- Pa hengingu di Kampung Adat Marapu, Desa Rindi, 25 Mei 2023 mengurbankan delapan kuda dan delapan kerbau
- Tiga tingkat kurban: 2+2, 4+4, dan 8+8; batasnya mengikuti kepercayaan delapan lapis langit
- Tidung Tiu digotong karena kudanya tidak mau bergerak; roh almarhum dipercaya ada di tubuhnya
- Jenazah dibungkus 40 kain tenun, maksimal 50 agar tidak terlalu berat digotong ke kubur batu
Daftar Isi
Pada 25 Mei 2023, seorang raja dimakamkan di Kampung Adat Marapu, Desa Rindi, Sumba Timur. Delapan kuda dan delapan kerbau dikurbankan hari itu. Komunitas Marapu menyebut ritual pemakaman ini pa hengingu. Mereka menganggapnya peristiwa langka karena biayanya besar, dan tidak yakin ritual sebesar itu akan digelar lagi.
Jalannya ritual dicatat Maria Mersi A. Wungubelen, Bertha Sri Eko Murtiningsih, dan Daniel Susilo dalam Communication Ethnography in the Royal Funeral Ritual in the Marapu Community, East Sumba, terbit di Mediator: Jurnal Komunikasi volume 17 nomor 1, tahun 2024. Dua penulis pertama dari Universitas Multimedia Nusantara, penulis ketiga dari Universitas Bunda Mulia. Naskah berbahasa Inggris.
Empat orang Marapu menjadi sumber keterangan. Tamu Rambu Hamu Eti, 65 tahun, pemandu ritual pemakaman, adalah informan utama. Umbu Maramba Hau, 65 tahun, adalah ketua komunitas Marapu. Dua lainnya peserta ritual: Umbu Palangarimu, 45 tahun, dan Hilda Danga Hinda, 28 tahun. Tiga ditemui di kampung adat, satu di dalam mobil menuju Rindi.
1 Mei 2023: Bahasa yang Penuh Perumpamaan
Wawancara pertama yang tercatat berlangsung 1 Mei 2023. Umbu Palangarimu menjelaskan bahasa kidung ritual Marapu. Bahasanya bahasa Sumba, tetapi sulit dipahami karena berbentuk syair dan puisi. Ia memberi contoh sepeda motor, yang dalam bahasa Sumba diterjemahkan harfiah sebagai kuda tanpa kendali atau kuda berkeringat.
Dari Umbu Palangarimu pula datang keterangan soal kain tenun. Setiap peserta ritual dianjurkan memakai kain tenun, dan kain itu tidak harus tenun Sumba. Bagi orang luar Marapu, termasuk wartawan dan peneliti, kain tenun tidak diwajibkan. Ia dianjurkan sebagai tanda hormat, dan dimaknai sebagai lambang persatuan dan kekerabatan.
Naskah juga mencatat kedudukan Marapu dalam angka resmi. Data Badan Pusat Statistik Sumba Timur tahun 2021 menempatkan kepercayaan Marapu di kolom “Lainnya”. Sebagai kelompok minoritas, tulis para penulis, komunitas Marapu menjaga identitas bersamanya dengan mempertahankan tradisi, termasuk pa hengingu.
23 Mei 2023: Musyawarah Daftar Tamu dan Ternak
Sebelum pemakaman, komunitas bermusyawarah. Musyawarah memutuskan siapa yang diundang, di mana tamu menginap, dan berapa ternak yang dibawa tiap suku. Pada 23 Mei 2023, Umbu Maramba Hau menerangkan aturannya. Yang hadir adalah utusan dari setiap desa dalam wilayah kampung itu, bukan utusan dari setiap suku. Besan boleh diundang, tetapi tidak wajib.
Jumlah tamu bermalam kadang seratus orang, kadang lebih. Tidak boleh mengundang lebih dari yang disepakati musyawarah. “Kalau kita sepakat suku ini boleh membawa dua atau tiga ternak untuk dimakan, pada hari pelaksanaan kamu hitung berapa jumlahnya,” kata Umbu Maramba Hau, sebagaimana dikutip naskah dalam bahasa Inggris. Ternak itu babi, ayam, dan kerbau, untuk konsumsi tamu.
Yang membuka rumah bukan hanya keluarga yang berduka. Seluruh warga Desa Rindi menyediakan penginapan bagi tamu dari desa lain. Naskah menyebut inilah wujud gotong royong yang dijunjung komunitas Marapu. Musyawarah yang sama juga menjadi bahan syair kidung, yang menyebut kesepakatan tentang pengiring roh dan daftar undangan.
Baca juga Kebun Pala Banda Naira dan Buruh yang Belum Tercatat
24 Mei 2023: Malam Kurban dan Ludu Bakul
Pada malam 24 Mei 2023, seekor kuda dikurbankan. Ini persembahan terakhir almarhum kepada Sang Pencipta. Menurut Tamu Rambu Hamu Eti, kurban itu ungkapan syukur bahwa almarhum semasa hidup diberkati berlimpah, punya keluarga, anak, dan kerabat. Naskah menegaskan tujuan kurban adalah Sang Pencipta, bukan leluhur. Leluhur hanya perantara.
Kurban malam itu ditutup kidung yang disebut Ludu Bakul, kidung suci. Dua belas imam Marapu berpakaian serba hitam melantunkannya dalam bahasa Sumba dialek Mahu. Empat orang di antara mereka bersahutan dengan imam pemimpin, menyampaikan bait-bait yang ditujukan kepada almarhum, kepada leluhur, dan kepada Sang Pencipta. Yang dipilih adalah mereka yang sudah hafal liriknya.
Naskah memuat teks kidung itu beserta maknanya. Kidung dibuka dengan seruan kepada leluhur para raja, lalu mengabarkan peristiwa tak terduga: Raja Agung telah pergi, seperti air yang datang tanpa diduga, seperti tanjung tinggi yang runtuh. Kidung ditutup dengan ajakan mengantar jenazah ke Rumah Besar, aula luas keabadian.
Inilah satu-satunya pesan lisan dalam seluruh rangkaian. Pesan pada hari pemakaman, tulis para penulis, seluruhnya nonverbal: persembahan tamu dan kurban hewan. Kidung malam itu juga dimaksudkan menuntun almarhum ke prai Marapu, alam baka, sekaligus memohon berkat bagi keluarga yang ditinggalkan.
25 Mei 2023: Tidung Tiu Digotong ke Kubur Batu
Pagi 25 Mei 2023, para tamu memasuki kampung adat. Tiap keluarga membawa persembahan: kain tenun, kuda, dan kerbau. Persembahan itu, menurut naskah, mengandung rasa syukur atas undangan ikut pa hengingu. Kurban pertama hari itu menjadi tanda syukur atas kehadiran tamu dan berkat yang memungkinkan ritual berlangsung.
Arak-arakan bergerak dari rumah besar, tempat jenazah disimpan, menuju kubur batu. Di depan berjalan Tidung Tiu, artinya yang memakai topi. Ia pengiring yang secara simbolis menemani almarhum ke prai Marapu. “Dalam bahasa sehari-hari, artinya makanin jara, penunggang kuda yang mengiringi roh almarhum ke tempat peristirahatan sementaranya,” kata Tamu Rambu Hamu Eti, dikutip naskah dalam bahasa Inggris.
Roh almarhum dipercaya masuk ke tubuh Tidung Tiu. Karena itu ia diperlakukan seperti almarhum selama masa duka, diberi makanan dan minuman sesuai kesukaan almarhum. Ia mengenakan busana khusus, hiasan kepala, mahkota, dan membawa tas berisi emas. Emas itu tidak diberikan kepada siapa pun. Selesai ritual, emas dikembalikan kepada pemiliknya.
Hari itu Tidung Tiu tidak menunggang kuda. “Roh Raja ada di dalam, jadi kakinya tidak boleh menyentuh tanah. Idealnya ia menunggang kuda, tetapi ia digotong karena kudanya tidak mau bergerak. Di belakangnya ada yang berjalan, pendampingnya. Ayam yang dibawa adalah bekal perjalanan,” kata Hilda Danga Hinda, dikutip naskah dalam bahasa Inggris.
Kuda Tidung Tiu berhias mahkota dan kain Sumba. Kuda itu warisan leluhur yang dijaga sampai sekarang. Pada ritual berikutnya, kuda yang sama atau keturunannya akan dipakai lagi. Jenazah sendiri diposisikan duduk meringkuk seperti janin. Dalam posisi itu manusia datang ke dunia, dan dalam posisi itu pula ia kembali.
Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda
Jenazah dibungkus empat puluh lembar kain tenun Sumba, hadiah dari tamu dan keluarga. Jumlahnya tidak boleh melebihi lima puluh lembar agar jenazah tidak terlalu berat digotong. Bungkusan kain dimaknai seperti pengantin perempuan yang menutup wajahnya. Almarhum adalah pendatang baru yang akan bergabung dengan leluhurnya.
Sampai di kubur batu, Tidung Tiu naik tangga, lalu jenazah dimasukkan. Kurban hewan dilakukan lagi. Batu dipilih karena tahan lama. “Batu tidak pernah lapuk oleh waktu, supaya orang tahu, oh, ini leluhurku. Keturunannya akan tahu. Meski tidak tertulis, mereka tahu di dalam hati,” kata Tamu Rambu Hamu Eti dalam kutipan naskah.
Sepanjang hari itu, delapan kuda dan delapan kerbau dikurbankan. Ini tingkat tertinggi, yang disebut komunitas tingkat istimewa. Tingkat paling sederhana empat hewan: dua kuda, dua kerbau. Tingkat berikutnya delapan hewan: empat kuda, empat kerbau. Jumlah kurban menunjukkan lapisan sosial almarhum.
Batas atasnya tegas. “Bisa kurang, tetapi tidak boleh lebih. Kami percaya ada delapan lapis langit,” kata Tamu Rambu Hamu Eti, dikutip naskah dalam bahasa Inggris. Selama masa duka, gong dipukul. Kegiatan ini disebut patambungu. Bunyi gong mengabarkan ada yang meninggal, dan dari arah bunyi itu orang tahu di mana jenazah berada.
Kurban penutup menandai ritual selesai, sebagai syukur kepada Sang Pencipta. Tidak ada kata terima kasih dalam bahasa Sumba. Setiap syukur, kepada Pencipta maupun sesama, disampaikan lewat simbol: kurban, ternak, kain tenun, serta sirih dan pinang. Tamu yang datang ke rumah orang Marapu disuguhi sirih pinang sebagai tanda syukur atas kunjungannya.
26 Mei 2023: Kunjungan Pertama ke Kubur
Sehari setelah pemakaman, keluarga melakukan ritual kunjungan pertama. Tidung Tiu, berhiasan kepala, menunggang kuda ke kubur batu seperti pada hari pemakaman. Di depan kubur ia duduk, dikelilingi seluruh keluarga almarhum. Semua anggota keluarga mengungkapkan duka. Kunjungan ditutup arak-arakan kembali dari kubur batu ke rumah besar.
Pada 26 Mei 2023 itu pula Tamu Rambu Hamu Eti dan Hilda Danga Hinda diwawancarai. Tamu Rambu Hamu Eti menolak pandangan bahwa ritual sebesar ini pamer gengsi. “Itu bukan sekadar untuk memamerkan gengsi sosial seseorang. Itu pandangan orang luar. Intinya, semua ritual ini kami arahkan kepada Sang Pencipta,” katanya, dikutip naskah dalam bahasa Inggris.
Naskah mencatat aturan yang melonggarkan beban biaya. Ritual pemakaman wajib bagi setiap anggota komunitas, dan kurban hewan keharusan. Namun orang yang baru meninggal tidak harus langsung dimakamkan. Keluarga boleh mengawetkan dan menyimpan jenazah sampai dana ritual terkumpul. Tingkat kurban juga disesuaikan dengan keadaan ekonomi keluarga.
Para penulis membaca seluruh rangkaian ini lewat teori interaksi simbolik Herbert Blumer. Kain tenun, hewan kurban, bahasa Sumba, dan bahasa tubuh keluarga yang menunduk menutup wajah dengan tangan menjadi simbol yang maknanya disepakati bersama. Komunitas juga percaya perbuatan baik dan buruk berbalas di dunia ini, bukan di alam baka.
Baca juga Monumen Bundo Kanduang Sijunjung dan Empat Warnanya
Catatan yang Belum Rapat
Penulis mengakui keterbatasan waktu. Menjelang ritual, para informan sangat sibuk menyiapkan pemakaman, sehingga wawancara hanya bisa disisipkan di sela kesibukan itu. “Keterbatasan penelitian ini terletak pada kendala waktu studi,” tulis Wungubelen, Murtiningsih, dan Susilo, dalam bahasa Inggris. Mereka menyarankan wawancara berikutnya dilakukan minimal dua hari setelah ritual selesai.
Beberapa hal bisa diperiksa pembaca. Informasi artikel menyebut naskah diterima 19 November 2023 dan disetujui 16 Juni 2024, tetapi tersedia daring 30 Juni 2022. Bagian latar menyebut kurban malam sebelumnya seekor kuda, sementara bagian pembahasan menyebut total delapan kuda dan delapan kerbau pada 25 Mei 2023 tanpa merinci pembagiannya.
Judul menyebut pemakaman raja, tetapi nama dan kedudukan almarhum tidak pernah disebut di badan naskah; sebutan Raja hanya muncul dalam kutipan Hilda Danga Hinda dan syair kidung. Nama penulis kedua ditulis Bertha di kepala naskah dan Bherta di pendahuluan. Dua rujukan berbeda, Umbres 2022 dan Magiman dan Nordin 2021, memakai DOI yang sama.
Catatan itu tidak mengubah urutan peristiwanya. Wawancara pertama 1 Mei 2023, musyawarah dijelaskan 23 Mei, kurban kuda dan Ludu Bakul pada malam 24 Mei, pemakaman dengan delapan kuda dan delapan kerbau pada 25 Mei, kunjungan keluarga ke kubur batu 26 Mei. Sesudah itu, komunitas sendiri belum tahu kapan pa hengingu sebesar ini digelar lagi.














