- Setelah penyesuaian menyeluruh, tidak ada kaitan mandiri antara lama duduk di waktu luang dan keempat penyakit mata.
- Selama pengamatan tercatat 7.266 kasus degenerasi makula, 8.112 glaukoma, 452 mata kering, dan 786 oklusi vena retina.
- Risiko terendah ada pada sekitar 3,67 jam duduk sehari untuk degenerasi makula dan 3,78 jam untuk glaukoma.
- Waktu duduk saat bekerja tidak tersedia di UK Biobank, sehingga yang dihitung hanya duduk di waktu luang.
- Kedua penulis meminta penelitian berikutnya memakai lama duduk yang diukur secara objektif dan berulang.
Daftar Isi
Xuening Zhang dan Haidong Zou menjumlahkan tiga angka dari tiap orang: berapa jam sehari ia menonton televisi, berapa jam memakai komputer di luar urusan kerja, dan berapa jam menyetir. Jumlah itulah yang mereka sebut lama duduk di waktu luang. Lalu kedua peneliti dari Shanghai itu menelusuri catatan kesehatan orang-orang tersebut selama kira-kira 14 tahun, untuk melihat mata siapa yang kemudian sakit.
Hasilnya mereka tulis dalam artikel The association between sedentary behavior and eye diseases: a prospective study from the UK Biobank, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Zhang bekerja di Departemen Oftalmologi Shanghai General Hospital, Fakultas Kedokteran Shanghai Jiao Tong University. Zou, penulis korespondensi, juga tercatat di Shanghai Key Laboratory of Fundus Diseases, Shanghai Eye Diseases Prevention & Treatment Center, dan National Clinical Research Center for Eye Diseases.
Orang-orang yang mereka ikuti adalah peserta UK Biobank, yang merekrut lebih dari 500.000 orang berusia 37 sampai 73 tahun di 22 pusat pemeriksaan di seluruh Inggris Raya antara 2006 dan 2010. Zhang dan Zou memperhatikan empat penyakit: degenerasi makula terkait usia, glaukoma, penyakit mata kering, dan oklusi vena retina. Kaitan yang semula tampak jelas ternyata tidak bertahan sampai akhir hitungan.
Mengapa Zhang dan Zou Menoleh ke Kursi
Empat penyakit itu, tulis Zhang dan Zou, sangat umum pada orang paruh baya dan lanjut usia, mengganggu kualitas hidup, dan membawa beban sosial ekonomi yang besar. Seiring menuanya penduduk dunia, penyakit mata menjadi penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan. Gejala dan mekanisme utamanya berbeda-beda. Namun bukti yang terkumpul menunjukkan keempatnya berbagi beberapa proses: peradangan kronis tingkat rendah, stres oksidatif, gangguan peredaran darah mikro, dan perubahan neurodegeneratif.
Dari situ kedua penulis sampai pada kursi. Perilaku sedentari mereka definisikan sebagai segala perilaku saat terjaga, dalam posisi duduk atau berbaring, dengan pengeluaran energi paling banyak 1,5 setara metabolik. Zhang dan Zou mencatat bahwa duduk lama sudah dikaitkan secara mandiri dengan naiknya risiko penyakit kardiovaskular, gangguan metabolik, dan kematian oleh sebab apa pun. Mekanisme yang diajukan, yaitu peradangan sistemik, kekacauan metabolik, dan perubahan aliran darah, bisa saja merugikan jaringan mata.
Bukti untuk mata sendiri, menurut Zhang dan Zou, masih terbatas dan tidak seragam. Kebanyakan penelitian yang ada memakai kelompok peserta berukuran kecil sampai sedang, dan hasilnya bertentangan. Untuk penyakit mata kering misalnya, tiga penelitian melaporkan kaitan positif dengan duduk lama, sedangkan satu penelitian lain justru menemukan kaitan terbalik. Arah dan besar hubungan itu, tulis mereka, belum pasti.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Yang Dihitung Zhang dan Zou sebagai Duduk
Zhang dan Zou tegas soal batas ukuran mereka. Yang dihitung hanyalah duduk di waktu luang menurut laporan peserta sendiri, yaitu menonton televisi, memakai komputer untuk rekreasi, dan menyetir. Waktu duduk saat bekerja tidak tersedia di UK Biobank. Karena itu angka mereka terutama mencerminkan duduk di waktu luang, bukan seluruh waktu duduk dalam sehari.
Untuk tiap penyakit, Zhang dan Zou menyisihkan dulu peserta yang sudah mengidapnya sejak awal, sehingga yang dihitung hanya kasus baru. Jumlah peserta pun sedikit berbeda: 374.552 orang untuk degenerasi makula, 370.997 untuk glaukoma, 374.398 untuk mata kering, dan 374.924 untuk oklusi vena retina. Selama masa pengamatan dengan median sekitar 14,04 tahun, tercatat 7.266 kasus degenerasi makula, 8.112 glaukoma, 452 mata kering, dan 786 oklusi vena retina.
Orang yang paling lama duduk ternyata berbeda dalam banyak hal lain. Dibanding sepertiga peserta dengan waktu duduk paling pendek, catat Zhang dan Zou, sepertiga teratas lebih banyak laki-laki, berpendidikan dan berpenghasilan rumah tangga lebih rendah, lebih sering masih merokok, memiliki indeks massa tubuh dan HbA1c lebih tinggi, serta lebih sedikit beraktivitas fisik sedang sampai berat. Kedua penulis menyimpulkan bahwa peserta dengan lama duduk berbeda membawa ciri sosial, gaya hidup, dan metabolik yang berbeda sejak awal.
Kaitan yang Menyusut di Tangan Dua Peneliti
Hitungan pertama Zhang dan Zou, tanpa memperhitungkan faktor lain, memberi angka yang bermakna secara statistik untuk keempat penyakit. Rasio hazard degenerasi makula dan glaukoma masing-masing 1,02, oklusi vena retina 1,05, dan mata kering 0,94. Angka 1,0 adalah titik tanpa kaitan. Dalam ringkasan naskah, keduanya menulis bahwa pada tahap ini duduk lebih lama berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi.
Begitu usia dan jenis kelamin dimasukkan, angka-angka itu melemah, dan kaitan dengan mata kering tidak lagi bermakna. Zhang dan Zou lalu menambahkan etnis, pendidikan, penghasilan rumah tangga, status merokok, konsumsi alkohol, indeks massa tubuh, tekanan darah sistolik, HbA1c, dan kolesterol total. Setelah itu semua kaitan menyusut jauh.
Yang tersisa hanya satu, dan itu pun di garis batas. Untuk degenerasi makula, Zhang dan Zou mencatat rasio hazard 1,01 dengan rentang kepercayaan 95 persen dari 1,00 sampai 1,02, yang mereka sebut bermakna secara statistik di ambang batas. Glaukoma juga 1,01, mata kering 0,99, dan oklusi vena retina 1,02. Ketiganya tidak lagi bermakna secara statistik.
Baca juga TCBI Kumulatif Tinggi Perbesar Risiko Penyakit Kardiovaskular
Titik Terendah di Sekitar 3,7 Jam Sehari
Zhang dan Zou juga memeriksa apakah risikonya berbentuk kurva, bukan garis lurus. Untuk degenerasi makula dan glaukoma mereka menemukan pola menyerupai huruf J yang landai. Risiko terendah ada pada sekitar 3,67 jam duduk sehari untuk degenerasi makula dan 3,78 jam untuk glaukoma, lalu perlahan naik seiring bertambahnya waktu duduk. Di atas lima jam sehari kecenderungan naik itu berlanjut, tetapi rentang kepercayaannya melebar di ujung atas.
Berdasarkan titik itu, kedua penulis membagi peserta menjadi tiga kelompok: duduk kurang dari tiga jam, tiga sampai lima jam, dan lebih dari lima jam sehari. Tanpa penyesuaian, kelompok terlama punya rasio hazard 1,26 untuk degenerasi makula dan 1,20 untuk glaukoma. Setelah penyesuaian penuh oleh Zhang dan Zou, angkanya menjadi 1,03 dan 1,01, dan tak satu pun bermakna secara statistik.
Zou dan Zhang tidak ingin titik 3,7 jam itu dibaca sebagai ambang. Titik balik tersebut, tulis mereka, lahir dari data dan harus dianggap sebagai temuan penjajakan, bukan ambang klinis yang sudah mapan. Mereka meminta pengujian pada populasi lain sebelum angka itu ditafsirkan sebagai ambang yang bermakna secara klinis. Pola itu juga berbeda dari kaitan mirip ambang yang lebih konsisten dalam sejumlah penelitian kardiovaskular.
Gambaran serupa muncul ketika Zhang dan Zou menggambar kurva kejadian kumulatif. Untuk degenerasi makula, glaukoma, dan oklusi vena retina, kurva tiga kelompok perlahan memisah seiring waktu: tertinggi pada kelompok yang paling lama duduk, terendah pada yang paling sebentar. Untuk mata kering tidak ada pemisahan yang jelas. Kecenderungan itu, catat keduanya, tidak didukung secara konsisten oleh hitungan yang sudah disesuaikan.
Televisi, Setir, dan Peserta yang Rajin Bergerak
Ketika Zhang dan Zou memisahkan tiga jenis duduk, hasilnya tidak seragam. Waktu menonton televisi berkaitan positif dengan risiko degenerasi makula, dengan rasio hazard 1,02, dan dengan glaukoma, juga 1,02. Waktu menyetir menunjukkan kaitan terbalik yang lemah dengan glaukoma, yaitu 0,98. Untuk hasil lainnya tidak ada kaitan bermakna.
Kedua penulis menduga perbedaan itu mungkin mencerminkan tuntutan visual, pola perilaku, atau ciri sosial ekonomi yang menyertai tiap kegiatan, bukan waktu duduknya sendiri. Zhang dan Zou menyebut temuan ini bersifat penjajakan dan perlu diteliti lebih jauh. Kaitan-kaitan tersebut, menurut mereka, umumnya kecil dan tidak mengubah tafsir keseluruhan penelitian.
Satu temuan lain muncul pada peserta yang memenuhi anjuran aktivitas fisik Organisasi Kesehatan Dunia. Di kelompok ini, catat Zhang dan Zou, duduk lama berkaitan dengan risiko degenerasi makula 12 persen lebih tinggi. Pada peserta yang tidak memenuhi anjuran itu, kaitan bermakna tidak terlihat. Untuk glaukoma, mata kering, dan oklusi vena retina, angka di semua subkelompok tetap dekat dengan titik tanpa kaitan.
Zhang dan Zou meminta temuan subkelompok itu dibaca hati-hati, karena besarnya tergolong kecil dan kaitannya tidak konsisten di berbagai analisis. Yang bertahan di banyak analisis mereka adalah dua faktor lain: usia yang bertambah dan HbA1c tetap konsisten berkaitan dengan penyakit mata. Bagi kedua penulis, hal itu menyoroti pentingnya faktor risiko demografis dan metabolik yang sudah dikenal.
Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Hasil Nihil yang Diberi Pagar oleh Penulisnya
Kesimpulan Zhang dan Zou lugas: setelah penyesuaian menyeluruh, tidak ada kaitan mandiri antara lama duduk di waktu luang dan keempat penyakit mata. Hasil itu tidak berubah ketika kasus yang muncul dalam dua tahun pertama dikeluarkan, atau ketika aktivitas fisik dan lama tidur ikut diperhitungkan. Tetapi mereka segera memasang pagar. “Namun, temuan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti tidak adanya hubungan sebab-akibat,” tulis keduanya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Alasannya ada pada cara mengukur. Zhang dan Zou mengakui bahwa laporan peserta sendiri rentan salah ingat dan salah lapor, duduk saat bekerja tidak terekam, dan lama duduk hanya diukur di awal padahal bisa berubah selama masa pengamatan. Semua itu bisa menarik kaitan yang sebenarnya ada mendekati nol. “Karena itu, temuan ini tidak dapat membedakan antara ketiadaan kaitan yang sesungguhnya dan pelemahan akibat kesalahan pengukuran atau salah klasifikasi,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Keterbatasan lain turut dicatat Zhang dan Zou. Penelitian ini bersifat pengamatan, sehingga hubungan sebab-akibat tidak bisa dipastikan. Faktor yang tidak terukur, seperti ciri pekerjaan, pola makan, dan pola paparan layar, mungkin masih memengaruhi hasil. Mata kering dikenali dari laporan peserta sendiri, sehingga kasus ringan atau yang gejalanya hilang-timbul bisa salah digolongkan.
Zhang dan Zou juga mengingatkan siapa yang mereka amati. Peserta UK Biobank sebagian besar orang paruh baya dan lanjut usia keturunan Eropa berkulit putih. Karena itu, tulis keduanya, hasil ini mungkin terbatas keberlakuannya bagi orang yang lebih muda atau populasi yang lebih beragam etnisnya.
Ada pula soal mengapa kaitan itu menyusut. Salah satu penjelasan yang mungkin, kata Zhang dan Zou, ialah faktor risiko metabolik yang sama ikut membentuk kaitan awal. Namun mereka tidak menguji jalur itu, sehingga tidak dapat menentukan apakah penyusutan berasal dari faktor metabolik bersama, kesalahan pengukuran, pengganggu yang tersisa, atau sumber bias lain. Tafsir itu mereka sebut masih spekulatif.
Tiga angka yang dijumlahkan Zhang dan Zou di awal, yaitu jam di depan televisi, di depan komputer, dan di belakang setir, pada akhirnya tidak menunjukkan kaitan mandiri dengan empat penyakit mata itu. Kedua penulis meminta penelitian berikutnya memakai lama duduk yang diukur secara objektif, diukur berulang, dan dipilah menurut jenis kegiatannya. Dengan cara itu, tulis mereka, peran duduk lama dalam timbulnya penyakit mata bisa lebih jelas.















