa dipilah, dihitung, dan diberi nama menurut dua kerangka teori yang usianya jauh lebih tua daripada novelnya.

Kerangka pertama datang dari Austin, yang pada 1962 menyatakan bahwa setiap tuturan pada dasarnya adalah tindakan, bukan sekadar pemindahan keterangan. Searle kemudian pada 1979 memilah salah satu jenis tindakan itu — tindak tutur ekspresif, yaitu tuturan yang membawa keluar perasaan penuturnya — menjadi sembilan bentuk: ucapan terima kasih, permintaan maaf, ucapan selamat, pujian, pernyataan kebencian, tuduhan, kemarahan, keluhan, dan kritik. Kerangka kedua milik Brown dan Levinson pada 1987, yang tidak mengurusi isi tuturan melainkan bungkusnya, dari yang terus terang tanpa basa-basi sampai yang samar-samar sehingga lawan bicara harus menebak sendiri maksudnya, ditambah satu kemungkinan terakhir ketika penutur memilih tidak berkata apa-apa.

Baca juga Ketika Mengeluh Jadi Bahasa Utama Sebuah Novel

Cara kerjanya sederhana dan agak kuno di tengah kajian bahasa yang gemar perangkat lunak: novel dibaca, tuturan yang memuat ekspresi perasaan disalin, lalu dipilah ke dalam kategori. Peneliti menyebutnya metode simak dan catat, dengan dirinya sendiri sebagai instrumen utama dan tabel analisis sebagai alat bantu, ditempuh lewat tahap identifikasi, klasifikasi, interpretasi, sampai penarikan simpulan. Keabsahan data diperiksa dengan triangulasi teori, yakni mengembalikan setiap kategori kepada rumusan Searle serta rumusan Brown dan Levinson, bukan kepada kesan pembacanya sendiri. Hasilnya dua tabel frekuensi yang, kalau dibaca berdampingan, memperlihatkan dua hal sekaligus: perasaan apa yang paling sering keluar, dan dengan cara apa perasaan itu dikeluarkan.

Kemarahan yang Dibiarkan Telanjang

Ilustrasi seorang perempuan berteriak marah dengan kedua tangan terangkat.
Ilustrasi seorang perempuan berteriak marah dengan kedua tangan terangkat. [Foto: Pexels]

Seratus lima puluh tuturan ekspresif terkumpul dari satu novel, dan kemarahan menempati porsi terbesar dengan 33 data atau 22 persen. Di bawahnya berturut-turut permintaan maaf 28 data, keluhan 22, pujian 21, ucapan terima kasih 18, kritik 11, ucapan selamat 10, tuduhan 5, dan pernyataan kebencian hanya 2 data atau 1,33 persen. Susunan itu sendiri sudah menarik. Novel yang temanya kesepian, penolakan, dan keinginan untuk diterima ternyata paling banyak berisi bentakan, sementara kebencian yang dinyatakan terang-terangan justru paling langka. Marah dan benci, dalam hitungan itu, bukan barang yang sama: yang satu meledak dan selesai, yang lain mengendap dan hampir tidak pernah diucapkan.

Setiap bentuk punya penanda lingual yang bisa ditunjuk, dan di situlah kajian semacam ini menghindar dari kesan mengarang. Tuduhan dikenali dari frasa yang menyalahkan secara langsung, seperti pada halaman 221 novel itu, ketika seorang tokoh berkata, “Oh. Ternyata lo biang kerok yang sudah bikin tubuh gue babak belur selama ini.” Keluhan muncul lewat kalimat yang menempatkan diri sebagai beban, seperti pada halaman 68 yang berbunyi, “Begitu juga dengan Karang, hanya bisa menjadi beban untuk mereka.” Contoh untuk bentuk marah diambil dari halaman 300, berupa seruan agar seseorang berhenti dan menjauhi anak si penutur; peneliti mencatat satu kata kasar di dalamnya sebagai penanda emosi negatif yang kuat, bukan sebagai bumbu dialog.

Sisi yang hangat pun ada, dan justru itu yang memperlihatkan jarak antartokoh. Pada halaman 44 tertulis kalimat terima kasih untuk seorang ibu, “Terima kasih telah bertarung nyawa untuk membawa Karang ke dunia ini,” sementara pada halaman 40 seorang tokoh memuji dengan cara memutar, meminta kue yang paling cantik seperti mamanya. Pujian, keluhan, dan tuduhan datang dari mulut yang sama dalam rentang halaman yang tidak berjauhan. Emosi di novel ini tidak dibagi rapi kepada tokoh baik dan tokoh jahat; ia berpindah-pindah, kadang di dalam satu percakapan yang sama. Ucapan selamat pun terekam sepuluh kali, salah satunya dari seorang guru kepada muridnya pada halaman 18 karena si murid mendapat pasangan kerja yang dianggapnya hebat.

Kesantunan yang Dipilih Belakangan

Lapis kedua analisis itu mengukur cara, bukan isi. Dari 150 tuturan, strategi bertutur terus terang tanpa basa-basi dipakai 53 kali atau 35,33 persen, disusul kesantunan positif 42 kali, kesantunan negatif 39 kali, dan bertutur samar-samar 16 kali. Artinya lebih dari sepertiga tuturan ekspresif di novel itu disampaikan tanpa pelunak sama sekali, sementara dua bentuk kesantunan bila dijumlahkan justru lebih besar daripada keduanya. Yang menonjol dari angka itu bukan kemenangan mutlak keterusterangan, melainkan kenyataan bahwa keterusterangan menjadi pilihan tunggal terbesar di tengah empat cara lain yang sebenarnya tersedia bagi tokoh-tokohnya, padahal cara-cara lain itu justru yang paling banyak dirinci teorinya.

Baca juga Kerajinan Karawo Bertahan di Tangan 21 Perajin

Contoh untuk strategi paling telanjang itu datang dari halaman 42, ketika sebuah pemberian ditolak tepat di depan orang yang memberikannya: “Makan ini! Saya nggak butuh kue murahan dari kamu!” Tidak ada pelunak, tidak ada permintaan maaf, tidak ada usaha menyelamatkan muka lawan bicara. Kalimat itu bekerja persis seperti yang dirumuskan Brown dan Levinson tentang bertutur terus terang, yakni menyampaikan maksud dengan tegas sambil mengabaikan perasaan orang yang diajak bicara. Di dalam cerita, kalimat semacam itu berfungsi sebagai pemicu konflik, bukan penutupnya. Kesantunan negatif, sebagai pembanding, punya sepuluh substrategi tersendiri, mulai dari menyampaikan maksud secara tidak langsung sampai menyatakan sesuatu sebagai aturan umum agar tidak terdengar memaksa.

Bandingkan dengan kesantunan yang dipilih tokoh lain. Pada halaman 23, seorang pelayan menyapa majikannya dengan pujian yang sekaligus menandai posisi, “Seperti biasa, Tuan Muda selalu berprestasi, Nyonya,” dan itu dihitung sebagai kesantunan positif dengan substrategi menunjukkan simpati, satu dari lima belas substrategi yang dirinci Brown dan Levinson. Pada halaman 19, permintaan maaf dipakai untuk mengurangi beban lawan bicara, “Sorry, ngantuk. Nggak denger lo bangunin gue,” yang masuk kesantunan negatif. Sementara pada halaman 47, sebuah pertanyaan retoris tentang remaja yang harus mengalami krisis identitas dipakai untuk menyindir tanpa menyebut sasarannya, dan tuturan semacam itu dihitung sebagai bertutur samar-samar.

Diam yang Tidak Pernah Muncul

Ada satu strategi yang sama sekali tidak ditemukan: bertutur diam, ketika penutur memilih menyimpan kalimatnya agar tidak ada yang tersakiti. Nol data dari 150. Pada novel yang temanya kesepian dan penolakan, ketiadaan itu terasa ganjil sekaligus masuk akal, sebab apa yang tersimpan di kepala tokoh memang sulit ditangkap oleh metode simak dan catat yang hanya bekerja pada tuturan yang tertulis. Lara Putri Yulina dan Siti Ainim Liusti membaca pola keseluruhannya dengan hati-hati; menurut keduanya, “emosi pada novel diekspresikan dengan lugas demi mempertegas konflik dan karakterisasi.” Dominasi tuturan marah, tulis mereka pada bagian simpulan, dipakai untuk melukiskan kondisi psikologis tokoh yang sarat emosi negatif.

Baca juga Delusi Cinta Kanuma dalam Novel Jepang Kankin

Perbandingan dengan penelitian lain yang disebut di dalam artikel itu menajamkan letak temuannya. Kajian tindak tutur ekspresif di media sosial oleh Sukmawati dan Fatmawati pada 2023 serta Nurjanah dan kawan-kawan pada tahun yang sama berhadapan dengan data yang lahir spontan dari peristiwa aktual, sedangkan tuturan di dalam novel disusun lebih dulu oleh penulisnya dan ditempatkan pada alur. Kajian sejenis atas novel oleh Agustine dan Amir pada 2023 serta Putri dan Juita pada 2024 berhenti pada jenis dan fungsi tindak tuturnya tanpa mengukur strategi bertuturnya. Di ranah publik — kolom komentar film dokumenter, video edukasi, sampai debat calon presiden — tuturan ekspresif lebih banyak dipakai untuk membujuk; di novel ini ia dipakai untuk membangun watak.

Yang tidak boleh dilewatkan adalah batas temuannya, dan peneliti menyatakannya sendiri: sumber datanya hanya satu novel, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan ke karya sastra lain, dan penelitian lanjutan disarankan memakai novel berbeda, film, atau media digital. Angka 22 persen itu berlaku untuk Aku Tak Membenci Hujan, bukan untuk novel remaja Indonesia. Hitungannya juga bergantung pada satu pembaca yang memutuskan sebuah kalimat masuk kategori marah atau kategori mengeluh, meski keputusan itu dikembalikan kepada teori dan bukan kepada selera. Klasifikasi semacam ini menunjukkan kecenderungan, bukan hukum. Persentase keluhan bahkan tercatat berbeda tipis pada dua tempat di artikel yang sama, 14,64 persen di tabel dan 14,67 persen di uraiannya, selisih yang kecil tetapi mengingatkan bahwa hitungan tangan selalu menyisakan celah.

Sisanya adalah pertanyaan yang tidak terjawab oleh 150 tuturan tadi. Novel ini tumbuh dari lingkungan pembacaan digital, dan peneliti mencatat bahwa kajian tindak tutur atas novel populer yang lahir dari platform semacam itu masih terbatas jumlahnya. Novel-novel semacam itu ditulis untuk dibaca di layar kecil, sepotong demi sepotong, di antara balasan komentar. Jadi keterusterangan yang mendominasi dialognya itu sebenarnya milik siapa: watak tokoh-tokohnya, atau kebiasaan bertutur para pembacanya yang ikut terbawa masuk ke dalam cara novel itu ditulis?

Bagikan

Baca Juga

Deiksis Novel Fabel, 3.690 Data dari Dua Novel Indonesia
Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin
Ketika Tipologi Soekanto Membaca Novel 1998
Tindak Tutur di Balik 215 Ulasan Google Kampus
Mawar Melapor Pelecehan, Abah Menjawab Kodrat
Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran