Kemiskinan Kota Jashore Naik Lebih Cepat dari Desa Saat Pandemi

A A

Ruas jalan raya N707 di Jashore, Bangladesh, dengan pagar pembatas dan tiang listrik [Foto: Md. Sakibul Hasan/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Indeks kemiskinan kota naik 40 persen, sedangkan indeks desa naik 28,9 persen.
  • Pada 2020, rata-rata penghasilan kota jatuh ke 127,06 dolar AS dan desa ke 123,73 dolar AS.
  • Sebanyak 83,49 persen dari mereka yang berutang belum mampu melunasinya pada 2022.
  • Angka putus sekolah di desa mencapai 30 persen, sedangkan di kota 18 persen.
Daftar Isi
  1. Tahun 2019: Desa Lebih Miskin daripada Kota
  2. Tahun 2020: Penghasilan Jatuh Seperlima
  3. Masa Karantina: Sekolah, Klinik, dan Kabar yang Terputus
  4. Tahun 2021: Pulih, tetapi Tidak Penuh
  5. Akhir 2021: Kota Menanjak Lebih Cepat
  6. Tahun 2022: Utang yang Belum Lunas

Desember 2022, para peneliti menyurvei 300 rumah tangga di Jashore. Distrik di Bangladesh itu mereka datangi sesudah masa karantina wilayah berlalu. Separuh rumah tangga tinggal di wilayah kota, separuh lagi di desa. Kepada tiap keluarga ditanyakan keadaan hidup mereka pada 2019 dan pada 2021.

Hasilnya ditulis Nafisa Nuari Islam, Lotifa Tamanna Toma, Md Nayim Rahman, Muhammad Abu Sayed, dan Mohammad Mahfuzur Rahman dalam artikel COVID-19 and multidimensional poverty: a spatio-temporal analysis of urban vs. rural areas in Jashore, Bangladesh. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulis berasal dari Jashore University of Science and Technology dan Bangladesh Agricultural University.

Mereka tidak hanya menghitung uang. Kemiskinan diukur dari enam sisi sekaligus, yakni penghasilan, kesehatan, pendidikan, standar hidup, hubungan keluarga dan sosial, serta akses informasi. Keenamnya dirangkum menjadi satu indeks kemiskinan multidimensi. Makin tinggi nilainya, makin banyak kekurangan yang ditanggung rumah tangga.

Dua upazila menjadi lokasinya, Chaugachha dan Bagharpara. Wilayah di dalam batas administrasi kota praja, yang disebut paurashava, dihitung sebagai kota. Wilayah di luarnya dihitung sebagai desa.

Tahun 2019: Desa Lebih Miskin daripada Kota

Catatan tahun 2019 menjadi titik awal. Sebelum pandemi, indeks kemiskinan seluruh rumah tangga yang disurvei berada di angka 0,11. Di wilayah kota, indeksnya 0,25. Di desa, indeksnya sudah lebih tinggi, yakni 0,38. Jumlah keluarga miskin mengikuti pola yang sama. Di kota, 42 rumah tangga tergolong miskin, atau 28 persen. Di desa, jumlahnya 73 rumah tangga, atau 49 persen. Hampir separuh keluarga desa sudah miskin sebelum virus itu tiba.

Penghasilan kedua wilayah kala itu nyaris setara. Rata-rata penghasilan di kota tercatat 158,90 dolar AS, sedangkan di desa 155,35 dolar AS. Pekerjaan warganya berbeda. Di desa, 42,7 persen responden bekerja sebagai buruh harian atau petani. Di kota, 37,3 persen menjalankan usaha kecil sampai besar.

Bekal sekolah pun timpang. Sebanyak 26,7 persen responden desa tidak pernah mengenyam pendidikan formal, sedangkan di kota 13,3 persen. Lulusan perguruan tinggi di desa hanya 8 persen. Di kota, angkanya 18,7 persen.

Baca juga Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan

Tahun 2020: Penghasilan Jatuh Seperlima

Setahun kemudian, penghasilan jatuh. Pada 2020, rata-rata penghasilan kota jatuh ke 127,06 dolar AS dan desa ke 123,73 dolar AS. Penurunan di kota mencapai 20,04 persen. Di desa, penurunannya sedikit lebih tajam, yakni 20,35 persen.

Pekerjaan ikut hilang. Di kota, 7,24 persen pekerja kehilangan mata pencaharian. Mereka terutama pekerja berupah rendah, seperti tenaga penjualan, sopir, dan petugas kebersihan. Sebagian menganggur hampir enam bulan. Kemiskinan absolut pun melonjak. Pada 2019, angkanya 30,67 persen. Pada 2020, angkanya menjadi 45,33 persen. Desa menanggung bagian terbesar, yakni 57,24 persen, sedangkan kota 33,11 persen.

Penghasilan jatuh pada 2020, belum pulih pada 20212019: Kota (USD) +158,90, Desa (USD) +155,35; 2020: Kota (USD) +127,06, Desa (USD) +123,73; 2021: Kota (USD) +154,42, Desa (USD) +151,48.Penghasilan jatuh pada 2020, belum pulih pada2021Rata-rata penghasilan dalam dolar AS, kota dan desa di JashoreKota (USD)Desa (USD)5010015020002019158,90155,352020127,06123,732021154,42151,48
Sumber: Nafisa Nuari Islam, Lotifa Tamanna Toma, Md Nayim Rahman, Muhammad Abu Sayed, dan Mohammad Mahfuzur Rahman, COVID-19 and multidimensional poverty: a spatio-temporal analysis of urban vs. rural areas in Jashore, Bangladesh, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Keluarga bertahan dengan tabungan dan pinjaman. Di kota, 34,46 persen rumah tangga berutang. Di desa, angkanya 40,13 persen. Peminjam di kota lebih memilih sumber resmi, yakni 80,39 persen dari mereka. Di desa, 59 persen bersandar pada jejaring informal.

Pinjaman informal itu lebih mahal. Bunga yang ditanggung peminjam desa mencapai 10,84 persen, sedangkan di kota 8,42 persen. Buruh harian yang tidak punya tabungan terpukul paling keras. Mereka terpaksa menjual harta. Di desa, 29,73 persen rumah tangga menjual aset. Di kota, angkanya 18,92 persen. Barang-barang itu sering dilepas 28,76 persen di bawah harga pasar. Bantuan pemerintah bertambah tipis: penerima tunjangan naik dari 18,33 persen pada 2019 menjadi 20,33 persen pada 2021.

Masa Karantina: Sekolah, Klinik, dan Kabar yang Terputus

Selama karantina wilayah, sekolah berpindah ke layar. Sebanyak 53,67 persen pelajar mengalami kesulitan berat dengan pembelajaran jarak jauh. Pelajar desa paling terpukul. Enam dari sepuluh di antara mereka terhambat karena tidak punya perangkat yang layak, internet tidak andal, dan uang terbatas.

Akibatnya tercatat di bangku yang kosong. Angka putus sekolah di desa mencapai 30 persen, sedangkan di kota 18 persen. Pelajar kota punya akses teknologi yang lebih baik. Meski begitu, 47,98 persen dari mereka tetap melaporkan kemunduran pendidikan. Hanya 6 persen pelajar yang justru membaik.

Para penulis mencatat satu keluarga sebagai contoh. Anak-anak seorang responden, yang mereka sebut Mr. Y, tidak bisa mengikuti kelas daring. Keluarga itu tidak punya ponsel pintar dan akses internet. Para penulis menyebut keadaan itu sebagai kemiskinan digital.

Kesehatan ikut merosot pada masa yang sama. Sebanyak 27,33 persen responden melaporkan kesehatannya memburuk. Di desa, angkanya 36,18 persen, sedangkan di kota 18,24 persen. Mutu makanan turun pada 23 persen rumah tangga. Di desa, angkanya 31,59 persen, karena harga naik.

Layanan berobat memberi gambar yang terbalik. Warga kota lebih banyak melaporkan gangguan layanan kesehatan, yakni 6,75 persen, sedangkan warga desa 5,26 persen. Warga kota bergantung pada rumah sakit resmi. Ketergantungan itu berbenturan dengan pembatasan angkutan dan rasa takut tertular. Warga desa punya jalan lain untuk keluhan ringan. Mereka mendatangi penyedia layanan setempat, seperti dokter desa dan apoteker. Para penulis menyebutnya keunggulan daya tahan pada jejaring perawatan informal.

Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia

Hubungan antarmanusia turut renggang. Sebanyak 68,67 persen responden melaporkan hubungan keluarga dan sosial mereka memburuk antara 2019 dan 2021. Hanya 1,67 persen yang melaporkan perbaikan. Penyebab utamanya pertengkaran rumah tangga yang meningkat, perpisahan, dan pergaulan yang terputus.

Sebagian keluarga mengalami hal sebaliknya. Mereka melaporkan ikatan yang menguat karena lebih banyak waktu bersama selama karantina. Para penulis menyebut pandemi berdampak ganda pada hubungan sosial: ketegangan bertambah, tetapi kesempatan untuk kembali dekat juga terbuka.

Kabar pun makin sulit didapat. Sebanyak 73,67 persen responden melaporkan saluran informasi utama mereka berubah. Akses informasi dinilai kurang bila sebuah keluarga menerima kabar dari kurang dari empat saluran. Itu dialami 67,57 persen responden kota dan seluruh responden desa. Dua hal mendorong penyusutan itu. Yang pertama, harta yang terjual, termasuk ponsel dan televisi. Yang kedua, perpindahan tempat tinggal, yang melemahkan ikatan sosial dan memutus jejaring kabar yang sudah terbentuk.

Tahun 2021: Pulih, tetapi Tidak Penuh

Tahun berikutnya, penghasilan bangkit. Di desa, pemulihannya 22,43 persen. Di kota, 21,53 persen. Rata-rata penghasilan kota kembali ke 154,42 dolar AS, dan desa ke 151,48 dolar AS. Angka 2019 tidak tercapai lagi. Penghasilan kota masih 2,82 persen di bawah angka sebelum pandemi. Penghasilan desa masih 2,49 persen di bawahnya. Pada tahun itu, 28,46 persen rumah tangga berhasil keluar dari kemiskinan. Di kota, angkanya 36,73 persen. Di desa, 25,28 persen.

Sebagian keluarga tidak kembali ke tempat semula. Perpindahan dari kota ke desa tercatat pada 11,33 persen rumah tangga di Chaugachha dan 10 persen di Bagharpara. Sebagian pindah sementara, sebagian menetap. Rumah tangga yang pindah melaporkan standar hidup yang turun. Sebanyak 15 persen menurunkan kondisi huniannya. Hanya 1,34 persen yang pulih pada 2021. Akses ke air, sanitasi, dan listrik memburuk, terutama bagi mereka yang pindah ke hunian lebih murah.

Satu kisah perpindahan dicatat para penulis. Seorang responden pria paruh baya, yang mereka sebut Mr. X, semula tinggal di Dhaka dengan keadaan rumah tangga yang stabil. Tabungannya habis selama menganggur pada masa pandemi. Ia lalu pindah ke Bagharpara dan membuka usaha kecil.

Akhir 2021: Kota Menanjak Lebih Cepat

Hitungan akhir tahun 2021 menunjukkan lonjakan. Indeks kemiskinan seluruh rumah tangga naik dari 0,11 menjadi 0,30. Kenaikannya 172,7 persen. Indeks kota naik dari 0,25 menjadi 0,35. Indeks desa naik dari 0,38 menjadi 0,49. Desa tetap lebih miskin, tetapi kota menanjak lebih cepat. Indeks kemiskinan kota naik 40 persen, sedangkan indeks desa naik 28,9 persen. Jumlah rumah tangga miskin di kota bertambah dari 42 menjadi 54. Di desa, jumlahnya bergeser dari 73 menjadi 72.

Kemiskinan kota dan desa di Jashore, 2019 dan 2021Kemiskinan kota dan desa di Jashore, 2019 dan 2021Kemiskinan kota dan desa di Jashore, 2019 dan2021Indeks kemiskinan multidimensi dari 300 rumah tanggaKotaDesa0,250,38Indeks kemiskinan20190,350,49Indeks kemiskinan202140%28,9%Kenaikan indeks4273Rumah tanggamiskin 20195472Rumah tanggamiskin 2021
Sumber: Nafisa Nuari Islam, Lotifa Tamanna Toma, Md Nayim Rahman, Muhammad Abu Sayed, dan Mohammad Mahfuzur Rahman, COVID-19 and multidimensional poverty: a spatio-temporal analysis of urban vs. rural areas in Jashore, Bangladesh, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kedalaman kemiskinan ikut bertambah di kedua wilayah. Ukurannya adalah seberapa banyak kekurangan yang ditanggung keluarga miskin. Di kota, angkanya naik dari 89 persen menjadi 97 persen. Di desa, angkanya naik dari 78 persen menjadi 84 persen.

Dua upazila itu juga bergerak berbeda. Indeks Chaugachha naik 52 persen, dari 0,25 menjadi 0,38. Indeks Bagharpara naik 31,28 persen, dari 0,22 menjadi 0,29. Di keduanya, pendidikan menjadi sisi yang paling parah terdampak.

Para penulis lalu menimbang sisi mana yang paling menentukan. Kesehatan muncul sebagai yang terkuat. Pendidikan menyusul, lalu hubungan keluarga dan sosial. Pengaruh penghasilan tetap bermakna, tetapi lebih kecil dibandingkan sisi-sisi lain.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Tahun 2022: Utang yang Belum Lunas

Saat survei dilakukan, sebagian jejak pandemi masih tersisa. Sebanyak 83,49 persen dari mereka yang berutang belum mampu melunasinya pada 2022. Perempuan yang mulai bekerja pada masa pandemi, antara lain sebagai penjahit, pekerja rumah tangga, dan penata kecantikan, tetap bekerja sesudah krisis lewat. Layanan medis dinilai memburuk oleh 7 persen responden dan membaik oleh 6 persen. Itu perbandingan dengan masa sebelum pandemi.

Dari catatan itu, para penulis menyusun saran yang berbeda untuk tiap wilayah. “Strategi perkotaan harus memprioritaskan jaring pengaman sosial yang lentur, yang melindungi penghasilan dan konektivitas digital selama krisis,” tulis Nafisa Nuari Islam dan empat rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Untuk desa, sarannya lain. Menurut mereka, kebijakan perdesaan membutuhkan investasi berkelanjutan pada sarana pendidikan, akses layanan kesehatan, dan keamanan mata pencaharian. Mereka juga mengusulkan klinik kesehatan keliling, pelatihan kerja bagi buruh, dan pinjaman atau beasiswa agar pelajar bisa membeli perangkat belajar.

Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya. Cakupannya hanya distrik Jashore, sehingga hasilnya tidak bisa diberlakukan untuk seluruh Bangladesh. Keadaan tahun 2019 dan 2021 digali dari ingatan responden, sehingga jawaban bisa meleset. Perbedaan kota dan desa pun baru digambarkan, belum diuji secara statistik.

Kelompok rentan tertentu juga belum tercakup secara khusus. Para penulis menyerahkan pelacakan dari tahun ke tahun, peran perpindahan penduduk, dan perbandingan antarwilayah kepada penelitian berikutnya. Catatan mereka berhenti pada Desember 2022.

Bagikan

Baca Juga

Petani Sayur Baghdad Paling Mengeluhkan Saran Penyuluh yang Telat
Likud Tuding Partai Arab Curi Pemilu, Hasil Akhir Masih Buntu
Serangan Drone di Pasar Darfur Tewaskan Lebih dari 100 Orang
Badan Terlalu Kurus atau Terlalu Gemuk Terkait Kerapuhan di Osaka
Ancaman Spionase Jadi Dalih Iran Tekan Kelompok Pembangkang
Penutupan Hebron Masuki Hari Keenam, UNRWA Peringatkan Pengusiran