- Rapat banjar adat memutuskan desa harus punya kelompok Baleganjur sendiri.
- Seke Baleganjur Satya Gita Dharma Shanti mulai aktif sekitar tahun 2012.
- Seluruh alat dalam ansambel itu dimainkan dengan cara dipukul, tanpa kecuali.
- Garapan Gegilakan disusun dua bagian, tempo lambat lalu tempo cepat.
Daftar Isi
Ada masa ketika Desa Adat Nusa Agung harus memanggil orang dari desa lain setiap kali ada upacara. Bukan karena warganya tidak bisa menabuh, melainkan karena desa itu belum punya kelompok Baleganjur sendiri. Musik yang mengiringi arak-arakan, yang menandai tiap tahap upacara, dan yang membangun suasana sebelum orang bersembahyang, selalu datang dari tempat lain, dan jadwalnya harus dicocokkan lebih dulu dengan pemilik alatnya.
Perubahan sesudahnya dicatat I Gusti Ayu Nyoman Sutami bersama Rio Eka Putra dan Rina Oktavia dalam artikel Penyajian Kesenian Baleganjur di Desa Adat Nusa Agung Kecamatan Belitang III di Jurnal Musik Etnik, Volume 5 Nomor 2 edisi Juli sampai Desember 2025. Dua penulis pertama mengajar di Universitas PGRI Palembang, sedangkan penulis ketiga di Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Yang mereka telusuri adalah proses kreatif penyajiannya, bukan sejarah keseniannya secara umum.
Baleganjur sendiri adalah ansambel gamelan Bali yang dimainkan sambil berjalan. Bunyinya ritmis dan bertenaga, dan karena dipikul serta ditabuh dalam gerak, ia cocok mengiringi prosesi yang berpindah tempat. Di Bali ia biasa terdengar pada piodalan, melasti, dan ngaben. Di Nusa Agung, ia terdengar di tengah komunitas Hindu Bali yang tinggal jauh dari pulau asalnya, di lingkungan yang penduduknya beragam agama dan bahasa.
Desa memutuskan berhenti meminjam kelompok dari tetangga
Titik baliknya adalah sebuah rapat. Menurut keterangan I Gusti Putu Sutardi, tokoh adat Nusa Agung yang berumur lima puluh dua tahun dan bekerja sebagai petani, keinginan punya kelompok sendiri tumbuh dari kebutuhan mengiringi ritual tanpa bergantung pada desa lain. Keinginan itu dibawa ke rapat banjar adat, dan seluruh warga bersama ketua adat menyetujuinya. Kelompok yang dibentuk sekaligus ditetapkan sebagai wakil resmi desa dalam kegiatan ritual maupun budaya.
Dari keputusan bersama itu lahir kelompok bernama Seke Baleganjur Satya Gita Dharma Shanti. Sejak sekitar 2012 kelompok tersebut mulai aktif bermain dan tampil di berbagai kesempatan. Kehadirannya menjawab dua hal sekaligus: kebutuhan ritual desa terpenuhi tanpa menunggu jadwal orang lain, dan anak-anak muda punya tempat belajar menabuh yang berlangsung terus-menerus, bukan sesekali. Dengan begitu pengetahuan dari generasi terdahulu berpindah secara lebih tertata.
Yang mengurus latihannya kini adalah organisasi pemuda-pemudi Hindu bernama STT Widya Dharma Shanti. Kegiatan mereka tidak hanya menabuh. Mereka ikut membersihkan pura pada hari purnama dan tilem, mengadakan pertemuan rutin di balai banjar untuk berdiskusi dan mengumpulkan kas, lalu berlatih Baleganjur menjelang upacara atau festival. Latihan tidak digelar setiap hari, melainkan menjelang acara. Pola itu membuat pemain tetap siap tanpa harus berlatih tiap malam, dan sekaligus menjadi ajang berkumpul.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Delapan jenis alat, semuanya dimainkan dengan dipukul
Isi ansambelnya terbagi dua: alat perkusi berkulit dan alat perkusi berlogam. Yang berkulit adalah kendang lanang dan kendang wadon, sepasang yang tidak pernah dipisahkan, dengan lanang bersuara lebih tinggi dan wadon lebih rendah. Keduanya memimpin awal lagu, dan pemainnya harus saling mendengarkan agar pola tabuhnya tidak bertumpuk satu sama lain. Kendang lanang memegang arah dinamika, sementara wadon menjaga warna yang lebih rendah dan mantap.
Yang berlogam lebih banyak jenisnya. Reong berjumlah empat buah, masing-masing bernada berbeda, dan pemainnya harus berimprovisasi agar nadanya selaras dengan yang lain. Reong menjadi satu-satunya pemberi nada di dalam ansambel itu. Ponggang berjumlah dua buah dan dimainkan bergantian. Kempur atau kempli menjadi penanda tempo, sedangkan kajar memegang ketukan dasar. Pemain kajar memukul dengan satu tangan sementara tangan lain memegang panggul sebagai penyangga.
Ceng-ceng dimainkan satu orang yang memegang dua cakram logam, satu di tiap tangan, dengan tali di tengahnya diselipkan di antara jari supaya pegangannya tidak goyah. Bunyinya paling menonjol di antara semua alat, dan justru karena itu pemainnya dituntut menjaga kekuatan pukulan agar tidak menutupi yang lain. Terlalu keras ia memekakkan, terlalu lemah ia hilang dari campuran bunyi.
Yang menarik, seluruh alat tanpa kecuali dimainkan dengan cara dipukul. Reong, ponggang, kajar, dan kempur dipukul pada bagian atasnya yang berbentuk setengah lingkaran. Kendang ditabuh pada kedua sisi permukaannya. Ceng-ceng diadu satu sama lain. Tidak ada alat gesek, tidak ada alat tiup, dan seluruh warna bunyi lahir dari perbedaan bahan serta cara memukulnya. Arah, tekanan, dan kecepatan pukulan itulah yang membedakan satu pemain dari pemain lain.
Gegilakan disusun dalam dua tempo, lambat lalu cepat
Garapan yang dimainkan pemuda Nusa Agung diberi nama Gegilakan. Penyusunannya berangkat dari satu permintaan yang sangat khusus: musik yang mampu membangkitkan semangat orang yang hendak bersembahyang. Bukan musik yang menenangkan, melainkan yang menghidupkan, supaya sembahyang dijalani dengan semangat sekaligus khusyuk. Permintaan itu datang dari pemimpin organisasi pemuda sebelum garapannya disusun.
Susunannya dibagi dua bagian. Bagian awal bertempo lambat dengan suasana yang lebih tenang dan terkendali, tetapi pola ritmenya tetap khas Baleganjur sehingga tenaganya terasa tersimpan. Bagian berikutnya masuk dengan tekanan bunyi yang lebih rapat dan lebih bersemangat. Perpindahan itu dimaksudkan sebagai perkembangan suasana, bukan sebagai pergantian watak musik secara mendadak. Pendengar dibawa naik pelan-pelan, bukan dikejutkan di tengah jalan.
Nama garapan itu sendiri menyimpan jejak pergantian generasi. Tabuh yang dulu dimainkan kelompok bapak-bapak disebut Baleganjur gegilakan polos, sedangkan yang kini dimainkan pemuda disebut Gegilakan saja. Perbedaan nama menandai bahwa yang dimainkan bukan salinan persis dari yang lama, melainkan olahan baru yang tetap berpijak pada pola tabuh yang sama. Penulis menyebut cara kerja semacam itu sebagai penafsiran atas tradisi, bukan peniruan.
Dari piodalan dan ngaben ke festival ogoh-ogoh
Fungsi Baleganjur di Nusa Agung ikut melebar. Semula ia dipakai pada piodalan di pura, prosesi mengarak ogoh-ogoh menjelang Nyepi, serta upacara Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Kini ia juga tampil di festival, pertunjukan budaya, dan lomba. Pelebaran itu membuat kesenian tersebut lebih dikenal orang di luar desa, sekaligus memberi pemainnya kesempatan tampil di luar suasana upacara.
Perubahan pelakunya berjalan seiring. Ketika yang menabuh adalah pemuda, penyajiannya disebut menjadi lebih bertenaga dan lebih dinamis dibanding ketika dimainkan kelompok bapak-bapak. Penulis membaca itu sebagai tanda regenerasi yang berhasil, bukan sebagai pergeseran yang mengikis nilai sakralnya. Aturan dan etika penampilan, menurut mereka, tetap dijaga pengurus kelompok pada setiap penampilan, termasuk ketika tampil di luar pura.
Pola serupa pernah dicatat peneliti lain di tempat berbeda, yaitu Baleganjur yang berpindah dari pengiring upacara menjadi pengisi pawai kesenian, kegiatan olahraga, perlombaan, sampai acara komersial. Yang terjadi di Nusa Agung sejalan dengan itu, meski naskah tidak menyebut adanya penampilan komersial di desa tersebut. Artinya pelebaran fungsi di Nusa Agung masih berhenti pada festival dan lomba.
Baca juga Binaural Beats dan Gelombang Teta yang Diburu Terapis
Yang belum tercatat dari kelompok ini
Pembaca perlu tahu batas keterangan yang tersedia. Naskah tidak menyebut berapa orang yang kini tergabung dalam kelompok itu, berapa perempuan dan berapa laki-laki, atau berapa usia rata-rata pemainnya. Padahal angka semacam itu yang paling menentukan apakah regenerasi benar-benar aman untuk sepuluh tahun ke depan. Tanpa angka itu, keberhasilan regenerasi hanya bisa dinilai dari kesan pengamat.
Tidak disebut pula dari mana gamelannya berasal, siapa yang membiayainya, dan bagaimana alat-alat berlogam itu dirawat di tempat yang jauh dari pembuat gamelan. Untuk komunitas perantauan, urusan alat biasanya justru yang paling berat, dan keterangan itu akan berguna bagi desa lain yang ingin menempuh jalan serupa. Gamelan berlogam menuntut perawatan dan penyetelan yang tidak murah.
Keterangan tentang sejarahnya pun bersandar pada ingatan satu tokoh adat. Tahun 2012 disebut dengan kata sekitar, bukan sebagai tanggal yang tercatat. Pembaca sebaiknya memperlakukan angka itu sebagai perkiraan, bukan sebagai catatan resmi desa, karena naskah tidak menunjuk dokumen mana pun sebagai penopangnya. Hal yang sama berlaku untuk urutan peristiwa sebelum rapat banjar digelar.
Baca juga Kerudung Gaya Minang di Majalah Soeara Aisjijah
Yang tersisa dari catatan ini adalah satu keputusan rapat yang buahnya masih terdengar belasan tahun kemudian. Sebuah desa memilih tidak lagi meminjam bunyi dari tetangganya, lalu menyerahkan bunyi itu kepada anak-anak mudanya sendiri. Sisanya, seperti kebanyakan tradisi, akan ditentukan oleh siapa yang masih mau datang ke balai banjar untuk berlatih menjelang purnama berikutnya.















