- Sebanyak 12 dari 30 pedagang perempuan yang diwawancarai di Pasar Rabu Sunyani mengaku sudah didiagnosis darah tinggi.
- Para pedagang mengaku rutin menyantap ikan asin, bumbu kaldu blok, dan gorengan yang dijual di pasar.
- Gerak kerja di lapak berlangsung putus-putus dan menurut peneliti belum memenuhi anjuran aktivitas fisik WHO.
- Biaya, jarak, dan antrean panjang membuat sebagian pedagang memilih ramuan herbal yang lebih murah.
Daftar Isi
- Siapa Pedagang yang Duduk untuk Diwawancarai
- Pengetahuan yang Tumbuh dari Cerita Sesama Pedagang
- Ikan Asin, Kaldu Blok, dan Gorengan di Sela Dagangan
- Tekanan Kerja dari Persaingan dan Urusan Uang
- Seharian Bergerak, tetapi Bukan Berolahraga
- Klinik Jauh, Antrean Panjang, dan Ramuan Keluarga
- Batas Temuan dari Satu Pasar di Sunyani
Para pedagang perempuan yang diwawancarai di Pasar Rabu, Sunyani, Ghana, banyak yang bisa bercerita tentang darah tinggi: tentang saudara yang didiagnosis, teman yang pingsan, atau sesama pedagang yang harus menjaga tekanan darahnya. Namun, menurut para peneliti yang mewawancarai mereka, kesadaran saja tidak serta-merta berujung pada pencegahan dan pengendalian penyakit itu.
Cerita-cerita itu dihimpun Benedicta Princess Dotse dan rekan dari College of Nursing and Midwifery, Tanoso-Sunyani, Ghana, dalam makalah Determinants and experiences of hypertension among market women at wednesday market, sunyani: a qualitative study yang dimuat jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka mewawancarai 30 pedagang perempuan berusia 25 sampai 60 tahun yang sudah berdagang di pasar itu sedikitnya setahun, dalam bahasa Twi atau Inggris, masing-masing sekitar 30 hingga 45 menit.
Pasar Rabu adalah salah satu pusat dagang utama di Wilayah Bono. Pasar itu sebenarnya buka setiap hari, tetapi kesibukannya memuncak pada hari Rabu, ketika pedagang dan pembeli dari Sunyani serta permukiman di sekitarnya berdatangan. Lapaknya dipenuhi perempuan yang menjual bahan makanan, pakaian, dan barang rumah tangga, sehingga tempat ini dipilih untuk menggali cara pedagang perempuan memandang dan mengalami darah tinggi.
Siapa Pedagang yang Duduk untuk Diwawancarai
Dari 30 perempuan itu, 12 orang atau 40,0 persen mengaku sudah didiagnosis darah tinggi, sedangkan 18 orang atau 60,0 persen belum pernah menerima diagnosis tersebut. Peneliti sengaja melibatkan kedua kelompok, supaya cerita yang terkumpul tidak hanya datang dari pengalaman pribadi mengidap penyakit itu, tetapi juga dari apa yang mereka saksikan di lingkungan pasar.
Kebanyakan peserta berusia paruh baya. Kelompok terbesar, 12 orang atau 40,0 persen, berumur 35 sampai 44 tahun; delapan orang (26,7 persen) berusia 25 sampai 34 tahun, tujuh orang (23,3 persen) berusia 45 sampai 54 tahun, dan tiga orang (10,0 persen) berusia 55 sampai 60 tahun. Sebanyak 21 orang (70,0 persen) berstatus menikah, lima orang (16,7 persen) lajang, dan empat orang (13,3 persen) janda atau bercerai.
Dari sisi pendidikan, 18 orang (60,0 persen) berpendidikan dasar, enam orang (20,0 persen) tidak pernah menempuh pendidikan formal, dan enam orang lainnya (20,0 persen) berpendidikan menengah atau lebih tinggi. Para peneliti menegaskan bahwa angka-angka ini hanya menggambarkan susunan peserta. Angka itu tidak dimaksudkan untuk menarik kesimpulan statistik tentang seluruh pedagang di pasar tersebut.
Pengetahuan yang Tumbuh dari Cerita Sesama Pedagang
Wawancara itu menghasilkan lima tema besar: kesadaran dan anggapan tentang seberapa luas darah tinggi, kebiasaan makan, tekanan kerja, pola gerak badan, serta akses layanan kesehatan dan keyakinan soal pengobatan. Kelimanya saling bertaut dalam peta tema yang disusun peneliti. Di pusat peta itu terletak cara pedagang perempuan memandang dan mengalami darah tinggi di lingkungan pasar.
Tema pertama memperlihatkan pengetahuan yang kuat. Baik yang sudah didiagnosis maupun yang belum, para pedagang sama-sama menyebut darah tinggi sebagai masalah kesehatan yang lazim di antara perempuan di pasar. Seorang peserta mengatakan ia melihat banyak perempuan di sana mengidap tekanan darah tinggi dan menyebutnya sangat umum di kalangan mereka. Peserta lain berkata hampir setiap pedagang perempuan yang ia kenal harus berhati-hati dengan tekanan darahnya.
Pengetahuan itu, menurut temuan peneliti, banyak dibentuk oleh pengalaman pribadi, pengamatan terhadap sesama pedagang, atau anggota keluarga yang hidup dengan penyakit tersebut. Seorang pedagang bercerita bahwa saudara perempuannya didiagnosis setahun sebelumnya, dan ia sendiri kadang merasakan gejalanya. Pedagang lain mengaku pernah melihat teman-temannya pingsan karena tekanan darah tinggi.
Baca juga Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi
Peneliti menduga tingginya kesadaran ini bisa berkaitan dengan makin gencarnya promosi kesehatan, meningkatnya angka darah tinggi di Ghana, dan pemberitaan media yang membaik dalam beberapa tahun terakhir. Pedagang pasar di kota, yang setiap hari berhadapan dengan banyak orang dan beragam lingkungan, juga mungkin lebih sering terpapar informasi kesehatan dibanding warga di perdesaan.
Ikan Asin, Kaldu Blok, dan Gorengan di Sela Dagangan
Para peserta juga menggambarkan kebiasaan makan yang dipengaruhi lingkungan pasar dan waktu yang sempit selama berdagang. Banyak peserta mengaku rutin menyantap makanan bergaram tinggi, termasuk ikan asin dan bumbu kaldu blok yang lazim dipakai dalam masakan setempat. Salah seorang menyebut ikan asin hadir dalam makanan mereka hampir setiap hari, karena menambah rasa dan lebih awet.
Pedagang lain menuturkan bahwa mereka memakai banyak garam dan kaldu blok saat memasak, terutama untuk masakan yang serba cepat. Peserta juga mengandalkan gorengan atau makanan siap santap yang dijual di pasar karena praktis dan waktu memasak terbatas. Seorang peserta mengatakan ia membeli camilan goreng karena cepat dan praktis, sementara yang lain menyebut gorengan yang dijual di pasar sebagai makanan yang memang tersedia di dekatnya.
Karena itu, peneliti melihat lingkungan dagang ikut menentukan isi piring para pedagang. Kegemaran pada makanan goreng dan serba praktis, tulis mereka, mencerminkan gaya hidup yang menuntut, ketika makanan yang cepat dan terjangkau lebih diutamakan daripada mutu gizinya. Mereka menyarankan pendidikan gizi yang sesuai dengan budaya setempat, dengan penekanan pada pengurangan garam dan pilihan pengganti yang lebih sehat.
Baca juga Pedagang Makanan Jalanan Pune: 68,8 Persen Tak Patuh Higiene
Tekanan Kerja dari Persaingan dan Urusan Uang
Tema ketiga menyangkut beban kerja di pasar. Peserta menyebut beberapa sumber tekanan dalam berdagang, yakni tekanan keuangan, persaingan antarpedagang, dan tuntutan fisik berdiri lama sambil melayani pembeli selama berjam-jam. Menurut mereka, tuntutan itu bisa melelahkan badan sekaligus membebani pikiran. Seorang pedagang mengaku persaingan begitu ketat sehingga ia kadang khawatir apakah penghasilannya cukup untuk keluarga.
Peneliti mencatat bahwa ketegangan psikologis akibat persaingan dan kesulitan ekonomi ditambah beban fisik berdiri berjam-jam saat berdagang. Gabungan tekanan psikososial dan fisik semacam itu, tulis mereka, diketahui menaikkan tekanan darah lewat jalur saraf dan hormon. Mereka lalu menganjurkan intervensi di tempat kerja berupa pengelolaan stres, perbaikan ergonomi, dan jaringan dukungan bagi pedagang perempuan.
Seharian Bergerak, tetapi Bukan Berolahraga
Tema keempat menyangkut gerak badan. Berdagang di pasar memang melibatkan berdiri, berjalan, dan mengangkat barang, tetapi para peserta menyebut kegiatan itu berlangsung putus-putus dan bukan latihan yang berkelanjutan atau terencana. Banyak di antara mereka justru duduk lama ketika pasar sepi pembeli, dan jarang sengaja bergerak di luar rutinitas kerja.
Seorang peserta mengaku tidak punya waktu ataupun tenaga untuk berolahraga sepulang dari pasar. Para pedagang sendiri membedakan kerja fisik di lapak dengan olahraga yang disengaja, seperti jalan cepat atau olahraga yang terorganisasi, dan sebagian besar mengatakan tidak melakukannya secara teratur. Olahraga terstruktur yang dimaksud peneliti mencakup jalan santai, joging, aerobik, dan ikut bermain olahraga.
Peneliti kemudian menimbang temuan ini terhadap pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menganjurkan orang dewasa melakukan sedikitnya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang atau 75 menit intensitas berat setiap pekan, ditambah latihan penguatan otot. Menurut mereka, gerak kerja pedagang pasar belum memenuhi anjuran itu karena sifatnya sporadis dan tidak berlangsung cukup lama untuk memberi manfaat berarti bagi jantung dan pembuluh darah.
Menurut peneliti, rutinitas harian yang kadang menguras tenaga tidak bisa menggantikan olahraga intensitas sedang yang teratur dan berkelanjutan. Peneliti mengusulkan agar program kesehatan bagi pedagang tidak hanya menyingkirkan hambatan berolahraga, tetapi juga mengenalkan kegiatan sederhana yang mudah disisipkan dalam keseharian, seperti jalan cepat, menari, atau olahraga berkelompok.
Klinik Jauh, Antrean Panjang, dan Ramuan Keluarga
Tema kelima menyangkut akses layanan kesehatan. Peserta menyebut biaya berobat, waktu tunggu yang lama di fasilitas kesehatan, dan jarak ke rumah sakit atau klinik sebagai hambatan yang umum. Seorang pedagang mengatakan pergi ke klinik itu mahal dan jauh, sehingga ia baru datang ketika sakitnya sudah parah. Pedagang lain mengeluhkan rumah sakit yang terlalu jauh dan antrean yang terlalu panjang.
Di sisi lain, ramuan herbal tradisional menjadi jalan yang akrab. Beberapa perempuan mengatakan obat herbal banyak dipakai karena sudah dikenal secara budaya dan harganya terjangkau. Seorang peserta memilih obat herbal karena lebih murah dan sudah lama dipercaya di keluarganya, sementara peserta lain merasa ramuan kadang lebih membantunya daripada obat rumah sakit.
Peneliti mencatat bahwa cara mencari pengobatan semacam ini dapat menunda dimulainya terapi dan berujung pada hasil yang buruk bagi pengendalian darah tinggi, termasuk risiko komplikasi seperti stroke dan penyakit ginjal. Usul mereka mencakup perbaikan sarana layanan kesehatan, subsidi biaya berobat, dan pelibatan para penyembuh tradisional dalam edukasi tentang darah tinggi.
Batas Temuan dari Satu Pasar di Sunyani
Dalam pembahasan, para penulis menimbang kelima tema itu. “Meskipun peserta menunjukkan kesadaran tentang hipertensi, kesadaran saja tidak serta-merta berujung pada pencegahan yang efektif, kepatuhan berobat, atau pengendalian tekanan darah,” tulis Benedicta Princess Dotse dan rekan dalam bagian pembahasan, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris. Menurut mereka, upaya menekan beban darah tinggi pada kelompok berisiko seperti pedagang pasar harus melampaui penyuluhan, dengan pemeriksaan yang mudah dijangkau, pengobatan terjangkau, dan edukasi yang sesuai budaya.
Para penulis juga memberi batas yang tegas pada temuan mereka. “Penting dicatat bahwa temuan ini mencerminkan persepsi dan pengalaman peserta mengenai faktor-faktor yang mereka kaitkan dengan hipertensi, bukan determinan yang diukur secara klinis atau faktor risiko penyebab,” tulis mereka dalam terjemahan. Makalah ini, dengan demikian, memetakan cara pedagang memandang penyakitnya, bukan hasil pengukuran tekanan darah mereka.
Keterbatasan lain disebut terang. Penelitian hanya dilakukan di satu pasar, sehingga temuannya belum tentu berlaku untuk pasar atau wilayah lain di Ghana yang lingkungan dagang dan kondisi sosial ekonominya berbeda. Peserta juga direkrut pada periode puncak perdagangan, sehingga perempuan yang jarang berdagang atau datang saat pasar sepi, yang mungkin punya pola kerja berbeda, bisa kurang terwakili.
Pengalaman berdagang para peserta sendiri cukup beragam. Sebanyak 13 orang (43,3 persen) sudah empat sampai enam tahun berdagang di pasar itu, sepuluh orang (33,3 persen) lebih dari enam tahun, dan tujuh orang (23,3 persen) satu sampai tiga tahun.
Status darah tinggi dan kebiasaan hidup peserta juga dilaporkan sendiri, sehingga bisa terpengaruh ingatan yang keliru atau keinginan memberi jawaban yang dianggap pantas. Melibatkan peserta yang sudah dan belum didiagnosis, dengan sebagian bercerita dari pengalaman sendiri dan sebagian dari pengamatan, juga dapat memengaruhi cara penyakit itu dibicarakan.
Baca juga Pemakai Ponsel Lama di Iran Lebih Rentan Kena Darah Tinggi
Simpulan makalah ini kembali ke pasar yang sama. Darah tinggi dikenal baik oleh para pedagang perempuan Sunyani, tetapi asupan garam dan lemak yang tinggi, tekanan kerja, gerak badan yang terbatas, dan hambatan menuju layanan kesehatan formal ikut membuatnya bertahan. Jawabannya, menurut para penulis, adalah pendekatan menyeluruh yang peka budaya: edukasi, dukungan di tempat kerja, akses layanan yang lebih baik, dan keterlibatan komunitas.














