- Prevalensi kasar kota 14,76 persen dan desa 11,44 persen; tidak miskin 14,18 persen, miskin 12,11 persen
- Setelah disesuaikan, kekayaan tidak lagi bermakna (aOR 1,02), sedangkan desa tetap lebih rendah (aOR 0,88)
- Pendidikan SMA ke atas (aOR 1,78) dan perempuan (aOR 1,73) menjadi faktor yang justru menguat
- Sumber air tak layak dan air tak dimasak berhubungan dengan peluang lebih rendah, dibaca sebagai paradoks akses diagnosis
Daftar Isi
Kekayaan dan tempat tinggal sama-sama dianggap penanda status sosial ekonomi, tetapi ketika disandingkan pada penyakit pencernaan di Indonesia, keduanya berjalan ke arah berlawanan. Satu meluruh begitu faktor lain diperhitungkan, satu lagi tetap berdiri utuh sampai baris terakhir tabel hasil.
Perbandingan itu ditulis Nuha Al-Aghbari, Najm Al-Deen Moneer Hilal, dan Afaq Al-Aghbari dalam Wealth-based and rural–urban disparities in digestive diseases among indonesian adults: evidence from a cross-sectional analysis of the Indonesia Family Life Survey (IFLS-5), terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1115, tahun 2026. Nuha Al-Aghbari dan Najm Al-Deen Moneer Hilal sama-sama menempuh program di Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Angka Kasar: Kaya dan Kota Sama Tinggi
Sebelum disesuaikan, kekayaan dan tempat tinggal terlihat bergerak searah. Prevalensi penyakit pencernaan pada kelompok tidak miskin 14,18 persen, lebih tinggi dari kelompok miskin 12,11 persen. Pada tempat tinggal, warga kota 14,76 persen, warga desa 11,44 persen. Dua perbedaan itu sama-sama bermakna secara statistik, p kurang dari 0,001. Prevalensi keseluruhan di seluruh sampel tercatat 13,11 persen, angka yang oleh peneliti disebut sebanding dengan penelitian sejenis di kawasan Asia Tenggara.
Data berasal dari 29.817 orang dewasa usia 15 tahun ke atas, hasil Survei Kehidupan Keluarga Indonesia gelombang kelima. Sebanyak 15.189 responden tergolong miskin dan 14.628 tidak miskin. Sebanyak 17.755 tinggal di kota dan 12.062 di desa. Status ekonomi dihitung dari indeks kekayaan berbasis aset rumah tangga, sedangkan tempat tinggal mengikuti kode komunitas survei.
Desa dan Kota di Atas Kertas
Pendidikan ikut membedakan dua wilayah itu. Warga kota berpendidikan SMA ke atas 17,18 persen, warga desa hanya 8,16 persen. Selisih ini nantinya penting, karena pendidikan justru menjadi faktor yang bertahan ketika kekayaan sudah tidak lagi berbicara dalam model yang disesuaikan, sementara kesenjangan pendidikan antara kota dan desa tetap terbentang lebar di data dasar.
Sebaran kasus menurut provinsi juga tidak rata. Jumlah kasus tertinggi, 371 sampai 732, tercatat di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, provinsi berpenduduk padat dan perkotaannya berkembang cepat. Kasus sedang, 235 sampai 370, muncul di Jakarta Raya dan Sumatera Utara, sedangkan kasus terendah, 64 sampai 86, berada di Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Barat, wilayah dengan kepadatan penduduk yang jauh lebih rendah.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Kekayaan yang Menghilang
Setelah faktor lain diperhitungkan lewat regresi logistik, kekayaan tidak lagi berhubungan dengan penyakit pencernaan. Indeks kekayaan rumah tangga hanya bernilai peluang tersesuaikan 1,02, dengan selang kepercayaan 95 persen 0,94 sampai 1,12, rentang yang melewati angka satu. Artinya, tidak miskin atau miskin tidak lagi membedakan peluang seseorang terdiagnosis, sekalipun pada angka kasar sebelumnya selisih keduanya tampak nyata dan bermakna secara statistik.
“Hubungan kasar kekayaan, khususnya, melemah setelah penyesuaian karena kekayaan sangat berkaitan dengan pendidikan dan tinggal di kota, dua hal yang berdampak lebih langsung pada akses layanan kesehatan, literasi kesehatan, dan peluang didiagnosis penyakit pencernaan,” tulis Nuha Al-Aghbari, Najm Al-Deen Moneer Hilal, dan Afaq Al-Aghbari dalam naskah mereka yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi the crude association for wealth, in particular, attenuated after adjustment because wealth is highly associated with education and living in an urban area.
Tempat Tinggal yang Bertahan
Tempat tinggal justru sebaliknya. Warga desa memiliki peluang tersesuaikan 0,88 dibanding warga kota, dengan selang kepercayaan 95 persen 0,80 sampai 0,97, seluruhnya di bawah satu. Selisih ini bertahan meski umur, jenis kelamin, gaya hidup, dan faktor lingkungan sudah dikontrol dalam model yang sama, berbeda nasib dengan kekayaan yang justru luntur pada tahap penyesuaian yang sama persis.
“Penduduk kota mungkin lebih rentan mengalami gangguan pencernaan karena makin sering terpapar makanan olahan, stres, dan pola hidup yang lebih banyak duduk, pola yang sudah terdokumentasi baik di kota-kota Indonesia yang tumbuh cepat,” tulis ketiga peneliti itu. Kalimat aslinya berbahasa Inggris, urban dwellers may be more likely to experience gastrointestinal issues due to their increased exposure to processed food, stress, and more sedentary lifestyle patterns.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Yang Menggantikan Kekayaan
Di posisi kekayaan yang kosong, pendidikan mengambil alih. Orang berpendidikan SMA ke atas memiliki peluang tersesuaikan 1,78 dibanding yang berpendidikan di bawah SMA, dengan selang kepercayaan 95 persen 1,62 sampai 1,94. Perempuan juga berpeluang lebih tinggi, 1,73 dibanding laki-laki, sementara usia 25 sampai 44 tahun dan 45 sampai 59 tahun masing-masing 0,79 dan 0,71 dibanding kelompok termuda.
Faktor lain yang bermakna termasuk mantan perokok, peluang tersesuaikan 1,44, kesehatan mandiri buruk 1,81, komorbiditas 1,67, dan gejala depresi 1,38. Sebaliknya, aktivitas fisik rendah dan obesitas justru berhubungan dengan peluang yang lebih kecil, masing-masing 0,84 dan 0,81, pola yang oleh peneliti dikaitkan dengan akses diagnosis, bukan berarti kedua kondisi itu melindungi dari penyakit.
Yang Menyertai Desa dan Kota
Lingkungan menyumbang kejutan lain. Sumber air tidak layak memberi peluang tersesuaikan 0,81, dan air minum yang tidak dimasak 0,43, keduanya di bawah satu. Analisis interaksi menunjukkan hubungan antara sumber air dan tempat tinggal tidak berbeda bermakna antara kota dan desa, dengan peluang interaksi 1,12, selang kepercayaan 95 persen 0,88 sampai 1,42. Di kota saja, warga dengan air tidak layak berpeluang 0,80 dibanding yang memakai sumber layak, sedangkan di desa selisihnya 0,89 dan tidak bermakna.
Peneliti membaca pola air ini sebagai paradoks akses, bukan bukti bahwa air kotor lebih sehat. Warga yang memakai sumber air tidak layak kemungkinan besar juga lebih jarang mendapat diagnosis dokter, sehingga penyakitnya tercatat lebih sedikit padahal beban sesungguhnya belum tentu lebih rendah. Pola yang sama berlaku pada perbedaan kota dan desa itu sendiri, karena kemampuan mendiagnosis turut membentuk angka yang tercatat.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Batas Bacaan Data
Penelitian ini bersifat potong lintang, sehingga paparan dan hasil diukur pada satu titik waktu yang sama dan tidak bisa membuktikan sebab-akibat. Ukuran penyakit pencernaan juga bergantung pada diagnosis dokter yang dilaporkan sendiri, yang berpotensi meremehkan prevalensi sesungguhnya, terutama pada kelompok desa dan berpendapatan rendah yang aksesnya ke layanan diagnostik lebih terbatas.
Data dikumpulkan pada 2014 dan 2015, sehingga tidak mencerminkan kemungkinan perubahan akses layanan kesehatan atau perilaku belakangan ini. Kategori penyakit yang dipakai juga menggabungkan beberapa gangguan pencernaan sekaligus dalam satu item survei, sehingga perbedaan antarjenis penyakit seperti gastritis, dispepsia, dan tukak lambung tidak bisa dipisahkan dari data yang tersedia.
Angka yang Perlu Dicek
Ada kejanggalan kecil yang bisa diperiksa pembaca. Selang kepercayaan peluang tersesuaikan desa ditulis berbeda di dua bagian naskah untuk titik estimasi yang sama, 0,88. Abstrak mencantumkan 95 persen CI 0,79 sampai 0,98, sedangkan bagian hasil dan tabel mencantumkan 0,80 sampai 0,97, selisih kecil yang seharusnya identik karena berasal dari model yang sama.
Pada analisis interaksi komorbiditas dan depresi, peneliti menulis kelompok tanpa komorbiditas berhubungan dengan peluang 41 persen lebih tinggi, tetapi angka peluang tersesuaikan yang mereka cantumkan untuk kelompok itu adalah 1,14, yang berarti sekitar 14 persen lebih tinggi. Persentase 41 persen justru lebih dekat dengan kelompok yang punya komorbiditas, yang angka tersesuaikannya 1,23.
Yang Belum Terjawab
Peneliti menyarankan kebijakan yang menyasar pendidikan, literasi kesehatan, dan tempat tinggal, bukan semata pendapatan, karena kekayaan sudah tidak lagi menjelaskan siapa yang terkena penyakit pencernaan setelah faktor lain diperhitungkan. Mereka juga mendorong pemeriksaan kesehatan mental disertakan dalam skrining penyakit pencernaan, mengingat gejala depresi konsisten muncul sebagai faktor kuat pada laki-laki maupun perempuan.
Program yang menyasar sanitasi dan air bersih di desa juga disebut penting, sekalipun data mentahnya tampak paradoks. Peneliti menekankan bahwa perbaikan infrastruktur air dan sanitasi tetap relevan sebagai kebijakan dasar, terlepas dari cara angka itu tercatat dalam survei berbasis laporan diri seperti IFLS-5.
Kekayaan dan tempat tinggal berangkat dari kotak yang sama, penanda kondisi sosial ekonomi, tetapi berakhir di baris yang berbeda dalam tabel yang sama. Satu meluruh begitu pendidikan dan tempat tinggal diperhitungkan bersamanya, satu lagi tetap tercatat sebagai selisih yang nyata antara desa dan kota, selisih yang oleh peneliti dibiarkan berbicara sendiri di baris terakhir tabel hasil.














