Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

A A

Anak Afghanistan ditimbang di pusat gizi rumah sakit Farah, Provinsi Farah, Afghanistan [Foto: Lt.j.g. Matthew Stroup / U.S. Navy/Wikimedia Commons Domain Publik]

  • Prevalensi obesitas anak rawat inap Thailand naik dari 20,1 jadi 45,3 per 10.000 selama pandemi, tetap 45,5 di 2023
  • Perlemakan hati non-alkoholik naik 223,67 kali lipat, kelainan ortopedi 117,59 kali lipat pada anak obesitas
  • Obesitas tidak terbukti menaikkan risiko kematian (hazard ratio 0,87), penyakit kardiovaskular jadi prediktor tertinggi
  • Diabetes tipe 2 naik 28 persen dan depresi/kecemasan naik 94 persen pasca-pandemi, sementara skrining OSA turun 41 persen
Daftar Isi
  1. Obesitas Melonjak Pandemi
  2. Siapa Paling Terdampak
  3. Komplikasi Ikut Naik
  4. Kematian Tidak Naik
  5. Pola Berubah Saat Pandemi
  6. Penyebab yang Diduga
  7. Wilayah dan Usia Bergeser
  8. Kejanggalan di Naskah

Obesitas anak di Thailand melonjak tajam sejak pandemi. Lonjakannya tercatat di seluruh basis data rawat inap nasional, bukan sekadar dugaan.

Datanya berasal dari 14.483.566 anak yang dirawat inap di seluruh Thailand sepanjang 2015 sampai 2023. Dari jumlah itu, 42.168 anak punya diagnosis obesitas berdasarkan kode ICD-10-TM E66.x. Prevalensinya 29,1 per 10.000 anak dirawat, dengan selang kepercayaan 95 persen antara 28,8 sampai 29,4.

Angka ini ditulis Tran Cong Ly, Suchaorn Saengnipanthkul, Phanthila Sitthikarnkha, Leelawadee Techasatian, Rattapon Uppala, dan Pope Kosalaraksa dalam Nationwide trends in pediatric obesity in Thailand, 2015–2023: prevalence, morbidity, mortality, and COVID-19–related disparities, BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Datanya diambil dari basis data National Health Security Office, penyelenggara skema Universal Health Coverage yang menanggung sekitar 72 persen penduduk Thailand.

Obesitas Melonjak Pandemi

Sebelum pandemi, kenaikannya pelan. Prevalensi cuma naik dari 2,5 per 10.000 anak pada 2015 jadi 3,3 per 10.000 pada 2019. Rata-rata kenaikan 13,1 persen tiap tahun, dengan rasio peluang per tahun 1,131.

Begitu pandemi datang, arahnya berubah drastis. Prevalensi melonjak jadi 45,3 per 10.000 anak selama pandemi, dari 20,1 per 10.000 sebelumnya. Angka ini lebih dari dua kali lipat, sesudah sempat turun sesaat pada 2020 akibat perubahan pola kunjungan rumah sakit.

Puncaknya terjadi pada 2022, tepat 6,1 per 10.000 anak. Setelah pandemi resmi berakhir, angkanya tidak turun. Prevalensi malah tetap tinggi di 45,5 per 10.000 sampai 2023, sembilan belas kali lipat dibanding angka 2015.

Prevalensi obesitas anak rawat inap Thailand, 2015-2023Prevalensi obesitas anak rawat inap Thailand, 2015-2023Prevalensi obesitas anak rawat inap Thailand,2015-2023Per 10.000 anak hasil rawat inap, basis data NHSO Thailand2015Prevalensi 2,5 per 10.000 anak dirawat, titik awalsebelum pandemi2019Naik jadi 3,3 per 10.000, kenaikan bertahap masapra-pandemi2020Sempat turun sesaat, diduga akibat perubahan polakunjungan rumah sakit2022Melonjak ke puncak 6,1 per 10.000, dua kali lipatmasa pra-pandemi2023Tetap tinggi di 45,5 per 10.000 fase pasca-pandemi,tidak turun lagiKenaikan rata-rata 13,1 persen per tahun (OR 1,131 per tahun). Angka2023 memakai skala per 10.000 fase, bukan skala tahunan seperti titiklain.
Sumber: Tran Cong Ly, Suchaorn Saengnipanthkul, Phanthila Sitthikarnkha, Leelawadee Techasatian, Rattapon Uppala, dan Pope Kosalaraksa, Nationwide trends in pediatric obesity in Thailand, 2015–2023: prevalence, morbidity, mortality, and COVID-19–related disparities, BMC Public Health, 26(867), 2026. Grafik: Cekricek.id

Siapa Paling Terdampak

Anak dengan obesitas rata-rata lebih tua. Median usianya 10 tahun, dibanding median 2 tahun pada anak tanpa obesitas. Lebih dari 82 persen anak obesitas berusia 5 sampai 18 tahun, sementara bayi di bawah 1 tahun jadi kelompok terbesar, 38,9 persen, pada anak tanpa obesitas.

Laki-laki mendominasi kelompok ini, 63,6 persen dari seluruh anak obesitas. Bandingkan dengan 53,2 persen pada anak tanpa obesitas. Bangkok pun menyumbang proporsi jauh lebih besar, 19,2 persen kasus obesitas berbanding cuma 6,4 persen kasus lain.

Anak obesitas juga jauh lebih sering dirawat di rumah sakit tersier, 58,2 persen berbanding 28,9 persen pada anak tanpa obesitas. Rumah sakit sekunder justru lebih banyak menangani anak tanpa obesitas, 61,3 persen dari seluruh kasus itu.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Komplikasi Ikut Naik

Anak obesitas menanggung risiko komplikasi yang jauh lebih tinggi. Perlemakan hati non-alkoholik naik 223,67 kali lipat dibanding anak tanpa obesitas. Kelainan ortopedi seperti penyakit Blount dan slipped capital femoral epiphysis naik 117,59 kali lipat.

Sleep apnea obstruktif naik 80,89 kali lipat. Hipertensi naik 38,42 kali lipat, dan dislipidemia naik 28,08 kali lipat. Diabetes tipe 2 juga naik 13,48 kali lipat pada anak dengan obesitas.

Asma turut naik 4,35 kali lipat pada kelompok ini. Depresi dan kecemasan naik 1,71 kali lipat, meski angka itu ada di ambang batas kebermaknaan statistik, dengan nilai p tepat 0,051.

Angka mentahnya juga besar, bukan cuma rasio. Sebanyak 965 anak obesitas didiagnosis diabetes tipe 2, setara 13,46 persen dari seluruh anak obesitas. Perlemakan hati non-alkoholik menimpa 723 anak obesitas, setara 57,66 persen, jauh di atas 0,29 persen pada anak tanpa obesitas.

Kematian Tidak Naik

Kematian di rumah sakit pada anak obesitas tercatat 4,7 per 1.000 anak. Namun obesitas sendiri tidak terbukti menaikkan risiko kematian setelah disesuaikan faktor lain. Hazard ratio-nya malah 0,87, di bawah angka 1, dengan nilai p 0,344.

Penyakit kardiovaskular jadi prediktor kematian tertinggi, hazard ratio 5,86. Penyakit pernapasan menyusul dengan hazard ratio 1,93. Anak laki-laki juga berisiko 13 persen lebih tinggi meninggal dibanding perempuan, dan anak di wilayah Bangkok berisiko lebih tinggi dibanding Utara dan Timur Laut.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Pola Berubah Saat Pandemi

Pandemi mengubah pola komorbiditas secara berlawanan arah. Diabetes tipe 2 naik 28 persen, perlemakan hati naik 64 persen, dan depresi atau kecemasan naik hampir dua kali lipat, 94 persen. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas turut naik di masa pasca-pandemi.

Sebaliknya, sleep apnea turun 41 persen dan kelainan ortopedi turun 43 persen. Sindrom metabolik bahkan turun 63 persen. Acanthosis nigricans, tanda kulit yang biasa menyertai resistansi insulin, juga turun 52 persen selama pandemi. Peneliti menduga penurunan ini bukan perbaikan sungguhan.

Peneliti menjelaskan alasannya secara langsung. “Penurunan ini mungkin mencerminkan gangguan pada layanan kesehatan nonmendesak, berkurangnya operasi elektif, dan menurunnya skrining rutin selama pandemi, bukan perbaikan sungguhan pada kondisi-kondisi ini,” tulis Suchaorn Saengnipanthkul dan rekan-rekannya, dari kalimat asli berbahasa Inggris these reductions likely reflect disruptions in non-urgent healthcare, reduced elective surgeries, and decreased routine screening during the pandemic rather than a true improvement in these conditions.

Asma sedikit berbeda. Diagnosisnya stabil selama pandemi, tapi naik 53 persen sesudahnya. Peneliti menyebut ini indikasi dampak tertunda pada pola mencari layanan kesehatan pernapasan pasca-pandemi.

Perubahan komorbiditas anak obesitas setelah pandemiSindrom metabolik: Perubahan −63%; Kondisi ortopedi: Perubahan −43%; Sleep apnea (OSA): Perubahan −41%; Diabetes tipe 2: Perubahan +28%; Asma: Perubahan +53%; Perlemakan hati (NAFLD): Perubahan +64%; Depresi/kecemasan: Perubahan +94%.Perubahan komorbiditas anak obesitas setelahpandemiPersen perubahan odds ratio dibanding masa pra-pandemi−60%−30%30%60%90%0Sindrom metabolik−63%Kondisi ortopedi−43%Sleep apnea (OSA)−41%Diabetes tipe 2+28%Asma+53%Perlemakan hati (NAFLD)+64%Depresi/kecemasan+94%Dihitung dari odds ratio gabungan/pasca-pandemi di naskah: (OR - 1) x100. Turunnya OSA, ortopedi, dan sindrom metabolik diduga akibatberkurangnya skrining rutin, bukan perbaikan sungguhan.
Sumber: Tran Cong Ly, Suchaorn Saengnipanthkul, Phanthila Sitthikarnkha, Leelawadee Techasatian, Rattapon Uppala, dan Pope Kosalaraksa, Nationwide trends in pediatric obesity in Thailand, 2015–2023: prevalence, morbidity, mortality, and COVID-19–related disparities, BMC Public Health, 26(867), 2026. Grafik: Cekricek.id

Beberapa komorbiditas lain nyaris tak berubah sepanjang tiga fase pandemi. Hipertensi stabil di kisaran 7,6 sampai 8,8 persen anak obesitas di setiap fase. Gangguan lipid juga stabil, sekitar 4,7 sampai 5,7 persen, dengan nilai p 0,621 yang menandakan tidak ada beda bermakna antarfase.

Penyebab yang Diduga

Peneliti menduga penguncian wilayah dan penutupan sekolah mengganggu rutinitas harian anak. Kesempatan bergerak dan bermain berkurang, sementara perilaku duduk diam bertambah. Ketegangan di rumah dan isolasi sosial ikut mendorong kebiasaan ngemil dan makan berlebihan akibat stres.

Banyak keluarga juga menghadapi tekanan ekonomi dan kesulitan pangan selama pandemi. Kondisi itu membatasi akses ke makanan sehat dan memperburuk kualitas pola makan anak. Kunjungan medis rutin dan pemantauan berat badan pun kerap ditunda atau dibatalkan pada masa itu.

Wilayah dan Usia Bergeser

Proporsi remaja 13 sampai 18 tahun dalam kelompok obesitas naik dari 25,3 persen sebelum pandemi jadi 30 sampai 35 persen selama dan sesudahnya. Wilayah Timur Laut Thailand, yang termiskin dan paling tidak berkembang di negeri itu, menyalip Bangkok dan wilayah Tengah sebagai penyumbang kasus terbesar pasca-pandemi.

Kerawanan pangan tercatat paling tinggi di Timur Laut selama pandemi, mendorong ketergantungan pada makanan murah berkalori tinggi. Kepadatan dokter di kawasan pedesaan itu juga lebih rendah, membatasi akses ke layanan pencegahan dan deteksi dini obesitas. Wilayah Tengah, dengan infrastruktur kesehatan lebih kuat, dinilai lebih cepat memulihkan layanan pencegahan sesudah pandemi mereda.

Penelitian ini juga punya kekuatan. Basis datanya mencakup sembilan tahun secara nasional, dengan pengodean ICD-10-TM yang seragam di semua rumah sakit. Cakupan luas atas komorbiditas dan kematian memberi gambaran multifaset tentang beban obesitas anak di Thailand.

Penelitian ini punya batas. Data cuma berasal dari rumah sakit, sehingga menonjolkan kasus berat dan tidak mencakup obesitas ringan yang tak pernah dirawat inap. Data sosial-ekonomi, gaya hidup, dan tindak lanjut rawat jalan anak juga tidak tersedia dalam basis data ini.

Baca juga Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya

Kejanggalan di Naskah

Ada kejanggalan kecil di abstrak berbahasa Inggris naskah ini. Kalimat latar belakangnya tertulis data klinis masih terbatas, khususnya form Asia Tenggara. Kata form semestinya from, salah ketik kecil yang tetap lolos dari proses penyuntingan jurnal.

Ada pula kontras yang lebih besar. Obesitas menaikkan risiko komplikasi ratusan kali lipat untuk sejumlah penyakit, tapi tidak menaikkan risiko kematian di rumah sakit. Justru sebaliknya, angka hazard ratio kematian ada di bawah 1, meski secara statistik tidak bermakna. Pembaca bisa membandingkan sendiri tabel komorbiditas dan tabel kematian dalam naskah aslinya.

Angka-angka di atas semuanya berasal dari data rawat inap, bukan populasi umum anak Thailand. Obesitas pada anak yang dirawat memang melonjak sejak pandemi dan belum kembali turun sampai 2023, membawa serta komplikasi metabolik dan psikologis yang menumpuk di baliknya, sembilan tahun sesudah pencatatan pertama dimulai.

Bagikan

Baca Juga

Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya
Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat
Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung