Indeks Bahaya Balita Melonjak Saat Panel VOC Diperluas

A A

Cerobong dan pipa kilang minyak di kawasan industri petrokimia [Foto: Pexels]

  • Indeks bahaya (HI) balita di stasiun pagar industri Map Ta Phut naik dari 0,208 menjadi 4,83 saat panel VOC diperluas dari enam ke dua puluh senyawa
  • Vinil klorida menyumbang 95-98 persen risiko kanker di pagar industri; benzena dan etilbenzena mendominasi di permukiman
  • Balita paling rentan secara biologis; dewasa paling berisiko secara kumulatif dengan durasi paparan 52 tahun
  • Kasus kanker berlebih akibat VOC pada dewasa di Rayong naik dari 2,79 (2015) menjadi 3,15 kasus per tahun (2023)
Daftar Isi
  1. Angka yang Berubah Begitu Daftar Diperpanjang
  2. Vinil Klorida Mengambil Alih di Pagar Pabrik
  3. Tubuh Kecil di Jalur Uap yang Mengendap
  4. Rentang Waktu yang Membedakan Risiko Dewasa
  5. Sisi yang Tidak Ikut Terhitung

Di pagar industri Map Ta Phut, indeks bahaya kesehatan untuk balita sempat berdiri di angka 0,208, jauh di bawah ambang aman 1,0. Angka itu dihitung dari enam senyawa organik volatil yang rutin dipantau di sana selama tiga tahun. Begitu peneliti menambah tiga belas senyawa lain ke daftar ukur di stasiun yang sama, angka yang tadinya tenang melonjak menjadi 4,83.

Temuan itu ditulis Patthrarawalai Sirinara, Penradee Chanpiwat, Natthaya Bunplod, Racha Dejchanchaiwong, Perapong Tekasakul, dan Thammasin Ingviya dalam Age-Stratified Probabilistic Cancer and Noncancer Inhalation Risks from Volatile Organic Compounds near a Major Petrochemical Complex in Rayong, Thailand, terbit di BMC Public Health, tahun 2026. Ingviya, penulis koresponden, bekerja di Prince of Songkla University; dua rekannya yang lain berasal dari Chulalongkorn University, Bangkok.

Angka yang Berubah Begitu Daftar Diperpanjang

Lonjakan itu terjadi di Takuan Health Service Center, stasiun pemantauan yang duduk 1,5 kilometer di sisi tenggara Map Ta Phut Industrial Estate, kawasan petrokimia terbesar di Thailand. Dua stasiun lain, Ban Phlong dan Wat Nong Faep, berdiri di sisi permukiman, masing-masing kurang dari satu kilometer dari pagar pabrik. Ketiganya memantau udara sepanjang 2021 sampai 2023 memakai kromatografi gas otomatis, menangkap konsentrasi senyawa tiap jam.

Di dua stasiun permukiman, hanya enam senyawa yang diukur: benzena, toluena, etilbenzena, xilena, 1,3-butadiena, dan vinil klorida. Di Takuan, daftar itu diperpanjang menjadi dua puluh, menambahkan senyawa seperti asetaldehida, akrilonitril, karbon tetraklorida, dan trikloroetilena. Peneliti menyebut penambahan ini perlu karena kawasan itu bukan sekadar kilang minyak, melainkan jaringan pabrik terpadu yang memproduksi resin sintetis dan polivinil klorida.

Permukiman vs pagar industri Map Ta PhutRisiko kanker dan non-kanker di pagar industri jauh lebih tinggi daripada permukiman.Permukiman vs pagar industri Map Ta PhutPemantauan udara MTPIE, Rayong, 2021-2023Ban PhlongTakuan (industri)3,08/sejuta361/sejutaRisiko kankerdewasa (ELCR)0,1664,83Hazard Index (HI)balitaBenzenaVinil kloridaSenyawapenyumbang68-74%95-98%Kontribusisenyawa itu keTakuan memakai panel 20 VOC yang diperluas; Ban Phlong memakai 6VOC sentinel. HI di atas 1,0 melampaui ambang aman.
Sumber: Patthrarawalai Sirinara, Penradee Chanpiwat, Natthaya Bunplod, Racha Dejchanchaiwong, Perapong Tekasakul, dan Thammasin Ingviya, Age-Stratified Probabilistic Cancer and Noncancer Inhalation Risks from Volatile Organic Compounds near a Major Petrochemical Complex in Rayong, Thailand, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dengan panel enam senyawa saja, risiko kanker seumur hidup rerata orang dewasa di Takuan sudah 2,32 per seratus ribu, jauh di atas 3,08 per sejuta yang tercatat di Ban Phlong. Begitu panel diperluas ke dua puluh senyawa, angka itu naik lagi menjadi 3,61 per seratus ribu, dengan batas atas 95 persen mencapai 8,54 per seribu. Anak balita di Takuan juga ikut terdorong ke wilayah yang tidak lagi aman.

Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia

Vinil Klorida Mengambil Alih di Pagar Pabrik

Analisis sensitivitas menunjukkan penyebab lonjakan itu. Di Ban Phlong, benzena menyumbang 68 sampai 74 persen risiko kanker pada semua kelompok usia. Di Wat Nong Faep, etilbenzena mengambil porsi terbesar, disusul benzena. Namun di Takuan, satu senyawa saja mendominasi hampir seluruh risiko: vinil klorida, menyumbang 95 sampai 98 persen risiko kanker dan sekitar separuh risiko non-kanker di stasiun itu.

Vinil klorida adalah bahan baku utama polivinil klorida, plastik yang diproduksi di kawasan sekitar Takuan. Uapnya 2,16 kali lebih berat daripada udara, sehingga cenderung mengendap dan menumpuk dekat permukaan tanah ketika angin tidak cukup kuat mengaduknya. Ketika panel diperluas, tiga belas senyawa tambahan yang dimasukkan masing-masing hanya menyumbang kurang dari satu persen risiko; vinil klorida tetap pemegang kendali utama.

Peneliti menegaskan pola ini secara langsung. “Jika pemantauan regulasi dibatasi pada BTEX, ancaman ekstrem yang bersifat lokal ini pasti akan tetap tidak terlihat, menciptakan titik buta regulasi yang berbahaya,” tulis Sirinara, Chanpiwat, Bunplod, Dejchanchaiwong, Tekasakul, dan Ingviya dalam naskah berbahasa Inggris mereka. Kalimat aslinya berbunyi if regulatory monitoring is confined to BTEX, these extreme localized threats will certainly remain invisible, creating a dangerous regulatory blind spot.

Pola serupa muncul pada risiko non-kanker, meski pemenangnya berbeda menurut lokasi. Di Ban Phlong dan Wat Nong Faep, 1,3-butadiena menyumbang 68 sampai 83 persen risiko non-kanker, jauh melampaui vinil klorida di kedua stasiun permukiman itu. Baru di Takuan giliran vinil klorida kembali memimpin, menyumbang 48 sampai 51 persen risiko non-kanker sekaligus mendominasi risiko kanker di stasiun yang sama.

Tubuh Kecil di Jalur Uap yang Mengendap

Begitu panel dua puluh senyawa diterapkan penuh di Takuan, indeks bahaya rerata untuk balita mencapai 4,83, disusul anak usia sekolah 3,33, remaja 2,44, dan dewasa 2,04. Persentil ke-95 untuk balita bahkan menyentuh 10,8, sepuluh kali lipat ambang aman. Balita menjadi kelompok dengan beban tertinggi, bukan karena mereka tinggal lebih dekat ke pagar pabrik, melainkan karena tubuh mereka sendiri.

Peneliti menjelaskan dua alasan biologis. Rasio luas permukaan paru terhadap berat badan balita lebih besar daripada orang dewasa, sehingga mereka menghirup udara tercemar lebih banyak relatif terhadap ukuran tubuhnya. Enzim hati Paraoxonase-1, yang bertugas menetralkan bahan kimia lingkungan, jauh kurang aktif pada anak sampai setidaknya usia tujuh tahun, membuat racun yang terhirup bertahan lebih lama dalam tubuh mereka.

Postur tubuh balita menambah persoalan. Zona pernapasan mereka lebih dekat ke tanah dibanding orang dewasa, persis di jalur tempat vinil klorida yang lebih berat dari udara cenderung mengendap dan berkumpul. Seorang balita, tanpa berpindah dari titik yang sama, bisa menghirup konsentrasi senyawa itu jauh lebih pekat daripada orang dewasa yang berdiri di sampingnya.

Kasus kanker berlebih akibat VOC pada dewasa2015: Kasus/tahun, Rayong +2,79; 2017: Kasus/tahun, Rayong +2,88; 2019: Kasus/tahun, Rayong +2,98; 2021: Kasus/tahun, Rayong +3,04; 2023: Kasus/tahun, Rayong +3,15.Kasus kanker berlebih akibat VOC pada dewasaEstimasi kasus kanker tambahan akibat VOC, dewasa1234020152,7920172,8820192,9820213,0420233,15Angka tahun 2016, 2018, 2020, dan 2022 tidak ditampilkan; trennyanaik bertahap.
Sumber: Patthrarawalai Sirinara, Penradee Chanpiwat, Natthaya Bunplod, Racha Dejchanchaiwong, Perapong Tekasakul, dan Thammasin Ingviya, Age-Stratified Probabilistic Cancer and Noncancer Inhalation Risks from Volatile Organic Compounds near a Major Petrochemical Complex in Rayong, Thailand, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Rentang Waktu yang Membedakan Risiko Dewasa

Sementara balita unggul dalam kerentanan biologis, dewasa unggul dalam akumulasi. Model ini mengasumsikan paparan dewasa berlangsung selama 52 tahun, jauh lebih panjang daripada masa kanak-kanak yang hanya dihitung lima sampai enam tahun per kelompok usia. Durasi panjang itulah yang membuat dewasa tetap menjadi kelompok dengan risiko kanker absolut tertinggi, meski dosis harian yang mereka hirup relatif lebih kecil dibanding balita.

Dari sinilah muncul angka yang dipakai peneliti untuk menerjemahkan risiko ke dunia nyata. Jumlah kasus kanker berlebih akibat paparan VOC pada dewasa di Provinsi Rayong diperkirakan naik dari 2,79 kasus per tahun pada 2015 menjadi 3,15 kasus per tahun pada 2023. Angka itu setara 0,36 persen dari total beban kanker regional, konsisten sepanjang sembilan tahun yang dihitung.

Pada kelompok usia lain, proporsi yang dapat diatribusikan ke paparan VOC justru lebih tinggi meski kasus absolutnya kecil: 0,08 persen pada balita, 0,07 persen pada anak, dan 0,05 persen pada remaja. Peneliti membandingkan kondisi Takuan dengan kota lain; risiko kanker di dua stasiun permukiman setara kisaran BTEX urban di Delhi, sedangkan Takuan mendekati kawasan industri di Taiwan dan lebih tinggi daripada area industri Beijing.

Peneliti berulang kali menyebut jalan keluar dari pola yang mereka temukan. Mereka mendorong pemantauan waktu nyata untuk senyawa spesifik seperti vinil klorida, bukan sekadar mengandalkan panel BTEX yang selama ini jadi standar global. Program deteksi dan perbaikan kebocoran, pencitraan satelit, serta sistem manajemen lingkungan berkelanjutan disebut sebagai langkah yang perlu dipertimbangkan industri petrokimia di kawasan itu ke depan.

Sisi yang Tidak Ikut Terhitung

Peneliti sendiri menandai batas model ini. Seluruh pengukuran berasal dari udara ambien di luar ruangan, padahal orang menghabiskan hingga sembilan puluh persen waktunya di dalam ruangan, tempat material bangunan dan produk rumah tangga bisa menambah paparan yang tidak tertangkap alat di luar. Toluena dan xilena juga dikeluarkan dari perhitungan risiko kanker karena data potensinya belum bisa diklasifikasikan, sehingga beban sebenarnya bisa lebih tinggi dari yang tertulis.

Ada satu hal lagi yang bisa diperiksa pembaca sendiri di naskah ini. Bagian metode menyebut peneliti sengaja memakai angka insidensi kanker 135 per seratus ribu, titik tengah dari data khusus Rayong, untuk menggantikan rata-rata nasional 139 per seratus ribu agar hasilnya lebih relevan bagi kebijakan setempat. Namun rumus yang tercetak untuk menghitung kasus kanker dasar tetap memakai angka 139, bukan 135 yang baru saja dijelaskan sebagai penggantinya.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Panel dua puluh senyawa itu sendiri baru berjalan di satu titik, Takuan, sementara Ban Phlong dan Wat Nong Faep tetap memakai enam senyawa lama. Peneliti mengakui perbandingan penuh antara permukiman dan pagar pabrik belum bisa dilakukan sampai panel yang sama dipasang di ketiga stasiun. Data jam yang hilang, sekitar 15 sampai 16 persen di tiap stasiun, juga hanya diisi dengan metode sederhana, membawa hasil akhirnya kembali ke angka yang sama: 0,208 berubah 4,83, hanya karena daftar yang diukur diperpanjang.

Bagikan

Baca Juga

MDSR Kematian Ibu Aceh Utara Macet di Tahap Identifikasi
Skor Kelayakan Perawatan Jangka Panjang dalam JKN Capai 8,10
Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang
Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya
Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia